Jumat, 16 Desember 2011

Bukan Gaya, Tapi Skill

Ketika berada di ruang kelas 703 kalau tidak salah ingat, teman saya bercerita tentang tetangga dan juga teman mainnya. Diceritakan olehnya jika terjadi keributan antara teman rumahnya itu (kita sebut saja si A) dengan ayahnya sehingga terdengar sampai keluar.Keributan itu pun sampai “mengundang” ayah teman saya untuk ikut campur karena keributan itu bisa dianggap lumayan parah. Ada kata-kata yang terucap oleh si A yang bisa dianggap tak patut di katakan dari seorang anak kepada ayahnya dalam budaya timur.
Karena sudah dinilai tak lumrah, ayah teman saya pun akhirnya menarik si A kerumahnya untuk dipisahkan. Ia menanyakan perihal masalah yang terjadi antara si A dan ayahnya. Si A pun menceritakan bila dia dimarahi oleh ayahnya karena ia baru saja menambah rajah tato di salah satu bagian tubuhnya.
Saat si A ditanya apa alasannya menambah tatto dibagian tubuhnya? Si A menjawab banyak hal  namun ada satu hal terucap “bla, bla,bla,..ini buat modal nge-band, dan bla, bla, bla..”
“ini nih jeleknya orang Indonesia, kebanyakan gaya. Mestinya skill dulu yang digedein. Klo udah punya skill tinggi, lu mau gaya kaya apa juga bodo,” ucap ayah teman saya.
Setelah berdebat panjang dengan ayah teman saya. Si A pun menangis dan, akhirnya meminta maaf.
Ribut seperti itu sudah beberapa kali terjadi menurut carita teman saya. Dimulai saat si A membuat tato pertamanya yang akhirnya diketahui saat si A sedang tidur kalau saya tak salah ingat. Ia pun dimarahi. Tetapi si A malah menambah satu demi satu rajah tubuhnya. Awalnya rajah itu tak “keluar” tetapi lama-lama “keluar-keluar.” Sampai akhirnya kemarahan  besar itu terjadi
Bila diperhatikan, tidak salah juga apabila orang tua si A memarahi anak itu. Mungkin dia “shock” melihat anaknya yang tiba-tba menambah tatto di tubuhnya. Apabila orang tua si A memandang tatto dari “kaca mata” agama maka hal itu jelas dilarang. Karena dalam isi kitab suci salah satu agama terdapat ayat yang melarang untuk merubah bentuk tubuhnya dalam hal ini merubah bentuk kulit dengan tatto.
Disamping itu, Ada faktor psikologis dari lingkungan yang mempengaruhi pandangan ayah si A tersebut. Seperti stigma negatif orang yang mempunyai tato. Misalnya orang yang mempunyai tato merupakan kriminal, meski tatto itu bukan merupakan suatu tolak ukur untuk seseorang yang berbuat jahat.
Bila ditinjau, secara etimologi, tatto itu berasal dari kata Tahitian / Tatu, yang memilki arti menandakan sesuatu. Bila dilihat dari sejarahnya rajah tubuh sudah dilakukan sejak 3000 tahun SM(sebelum Masehi). Tato ditemukan untuk pertama kalinya pada sebuah mumi yang terdapat di Mesir. Konon hal itu dianggap yang menjadikan tato kemudian menyebar ke suku-suku di dunia, termasuk salah satunya suku Indian di Amerika Serikat dan Polinesia di Asia, lalu berkembang ke seluruh suku-suku dunia salah satunya suku Dayak di Kalimantan.
Dari arti menandakan tubuh itu bisa terdapat berbagai macam makna didalamnya. Berbeda makna mengenai tatto antara satu daerah dengan daerah lain Seperti misalnya di Indian, melukis tubuh/ body painting dan mengukir kulit, dilakukan untuk mempercantik (sebagai tujuan estetika) dan menunjukkan status sosial. Atau Di Borneo (Kalimantan), penduduk asli wanita disana menganggap bahwa tato merupakan sebuah simbol yang menunjukkan keahlian khusus.
Sekarang, banyak yang berpendapat Tato adalah bagian dari seni, bukan lagi untuk dunia kekerasan dan kriminalitas. Tato sebuah ajang ekspresi seseorang, baik si artist (pembuat tato) atau pecinta tato sendiri. Layaknya lukisan, tato sendiri mempunyai makna dibalik sebuah gambarnya.
Nah, dari sejarah itu tak ada hubungannya antara tatto dengan kriminalitas. Mungkin karena pelaku kejahatan banyak yang menggunakan rajah ditubuhnya sehingga tatto itu mempunyai definisi negatif di dalam masyrakat.
Dari stereotipe itu, bila dikaitkan dengan ekonomi, suatu perusahaan atau pemberi kerja formal banyak yang tak mau menerima pegawai yang mempunyai “gambar” di tubuhnya itu. hal itu tak bisa lepas dari label masyarakat tentang tatto itu sendiri. Karena tempat pemberi kerja tidak mau mengambil resiko dengan memasukannya. Mereka tak mau institusinya menjadi buruk karena mereka menganggap bagus-jeleknya lembaga itu tergantung kepada sumber daya manusia yang ada di dalamnya. Setiap perusahaan juga bertujuan untuk untuk going concern. mungkin wajar bila manajer berhati-hati dalam merekrut pegawai.
                Sekali lagi, meskipun tak semua orang bertatto itu kriminal dan orang yang tak betatto itu tidak kriminal. Itu semua tergantung dari setiap individu itu sendiri. Mungkin karena orang tua si A itu sangat sayang kepadanya maka ia menginginkan anaknya sukses di masa depan dengan bekerja. Dan tak dipandang buruk oleh orang lain dari label tatto yang ada.      
Namun tidak bisa kita sangkal, Banyak orang-orang yang bertato yang sukses seperti menjadi wirausaha, pesepak bola atau artis. Ada hal menarik disni. Si A ingin menjadi artis atau musisi dengan dengan modal tatto. Tak ada yang salah disini, itu hak siapa pun. Namun bukankah modal untuk menjadi artis atau musisi salah satunya adalah skill. Paras juga berpengaruh namun bila tak ada skill, maka paras tak akan ada apa-apanya. 
Bisakah dibayangkan bila Travis Barker, drummer Blink 182 tidak mempunyai skill yang mumpuni? Tidak mungkin ia bisa terkenal sampai di seluruh dunia. bukan itu saja, cara berpakaian dengan celana "melorot"nya pun banyak ditiru anak muda disuluruh dunia. Cirikhas travis bermain drum pun banyak menjadi inspirasi musisi indonesia seperti Eno (Netral) atau drummer T.R.I.A.D. mungkinkah bisa sukses bila si Travis tidak punya kemampuan dibidangnya.
  Bukan hanya untuk mejadi artis, setiap pekerjaan apapun yang dibutuhkan bukankah kemapuan? bukan bergaya seolah-olah mampu tapi ternyata tidak mampu.
Ada beberapa musisi atau artis banyak yang menyinggung orang yang terlalu banyak gaya tapi tak ada kemampuannya. Sebut saja Saykoji dengan lagu “so what gitu loh” yang populer di masanya. Bila didengar liriknya “Jadi bokap lu kaya, nyokap lu juga kaya,bisa ngasih duit biar elo bisa begaya, Supaya kaya. rapper yang tajir dan berduit padahal nggak bisa ngerap bisanya Cuma suit”. Lirik dengan gaya satir. Mengusik orang yang terlalu banyak bergaya tapi tanpa bisa apa-apa.
                Selain itu, lagu “loe toe ye” karya band rock terkenal, Rif. Itu juga merupakan sindiran telak bila ditengok liriknya “Lo toe gaya lo emang keren, lo tu laga lo juga keren, lo tu tampang lo keren tapi otak lo kagak lo pake, Lo tu gaya lo emang keren, lo tu laga lo juga keren, lo tu tampang lo keren Tapi nafsu lo yang lo pake”
                Mungkin dari semua itu, semestinya kita tak boleh lupakan jasa orang tua, meskipun orang tua sering berbeda pendapat dengan kita. Itu semata mereka ingin seorang anak bahagia di masa depan. Alangkah baiknya terlebih dahulu memikirkan dan mendiskusikan kepada orang tua. bukan berdasarkan Nafsu. Beri dia alasan yang baik tentang apa yang kita inginkan. Dia akan menerima bila menurutnya itu akan baik untuk masa depan kita
Selain itu menurut saya, dalam hal ini bukan saya menasihati orang tua, tapi  saya mengemukakan apa yang saya rasakan sebagai anak. Ini bisa disebut curahan hati saya. Mungkin Orang tua boleh membebaskan anak-anaknya berekspresi. Awasi anaknya. Bila mulai berlebihan, maka arahkan. Biarkan anak memilih apa yang disukainya. Beri penjelasan tentang suatu hal, tentang pilihan si anak, kelebihan dan kekurangannya, agar dia bisa tau disetiap langkahnya, agar dia mengerti. Luruskan apabila dia mulai melenceng. Kesuksesan bukan hanya dalam satu bidang saja, masih banyak bidang lain yang bisa membuat sukses.
           Mengutip kata-kata kahlil gibran “Carilah nasihat dari orang tua karena matanya telah melihat wajah tahun demi tahun dan telinganya telah mendengar suara kehidupan.”

Sabtu, 12 November 2011

Sepotong Lidah

Aku adalah sepotong lidah yang mengulummu
karena ada variasi rasa yang kudapat saat kita bersama.
selayaknya aku, kau juga sepotong lidah yang serta merta mengemutku
kita saling merasa untuk masing-masing kita nikmati
bukan cuma madu, tapi beraneka

08:26 13/11/2011 

Minggu, 06 November 2011

Makam Sebuah Asa

Ia telah mengubur asa di kebun depan rumahnya. Asa itu dipendamnya dengan otot tangannya sendiri tatkala ia sudah ranum. Tanah dicabiknya dengan hati bergemuruh. Asa itu ditempatkan dalam liang lahat secara perlahan. Lalu ditimbunnya hingga matanya memerah berkilau. Tak lupa ditandai nisan agar ia tahu tentang harapannya yang sudah mati, menyatu dengan bumi.
Ia tak pernah lupa dengan makam itu. sebab ketika membuka daun pintu rumah, mau atau tidak matanya menatap ke sana. Sengaja, Biar ia paham bahwa di setiap aktivitasnya tak ada harapan. Mungkin konyol namun ia tak pernah mau lupa jikalau ia pernah punya harapan.
Ia pasrah digerayangi nasib, bahwa asa itu telah dibunuh oleh materi yang bisa merusak akal manusia serta membuat nafsu menggebu-gebu. Dan ia tak bisa berbuat banyak saat menjadi korban dari kebuasan materi bernama uang.
06/11/2011

Sabtu, 22 Oktober 2011

Pertunjukan Kemewahan

(1)
Aku melihat seorang lelaki sedang menyaksikan pertunjukan kemewahan
Dia duduk dengan sesekali menghembuskan asap dari sigaretnya
Dari pinngir jalan, matanya memperhatikan setiap adegan
Ada rasa yang tumbuh dalam dirinya

(2)
Para aktor dan artis berperan sebagai pejinjing sesuatu
Berlalu lalang kesana-kemari mencari hal yang tak biasa

Tokoh dalam pertunjukan itu tak hanya rupawan
Tak perlu pandai berakting
cuma butuh kantong tebal
atau kartu prabayar tanpa batas

Latar pertunjukan hanya itu-itu saja
Sebuah gedung bertingkat dengan lampu gemerlap dan gambar-gambar menggiur, meracun akal

Alurnya bukan maju, bukan mundur dan bukan juga campuran tapi datar
Jalan cerinya tak menarik, tak lucu, tak dramatis, tak mengharukan
Hanya membuat dengki penontonnya

(3)
Ada hal yang diinginkan dari tatapan lelaki itu
Seperti ingin terjun ke dalam pertunjukan
Bersama-sama aktor-aktris lain
Menghabiskan waktu berkubang di dalam pusat perbelanjaan
Berburu apa saja tuk memuaskan nafsu
Juga untuk menerapkan budaya konsumtif

Jumat, 21 Oktober 2011

Panas

Kau takkan pernah bisa melihat
bagaimana darah beku ini kembali mencair
udara pun menipis dalam rongganya, menguap
menjadikannya sesak

Sudah kucoba atur suhunya
namun lingkungan menjadikan alat pengatur itu rusak
hingga panas ini semakin merangkak naik

Mereka berkata, keadaan seperti ini tak baik
jadi, apakah orang dilarang tuk mengenal marah
dan harus memusuhinya
hingga kemanapun seseorang pergi harus membawa senjata
agar bisa menghabisinya
Tak bisakah kita bertoleransi dengannya

Bukankah Dia memang sengaja membuat rasa ini ada
Ah, tapi yasudahlah
aku tak mau menghujat Tuhan
bisa-bisa aku susah dibuatNya

panas biarlah menjadi panas
tak ingin aku menghalanginya
biarlah kunikmati sejenak

Minggu, 16 Oktober 2011

Tulisan Pelarian yang tak Jelas

Pukul 1.06 WIB, saya masih terjaga dengan keringat bercucuran. Antah apa yang menyebabkan tubuh ini bekeringat, mungkin karena saya habis memangsa makhluk lain. dan sekarang, setelah saya memangsa, banyak makhluk yang ingin memangsa saya. Makhluk itu perlahan mencium bau lezat kulit saya, menjilatnya tuk merasakan bumbu-bumbu yang melekat di kulit saya, sebelum benar-benar mamangsa saya.

Di tengah malam ini, Sebetulnya saya ingin beristirahat agar esok bisa bangun dengan kondisi yang segar, namun karena baru saja saya melahap makanana jadi saya tahan sebentar istirahatnya. Sebab kata mamah saya tak baik bila sehabis makan lalu tidur.

Saya pun tak tahu harus melakukan apa di tengah malam begini. Sebetulnya ada tugas untuk mata kuliah besok, namun saya tinggalkan karena saya belum cukup mengeti dengan materi itu. dan di binter saya hanya tertulis satu jawaban dari kurang lebih sepuluh soal yang ditanyakan. Dan saya yakin jawaban yang saya tulis itu pun salah.

“Tak apalah yang penting setidaknya saya mencoba, walaupun tak sungguh-sungguh,” sedikit pembelaan dari saya. Jadi saya biarkan buku-buku saya tergeletak di atas ranjang. Saya ingin bemalas-malas ria, meskipun saya tak tahu apa yang terjadi besok. Mungkin dikurangi nilainya. Sama dosennya.

Sudah dari bab 2 saya tak mengerti dengan pelajaran. semenjak buku yang saya fotokopi ternyata sudah mengalami pergantian banyak prinsip akuntansi. Jadi membuat saya sedikit malas. Jadi saya biarkan saja.

Kalau niat dalam hati sih. Pengennya belajar dari kunci jawabannya saja nanti, mudah-mudahan benar-benar tersampaikan niat saya ini. walaupun nanti mesti belajar keras pas uts, ahh, yasudahlah, males juga bahas AKL, biarkan sajalah.

Saya sudah mendengar ayam berkokok pukul 1.43 WIB. Nyamuk-nyamuk pun semakin malam, semakin ganas. Padahal saya sudah mengenakan obat anti nyamuk, tapi seperti tak ada efeknya. Mungkin obat itu sudah ternetralisir oleh keringat saya.

Nyamuk ini bikin gatal. Barusan saya menggaruk betis saya sampai merah karena tak tahan dengan gatalnya. Sambil menggaruk, saya mengetik tombol-tombol keyboard laptop, sambil sesekali menepuk nyamuk yang mulai mengajak saya tawuran.

Ahhh, sudah pegel saya rasanya, mau istirahat, sudah hampir pukul 2.00, mudah-mudahan besok bisa bangun pagi. Amin. Biarlah tulisan tak jelas ini menjadi saksi ketidakjelasan saya malam ini, yang sedang galau.

Tulisan ini mungkin bisa disebut tulisan pelarian. saya mencoba menghibur diri saya karena sudah lemas mengerjakan soal akuntansi keuangan lanjutan bab 4. Entah mengapa pelariannya jadi menulis, saya pun tak tahu. mungkin media ini yang paling bisa tuk mengunkapkan ketidakjelasan hati saya.

Dan saya bertekat agar tulisan ini saya masukan ke dalam blog saya. Mesti tulisan ini sangat absurd. “bodo lah.” Entah apa komentar orang setelah membaca tulisan ini, tapi aku ingin tahu juga apa komentar orang tentang tulisan saya ini. sepertinya akan saya sebar tulisan ini. persetan ada yang mau baca atau tidak.

Mungkin saya sampai disni saja. Saya akhiri di 1.54.
2011-10-17

Kamis, 06 Oktober 2011

?

Aku baru saja menemukan tanda tanya baru di halte pinggir jalan
Padahal di kursi kayu itu, aku hampir mati terkuburnya
hampir gila berpapasan dengannya
mungkin sudah sinting bila dihantuinya

mereka datang tanpa dijemput dan pulang minta diantar
belum saja usai mengantar satu, namun ada lagi yang memaksa tuk diantar
semakin aku mengantar, semakin tanda itu berkuadrat
beranak pinak tanpa bersetubuh terlebih dahulu

disetiap tempat, tanda itu bisa muncul tak terbatas ruang dan waktu
tanda tanya itu bisa saja meracuniku, menikamku sampai terkulai lemas
namun jika tanda itu sudah kukalahkan
semilir angin surga mengelus kulit, menerbangkan jiwa

aku punya banyak pilihan tuk memperlakukannya
menerimanya atau mengabaikannya
hal itu, bagaimana nanti saja bersamaan dengan keadaan tanda tanya itu

ingin rasanya memberikan tanda tanya kepada pembuat tanda tanya
namun Dia punya rahasia
rahasia yang penuh tanda tanya dibaliknya
hanya Dia yang tau sampai kapan tanda tanya ini ada
dan aku tak berdaya

2011-06-10

Senin, 26 September 2011

(Mengenang) Sekotak puzzle

Hari itu, Gumpalan tanah yang terselip ruh itu berpindah alam
Terbentuklah engkau dengan sambutan hangat dari angin melegakan dada
Pasti dengan tatapan bahagia empat kelopak yang tak usai mengucap syukur
Sekarang, tanah itu sudah terisi angka menandakan engkau telah ranum
Tau akan jelmaan malaikat dan iblis

Hari ini, dimana kau mendapatkan satu angka lagi
Kujinjing sebuah kotak berlilitkan kain berwarna darah ke tempat kau berteduh
Isinya lumrah, seawam saat kita bergandengan melewati beratus-ratus hari yang hengkang tanpa tegur sapa
Sebuah permainan puzzle tak mahal, tak terlalu bagus,dan tak terlalu bermakna hanya sebuah refleksi saja

Hakikatnya puzzle ini merupakan kesatuan utuh bergambar sebelum hancur menjadi serpihan teka-teki
Dengan tangan telaten, kau terapkan patahan demi patahan secara lembut
Kau cari setiap bagiannya disetiap sudut tempat, di balik pintu, di bawah ranjang, di atas lemari, dimana saja
Selama jutaan menit kau menata dengan rasa manis, asam, asin dalam prosesnya,
Dari abstrak, mulai terlihat sepotong, sampai menjadi sebuah gambar yang engkau tahu rupanya
Dan kuserahkan bingkisan ini agar menjadi milikmu dan karena di dalam situlah terajah dirimu


*untuk perawan libra di sudut sana
2011-26-9

Selasa, 06 September 2011

Turun Ranjang

(1)
Sekarang mereka memanggilku ibu
Meski kata itu keluar tersendat seperti air mani
Aku harus terus mengajari mereka membaca
Mengeja huruf demi huruf
Agar mereka lancar mengucapkan kata “ibu”
Ini sukar
Meski bagi yang lain ini sangat mudah
Semudah pendidik bahasa membaca

(2)
Mungkin karena transformasi keadaan
Tapi ini pilihan meski entah siapa yang memilh
Mungkin Tuhan atau setan
Karena aku takkan pernah paham masa depan
mungkinkah nanti seorang badut datang membawa kotak kejutan
Yang dengan kotaknya itu memberikan keceriaan
Aku harap begitu
Walau tak tahu apa

(3)
Ketika seseorang datang
Membawa seonggok harta mengahadap indukku
Membicarakan hal yang sudah aku mengerti arah tujuannya
Aku galau
Berharap titik cinta datang dari kegelapan itu
Agar bisa memanduku berjalan

(4)
Mudah-mudahan ini bukan tarian diatas kuburan yang tanahnya masih basah
dengan bunga segar dan wewangian yang mesih terhirup
Aku berharap saudaraku bahagia di tanah antah berantah sana
Serta kuselipkan maaf disela angin yang berhembus keangkasa bila ini menghancurkanmu
Tapi aku percaya kau tersenyum bahagia menonton satu episode kisah ini
Terlebih saat adegan aku dan bekasmu berdiri tegap di pelaminan
yang dikelilingi buah hatimu

Senin, 05 September 2011

Tragedi Pembunuhan Pertama Di Muka Bumi

Tahukah anda mengenai drama percintaan yang berakibat pembunuhan yang pertama kali ada di bumi ini? mungkin ada yang sudah tahu dan ada yang belum. Baiklah saya akan mencoba menceritakannya secuil saja, karena kalau terlalu panjang saya takut pembaca bosan dengan tulisan saya yang masih kurang bagus ini terlebih saya juga hanya mengetahui secuil jadi apa adanya saja, tak bisa yang hebat seperti tukang cerita.

Saya juga menuliskan cerita ini karena saya baru saja membaca cerita anak-anak tentang nabi. Dan saya ambil sepotong bab saja dari keseluruhan cerita dalam buku itu. Bila dalam menceritakan hal ini saya banyak kekeliruan maka saya mohon maaf, saya hanya manusia biasa, bodoh, miskin pengetahuan dan sok tahu. Terima kasih

Karena hal ini terjadi pertama kali di bumi, jelas bukan terdapat di zaman sekarang, 10 tahun lalu, 100 tahun lalu, atau 1000 tahun lalu. Cerita ini terjadi Sebelum nabi Muhammad SAW lahir, sebelum Socrates, Enstein, Darwin, Soekarno atau Obama sekalipun lahir.

Drama percintaan in terjadi pada zaman nabi Adam. Pada suatu hari pada zaman itu, Adam dan Hawa ingin melahirkan anak pertamanya. Dan Allah memberi mereka anak kembar yaitu Qabil dan Iqlimah. Qabil berjenis kelamin laki-laki dan iqlimah perempuan. Yang menjadi kakak adalah Qabil karena ia lahir lebih dahulu beberapa saat tertimbang Iqlimah.

Setelah melahirkan mereka, Hawa melahirkan kembali dan diberi dua anak kembar lagi. lalu anak itu diberi nama Habil dan Labuda. Habil meruapakan anak laki-laki dan lahir lebih dahulu tertimbang Labuda yang perempuan.

Pada suatu saat nabi Adam ingin menikahkan anaknya untuk memperbanyak keturunan. Karna memang sudah besar, anaknya itu juga menginginkannya. Akhirnya Qabil dijodohkan dengan Labuda dan Habil dijodohkan dengan Iqlimah.

Karena dibujuk oleh setan yang tidak mau sujud kepada adam, ia menghasut Qabil agar tidak setuju bila dipasngkan dengan Labuda sebab Iqlimah lebih cantik daripada Labuda. Akhrnya qabil menolak. Adam pun akhirnya menyerahkan semuanya kepada Allah untuk menentukan.
Dalam menentukan orang yang berhak menjadi istri Iqlimah. Qabil dan habil harus berkurban kepada Allah. Dan barang siapa yang kurbannya diterima maka ialah yang berhak menjadi suami dari Iqlimah.

Qabil mempunyai postur tubuh yang tak lebih tinggi dari habil dan ia mempunyai sifat yang keras. Oleh karena itu nabi Adam memberikan pekerjaan bertani kepadannya. Sedangkan Habil mempunyai sifat yang lembut serta mempunyai kedalaman pikiran sehingga nabi Adam memberikannya pekerjaan sebagai pengembala domba.

Karena Qabil adalah seorang petani maka ia mengurbankan buah-buahan kepada Allah dan Habil sudah tentu mengurbankan hewan ternaknya. Namun ada hal yang berbeda dalam penyajian kurban mereka. Habil memilih domba yang sehat lagi gemuk karena ia pikir bahwa semua ini milik Allah, sedangkan Qabil menyortir buah-buahan yang busuk. Lalu Kurban itu ditempatkan berdekatan dan ditinggal diatas bukit.

Setelah mereka meninggalkan kurbannya itu, sebuah cahaya yang menyilaukan datang ke bumi dan menerangi bumi. Lalu cahaya itu menuju tempat kurban milik Habil dan timbul percikan api disana. Setelah kejadian itu cahaya itu lenyap dan udara menjadi seperti biasa.

Ternyata kurban yang dipersembakan Habil diterima oleh Allah, namun kurban milik Qabil tidak diterima,bahkan buah-buahan itu tidak berubah tempat sedkit pun. Padahal letak kedua tempat itu berdekatan.

Akhirnya Habil mendapatkan Iqlimah. Namun karena iblis mengganggu dan membujuk Qabil sehingga menyebabkan Qabil tak terima dan mempunyai niatan buruk untuk Habil. Bujuk rayu iblis pun semakin menjadi sehingga Qabil menyiapkan rencana untuk membunuh Habil dan sedang menunggu waktu yang tepat.

Disaat nabi Adam pergi ke suatu tempat, maka niat busuk yang direncanakan Qabil mulai dijalankan. Ketika Habil sedang bekerja, Qabil mendatanginya dan memukulnya dengan kayu sampai tersungkur. Setelah itu Qabil memukulnya lagi hingga tewas.

Setelah tewas ia memandang saudaranya itu dan menyesal telah membunuhnya. Akhirnya ia mengangkat tubuh Habil. Qabil melihat burubg gagak mematu-matuk tanah lalu Qabil pun menguburkan saudarannya itu. Setelah selesai, nabi Adam pun pulang, ia memanggil Qabil, namun karena ketakutan yang menjalar di tubuhnya akhirnya Qabil pergi.

Itulah sedikit cerita dari saya. Bila terjadi kesalahan cerita, sekali lagi saya mohon maaf, silahkan mengkritik dan memberi saran, terlebih yang membangun akan saya terima.

Sabtu, 03 September 2011

Sepak Bola Dalam Bunyi Radio

“Pemain bernomor punggung 7 membawa bola. Mengotak-atik sejanak, melewati pemain belakang Indonesia, mengoper dengan kaki kanan dan disundul saja, ohw, ternyata bola yang berwarna hitam putih itu ditangkap oleh kiper Indonesia yang berkepala plontos itu.”

Apakah anda pernah mendengarkan pertandingan sepak bola di radio? Bila tidak, lebih kurang seperti di ataslah gambarannya. Sebab saya baru saja mengalaminya pada jum’at malam (2/9) sekitar pukul sepuluh saat pertandingan timnas Indonesia melawan Iran.

Saat tak bisa menonton pertandingan Indonesia ditelevisi karena sedang dalam perjalanan pulang, akhirnya saya mendengarkan radio untuk mengikuti pertandingan itu. itu merupakan alternatif untuk mengetahui pertandingan itu. dan itu menjadi pilahan saya setelah mencari beberapa saluran.

Walau tidak bisa melihat keadaan lapangan seutuhnya, kita bisa mengetahuinya dari suara yang keluar dari komentator itu. karena komentator itu berusaha menjelaskaan bagaimana keadaan lapangan, mendiskripsikan penampilan pemain, menggambarkan bentuk permainan sampai pada letak dan posisi bola. Meski tak sejelas-jelasnya dan sempat melakukan kesalahan, setidaknya kita bisa mengetahui meski tak bisa melihat seperti apa aslinya.

Meski begitu, mendengarkannya di radio tidak kalah mendebarkan tertimbang menyaksikan langsung ditelevisi. Mungkin karena komentator sepak bola itu menggunakan intonasi yang bagus sehingga kita bisa merasakan saat-saat tim kesayangan kita diserang atau menyerang.

Saat bola berada di tengah lapangan suara komentator itu seperti bicara biasa, menggunakan intonas yang datar. Saat bola ditengah lapangan pula komentator itu biasanya menjelaskan atau mungkin memberi komentar mengenai pertandingan ini. Namun ketika salah satu tim mulai menyerang, komentator itu mulai mempercepat intonasi suaranya dan semakin cepat lagi ketika ada sekelumit di daerah pinalti.

Dan ketika berada dikotak pinalti, biasannya, klimaks dari serangan itu adalah suara seperti “apa yang terjadi” atau “dan” yang membuat hati ini berdebar. Menunggu apakah tim kesayangan yang kita bela kebobolan atau tidak, dan tim yang kita dukung mencebol gawang lawan atau serangannya kandas.

Setelah itu antiklimasknya terjadi pada saat kata seperti “ohhh”, “sayang sekali”, “gagal ternyata”, ataupun “gooollll” yang menuntaskan perasaan penasaran atas apa yang terjadi dalam pertandingan sepak bola itu. mungkin kata seperti itu merupakan kata-kata yang kita tunggu ataupun kata yang tak pernah kita harapkan.

Itulah bagaimana intonasi suara bisa mengakibatkan berbagai macam rasa bagi pendengarnya. Tentu saja kata “ohh” atau “sayang sekali” yang sangat kita harapkan saat tim kesayangan kita, Indonesia diserang pemain lawan. Dan kata “Gollllll” yang paling ditunggu ketika tim yang kita cintai dalam keadaan menyerang.

Sungguhpun komentator sepak bola di radio begitu berguna bagi saya waktu itu karna saya tak bisa menyaksikannya secara langsung di televisi. Meski begitu, hal Itu membuat perasaan saya dikocok-kocok karena suaranya itu walau tak merdu. Ditambah lagi kelakuan paman saya yang mengemudikan mobil dengan kecepatan yang lumayan tinggi di jalan yang tak ada pembatasnya. Itu membuat perasaan saya semakin terkocok dan berdebar, meski saya tahu dia ingin menyaksikan timnas Indonesia yang permainannya semakin membaik.

Meski pada akhirnya Indonesia kalah telak melawan iran dengan kedudukan akhir 3-0 untuk kemenangan Iran. Itu tak membuat saya membenci Indonesia, ya jelas saja karena Indonesia merupakan negara tempat saya dilahirkan oleh orang tua saya, mempunyai adik serta banyak saudara dan teman. Terlebih bertemu beberapa wanita yang sekarang sudah menajdi mantan pacar saya. haha

Selasa, 30 Agustus 2011

Fajar Pembawa Asa

Kali ini fajar datang
setelah sekian lama mendung menghalang

Ia datang dari jauh
dari tempat tak diketahui
singgah dimana pun ia mau
fajar tak henti berjalan atau berlari
meski segala tempat
segala waktu
segala zaman
telah disambangi

ia terus bergerak
sampai pasir di tabung waktu itu habis
dan ruang menguap

Ia datang mencari sisi gelap
menenteng setitik cahaya terus menyebar
mengusir takut dan membawa asa

Harapan diselipkan disaku manusia yang ditemuinya
dibawa kepada terik
berpeluh bersama terang
dan panas mengolahnya

Lalu senja yang menentukan dengan semburat jingga
dengan dua pilhan cahaya
bagus atau tidak bagus

hasil diberikan kepada sang malam
ia mengumumkan dibawah terang bulan
hasil bisa menyebarkan ketakutan dengan hitam mencekam
atau memperindah kebahagiaan dengan kerlip bintang

sampai akhirnya asa itu diserahkanke fajar
fajar membawa asa

2011-08-30

Senin, 29 Agustus 2011

Televisi

Bermula dari Satu semut
menjadi kumpulan semut berantakan
menyusun barisan hingga terbentuk
yang hitam dan yang putih
lalu mereka bosan
merapat sampai terbentuk ragam warna
merah, hijau, kuning serta semua warna

Berawal dari satu kumpulan semut
bertelur menjadi beberapa
mewabah
dengan ciri serta karakternya

Berdasar dari dari barisan semut
terbentuk beberapa barisan
berkreasi menjadi ratusan
hingga bingung memilih

Lalu semua kelompok berkreasi
menciptakan inovasi
agar memperoleh sandang, pangan, papan

Sekarang mereka beragam
menpunyai puluhan bentuk
dengan ratusan variasi
terus berinovasi

Sekelompokan semut itu berkelana
mendatangi siapa saja
dengan tujuannya

Dan apabila mereka mendatangimu
engkau memperoleh pilihan
apakah mempersilahkan semut itu menggitmu
atau kau pengandali mereka
2011-08-30

Pertarungan

Mereka tak pernah permisi
Hilir mudik
Menganggu dalam sunyi senyap sepi
Di hari yang hitam dengan seonggok cahaya
Manyerang
Menggigit hingga menembus kulit
Menghisap darah tuk menambal lapar
Hingga kenyang
Mabuk dengan perut menggelembung hampir pecah
dan gereknya menjelma menjadi keong


Sebadan raksasa
memburu, mencari dan memusuhi
menatap tajam dan jeli
juga dengan sinis
mencoba membunuh dengan cara apapun
dari yang sederhana sampai tak biasa
hingga mereka mati tergeletak
menjadi sampah
lalu menjadi makanan makhluk lain


Mereka tewas ditangan raksasa
terhimpit dengan darah membuncah
tercecer menyiprati kulit

Mereka tewas ditangan raksasa
diracun sampai lemas, tak berdaya
dan tergeletak

Mereka tewas ditangan raksasa
disetrum dan tak bisa lari
sampai gosong dan bulu-bulu berdiri

Sang raksasa tersenyum penuh dendam
serta kemenangan

Ciuman

Pada suatu malam, di sebuah mall, tepatnya dibilangan Alam Sutra, Tangerang. Saya melihat seorang muda-mudi sedang asyik bercengkrama. Mereka besenang-senang disebuah kafe yang menyajikan masakan tradisional daerah tertentu. Suasana kafe itu sepi, (saya hanya melihat mereka berdua di kafe itu) jarang orang berlalu lalang disana, hanya sesekali karyawan mall itu melintas. Ditambah malam yang sudah semakin larut membuatnya semakin sunyi.

Muda-mudi itu terlihat menikmati suasana, mereka tertawa riang, mendengarkan musik bersama menggunakan headset, berfoto dan bercanda ria. Bila dilihat menurut subjektif saya, penampilan mereka dan keadaan fisik mereka terlihat menarik. Mereka terlihat sepasang kekasih, meski saya tak tahu yang sebenarnya.

Ketika saya menengok sejenak dari samping kafe tersebut, tak sengaja melihat si perempuan itu memegang pipi si laki-laki sambil duduk di sofa kafe itu. Setelah itu si perempuan mencium bibir si laki-laki tersebut, namun tak lama durasinya. Setelah itu mereka bersikap seperti biasa saja dan tak perduli sekitar.

Saat saya melihat kejadian itu, tak ada sesuatu yang berbeda, biasa saja. Namun ketika saya terbengong sejenak, saya merasa ada suatu keadaan yang berubah. Mungkinkah budaya? Anak sekecil mereka (saya tak tahu apakah tubuh mereka yang kecil namun sudah berumur atau memang mereka masih belum punya KTP) sudah berani melakukan hal tersebut di tempat umum.

Mungkin sudah biasa bila remaja seusia mereka melakukan hal itu di kota ini (pandangan subjektif saya). Namun bila dilakukan di tempat seumum itu, di tempat yang semua orang bias melihatnya, bahkan balita sekali pun. Saya pikir tidak biasa dan itu yang sangat menjadi perhatian bagi saya terutama tempat mereka melakukannya. Sepasang suami-istri pun jarang terlihat berciuman di tempat umum seperti itu.

Apakah ada suatu transformasi budaya? Bukankah hal seperti itu merupakan hal yang pribadi dan intim untuk dilakukan di Negara timur seperti Indonesia. Apakah mereka sudah benar-benar terpengaruh budaya Negara barat? Tapi setahu saya di beberapa Negara barat pun dilarang melakukannya di tempat umum.

Terlebih mereka merasa biasa saja, seperti hal itu sudah umum, dan tak perlu diperbincangkan. Atau mungkin karena terlalu terbakar gelora asmara sehingga mereka tak memperdulikan keadaan sekitar. Se”buta” itukah asmara semasa muda? Mungkinkah karena jiwa muda, jiwa yang mengidam-idamkan kebabasan sehingga mereka bersikap bebas tanpa tahu keadaan.

Walau begitu, mereka merupakan salah satu pelajaran bagi saya. Mungkinkah mereka manifestasi keadaan remaja di kota ini, atau di negara ini? Saya tak tahu bagaimana keadaannya sesungguhnya. Saya harap tidak.

Setelah dirasa upacara bercumbu dan dinnernya cukup, muda-mudi itu pun bergegas pergi dengan santai. Dan saya masih duduk di tempat itu dan belum berniat beranjak sambil menikmati sebuah kopi bersama teman-teman saya.

Minggu, 28 Agustus 2011

Young Gunners

Namanya Arsenal, ini merupakan salah satu klub raksasa Inggris. Banyak terlahir bintang dari klub ini, sebut saja Thierry Henry, patrick vieira, dan Freddie Ljungberg. Mereka adalah pemain yang awalnya tak pernah dikenal namun menjadi pemain yang sangat diperhitungkan.

Arsenal seperti belum ada habisnya menelurkan pemain seperti Francesc Fabregas dan Samir Nasri. Namun nahas, di bursa transfer 2011 para pemain yang ditelurkan itu pergi dari Arsenal ke klub yang mengincarnya.

Francesc Fabregas pergi ke Barcelona dengan nilai tranfer sekitar 40 juta pound. 35 juta dari barcelona dan 5 juta tambahan dari kocek pribadi Fabregas sendiri. Namun pengorbanan ini tak sia-sia. Fabregas yang baru saja beranjak dari arsenal sudah mendapatkan dua gelar, sedangkan selama betahun-tahun ia di berada di arsenal, hampir tak ada gelar bergengsi yang diperoleh.

Selain itu Samir Nasri dan juga Gael Clichy yang pindah pada bursa tranfer 2011/2012 telah memperlhatkan kematangan dari klub yang baru di belanya itu. Debut pertama Nasri, sudah mengantarkan klub barunya memperoleh hasil yang meyakinkan untuk memperoleh gelar liga inggris.

Setelah ditinggal para punggawanya, Arsenal tertatih-tatih menghadapi kerasnya liga inggris. Klub ini seperti tak terlihat seperti klub besar di liga inggris. Kejayaan masa lalunya seperti tak berguna apa-apa.

Sebetulnya, klub ini mempunyai banyak materi pemain bagus namun para pemainnya masih kurang berpengalaman. Klub ini sebenarnya sangat bagus karena mengusung pemain muda yang fresh dan mempunyai semangat yang tinggi, namun tak bisa dipungkiri seorang figur dibutuhkan untuk mengimbangi.

Rabu, 24 Agustus 2011

Hanya omong kosong

oleh Muhammad Umar
Apakah jadinya bila tokoh dalam sebuah cerita menolak di takdirkan seperti itu dan tokoh itu mencari penulis ceritanya untuk menggugat nasibnya?

Di sebuah tempat lokalisasi, terdapat seorang pelacur yang memiliki rajah kuda yang terlihat seperti berlari. Syahdan, rajah kuda itu keluar dari punggung perempuan itu dan menjelma menjadi kuda sungguhan yang menyebabkan sebuah bencana bernama persembahan kuda. Kuda itu berlari dan serta merta diikuti oleh satu juta pasukan berkuda yang dikirim oleh Sri Rama untuk persembahan.

Pasukan itu merupakan pasukan yang sangat kuat hingga menyebabkan apa saja yang dilewatinya di seluruh penjuru bumi akan hancur lebur. Bagi mereka yang melawan sudah tentu nasib daerahnya akan rata dengan tanah dan penghuni kampung itu akan habis dibunuh dan untuk yang menyerah maka mereka akan selamat.

Pasukan sri rama ini sangat kuat dan apabila pasukan kudanya dapat dikalahkan maka ia masih mempunyai prajurit wanara (kera) yang siap menolongnya. Sampai akhirnya tentara ini dapat dikalahkan oleh Lawa dan Kusa yang juga anak Sri Rama titisan Dewa Wisnu dan Sinta titisan Dewa Laksmi.

Meski sudah bisa dikalahkan, akibat yang ditimbulkan oleh persembahan kuda itu sangat parah. Setiap wilayah yang dilewatinya rata dengan tanah, setiap yang melawan maka ia hanya datang memasrahkan nyawanya. Peradaban hancur, manusia menjadi saling memangsa, membunuh, merampok, dan lain-lain. oleh karena itu maka peradaban harus dibangun kembali agar kehidupan kembali kesediakala, kembali ke masa sebelum persembahan kuda.

Dan untuk menghemat waktu 300 tahun untuk membangun peradaban maka harus ditemukan sebuah kitab yang bernama omong kosong. Pencarian kitab ini dilakukan oleh Satya dan Maneka, serta jutaan manusia dengan berjuta maksud, baik itu maksud buruk atau maksud baik.

Awal kisah, Maneka adalah seorang pelacur yang mempunyai rajah kuda itu. Setelah bencana persembahan kuda itu selesai, rajah yang menjelma itu kembali ke punggung maneka melalui jendala. Banyak orang yang melihatnya sehingga setelah kejadian itu banyak yang mendatangi maneka untuk tidur dengannya. Semua orang dalam kota itu ingin tidur dengannya, baik laki-laki maupun perempuan.

Sampai pada akhirnya Maneka melarikan diri karena tak tahan. Pelarain itu yang akhirnya membawa Maneka kepada Satya. Satya adalah seorang pemuda yang menolong maneka saat pingsan sehabis melarikan diri. Setelah pertolongan itu Satya menyukai maneka, dan bersedia melakukan apa saja untuk Maneka.

Karena merasa bernasib sial akhirnya Maneka ingin merubahnya dengan mencara seorang penulis yang berkisah tentang dia, tentang persembahan kuda, tentang Sri Rama, dan tentang kisah Ramayana. Penulis itu bernama Walmiki.

Pencarian yang dilakukan Maneka tentu saja ditemani Satya yang lebih mahir dari Maneka. Pencarian itu membawanya ke sebuah petualangan yang seru dengan menggunakan pedati yang ditarik oleh kerbau dengan gentanya.

Selama berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun mereka mencari Walmiki menuju arah senja berdasarkan informasi yang didapatnya. Walmiki yang merupakan tukang cerita yang pandai berkelana keliling dunia untuk bercerita tentang Ramayana.

Dalam perjalan itu Maneka banyak dicari untuk dibunuh karena rajah itu atau bahkan banyak orang yang lari terbirit-birit ketika melihat rajah kuda yang berada di punggungnya itu. karena kuda itu yang pertama kali muncul sebelum terjadinya persembahan kuda oleh prajurit ayodya.

Sebelum akhirnya pencarian yang dilakukan oleh Maneka dan Satya ini berbelok arah menjadi mencari Kitab Omong Kosong yang terdiri dari lima bagian. karena mereka pikir Kitab Omong Kosong lebih penting karena bisa membangun peradaban manusia yang sudah hancur akibat persembahan kuda dan bisa menghemat waktu selam 300 tahun.

Dalam pencarian kitab yang berada di gunung Kendalisada itu, mereka malah menemukan Walmiki. Dengan segera maneka minta dirubah nasibnya. Walmiki tidak bisa merubahnya namun maneka bisa menulis ceritanya sendiri tanpa tergantung dengan Walmiki. karena kebahagiaan harus dibentuk sendiri, Walmiki menyerahkan semuanya kepada maneka.

Setelah Maneka diberikan otoritas penuh untuk menuliskan ceritanya sendiri. Mereka pergi mencari Kitab Omong Kosong yang berada digunung Kendalisada tempat Hanoman bertapa. Dan setelah mereka menemukan walmiki akhirnya mereka bertemu dengan hanoman dan kitab omong kosong yang pertama ditemukan.

Kitab Omong Kosong itu ditulis oleh hanoman dan mereka harus berusaha keras untuk mencari kitab itu. kitab pertama yang berjudul “Dunia Sebagaimana Adanya Dunia” telah didapt. Setelah itu pencarian diwarnai oleh berbagai macam petualangan. Sampai kelima kitab itu ditemukan dengan cara yang tak disangka, ajaib dan beruntung.

Setiap kitab mempunya makna tersendiri. Setiap judulnya mengandung sebuah makna filosofis tentang dunia ini. serpeti kitab yang kedua berjudul “Dunia Seperti Dipandang Manusia.” Ketiga berjudul “Dunia Yang Tidak Ada.” Yang keempat berjudul “Mengadakan Dunia” sampai yang kelima berjudul “kitab keheningan.”

Dalam “Kitab Omong Kosong” ini Seno Gumira Ajidarma banyak memberika pandangan terhadap sesuatu, seperti cinta, kekuasaan, kebenaran, kedudukan wanita dan banyak lagi. cerita ini sangat menarik karena mempunyai banyak makna dalam isinya.

Sampai pada akhirnya Togog, tokoh yang diciptakan oleh Seno mengakui bahwa kitab ini adalah hanya omong kosong belaka. Ia berpesan kepada pembacanya agar tak membaca Kitab Omong Kosong ini karna hanya membuang waktu. Tidak bagus karena togog mengaku tidak bisa bercerita, tidak intelek, penggambaran yang kurang bagus dan berbagai alasan yang dikemukakan togog agar kitab ini tidak dibaca. Dan terakhir togog minta maaf, minta beribu-ribu maaf atas cerita yang ia tulis ini.

Kamis, 18 Agustus 2011

Lukisan Dinding Di Wijaya Galery

Oleh Muhammad Umar
Lukisan berukuran 50x50 cm itu terpampang di dinding menghadap pintu masuk toko wijaya galery. Penempatanya seolah-oleh merupakan lukisan selamat datang yang menyapa pengunjung dengan tatapan genit, hingga mata pengunjung akan secera refleks melihatnya ketika masuk.

Lukisan itu berupa seorang perempuan bersayap seperti peri berdiri tanpa mengenakan sehelai benang di tubuhnya. Perempuan itu menutup paras eloknyanya dengan kedua tangannya. Kulit putih mulusnya terlihat dari ujung jempol kaki hinggal kening seraya turut memancarkan keindahan duniawi. Rambut panjang dan kemerahan kukunya, ditambah latar belakang lukisan yang berwarna pelangi akan memaku setiap tatapan yang mengarah kepadanya.

Itu merupakan lukisan paling berwarna yang tertempel di dinding toko itu. Pemilik lukisan itu adalah wijaya, seorang seniman dan juga sebagai pemilik wijaya galery. Wijaya mempunyai rambut yang panjang hingga pundak yang dikuncir. berperut buncit dan tak terlalu tinggi. Lelaki berumur 40 tahun ini telah membuka galerynya selama berpuluh-puluh tahun hingga banyak orang yang sudah mengenalnya dekat.
***
Di saat terik matahari pagi menjelang siang, seorang bapak dengan menggandeng anaknya menginjakan kakinya di wijaya galery. Bapak itu mempunyai tinggi sekitar 175cm dan sedikit kurus, ia menggunakan sepatu sandal santai berwarna coklat. Bila dilihat dari wajahnya, ia berumur kurang lebih 35 tahun. Sedangkan anaknya kira-kira berumur 5 tahun. Anak ini menggunakan celana pendek berbahan denim dengan kaos berkerah berwarna warni kesukaanya.

Dengan membawa sebuah gambar orang itu menyambangi wijaya gallery. Gambar itu merupakan gambar kota suci dimana ratusan orang setiap tahunnya datang untuk berziarah kesana. Kota suci terlihat indah dengan suasana malam ditemani lampu-lampu yang dengan sombongnya menunjukan cahayanya silaunya.

Lelaki itu berkeinginan memasangkan bingkai untuk gambarnya. sebelumnya ia celingak-celinguk di depan daftar pilihan bingkai yang tersangkut di dinding toko untuk memilih bingkai yang tepat. Ia membayangkan satu demi satu bingkai itu bila diadu dengan gambar kota suci miliknya.

Sambil memilih, ia bertanya harga kepada pemilik toko itu. lelaki itu menunjuk frame yang bertekstur agar gambarnya terkesan mewah. Setelah menjawab tingkatan harga, pemilik toko wijaya galery itu merekomendasikan beberapa alternatif kepada lelaki itu agar gambarnya tak terlihat ruwet. Percakapn itu terjadi begit santai dalam terik mentari pagi menuju siang.

Suara deru mesin kendaraan bermotor dan sesekali bunyi klokson menemani diskusi kedua orang itu di galery wijaya yang bersentuhan langsung dengan jalan raya. Tumpahan cat minyak, beberapa potongan kayu, serta beberapa karya yang rusak atau gagal menjadi pemandangan tersendiri yang mencuat dari toko itu.

Selama proses tawar-menawar , lelaki itu membiarkan anaknya untuk melihat lihat. Anak itu melihat beberapa lukisan dengan aneh. Lalu ia berpindah untuk melihat lukisan setengah jadi yang masih tertera di kanvas yang dijepit oleh besi dengan tiga potong kaki kayu untuk menopang sketsa lukisan itu. saat ia mencoba menyentuhnya,bapaknya langsung melarangnya.
“Jangan pegang-pegang nak!”
“Kenapa pak?”
“Nanti lukisan pak wijaya rusak.”
Anak itu segera menjauh dan kembali melihat lihat lagi.

Saat terik matahari pagi bergerak menuju siang. Lelaki itu sepakat untuk memasang bingkai dengan bahan kayu yang warnanya natural. Kayu itu terbuat dari kayu jati dengan beberapa ukiran disetiap sudutnya. Pelukis itu segera mengukur gambar itu untuk disesuaikan dengan bingkainya.

Sambil menunggu, bapak itu melihat beberapa karya pemilik toko itu. saat sedang mengagumi keindahan lukisan itu, anak kecil itu mendekati ayahnya, lalu ia menunjukan sebuah gambar yang terpampang di dinding menghadap pintu masuk toko wijaya galery. Ayahnya terkaget-kaget melihatnya.
“Kenapa nak dengan gambar itu?”
“aku mau gambar itu pak.”
Lelaki tua itu sontak, hatinya berdebar. Ia tak menyangka anak sekecil itu meminta lukisan seorang perempuan bersayap yang berdiri tanpa mengenakan sehelai benang di tubuhnya. Perempuan itu menutup paras eloknyanya dengan kedua tangannya. Kulit putih mulusnya dari jempol kaki sampai keningnya terlihat indah. Ditambah lagi kukunya yang merah dan rambuynya yang hitam beradu dengan Latar belakang berwarna warni hingga menambah cerah gambar itu.

Lelaki itu mencoba bersikap tenang. Rasa kagetnya sebisa mungkin ia sembunyikan di depan anaknya. Dengan tenang ia menasihati anaknya agar tak memilih gambar itu.
“Gambar itu jelek, nak.”
“Aku mau gambar itu, pak.”
“Iya, tapi jangan gambar itu, nanti saja bapak belikan mainan,” bujuknya
“Gambar itu sama mainannya juga, pak.”
“Nanti bapak belikan mainan saja, nggak dengan gambar itu,”
“Nggak mau, aku mau gambar itu,” bantah anak itu.
Orang tua ini kesal karena anaknya tak mau menuruti ucapanya. Ia mencoba membujuk anakya lagi dengan cara yang berbeda.
“Adi kan anak baik, anak baik harus nurut apa kata bapak.”
“Iya, tapi aku mau gambar itu pak,”
“Iya, kita pulang dulu, bilang mamah dulu ya.”
“Nggak mau, bapak nanti bohong.”
“Itu gambar porno, kamu masih kecil, nggak boleh.”
“Aku mau gambar porno itu pak,” ucapnya mengikuti ayahnya.
Kesabaran lelaki itu hilang juga. Ia menarik anaknya, dan memarahinya. Anak itu langsung ngambek dan duduk lantai toko yang hanya beralaskan peluran. Anak itu menendang-nendang, lalu melepas sepatunya dan melempar-lempar sepatunya. Tetapi ia belum menangis.

Anak ini sangat pintar, biasanya dengan melakukan hal seperti ini bapaknya memberikan sesuatu yang di inginkanya. Namun kali ini bapaknya tak akan mau menurut kemauan anaknya itu. ia bahkan bertambah marah saat anaknya melakukan hal itu.

Lalu lelaki tua itu berpura-pura ingin memukul anaknya, namun anak itu tak bergeming, anak itu masih menendang-nendang dan menangis ketika bapaknya menjewernya telinganya karena tak bisa diberi tahu.

Lalu pemilik toko itu keluar tuk melihat apa yang terjadi sekaligus mengkonfirmasi bahwa materi untuk gambar itu tersedia. Pemilik toko itu langsung menanyakan peri hal yang terjadi kepada lelaki itu. pertanyaan itu disambut oleh makian dari lelaki itu.
setelah memberi uang, ia langsung menarik anaknya yang sedang menangis menuju mobil. namun anak itu berontak dan berhasil lolos. Ia pergi ke arah wijaya galery, berlari kencang. namun dengan sigap bapaknya keluar sebelum anak itu merusak koleksi seniman itu.
***
Saat terik matahari pagi sedang berjalan menuju siang, bapak dan anak ini sampai dirumah. Anak ini langsung masuk dan segera memeluk ibunya.
“Kenapa anak ini nangis?” ujar ibunya sambil menggendongnya.
“Gimana saya nggak mau marah, dia merengek minta gambar porno,”
Mendengar seperti itu ibunyapun kaget tak percaya dengan ucapkan suaminya.
“Ya, aku ingin gambar porno,” kata anak itu luguh.
“Kamu belum boleh, kamu masih kecil, nanti kalau sudah besar akan bapak beri tahu, sekarang belum boleh. Kamu tau dari mana gambar itu?”
“Nggak tahu,” lanjutnya
“Apakah kamu yang memberi tahu,” tanyanya kepada istrinya.
“Saya tak pernah mengajaknya menonton siaran porno.”
“Kamu seharusnya lebih menjaga tontonan buat anak dari pagi sampai siang,kalau sore sampai ia tidar ada aku, dan aku tahu tontonan yang baik untuknya. Seharusnya kamu menjaganya bukan membebaskanya, karena akibatnya anak ini bisa kecanduan. Memang tak ada acara lain yang bermutu dan mendidik?”
“Di pagi hari acara tv kecendrungannya lebih ke entertainment seperti gosip dan acara musik, hanya sedikit acara televisi yang menayangkan berita atau acara anak-anak”
“Memang tidak ada yang lain”
“Kecendrunganya seperti itu”
“Ah, acara tv indonesia sekarang, apakah tidak ada yang lebih kreatif, lebih mendidik dan bermutu? Apakah kreatifitas mereka sudah mati hingga sulit membuat acara yang mendidik? Ah, Sudah lah aku pusing, urus anak itu,” ucapnya seraya pergi ke kamar.
Selepas kepergian ayahnya ibunya langsung mengambil alih keadaan. Kesempatan itu dia gunakan sebaik-baiknya. Dengan segera ia menanyakan anak itu dengan lembut.
“Kenapa menginginkan gambar porno itu.”
“Orangnya bersayap mirip peri yang mengabulkan segala permintaan anak-anak yang mamah ceritakan semalam. Terus Gambarnya juga berwarna warni seperti pelangi, kan mamah tahu kalau aku suka pelangi, dan aku ingin mamah melihatnya juga.”
2011-08-19

Awal Adalah Kelanjutan Cerita Dari Yang Akhir

Awal adalah kelanjutan cerita dari yang akhir. Seperti halnya suatu pagi yang merupakan kelanjutan cerita pada malam hari atau suatu bulan yang barakhir di desember dan dimulai lagi saat januari, berputar. Dunia ini berputar, seperti kata orang terkadang manusia di atas dan terkadang sebalinya, namun dengan berputarnya dunia berarti dunia ini takan berhenti, terus menuerus tanpa batas, sampai pada akhirnya Si Empunya batas itu yang menghentikannya.

Dalam cerita ini tak ada yang akhir, karena selalu ada yang baru, dan yang baru. Tetapi mengapa kita menyebut kata “akhir.” Bukankah saat manusia meninggalkan dunia itu ia memasuki sesuatu yang baru, dan ketika dunia itu berakhir kita akan berpindah kepada dunia yang baru, ya awal merupakan kelanjutan dari yang akhir.

Saat manusia lahir, itu merupakan suatu awal dari berakhirnya manusia yang lain. lalu masa bayi itu berakhir yang merupakan awal ia menjadi anak-anak. Ia bersekolah dasar lalu berakhir dan memulai lagi kepada yang menengah dan begitu selanjutnya sampai ia berakhir dengan mati dan ada lagi manusia yang memulainya di dunia.

Pada saat seorang orang berumah tangga, ia mempunyai anak yang merupakan “penerus keturunan.” Saat orang tua itu meninggal, ia berharap anaknya bisa melanjutkan perjuanganya. Dan ketika seorang anak itu mempunyai anak lagi saat dewasa, ia mungkin akan bertindak seperti itu kepada anaknya.
Mungkin bisa dilihat dari perjuangan Indonesia. Saat belum merdeka, atau ketika indonesia dijajah oleh bangsa lain, rakyat indonesia berjuang agar Indonesia merdeka. Dan ketika masa penjajahan berakhir, maka di mulai suatu masa yang baru lagi yaitu masa kemerdekaan.

Bahkan ketika seorang kalah dalam meja judi. Ia mesti menyelesaikan kekalahanya itu, dan apabila ingin menang ia, harus memulai lagi dengan kekuatan yang baru, begitu sebaliknya, saat ia menang di meja judi, bisa saja masa kejayaanya berakhir dan masa kekalahannya dimulai. Dan bisa dibilang awal adalah kelanjutan dari yang akhir.

Jadi apa itu kata awal dan kata akhir. Dimana yang awal dan dimana yang akhir. Jadi yang awal itu bagaimana dan yang akhir itu bagaimana bila akhir itu kelanjutan dari yang awal. Seperti halnya pertanyaan apakah bebek dulu aatau telurnya dulu.

Mimpi

Entah bermula dari mana. Seingatku, tiba-tiba semalam aku berada didekatmu dalam sebuah ruangan. Ruangan yang asing bagiku, ruangan yang tak ada sangkut pautnya denganmu. Aku pun merasa heran karena kita masih bersama disana.

Tampaknya kau juga masih sangat menginginkanku. Dan masih tergambar jelas bila diruangan itu ada kita bertiga, aku, kamu, dan adikmu. Mungkin adikmu itu ingin menjahili kita namun karena dia belum mengerti apa-apa jadi adikmu mengerti saat kau suruh dia untuk keluar, bermain bersama temanya.

Temanya langsung menjemputnya di depan pintu ruang itu. Di sana adikmu dengan temenya seperti berbicara karena terlihat dari dalam ruangan yang berjendela kaca. Mungkin membicarakan kita, tapi aku acuh karena diruang itu hanya tinggal kau dan aku.

Tak suatu hal khusus kita lakukan. Kita melakukan hal yang biasa kita lakukan namun ada yang sedikit berbeda. Kau lain dari biasanya dan kau mengizinkan apapun yang kumau. Aku heran, namun aku senang, sampai aku terbangun dengan rasa jengkel mewabah dari dalam hati.

Sekarang, ya malam ini kamu harus bertanggung jawab atas mimpi yang kamu berikan itu. karena membuat aku belum bisa melupakanya. Aku menginginkan mimpi itu lagi. Semoga kau datang dengan wajah indah dan menemaniku sampai aku terbangun nanti.

2011-08-19

Siluman Menjelma Menjadi Sinetron

oleh Muhammad Umar
Hari senin, 15 Agustus 2011, sekitar pukul sembilan pagi WIB. Terdapat suatu acara sinetron di salah satu stasiun televisi swasta. Dalam film itu digambarkan seorang cowo jagoan yang ingin mengembalikan tali persahabatannya dengan seorang cewe, dimana si cowo itu akan melakukan apa saja agar si cewe mau menerimanya lagi menjadi sahabatnya.

Latar belakang film ini adalah sebuah sekolah SMA mewah, dimana si tokoh utamanya mengandarai harley davidson sebagai alat tranportasi. Tak lupa ajakan clubing seperti sudah lazim disebut dalam sinetron itu oleh remaja yang KTPnya saja masih dibuatkan, belum mengurus sendiri. Terlebih uang yang berwarna biru seperti uang ribuan yang dengan mudah dibuang-buang dari kantongnya.

Tayangan ini seperti siluman yang bisa merasuk ke tubuh para remaja atau anak-anak yang menontonya. Hingga terbentuk suatu pola pikir yang mempengaruhi mereka dalam bertingkah laku. Pola pikir dimana untuk dianggap “keren” dia harus berpola hidup mewah, Pola hidup yang biasa tinggal di negara kapitalis dan mulai mewabah ke indonesia. Hal ini tergambar jelas dalam sinetron ini.

Bila ditinjau dengan konteks kekinian, menjadi wajar bila banyak para remaja yang rela menghabiskan uangnya untuk berpola hidup mewah. Pola hidup yang kurang cocok bila diterapkan di negara yang masih terdapat rumah dipinggir kali. Bila orang tua dari para remaja itu adalah seorang yang berkecukupan itu akan menjadi lumrah, namun dengan status sosial masayarakat yang masih terseok-seok untuk memenuhi biaya pendidikan, bagaimana?

Budaya ini mulai merasuk ke pemuda-pemudi indonesia, dan bisa dikatakan salah satu faktornya adalah sebuah tontonan itu sendiri. Yang perlu dipertanyakan apakah motif dar si pembuat film itu sendiri, dan para manusia yang terlibat dalam produksinya. Bila bemotif ekonomi, haruskah mengorbankan pemuda-pemudi indonesia.

jika diamati, masih sangat banyak tayangan yang mendidik, dan biasanya tontonan yang disuguhkan oleh mereka adalah tontonan yang mempunyai rating tinggi dan berkualitas tinggi. Namun tak mengurangi minat masyarakat untuk melahap tontonan itu.

Mestinya tayangan yang mempunyai rating baik juga jangan menjadi berlebihan. Jangan karena “aji mumpung” mereka manambah eposide begitu saja. Terkadang penambahan yang seperti itu akan membuat para penontonya jengah karena jalan ceritanya tak lagi bagus. Serta pesan-pesan yang disampaikan menjadi tidak bisa dicerna oleh penontonya.

Meski begitu, mesti ada kontrol dari para remaja tersebut. Mereka mesti bisa mennyeleksi tontonan-tontonan yang baik dan yang buruk. Selain itu juga masih banyak tontonan yang lebih baik tertimbang sinetron yang menyuguhkan mimpi-mimpi patah hati yang diselimuti kemewahan membunuh.

Untuk para produsen sinetron, semestinya mereka membuat suatu film yang secara langsung atau tak langsung berguna dan mendidik, karena para remaja dan anak-anak sedang dalam masa pendidikan dan mudah terpengaruh. Jadi bila sudah sedari kecil seperti itu bagaimana dimasa depannya. Jangan hanya membuat film yang menjual mimpi indah tanpa memberikan pendidikan untuk mencapainya. Sesuai takaran bukankah lebih baik daripada berlebihan atau kurang.

Dua Puluh Lima Juta Rupiah Di Selipan Dompet

Oleh Muhammad Umar
Di kafe yang berpendingin udara, Sardi sedang berdiskusi dengan Bono, teman semejanya saat SMA. Mereka tertawa lepas dengan sesekali mengecup gelas yang berisikan air teh. Di atas meja tersaji beberapa toples kue, satu piring beling variasi buah, dua cangkir teh, dan satu kertas persegi panjang dengan tulisan dua puluh lima juta rupiah yang dibubuhkan dengan tinta pena. Di pojok kiri bawah tertera sebuah tanda tangan dengan nama jelas Bono Sunandar.

Mereka sudah tahunan tak bersua seperti seorang ibu yang menunggu anaknya pulang dari rantau. Mereka mentertawakan kebodohan masa remaja yang sudah lalu, menceritakan permasalahn keluarga sampai membicarakan pemerintahan suatu daerah.
Semakin lama, alur pembicaraan mereka berubah. Dari pembicaraan pemerintahan suatu daerah, perlahan tapi pasti, Bono membawa pembicaraan itu ke maksud utamanya mengajak Sardi bertemu.
“Perusahaan saya ikut lelang. Mudah-mudahan menang lelang yah. Kamu panitia lelangnya kan?”

Seiring berjalanya detak jarum jam, Senyum sardi menjadi tak alami sepert terdapat sesuatu yang menahannya tuk merubah bentuk bibir, namun ia paksakan untuk menghormati sahabat karibnya semasa SMA itu. Sardi mulai mengendus maksud dibalik pertemuannya. Meski dari mulutnya tak terlontar kata tolong tetapi maksud dan tujuannya jelas, karena Sardi sudah mengenal temannya itu.

Sebelum mereka tercerai, bono memberikan kertas yang bertuliskan dua puluh lima juta rupiah itu. Dengan segera Sardi menolaknya. Bono masih memaksa, sardi tetap menolak. Namun Bono memasukan cek itu ke kantong celana Sardi, lalu ia beranjak pergi.
“Kalau perlu, cairkan saja. Ada uangnya kok, buat berobat istrimu,” ucap Bono dengan ramah.
“Maaf, saya tak bisa terima.”
“Saya tak ada maksud apa-apa, saya hanya ingin membantu.”
“Ya, tapi maaf, saya tak bisa bantu apa-apa.”
***
Seusai perpisahan itu, Sardi tak pulang ke rumah. Ia menuju rumah sakit tempat istrinya diobati. Sudah tiga hari istrinya terbaring karena kangker kulit. Penyakit yang menetap di tubuh istrinya sejak dua tahun lalu akibat luka yang tak sembuh.

Sardi masuk kedalam pintu yang bertuliskan dahlia. Di dalam ruangan adik iparnya duduk menunggunya. Di malam yang hitam pekat itu, waktunya Sardi untuk menjaga istrinya. Adik iparnya pamit kepada Sardi namun tak pamit kepada kakaknya, karena sudah tertidur.

Di tepi kasur putih rumah sakit ia merebahkan bokongnya serta menatap wajah istrinya yang putih memucat dengan rambut panjangnya lurus terurai. Sardi menggenggam tangan istrinya yang diselusupi selang infus dengan sesekali mencium punggung tangan istrinya seraya mengucap doa di hati. Istrinya bergerak dengan keadaan masih tertidur.

Ia masih menatap paras putihnya selama setengah jam, sambil sesekali mengusap keringat yang merembes dari pori-pori kulit keningnya. Ia terpaku memandangnya namun penglihatannya semakin lama semakin kosong karena akalnya berkelana meninggalkan tubuhnya. Akalnya masih mencari cara agar ia bisa membayar operasi istrinya besok.

Setelah berkeliaran lama, akalnya secara refleks disapa oleh perjumpaan tadi sore dengan Bono. Sardi langsung merogoh kantongnya, mengeluarkan kertas yang tertulis dua puluh lima juta itu dari celana hitamnya. Lalu membuka lipatan kertas itu dan memandangnya. Hatinya ragu melihat kertas itu. Setelah itu ia melipatnya lagi dan menyelipkannya disela dompet.

Ketika waktu sudah hampir mengubah hari, Sardi menyadarkan pikirannya. Ia beranjak dari tepi kasur dan mencium kening istrinya yang basah oleh keringat. Ia menggelar karpet di lantai samping ranjang istrinya dan menarik tasnya untuk dijadikan bantal. Tubuhnya telentang sambil matanya menatap langit-langit ruangan rumah sakit. Beberapa saat kemudian tertidur.

Fajar sudah merekah dengan guratan cahaya jingga ketika sardi membuka mata. Hari ini istrinya akan dioperasi, namun ia tak bisa menemani karena harus memimpin rapat. Sardi berangkat bertepatan dengan dimulainya operasi.

Tiba di kantor, ia langsung memulai rapat. Ia dan kesembilan rekanya harus menentukan satu dari dari tiga kontraktor yang memenuhi syarat. Ternyata kesembilan dari rekannya sudah memilih perusahaan X karena dinilai kompeten.
“Saya tak mengerti mengapa bapak-bapak sekalian meilih perusahaan X, sedangkan perusahaan itu adalah perusahaan baru. Orang-orang diperusahaan itu merupakan orang-orang dari perusahaan B yang telah kita black list karena sering gagal,” ucap Sardi.
“Itu yang paling kompeten,” ucap lelaki di sebarang meja Sardi.
“Bagaimana dengan dua perusahaan lain.”
“Mereka sama saja, tiga perusahaan itu mempunyai akal bulus, kalau sudah di black list maka akan merubah nama,” ucap lelaki disamping kiri meja Sardi.
“Meski begitu kita harus objektif.”
“Ah, sudahlah, ini sudah konsensus,” ucap seorang wanita.
“Tapi setidaknya harus kita bedah lagi, kita harus diskusikan lagi soal ini.”
“Kami bersembilan sudah mendiskusikannya,” ucap lelaki diseberang meja lagi.

Mereka bersembilan masih berdebat dengan Sardi yang cuma sendirian selama satu jam.

“Sudahlah, terlalu lama kita berdebat. Pak Sardi, Ini sudah pesanan dari atas.”
“Kenapa tidak menolak.”
“Saya hanya bawahan.” Ucap lelaki yang terletak disamping kanan Sardi.

Sardi tercengan lalu terdiam. Ia mengamati orang-orang yang berada di ruang rapat itu. Dan lelaki yang terletak di hadapan meja Sardi berdiri, kursi yang di dudukinya bergoyang. Ia berdiri dengan satu tangan masih menempel di meja melingkar raung rapat. Lalu menambahkan.
“ah, saudara anak baru, sudah diam saja, ikuti saja jalan mainnya, terlalu idealis saudara,” dengan nada yang menyindir, setelah itu ia duduk dan menggumam.
Rapat selesai. Lelang dimenangkan perusahaan X yang dipimpin Bono. Semua peserta rapat segera berhamburan keluar. Sardi membereskan berkas sebelum keluar. Salah satu peserta rapat berbicara kepada temannya “Ini adalah rapat terlama yang pernah saya alami di sini.”

Sardi hanya diam saja, kupingnya menyimak namun ia pura-pura tak mendengar perkataan mereka. Sardi bergegas menuju ruangannya untuk menyimpan berkas dan membereskan tas agar bisa bersegera ke rumah sakit. Tiba-tiba salah satu peserta rapat yang juga teman sepermainannya mendekatinya.

“Memang nggak dapat dari Si Bono,” ucapnya. “Setahu saya dia selalu ngasih ke semua panitia, malah kalau ketua biasanya diberi paling banyak,” tambahnya.
Sardi hanya tersenyum meladeni teman waktu kecilnya itu.
“Kalau di sini jangan terlalu jujur lah, Sar, santai saja,” katanya lagi.

Sardi seperti disambar petir di siang bolong. Ia tersentak ketika teman seangkatannya itu bertutur. Padahal dia yang mengajarinya agama saat remaja. Sardi menghela nafas. Tempat ini seperti topi pesulap. Bisa merubah apa saja yang baik menjadi kurang baik atau mungkin tidak baik secara instan. Sardi berpamitan kepada temannya itu ketika berada di depan ruangannya.

Ia langsung pergi kerumah sakit. Di perjalanan ia gelisah namun ia memacu mobilnya dengan kencang denagn tidak konsentrasi. Hampir kulit mobilnya tergores metro mini yang berugal-ugalan ria. Dalam kecepatan tinggi, telepon genggamnya berbunyi. Adik iparnya memberi kabar baik tentang istrinya, berita itu membuat perasaannya tenang.

Setelah sampai dirumah sakit, ia langsung menuju ruang dahlia dengan setengah berlari. Ia mendorong pintu dan ketika melihat istrinya, ia segera memeluk dan mencium kening istrinya. Lalu ia mengajak istrinya mengobrol sambil menggenggam tangannya kuat-kuat. Rasa galau Sardi runtuh ketika.

Dua hari setelah itu, istrinya diperbolehkan pulang. Ia menuju bank terdekat untuk menyelesaikan biaya rumah sakit sebesar 20 juta rupiah. Cek ia keluarkan dengan ragu namun pikirannya memberikan banyak macam alasan karena perusahaan X yang dipimpin oleh Bono memenangkan tender.

Ketika sampai di depan teller bank, ia memberikan cek itu kepada petugas untuk diproses. Petugas itu melayaninya dengan ramah. Sardi menunggu proses itu dengan resah. Di belakangnya para nasabah bank itu mengantri dengan sabar. Dengan cepat petugas wanita itu muncul dan munyuruh Sardi tuk tanda tangan.

Pena tergenggam di tangannya dan sudah mengarah ke kertas yang diberi petugas bank itu. Sardi membaca kertas yang akan ia tanda tangani. Petugas itu mempersilahkan dengan senyum sambil menunjukan ke tempat ia harus menorehkan tintanya. Ia terdiam.

Sardi menjatuhkan pulpennya di atas kertas yang harus ia tanda tangani dan menanyakan bagaimana caranya meminjam uang dengan jaminan sertifikat rumah. Cek yang ia serahkan, dipintanya. Ia melipatnya dan diselipkan di dompet.
***
Mereka sampai di rumah dengan pesan dokter harus berobat jalan. Istrinya diarahkan menuju kamar perlahan-lahan. Sardi menemani di sampingnya sambil sesekali mengambil sesuatu yang diinginkannya.

Sardi masih mentap wajah putih istrinya yang menyegar. Bulu mata lentiknya dan hidung bangirnya terlihat indah dengan rambut lurus yang terurai. Ia masih terpaku melihatnya dan pandangannya semakin lama semakin kosong karena akalnya menayangkan peristiwa di ruang rapat itu.

Teguran dari istrinya mengembalikan akalnya yang berkelana. Sardi lalu berkata kepada istrinya.
“Maafkan aku, aku sudah berusaha jujur. Aku tidak bisa mengubah. Aku tak bisa melawan arus. Tapi aku tak mau mengikuti arus. Aku berusaha tak seperti mereka.”
Istrinya yang tak mengerti, melihat suaminya dengan tatapan aneh, setelah itu mereka berdua tertawa.
2011-08-18

Jumat, 12 Agustus 2011

Jalan yang bercerita


Oleh Muhammad Umar
Seperti pohon putri malu yang secara refleks menguncup ketika tersentuh, otakku secara refleks menjurus kesuatu era ketika memoriku tersentuh jalan ini. masa dimana aku masih menjadi remaja tanggung, saat pertama kali aku diajari cara merokok oleh temanku yang juga murid haji sardi. Jalan ini seperti sedang bercerita, dan aku menyimaknya dengan khusyu.

Waktu itu, jalan ini adalah tumpukan tanah yang akan becek berlumpur ketika musim hujan dan akan mengeras lalu retak dan berdebu disaat kemarau. Jalan ini sempit karena banyak tumbuhan besar tertancap dengan tanahnya beralas pohon putri malu yang batangnya tajam.

Dulu, jalan ini gelap dengan mitos tempat jin buang anak. Tak ada warga kampung yang ingin melewati jalan ini bila malam, kecuali terpaksa. Biasanya orang asing yang sering melewati jalan ini. Hanya aku dan murid haji sardi lain yang mau tak mau harus melewatinya karena diujung jalan sana terletak rumah haji sardi, guruku.

Kala itu, aku merupakan bagian dari murid haji sardi yang tiga. Sedikit oarang yang lulus ujian pertama karena syaratnya adalah kejujuran. Oleh karena itu alam yang mengawasi dan ia juga akan menyeleksi. Tak mungkin ada kecurangan pendidikan, karena kecurangan itu akan melumpuhkan tubuhnya ketika ujian di masa depan.
Mereka yang memilih jalan ilmu ini harus siap dengan kosekuensinya karena Ilmu yang diberikan oleh guruku itu ilmu kebal belati, parang, beceng, atau bahkan dilindas kereta tak mempan. Ini sangat sulit, sudah tiga tahun aku berguru, namun belum ada hasil, waktu itu.

setelah tujuh tahun kuarungi, ilmu itu ialah bagian dari tubuhku. Saat itu umurku kira-kira 20 tahun dan sedang mengeyam bangku SMU. Namun baru satu bulan aku menguasai ilmu itu, guruku kembali ke pangkuan sang empunya.

“Ilmu seperti itu sudah tak lagi berguna zaman sekarang, lebih baik kamu sekolah yang pintar agar tak dibodohi sepertiku,” ucapnya kepadaku saat nafasnya sudah di ujung tenggorokan, sebelum nafasnya terbang dibawa malaikat yang menjelma menjadi hembusan angin berudara dingin.
“ya,” ucapku.
Bersamaan dengan itu, kukembalikan ilmu itu ke alam. Akupun berbelok dipersimpangan dan tidak memilih melanjutkan jalan itu.
***
Aku berlari sekencang-kencangnya ketika aku mulai melihat jalan ini. “kenapa harus malam hari aku menimba ilmu itu, hingga aku harus lewat sini,” pekikku. kegelapan pekat berkuasa dijalan ini, “ah” kenapa aku takut gelap? Apa karena ada setan? Bukankah setan muncul kapan saja, dimana saja, dan dari mana saja. Kenapa harus malam, kenapa tidak siang yang ditakuti manusia? bukankah pada siang lebih banyak terjadi keseraman dibanding malam, pemeresan para petani dikampungku terjadi pada siang hari.

Nafasku tersenggal-sengal ketika sampai dan disambut senyum oleh guruku. Senyum tanpa menampilkan gigi dari lelaki tua berkopiah hitam dengan sorban di lehernya. Guruku sangat sederhana, Pakaian yang dikenakan hanya gamis putih yang menguning. Pakaian itu hampir menutup semua kulit keriputnya, kecuali telapak tangan, telapak kaki dan muka. Kerut diwajahnya seperti menggambarkan sisa usianya di bumi ini, matanya yang teduh menyiratkan ketenangan.

Aku harus pulang lebih cepat. Selain karena sedang ujian, aku harus menjaga keluargaku. Sudah dua bulan ini, kampungku sering disatroni garong. Banyak warga yang resah, termasuk ibuku yang takut akan kehilangan sapi satu-satunya.

Keesokan harinya, saat aku ingin menyambangi rumah guruku, tersiar kabar sapi milik tetanggaku hilang. Aku datangi rumahnya, ternyata benar kedua sapinya hilang. Perempuan pemilik sapi itu hanya menangis, terkadang mengamuk, meronta-ronta. Suaminya dikabarkan mengejar garong itu dengan golok.

Lalu aku langsung melapor ke haji sardi. Seperti biasa aku berlari sekencang-kecangnya di jalan itu, dan ketika sudah dekat dengan rumah guruku, aku menemukan seseorang tergeletak dan lariku semakin kencang.
“Pak haji.., ada mayat pak, pak haji.., pak haji..,” aku berteriak dengan sisa nafas.
Pintu dari bambu itu berderit. Pak haji langsung menghampiriku
“Ada apa?” ucapnya kaget
“Ada mayat, di jalan itu.”

Kami berempat langsung menuju ke tempat kejadian perkara. Hari itu pertama kalinya aku berjalan dan berlama-lama disana. Kami langsung membopong mayat pak barjo menuju rumahnya Selama perjalanan itu aku tak berani menatap jalan, juga mayat yang punggungnya hancur. Tatapan ini aku paksa mengarah ke haji sardi dan tak ku izinkan ke yang lain.

Sampai dirumahnya, istrinya yang baru saja menyelesaikan tangisnya harus memulai lagi, mungkin kali ini tangisnya tak akan berakhir. Setelah kejadian itu, para warga berjaga-jaga di depan rumah pak barjo. Tak ada yang bertangan kosong, semua memegang senjata kecuali haji sardi, ia hanya mengamati sekelilingnya sambil sesekali menghembuskan asap dari rokok yang dihisapnya.

Ketika sedang berjalan menuju rumah haji sardi. Aku melihat para lelaki itu berjaga di pos ronda dengan segala senjata dan amunisinya. Mereka seperti tak ada letihnya. Saat pagi mereka harus bertani, mencangkul hamparan sawah, menyirami, memupuki, menjaganya dari hama dan memanennya. Sedangkan saat malam mereka menyedikitkan waktu tidur untuk meronda.

Seusai pelajaran, aku langsung bergegas pulang.
“Kalian hati-hati, aku takut terjadi sesuatu pada kalian,” sambil terbatut-batuk ia mengucapkannya.
“Baik, pak haji,” ujar kami.

Sudah dua minggu setelah kematian pak barjo, guruku selalu berpesan seperti itu.
Saat sedang berlari, ku lihat pergerakan sesuatu, dadaku semakin terpacu cepat. Batinku semakin menciut, takut jikalau aku melihat setan, atau kuntilanak. Aku semakin menambah kecepatanku. Sudah dua kali aku terjatuh dan ditanganku manancap duri-duri pohon putri malu, namun anehnya aku tak merasakan sakit sedikitpun.

Malam ini tak hanya hitam pekat, seperti dipenuhi rasa panik, ya rasa yang paling egois, karena bisa menyingkirkan rasa apa saja. Rasa sakit, rasa pusing, rasa malas. Panik juga bisa mengalihkan apa saja, sebab pikiran akan terfokus kepada rasa itu, dan tak memberi ruang pada rasa lain untuk sekedar singgah.

Sesampai dirumah aku minta dibukakan pintu oleh ibuku.
“Ibu.., bu.., ibu..,” teriaku dari jarak jauh.
Dari beranda rumah, ku lihat satu-satunya kerbau kami tak ada, hanya terlihat kandangnya dengan rumput hijau masih menumpuk seperti baru sedikit termakan. Lalu kubuka pintu, ku tengok ke semua ruangan ternyata tak ada.

Akupun berlari, mengetuk pintu tetangga, tetapi tak tak ada satupun yang membuka pintu rumah mereka. Dua, tiga, empat pintu kuketuk, namun tak ada yang membuka. Dan dibukakan di pintu kelima. Ku lihat wanita itu didalam rumah sedang menggigil ketakutan.
“Dimana ibuku?”
“Aku tak tahu.”
“Ada apa ini?”
“Garong datang lagi!”

Saat aku keluar dari rumah itu, kulihat garong itu sedang berlari membawa sapiku dan beberapa sapi lain. Dibelakangnya beramai-ramai warga kampung sedang mengejarnya. Dan dibarisan paling depan kulihat seorang wanita sedang memegang parang. Aku sontak kaget dan langsung berlari mengejar wanita itu.

“Ibu ngapain?”
“Kerbau kita dicuri.”
“Yasudah, ibu pulang saja, biar aku yang mengurus.”
“Tidak, ibu ingin membunuh orang itu.”

Ketika hampir di muka jalan yang manuktkan itu, seorang lelaki mendapatkan garong itu, dan langsung membacoknya berkali-kali. Lalu lelaki itu terdiam, dan berusaha untuk kabur karena garong yang dibacoknya tak mempan golok. Tapi na’as lelaki itu malah menjadi korban pertama. Ibuku yang paling semangat mengejarnya tiba-tiba diam seperti tak ber-ruh.
Perlahan-lahan mereka mundur meski hatinya terus menerus membara, dan garong itu pergi. Mereka hanya menatap dengan segala amarah, dengan segala dendam.
***
Aku malu karena tak bisa berbuat apa-apa. lalu haji sardi datang dari balik jalan itu, ia berjalan tenang. Lalu menatap tajam kedua garong itu. Karena merasa dihadang dan ditutupi jalanya, salah satu garong menyerang haji sardi. Haji sardi memukulkan goloknya ke badan garong itu, namun tak mempan. Ia heran dan membuang goloknya

Lalu guruku itu mengambil keris yang berada dipinggangnya. Aku masih ingat cerita keris itu. Keris bertuah yang didapat guruku di alam mimpi, bisa merobek apa saja yang tersentuh. Di keris itu, terdapat banyak ukiran huruf aneh. Gagang keris itu terbuat dari emas murni, serta terdapat berlian di atasnya.

Mereka saling serang, namun duel itu dimenangkan haji sardi. Salah satu garong lagi terperanjat, karena badan temannya tembus. Ia pun langsung menyerang haji sardi yang belum sigap. Pundak kiri sampai puting haji sardi robek, darahpun terlihat jelas di baju putih yang menguning. Ia terusheran karena badannya bisa robek.
Hanya senjata tertentu yang bisa merobek tubuh haji sardi, biasanya senjata yang telah berumu lebih dari seratus tahun.

Haji sardi lalu menyerang balik, namun tidak menganai sasaran, malah tangannya tergores lagi. Haji sardi lalu jatuh, telentang setengah duduk. Tinggal selangkah lagi dari jangkauan garong itu.

Melihat kejadian itu, aku langsung menendang garong itu hingga ia terpelanting. Aku langsung mangambil keris haji sardi dan menusuknya dipunggung. Garong itu mengeram kesakitan.

Namun dengan segera garong itu menyibakku dengan sikunya, aku terpental. Posisi terbalik, aku melemah. Garong itu mendekatiku, aku berusaha untuk kabur, namun tak bisa. Garong mendekati. Aku pasrahkan semuanya kepada Tuhan, Lalu aku merasa terdapat darah ditubuhku dengan bau anyirnya. Nafasku sesak seperti tertimpa sesuatu. Pandanganku gelap.

Tububuhku tertindih garong itu yang tertusuk keris oleh haji sardi. Garong itu mati di jalan gelap ini.
***
Aku masih menatap jalan ini. memandangi suasana sekitanya, aku merasa banyak berubah sesudah 20 tahun aku tak kesini karena kuliah dan kerja di Australia. Aku masih mengingat saat terakhir kali aku disni. Ya satu bulan setelah kejadian itu disaat haji sardi dan ibuku jatuh diharibaan sang pencipta.

Bersamaan dengan berubahnya tanah manjadi aspal, pohon besar menjelma menjadi rumah bertingkat, pohon putri malu bermetamorfosis menjadi rumput jepang, dan suasana sepi berevolusi menjadi ramai. Aku mambating rokokku yang tinggal puntung, seraya berjalan melewati tiang dengan tulisan “JL. HAJI SARDI”
***
2011-08-12
Cerita seorang ayah kepada anaknya

Kamis, 28 Juli 2011

Setangkai Mawar Hitam

Oleh Muhammad Umar

Kau menunjukan rasa sakitmu terhadapnya dengan menggunakan aku sebagai umpannya. Sampai akhirnya kau tak tahan dengan rasa sakit itu hingga kau mengemis untuk mengobati rasa sakit terhadapnya. Dengan senang hati dia menugulurkan tanganya untuk menggapaimu.

***
Tak sengaja mataku terbuka pada tengah malam. Tatapan pertama secara langsung mengarah ke langit-langit ruang. Entah mengapa tidurku cacat malam ini. Pikiranku gelisah ketika berhadapan dengan kajadian beberapa hari lalu. Kejadian yang hanya membuat remuk seperti cermin yang kau hampaskan ke bumi dari lantai 13 di saat cermin itu kau gunakan untuk memperbaiki kumalnya wajahmu.

Aku tahu ini bodoh, tubuh ini hanya terbolak-balik di atas ranjang. Padahal, tubuh ini masih membutuhkan istirahat dari lelahnya siang, namun pikiranku tak mau diganggu kesenangannya karena masih asik bermain dengan luka, tak mau dibujuk. Bayang-bayang keindahanmu masih tertonton jelas di otakku. Ketika sebuah perhatian berlebih datang untuk diriku, hiburan setelah penat karena dipacu tekanan.

Masih kuat kemampuanku mengingat ketika kakakmu mengajakku berjabat tangan denganmu. Akupun secara sombong menyebut namaku, sebab tak ada yang sangat menarik di dirimu dalam sentuhan pertama, namun iming-iming kakamu yang menyebutkan sebuah taman bunga indah disekitarmu, aku terhasut.

Tak terbersit dipikiranku untuk menggemgam tubuhmu, sebuah taman yang mengelilingumu serta merta membuat aku harus mendekatimu. Harapku agar dapat memetik satu saja bunga merah wangi di taman itu. Tetapi waktu bercerita lain, Seiring hari yang silih berganti membuat aku terpaku menatapmu.

Setiap hari, ada jembatan yang menghubungkan kita. Aku tak percaya jembatan itu terbentuk begitu saja. Sampai aku bisa mendatangimu di ujung jembatan sana. Dan heranya, setelah aku menyebrangi jembatan itu, kau dengan baik memberi apa saja yang aku mau.

Keherananku bertambah saat kau mau kusuruh menulis untaian kata indah. Bahkan beratus-ratus kata indah kau sebutkan. Secara tak langsung aku melihat ketulusan itu. Sebelum akhirnya aku memberimu satu ucapan yang membuat taliku dan talimu tersambung.

Ketika kita terikat, hari-hariku mulai menyenangkan, Terlebih saat pertama kali kau tinggalkan bekas bibirmu di dibirku di atas sofa ruang tamu. Dengan genggaman tangan yang sangat kuat seperti takut kehilangan. Aku semakin merasakan kehangatan detik demi detik yang kita lalui

Aku termenung saat aku tak didekatmu, hal apa ini, konyol, hampir membuatku gila, setiap detik aku merasa panik. Panik apabila ada orang lain yang mendekatimu. Bukan hanya mendekati tapi perasaan ini panik saat orang lain memandangmu kagum. Akan ku pukul apabila ada seseorang yang begitu.

Rasa yang kau berika lain, kau juga seperti takut kehilanganku. Ini terlihat ketika aku tak menghubungimu satu jam saja, kau dengan segera merengek. Hampir tak percaya, kau begitu takutnya sampai-sampai tak boleh putus kominikasi denganku.

Bunga-bunga kurasakan sangat indah, bemekaran, wangi, tak layu-layu, sampai aku tak pedulikan bunga lain. Setiap bekas pelukan tubuhmu yang membekas di tubuhku membuat aku gemetar memikirkanya. Pikiran ini sampai membuat aku tak memperdulikan bunga lain yang mendekat.

***
Saat hari pertama, aku ingin sekali memberimu bunga, jadi ku cari bunga yang terbaik yang ada. Namun ketika aku ingin memberimu, aku lupa dimana aku menyimpanya. Lalu ku urungkan niatku. Padahal Bunga itu merah, wangi, dan merekah menggambarkan perasaanku kepadamu, mungkin juga perasaanmu kepadaku.

Setiap ku cari bunga itu, tak pernah aku menemukanya. Sudah tiga hari aku mencarinya tapi masih belum. Aku pikir bunga ini pasti busuk, jadi pemberian bunga itu tak pernah terjadi selama aku dan kamu terikat.

Hari-hari berikutnya ku jalani seperti biasa, hamper setiap hari aku menyambangi rumahmu, aku tak pernah bisa menolak ajakamu untuk memakasaku bermain cinta dirumahmu. Hingga aku tak enak dengan para tetanggamu saat aku terlalu sering melepas hasratku bertemu.

Aku semakin menjadi posesif saat seorang anak kecil di dekat rumahmu mengatakan.
“kakak cowonya ganti lagi ya, kemaren yang tinggi kayanya, sekarang beda lagi,” ucap anak itu polos
Kecemburuanku meningkat tajam, hingga aku merasa harus tahu semua kegiatanmu.

Tapi aku piker kau tak akan main-main dengan yang lain karena kau tampak takut kehilangan ku, meski begitu anak kecil didekat rumahmu secara tak langsung telah mmbuatku gundah, ya gundah karena takut kehilanganmu.

Inginku menghabiskan waktu-waktu yang lama denganmu, sampai-samapi aku membayangkan sesuatu yang jauh di waktu yang akan datang. Bagaimana kau mengancingi kemejaku saat aku ingin berangkat bekerja, dan selalu membereskan barang berantakanku ketika pulang kerja.

Angan-anagn itu semaki jelas ketika di hari ketujuh kau ingin mengenalkan orang tuamu kepadaku. Suatu hal yang sudah kutunggu, mungkin angan-anagn itu akan menjadi kenyataan pikirku waktu itu.
***
Di hari-hari yang kutungu, ketika aku sedang mencari sesuatu tapi tak tahu apa yang kucari waktu itu. Kutemukan bunga yang ingin ku berikan kepadamu. Bunga itu sudah menghitam pekat, retak, dan rusak.

Bunga ini merupakan gambaran rasaku kepadamu waktu masih indah. Dan aku mulai takut bila bunga ini benar-benar menggambarkan rasaku kepadamu saat ini. Tapi aku tak acuh karena kepercayaanku yang tinggi terhadapmu.

Karena hari mulai sore, aku bersiap-siap untuk makan malam di sebuah tempat. Dan aku tak sabar ingin mengenal orang yang sudah melahirkanmu untuk meminta izin kepadanya. Jadi kupersiapkan semua. Kupakai, celana dan kemeja terbaikku saat itu, serta kupakai wewangian yang lumayan banyak dan tak lupa ku cuci kendaraanku.

Setelah meminta izin kepada orang tuamu, akhirnya kita menuju tempat itu. Tempat dimana kita-benar-benar bicara pertama kali. Tetapi ada hal yang aneh ketika di perjalanan, keramaian kota Jakarta terasa sunyi selama diperjalanan.

Ketika sampai, aku jadi teringat mawar hitam yang ketika masih merah merekah melambangkan perasaanku terhadapmu.
“apakah mawar ini merupakan perlambanganku terhadapnya?” ucapku dalam hati.

Kami makan dengan khusyu, tak ada yang bicara. Sampai akhirnya aku mencairkan suasana. Kau pun tersenyum dan aku menyuruhmu berbicara. Tapi kau tampaknya sedang tak ingin, jadi aku yang bercerita agar membuatmu tertawa. Sampai akhirnya kau bicara.

Seusai makan kita pun pulang. Disepanjang jalan kau memelukku dan berkata takut apabila aku menyakitimu, tapi dengan sombong aku tetap tenang. Kita berjalan menembus kesunyian malam dengan suasana kaku. Tak tahu apa rasa dari pelukan itu. Mungkin pelukan tersakit waktu itu setelah ditempat makan kau berkata.
“Kita sampai disini saja.”

kamis, 28 juli 2011

Senin, 25 Juli 2011

Layang-layang lelaki tua yang putus

Oleh Muhammad umar
Seorang kakek, umurnya kira-kira berkisar 60-70 tahun, aku tak tahu jelas siapa dia? Aku tak pernah melihatnya, mungkin ia warga pendatang baru. Aku sudah jarang bermain dengan teman rumahku, lebih sering berdiam dirumah.

Perawakan lelaki tua itu kurus, badanya kecil dan kempes. Tulangnya terlihat jelas, dibaluti dengan kulit yang mengkerut hampir di setiap bagian tubuhnya. Kulitnya sawo matang dan rambutnya sudah putih semua.

Tampaknya ia senang sekali memainkanya. Ini terlihat dari bentukan wajahnya yang sering bebinar ketika menggengam kaleng benang.Walaupun layang-layang itu tak terlalu bagus karena layangan itu singit, miring ke samping bila angin menerpa keras, ia masih berusaha membuat layang-layang itu tetap tinggi berada di udara.

Di sekelilingnya beberapa anak kecil juga sedang berusaha menerbangkan layang-layang. Bila dilihat, tubuh kakek itu yang paling berbeda. Ia adalah orang paling tinggi ditempat itu yang sedang bermain. Sepertinya tak ada rasa malu saat bermain meski orang itu telah berumur.

Beberapa anak kecil mengganggunya, dengan miminta untuk dipinjamkan layang-layang, bahkan beberapa anak kecil lain, ada yang merengek meminta agar kakek itu menerbangkan layang-layangnya yang sedari tadi belum terbang. Dengan baik kakek itu menuruti permintaan anak kecil itu.

Ketika orang tua berpakaian kaos oblong itu menerbangkan layang-layang salah satu anak kecil, Layang-layang miliknya yang dimainkan oleh anak kecil lainya tersangkut karena layang-layang itu sulit dikendalikan. Akhirnya lelaki tua ini memarahi anak kecil itu, sambil membereskan benangnya.

Benang digulungnya di tempat kaleng bekas susu yang dibaluti kertas agar kesat. Supaya benang tak keluar jalur dan tak kusut. Banyak sekali sambungan di benangnya. Mungkin benang miliknya hasil dari memungut benang yang tercecer di jalan. Layang-layangnya juga banyak sekali tambalan, mungkin orang tau itu dapat ketika layang-layang putus. Setelah selesai mengulung benang, ia langsung pergi.
***
Layang-layang berjejer banyak di langit cerah sore ketika aku pulang sekolah. Pertanda, musim layang-layang mulai mewabah. Aku sedikit senang karna sudah lama aku tak memainkanya. Menurut ingatanku, terakhir kali aku menarik benang layang-layang saat aku beranjak menuju SMP.

setelah melepas seragam putih abu-abu, Akhirnya ku persiapkan sedikit peralatan serta membeli beberapa layang-layang untuk dimaninkan.
“akhirnya. sudah lama aku tak memainkanya,” ucapku dalam hati.

Aku bermain di samping rumahku, disebuah halaman barisan kontrakan sempit. Aku sudah tak bisa bermain layang-layang ditanah lapang yang luas, maklum saja di perkampunganku sudah banyak tertanam bangunan rumah. Tanah lapang tempat aku bermain layang-layang dan sepak bola waktu kecil, sudah digusur dan berubah menjadi komplek perumahan.

Teman-temanku yang ingin bermain layang-layang harus mencari tempat khusus untuk bermain layang-layang. apabila mereka ingin bermain di tanah lapang, mereka harus berjalan dan itu lumayan jauh. Sebenarnya dekat namun lapangan itu berpagar tembok dan diatasnya terdapat kawat besi. Pintu masuk lapangan itu jauh. rumornya tanah lapang itu akan menjadi korban keganasan pembangunan dengan didirikannya kluster.

Layang-layang sudah mendapatkan anginya ketika kuterbangkan, ku ulur benangku agar mudah ku kendalikan. Setelah lumayan tinggi, ku lihat ada beberapa lawan di depan. lalu layang-layang ku beradu dengan layang-layang didepan, entah siapa pemiliknya, dan menang. Lalu ku coba beradu lagi, namun duel ku yang kedua kalah.

Aku tak terlalu pandai dalam memainkanya tetapi ada rasa tersendiri yang membuat aku ingin sekalii memainkanya. Ada rasa berdebar saat layang-layang ini mulai didekati ke lawan dan diadu, rasa kemenangan saat layang-layang musuh putus, dan ada rasa kecewa saat kalah, lalu penasaran untuk melawanya lagi. Jadi tak cukup punya satu layang-layang.

Layang-layang kucoba terbangkan lagi. Tetapi lawan tinggal satu, dan layangan itu tampaknya tak untuk di adu karna diberi hiasan rumbai- rumbai dan buntut. Karna tak ada lagi, Aku mencoba mendatangi temanku untuk menyuruhnya bermain dan berduel denganku tetapi layang-layangnya sudah habis.

Setelah itu aku pulang. Aku tak sengaja melihat pemain layang-layang yang berumbai-rumbai dan berbuntut itu. Aku pikir seorang anak kecil yang meminta dimainkan oleh kakeknya. Tetapi saat ku amati lagi selama beberapa lama, aku tau jikalau pemain layang-layang adalah seorang lelaki tua, kakek-kakek.
***
Pada suatu waktu aku melihat kakek itu sedang mengejar layang-layang bersama segerombolan anak kecil. Ia bersemangat sekali mengejarnya dengan peluh bercucuran terkena terik sore. Tak seperti aku, aku memilih membeli tertimbang mengejar layang-layang putus, tetapi terkadang ingin juga mengejarnya bila membayangkan saat masa-masa ku berlari berebut layang-layang putus dengan teman sampai akhirnya layang-layang itu sobek.

Lelaki tua itu tak pantang menyerah walaupun beberapa layang-layang yang ia kejar sering tersangkut di atas genting. Banyaknya rumah yang tertanam dikampungku tak hanya membuat ruwet dan jalan sempit, tapi juga membuat lelaki tua itu tak bisa mendaptkan layang-layang.

ketika mendapatkanya, orang tua itu langsung memberi hiasan pada layang-layang itu dan memainkanya. Bila ku hitung sudah lima hari orang tua itu memakai layang-layang itu dan tak berganti. Sampai layang-layang itu terlihat kotor dan hampir rusak. Sebelum akhirnya seorang bocah membabat layang-layang lelaki tua itu sampai putus.
Benang dikalengnya semakin pendek, dan layang-layang yang ia dapatkan sering di adu oleh anak kecil. Dan ketika layang-layang lelaki tua itu putus, anak kecil itu menertawakanya dengar terbahak-bahak.

Bila sudah putus begitu aku sering menemuinya di persimpangan jalan, sedang menunggu layang-layang putus. Ia menunggu dengan sabar. Dan ketika dapat, ia pasangkan hiasan lagi agar terlihat menarik, lalu menerbangkanya lagi. Tetapi anak-anak jahil itu menertawakanya ketika layang-layang kakek itu putus lagi.

Terkadang aku kasihan melihatnya. Dan membuatku kesal bila anak-anak itu mengadunya. Bila ada tanda-tanda anak tengik itu ingin mengadu kakek itu dengan sengaja aku sering memutuskan layang-layang anak kecil itu terlebh dahulu. Walau konsekuensinya akan dimarahi oleh kakak atau orang tua dari anak nakal itu.

Pernah pada suatu sore, aku ingin mengadu dengan temanku, untuk itu aku harus mengulur benangku hingga jauh, agar sampai. Tak sengaja ketika aku membelokan arah, layang-layangku mengenai layang-layangnya. Dan membuat layang-layang kakek itu putus.

Aku jadi merasa tidak enak dengan kekek itu, walaupun aku tak pernah kenal, temen-temanku juga berkata tak usah dipikirkan, tapi aku seperti merusak kebahagiaan yang telah dimilikinya. Aku berinisiatif untuk menggantinya, tetapi hari sudah terlalu sore.

Matahari sudah mengumpat dibalik awan yang mulai menghitam, waktu pertunjukannya hampir habis. Bulan bersiap untuk keluar dari balik layar menuju ke pentas, untuk menghibur manusia dengan cahaya terangnya agar alam ini tak terlalu gelap. suasana kala itu dingin mencekam, cuacapun menunjukan tanda-tanda akan hujan. dan aku menunda pemberianku kepada kakek itu.
***
Saat aku berjalan pulang, aku merasa lega sekali karena acaraku di sekolah sudah selesai.
“akhirnya bisa bermain layangan lagi, sahabis aku menginap disekolah karena ada acara,”ucapku dalam hati.
“aku juga ingin memberikan kakek itu beberapa layangan untuk mengganti layang-layangnya,” tambahku membatin

Hari sudah sore kala itu, cuaca sangat cerah, dan aku berfikir itu merupakan waktu ideal untuku bermain layang-layang. selama perjalan pulang dari depan gang menuju rumahku, tak ada tanda-tanda kehidupan layang-layang di udara. Sepi.

Bebrapa saat ku coba perhatikan, tetap tak tampak. Suasana sunyi. Dan ketika aku semakin dekat dengan kampungku, tak ada anak-anak yang bermain layang-layang. Mungkin aku pikir, musim layang-layang sudah berakhir, namun apakah begitu cepat musim permainan itu berkahir.

Semakin dekat, terlihat sebuah bendera ditiang-tiang listik tertempel. Bendera itu beukuran kecil berbentuk segi empat dan terbuat dari kertas minyak
“Inalilahi, wa ina ialihi rojiun,” ucapku dalam hati.

Ketik sampai dirumah, aku menyiapkan beberapa layang-layang untuk diberikan kepada lelaki tua itu. Setelah ku siapkan dan ingin pergi kerumah lelaki tua itu. Kutanyakan kepada orang yang berada dirumah perihal bendera kuning yang banyak tertempel di kampung ini.

“siapa yang meninggal,” ucap ku
“lelaki tua yang tinggal di ujung jalan sana, tadi siang dikuburkan”

Ciledug, 26 juli 2011

Minggu, 03 Juli 2011

Angin Segar (iseng)

Sebuah angin segar dating tiba-tiba dan tak terduga, memberi sebuah harapan akan masa depan. Di saat perasaan saya sedang berharap cemas akan nilai yang belum juga keluar mungkin rasanya Seperti berada di arena perjudian dan menunggu seorang Bandar menjatuhkan batok kelapa yang berisi sebuah dadu.

Angin segar ini timbul Mungkin dari hal yang biasa, hanya cerita kenangan masa lalu. Sebuah pengalamanya dalam menjalani hidup. Ia berccerita bagaimana temanya yang sangat pintar dan kaya hanya menjadi seorang supir. Padahal Otaknya sudah tidak diragukan lagi. Hamper setiap ujian ia mendapat nilai 9 di pelajaran eksak. Bahkan kabarnya orang itu jarang belajar, (aku mengira bila makannaya sangat begizi dan berprotein hingga ia menjadi seperti itu) ditambah lagi hidupnya mewah, disaat tahun tujuh puluhan ia sudah mengendarai mobil saat bersekolah. Tapi sayiag saat kuliah tingkat dua dia sudah keburu menikah.

Dari cerita itu saya mengambil pelajaran, bila jangan menikah bila masih kuliah. Meski Saya masih belum tau apa hubunganya menuntut ilmu sama sudah nikah. Mungkin bila sudah menikah focus terhadap kuliah menjadi kurang.dan tendensinya lebih kepada istri. Selain itu pelajaran yang saya dapat ialah bila kepintaran tak menjamin sukses di masa depan bila tak di pergunakan dengan baik.

Pintar saja belum tentu sukses apalagi yang bego?

Ada lagi cerita tentang teman ayah saya yang pintar, kaya dan sukses dimasa depan. Ditambah lagi tampan serta dikerubungi banyak wanita. (“nggak seperti bapak, salaman aja malu sama cewe. Karna tanganya tajem akibat kapalan” ucap ayah}. Meski dikerubungi banyak wanita teman ayah saya tak begitu peduli, dia tetap saja belajar. Sampai akhirnya masuk ITB dan menjadi seorang direktur

Pelajaran yang saya ambil adalah wajar kalau orang ini sukses.

Lalu, ada lagi, kali ini seorang anak bupati yang menjadi pemborong (saya masih belum mengerti pekerjaan pemborong itu seperti apa dan bagaimana? Mungkin semacam kntraktor). Sekarang Dia meminta proyek kepada pejabat daerah. Padahal dahulu ayahnya pejabat. Tetapi sekarang keadaanya berubah. Bahkan ada yang berkata “sekarang elu minta proyek ama gw sampe nunduk-nunduk gitu, dulu bapak lu lewat gw ciumin mobilnya” dulu saat orangtuanya menjadi bupati ia hidup senang tetapi saat sudah lengser,. Semua berubah.

Pelajaran yang saya ambil adalah jangan memanfaatkan kekayaan orang tua untuk hidup. Tetapi manfaatkan kemampuan diri sendiri. Dari cerita ini orang tua saya malah menasihati saya agar saya tidak nyontek. Da nmenasihati agar memanfaatkan kemampuan sendiri.

Sekarang cerita seorang anak guru, miskin namun sukses. Kata orang tua saya orang ini belajar dengan sungguh-sungguh, bahkan sampai nangis-nangis saat belajar. Ditambah orang tuanya keras dalam mendidik. Tak segan untuk memukul dengan kayu yang besar terlebih orang tuanya tak akan menyerah sebelum memukul anaknya. Kesungguh-sungguhanya membawakan hasil dan anak ini pernah merasakan kursi mentri luar negri sebanyak 2 periode meskipun sudah tidak menjadi menlu lagi saat ini.

Pelajaran yang saya ambil adalah harus belajar dengan sungguh-sungguh, klo perlu sampai nagis-nagis agar bias jadi orang sukses..

Dan ini cerita terakhir. Ayah saya punya seorang teman, anak ini bias dikatakan kurang pintar atau bahasanya kasarnya bodoh, tapi saat lulus tak ada yang menyangka bila anak ini masuk ITB, saat diteriman, anak ini juga tak percaya saat mendapat ITB, bahkan anak ini mengikuti test lagi untuk memastikan, dan ternyata anak ini lulus. Hamper semua teman-temanya heran terhadapanya. Sebelum akhirnya keluar karena tidak kuat kuliah di ITB

Pelajaran yang saya ambil adalah kadang-kadang keberuntungan dating tak terduga-duga.

Inti dari cerita yang saya ambil dari semua itu ialah, kepintaan tak menjamin orang itu akan sukses bila tak dimanfaatkan dengan baik. Apabila ingin sukses orang itu harus sungguh-sungguh dalam mejalankan sesuatu. walau terkadang keberuntungan dari maha pencipta juga bias memperngaruhi