Sabtu, 26 Februari 2011

Tak Karena Apapun

Tahukah engkau betapa aku sangat mencintaimu
Mengertikah engkau jika aku mencintaimu tak karena apa pun

         Ketika aku mencintaimu karena keelokan parasmu
         Aku takut akan berpaling jika ada yang lebih elok darimu
         Ketika aku mencintaimu karena kepandaianmu
         Aku takut bila pergi meninggalkanmu jika ada yang lebih pandai darimu
         Ketika aku mencintaimu karena kesempurnaanmu
         Aku takut bila aku membiarkanmu
         Karena tak ada manusia yang sempurna sekarang ini

Jadi biarkanlah cintaku tanpa sebab apapun
Datang atas persetujuan kau dan aku
Agar aku tak pernah
Berpaling, meninggalkanmu, atau membiarkanmu
Karena sesungguhnya aku takut kehilanganmu

Selasa, 15 Februari 2011

Panggil Aku Seorang Pelacur

Oleh Muhammad Umar

Aku harus melakukan sesuatu saat ku tahu ayah sudah tak bisa membiayai hidupku. Jangankan membiayai diriku, membiayai hidupnya sendiri pun ayah sudah tak mampu sejak stroke hinggap ke dalam tubuhnya. Penyakit itu menyita banyak hal. Tenaga ayah, uang, kebahagiaan, kesenangan, dan kedamaian dalam rumah sederhana ini.

Sudah terlalu banyak usaha yang telah dilakukan untuku, bahkan ketika sakit. Bukan hanya usaha untuk bekerja tetapi berhutang juga ia dilakukan untuku, untuk hidupku, untuk makanku, untuk pendidikanku.

Sebelum stroke tinggal dan menetap dirumah sederhana ini, ayah dan aku hidup berkecukupan. Ayah juga bisa menabung untuk pendidikan ku di perguruan tinggi. Kami cukup bahagia.

Ibuku seorang wanita yang berparas cantik, Berkulit putih bersih, berambut hitam pekat dan bergelombang. Matanya indah berbinar, suaranya serak basah. Ibuku berpostur tinggi dan bertubuh sekel. Buah dadanya matang dan besar, berpinggul mantap, mirip gitar spanyol. Indah.

Ayah berpisah dengan ibu saat usiaku baru 10 tahun. Kata tetanggaku, ibuku adalah seorang lonte. Ayah telah menceraikan ibu saat ibu ketahuan sedang selingkuh dengan seorang pria entah siapa.

Ibu berpisah dengan selingkuhannya, seminggu setelah bercerai dengan ayah. Sejak itu, langkah hidupnya gontai, tak tentu arah akibat perpisahan berganda. Pandangannya sudah tak lagi tegap, pikirannya mengawang-awang terbang mengikuti jejak langkah iblis yang tertawa geli melihat penderitaan pengikutnya. ibu akhirnya stress.

Aku tak tahu ibu dimana, tak ada niat untuk mencarinya. Kekecewaanku begitu mendalam. sikap bodoh ibu yang terbawa nafsu dunia mengakibatkan kehormatanya runtuh. Entah hal apa yang membuat ibu meninggalkan seorang suami yang sangat baik seperti ayah

“Nanti jikalau kamu sudah besar, jadilah wanita Suci, wanita terhormat, jangan menjadi wanita hina, jangan menjadi sampah,” kata ayah. sebuah nasihat sakral untuk ku.
"Nak, dimanapun itu, yang hitam bisa menjadi putih, begitu sebaliknya, yang baik bisa menjadi jahat yang jahat bisa menjadi baik. jangan kau suka merendahkan orang lain, nak, karena yang merendahkan bisa saja lebih rendah dari seorang pelacur."
***
Namaku adalah Dewi Harum Lestari. Kata ayah, aku mempunyai paras cantik, tak ubahnya dengan ibu. Perbedaanya adalah aku lebih pendek, dan berambut lurus. Turunan dari gen ayah. Meski begitu, aku sangat tidak suka bila disamakan dengan manusia binatang itu.

Banyak laki-laki yang berminat menjadi pacarku. Tapi semua aku tolak. Aku tak ingin berpacaran, karena aku sangat membenci orang yang selingkuh, rasanya ingin kubunuh orang itu.

Aku tak punya adik, ataupun kakak. Yang kupunya hanyalah cinta seorang ayah yang sangat tulus kepada anaknya. Aku tak pernah bisa jauh dari perkataan ayah, perkataannya seperti ucapan nabi yang menyentuh kalbu, merasuk kepikiran dan menjadi dasar sebelum bertindak. Pengalaman yang mau tidak mau ditelannya telah merasuk menjadi satu dalam tubuhnya hingga menimbulkan kebijaksanaan dalam mengemukakan sesuatu.

Ia sangat menyayangiku dan akan ku serahkan jiwa raguku untuk ayah apapun yang terjadi, dia telah menyelamatkan aku dari segala bahaya, dari segala kesulitan. Kasih sayangnya tak terbatas, dan aku berjanji akan membahagiakannya
***
Siang yang terik waktu itu, kira-kira pukul 15.00, matahari menyilaukan mata, terang tanpa tersaring dedaunan, dan langsung berinteraksi dengan kulitku, membakar perlahan-lahan. Membuat ku tak tahan denganya.

Terlebih angin kencang yang berhembus, mengajak debu dan pasir untuk bermigrasi dari satu tempat ketempat lain. Aku melangkah dengan cepat agar sampai rumah lebih awal. Panasnya sang surya tak teresa membuat kuliku merah, sampai-sampai aku tak peduli keadaan di sekitar.

Rumahku sudah terlihat dari kejauhan, disana kulihat seorang wanita gemuk sedang menghisap rokok. Kuperlamabat langkahku, keperhatikan, dan mengira-ngira.

Saat sampai gerbang depan rumah. Aku memperhatikannya, Benar saja perkiraanku. Panas bukan hanya terasa dikulit, juga terasa di hati saat wanita yang mengaku ibuku datang. Aku biarkan dia disitu.

Wanita itu langsung membuang rokoknya dan memelukku secara tiba-tiba, aku acuh, diapun menangis dan mengatakan sesuatu, aku tak terlalu memperhatikan apa yang diucapnya.

Akhirnya kulepaskan pelan-pelan pelukannya. Aku langsung masuk kedalam rumah yang tak berpenghuni itu. Lantas melihatnya di balik jendela. Dia pun tambah menangis dan terlihat gerakanya seperti berdoa.

Aku tahu dia ibuku, mungkinkah Tuhan menghukumku karena durhaka terhadap ibu yang melahirkanku. tak tahu mana yang salah dan mana yang benar, yang kutahu, dia telah menelantarkan anaknya ini. Jika memang aku berdosa, aku tak peduli.

Ayah tak tahu jika aku pernah bertemu ibu, aku juga tak mau menceritakannya. Biarlah hal ini hilang ditelan waktu. Aku takut jika ayah tahu, itu akan membangkitkan kenangan masa lalunya bersama ibu.
***
Hari ini, hari rabu, pukul 11.00 dan cuaca mendung. Saat di sekolah, aku mendapat kabar jika ayahku terserempet subuah mobil saat sedang berjalan. Kepala dan lehernya terbentur trotoar jalan, dan pingsan. Pengendara mobil itu tak menolong melainkan menyembunyikannya di bawah jalan layang, lalu pergi.

Karena terlalu lama dibawa ke rumah sakit, dokter mengatakan bila ayah bisa terkena stroke. Terbenturnya kepala dan leher ayah, ditambah infeksi lukanya, dan diperkuat oleh pikiran-pikiran ayah yang aneh, menjadikanya penyebab terkenanya penyakit berbahaya ini.

Uang semakin lama semakin tak ada. Aku pun berfikir dan harus melakukan sesuatu. Aku harus bekerja. Tetapi pekerjaan apa bisa aku lakukan sambil mengurus ayah. Ia sudah tidak bisa melakukan sesuatu sendiri. Hampir semua tentang ayah, aku yang mengurusi.

Kemarin teman dekat ibuku datang untuk menjenguk ayah, aku bercerita banyak tentang keadaanku, akhirnya teman dekat ibuku pun memberikan rekomendasi untuk bekerja. Hasil uangnya sangat banyak, cukup untuk membiayai ayah dan melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Walau ia meminta jatah 30 persen dari pendapatanku.

Aku dikenalkan kepada seorang lelaki seumuran dengan ayah, namanya om Boby. Dia merupakan seorang pengusaha sukses, kaya, tampan, banyak wanita yang tesipu dengan parasnya.

Dia berjanji akan memberikan aku pekerjaan, hasil uangnya lebih besar dari yang diberitahukan teman dekat ibuku itu. Lebih dari cukup, berlebihan mungkin. Aku sangat senang mendengar hal itu. Akupun setuju.

Kesenanganku terhenti saat aku mendengar pekerjaan yang disebutnya. Akupun menolak mentah pekerjaan itu, pekerjaan ini sangat aku benci. Lantas aku segera berlari menjauh, dan aku pulang dengan rasa kesal yang tak tertahankan. Aku mengira bahwa teman ibuku dibayar oleh boby untuk membawaku kepadanya.

Sesampainya dirumah, aku melihat ayah sedang kesulitan membukakan pintu untukku, aku pun kasihan melihatnya, tubuhnya semakin kurus, tangannya sudah susah digunakan, terkadang bergetar. Ayah duduk di kursi roda karna kakinya sudah tak bisa digunakan.

Aku menerima pekerjaan itu sambil mengingat pesan sakral ayah untuk menjadi wanita suci.
“ya, Sekarang kalian boleh sebut aku pelacur, karena aku mencari uang dengan menjual tubuhku” ucapku miris dalam hati.
“Maafkan aku ayah, aku mengikuti jejak ibu.”
***
Sekarang aku menjadi simpanan lelaki brengsek bernama boby, saat itu pun aku kuliah, kesehatan ayah membaik karena ada sokongan uang dari boby. Akupun sudah berkecukupan.

Saat sedang berjalan, tiba-tiba seorang tetangga laki-laki memanggilku. Dia adalah orang yang sangat mengenal keluargaku dengan baik karena ayah sering bercerita kepadanya. Aku pun mengahmpiri, diapun menyuruh duduk dengan ramah. Dia menyuguhkan teh hangat lalu bercerita.

Aku mendengarkan ceritanya dibawah cahaya remang lampu teras. Bulan terlihat berbeda malam itu, hanya sebagian, terangnya pun lain. Malam sangat pekat saat itu, tanpa bintang. Udara malam berhembus, dingin terasa di kulit. Suara-suara jangkrik bersautan, merdu. lalu lama-kelamaan hilang, sunyi.

“Ibu mu berselingkuh dengal lelaki bernama Boby, Dia mengincar kamu, menunggu kamu menjadi besar. Hati-hati, jangan sampai kamu dimakan olehnya, dia sangat bernafsu terhadapmu.”

Edit,
Kamis, 28 juli 2011

Senin, 14 Februari 2011

Perjalanan Kecil Itu 2

The Last Day 


            Pagi menjelang, suasana masih sama seperti kemarin. sunset terlihat indah, udara dingin terasa, suara percikan air terdengar, harumnya udara dingin menusuk. Hari ini hari terkhir kami berada dipondokan.
            Sejak pagi Galih sudah berpesan agar semua bersiap-siap untuk pulang. Setelah makan pagi, kamar mandi sudah mulai terisi, kami bergantian bila ingin menggunakanya, sambil mengantri seperti biasa play station dinyalakan, ada yang bermain gitar, berjalan-jalan, dan lain-lain.
            Setelah selesai mandi aku keluar ber main-main di depan pondok sebentar. Aku mencoba motor Galih yang waktu itu membawa ninja, itu pertama kali mengendarai motor besar, karna melihat Adis bisa mengendarai motor ini, jadi aku semakinn tertarik untuk mencobanya. aku jalani perlahan-lahan, ternyata biasa saja. Ketika hati ini puas menggunakan motor Galih, akhirnya aku memutar balik untuk kembali ke pondokan. Saat mencoba menikung, ternyata, aku tidak kuat menahan motor yang berat itu, ditambah jalanan berpasir. Aku pun jatuh dari motor itu dan lampu sen-nya patah.
            Tragedi ini menyita otaku beberapa saat. Berfikir untuk menggantinya. Mungkin sombongnya dari ini saat berkata kelebihan uang ke orang tua, akhirnya Tuhan menguranginya.
                                                                         *****
            Saat sedang bersiap-siap, aku mendengar kabar tentang mobil Dika. Tampaknya masalah mobil dika masih berlanjut, montir yang semula membongkar mesin mobil Dika, mendadak tidak mau memasang ulang mesinya. Mungkin karena dika tidak jadi membeli Kampas Kopling dikarenakan orang  tua Dari dika akan datang dan membawa Amplas Kopling, masalah pun bertambah satu.
            Ketika semua selesai berbenah, acara dilanjutkan. Sebelum pulang kami melaksanakna rencana yang kemarin dibatalkan yaitu ke cibodas. Ternyata mobil Dika juga dibawa kecibodas. bengkel tersebut berada didalam tempat rekreasi.
            Karena mobil Dika masuk bengkel, jadi kami agak kesusahan untuk membawa pulang peralatan, seperti dispenser dan alat-alat berat yang lain. Teman yang semula berangkat dengan mobil Dika jadi kesulitan pula. Akhirnya kami memutuskan untuk mengantar orang yang terlantar tersebut satu-persatu.
            Aku dan kelima orang teman menunggu dipondokan untuk dijemput, Amri dan Adi bermain sepak bola di depan pondokan. Aku, Rifki, Laila dan Zahra meononton. Tampak Adi sering kalah dengan Amri. Karena kalah,  adi membuka bajunya karena ada perjajian tantangan saat bermain bola. Tiga lapis baju yang dikenakan adi terlepas semua. Hal ini menjadi hiburan yang menyenangkan saat menunggu. Hal ini  menjadi  keceriaan. sampai akhirnya teman kami tiba uintuk menjemput. Kami akhirnya pergi dari pondokan.
            Selamat tingggal Kampung Gunung, Desa Sindang Jaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur. Rt.04/09 no.51.
                                                                        *****
            Saat menuju cibodas, Aku berboncengan dengan Rifki. Aku yang mengendarai motor bebek merah, hitam putih itu. Medan yang kami lalui ialah turunan sepanjang jalan walaupun diawali dengan tanjakan sedikit. Setelah tanjakan, motor dimatikan karena medanya turunan, walupun dimatikan, motor kami melaju dengan kencang. Dari dekat pondokan yang masih desa sampai ke jalan raya cipanas.
            Cibodas pun tiba. Kami langsung menghampiri mobil dika. Benar saja informasi itu, mobil dika terlantar, mesinya sudah terbongkar tanpa dikembalikan, kami sedikit kesal dengan ulah montir yang ngambek tidak mau memasngkanya. Untung saja orang tua dika dikit lagi sampai.

            Kami menunggu sebentar untuk membicarakan mobil dika, melihat keadaanya. Sedangkan perempuan pergi ke warung untuk makan atau istirahat. Tak berapa lama, orangtua dika datang dengan menggunakan mobil berwarna putih. Mereka membawa montir yang di datangkan dari banten. orang tua dika turun dan melihat keadaan Dika lalu melihat keadaan mobil.
            Setelah itu montir pun keluar, melihat-lihat, lalu mengeluarkan peralatan dan onderdil, dan mulai mengutak atik mesin mobil itu. Setelah orang tua dika datang, akhirnya kami pergi makan. Mencari-cari warung makan yang paling murah.
            Sehabis makan Aku, Gofur, Fahmi, Agus, Rahmat, Rifki, Amri  dan Adam bergegas pergi ke air terjun cibodas. Setelah berjalan-jalan sebenter kami pun sampai di pintu gerbang. Saat kami ingin membeli tiket disitu terdapat ketereangan

Harga tiket msuk
Orang/hari/ local                       : Rp    6000
Orang/hari/mancanegara           : Rp. 20000

Air terjun ini dibuka hingga pukul 14.00

            Saat kami melihat jam, ternyata kami lebih dari jam dua, kami pun tak bisa masuk, sempat terbersit untu masuk tetapi larangan itu tercantum jelas. Jadi tanpa ambil resiko kami pun pergi ke mobil.
            Hujan pun turun, deras. Kami berteduh digubuk dekat pintu masuk. Selang beberapa lama akhirnya hujan reda kami bergegas untuk pulang. Sambil berjalan Fahmi mempunyai niatan untuk membeli oleh-oleh untuk ibunya berupa Alpukat. Akhirnya kami menemaninya. Dan ternyata gofur juga ingin membeli tanaman hias berupa kaktus, setelah melihat-lihat ternyata tanaman kaktus ini indah juga, akupun membelinya. Tidak hanya aku saja tapi rahmat dan rifky pun ikut membeli tanaman hias tapi bukan kaktus.
           karena asyik memilih, tanpa sadar,  hujanpun turun lagi, dan kami berteduh lagi di depan warung yang tutup. Setelah selesai berbelanja kami kembali ke tempat istirahat makan tadi. Ketika sampai, huajn pun uturun lagi, tampaknya hujan senang sekali hinggap di cibodas waktu itu.
             Sambil menunggu hujan teman kami pun ada yang berbelanja oleh-oleh juga karma melihat kami.
                                                                        *****
            Mobil dika belum rampung. Masih lama, namun hari sudah mulai sore, kami takut terlalu malam di perjalanan. Tawaran orang tua dika untuk pulang duluan dengan menggunakan mobil putih akhirnya diterima. Setelah menolak berkali-kali karena merasa tidak enak, mau tak mau kami harus pulang sore itu.
            Barang-barang berat dimasukan ke mobil Dika beserta oleh-olehnya. Setelah semua beres kami berpamitan denga orang tua dika dengan perasaan tidak enak karena kami pulang lebi dulu dengan menggunakan mobil orang tuanya. Sedangkan mobil merah yang sedang diperbaiki dan belum selesai dipakai oleh orang tua Dika.
             Begitu besarnya jasa orang tua kepada anaknya, sampai mengorbankan drinya. Kami pulang. Strategi perjalanan diatur, tidak sama seperti saat pergi, saat pulang susunan motor berubah.
            Tak lama berjalan, kami berhenti sebentar untuk membeli oleh-oleh lagi. Setelah dapat, dan  semua siap. Kami berencana agar solat magrib dan isya dijamak taqdim. Akhinya kami pergi.
            Daerah puncak saat magrib sudah lumayan parah ternyata. Kabut sudah tebal, pandangan mata semakin memendek, dan semakin dingin ditambah lagi sehabis hujan. Kami berhenti sentar untuk mengatur strategi lagi. Akhirnya diputuskan agar jalan pelan-pelan saja, walau sudah begitu, tetap saja kami sulit untuk memahami jalan. Setelah berhenti sejenak lagi untuk mengatur strategi akhirnya kami memilih mengikuti di belakang truk agar kami dapat memahami jalan lagi. Dan benar saja, di belakang truk lebih aman karena ada penunjuk jalan, akhirnya kami tenang.
            Kabut sudah tidak ada ketika kami menjauh dari daerah puncak. Truk itu terlewati begitu saja tanpa ucapan terima kasih. Dijalan kami semua berkonsentrasi dengan sisa tenaga yang ada.
                                                                        *****
            27 januari 2011, Pukul 21.00 Kamipun akhirnya tiba di ciputat, tempat berlabuh dipilih dikosan adi.

            Dalam lelah terpikir sebuah kalimat, Terima kasih kawan, setelah tiga hari bersama, makan bersama, tidur bersama, susah senang bersama. Akhirnya kita telah selesai di acara liburan ini, semoga liburan kali ini berkesan untuk kita semua, jangan pernah lupakan hal ini kawan. Mungkin suatu saat nanti kalian akan merindukan saat seperti ini. Disaat kita sudah tidak bersama lagi, disaat kita sudah sibuk dengan urusan masing masing, semoga ini berkesan untuk kalian. Karena tak ada yang akan tahu tentang hari Esok, karma esok adalh sebuah misteri, apakah akan ada anugrah atau penyesalan.

                                                                                                                                     14 Februari 2011 


Rabu, 09 Februari 2011

Perjalanan Kecil Itu 1

PLAY STATION (PS)
Rencana selanjutnya ialah cibodas, namun mobil Dika masih bermasalah. Hubungan telpon Cipanas-Jakartapun sering terjadi dua hari ini. Gandhi, penjaga pondokan, yang dibantu dengan Soleh, belom bisa mencarikan pandai mesin untuk memperbaiki mobil  Dika, sehingga masalah ini menjadi berlarut-larut tanpa ada penyelesaianya. Mobil pun masih belum bisa digunakan untuk rekreasi hari itu.
            Masalah mobil ini sangat penting karena tanpa mobil ini, tidak semua teman kami tidak bisa mengikuti acara hari ini. Sesekali Gandhi datang untuk membicarakan sesuatu kepada dika, tapi hanya hanya pembicaraan.
            Karena masalah mobil belum selesai maka acara itu ditunda sampai besok, acara yang telah disusun menjadi tidak sesuai, kepulangan yang diperkirakan besok pagi ditunda hingga tak tau kapan, kepergian ke cibodas ditunda hingga mobil dika selesai, Gandhi yang diharapkan untuk menyelesaikan masalah mobil, ternyata belom bisa diandalkan saat itu.

                                                                        ******
            Siang itu hujan turun, kami bersyukur karena acara dibatalkan. Kekosongan acara terjadi, namun kami semua mamnfaatkan siang itu dengan semaksimal mungkin. Beberarap teman memanfaatkanya dengan tidur karena malam kemarin belum tidur karena bersenang-senang. Mungkin bagi mereka yang tidur cuaca kali itu sangat mendukung karena dingin.
            Sebagian lain bermain play station di pondokan. Membawa PS memang sudah direncanakan sebelumnya sebagai hiburan untuk menemani malam. Namun karena kekosongan acara maka PS pun menjadi hiburan dadakan. Barang berwarna hitam itu  terus menerus dinyalakan selama dipondokan. Mulai dari baru sampai pondokan, di malam pertama, mulai  ba’da magrib sampai hampir pagi, keesokan paginya PS dinyalakan kembali dan selesai karena ada perjalanan ke Air Terjun, dan sekarangpun  dinyalakan lagi, entah berapa lama lagi PS ini menyala.

            Stik PS sudah puluhan kali bepindah tangan, walaupun salah satu stik PS itu rusak namun semua menikmatinya, terkadang ada beberapa yang mengeluh. Bagi mereka yang ingin menonton televisi, nampakanya mereka harus mengalah karna apabila diadakan pemilihan suara, mereka yang ingin menonton akan tertinggal jauh. Dan dimenangkan oleh kelompok yang ingin bermain PS.
            Selain dalam urusan makan yang sangat gesit. Dalam urusan bermain PS pun mahasiswa ini sangat gesit. Antusiasme dalam bermain PS sangat tinggi, ini terbukti banyak yang menyela bermain padahal bukan giliranya. Banyak dari kami yang berebut untuk memainkanya.
            Acara hari ini hanya seperti itu saja, sampa sore hari menjelang. Sehabis magrib mobil dika sudah nampak diurusi. Karena kampas koplingya mesti diganti, dan montir itu tidak membawa peralatanya, maka mobil diderek ketempat montir bekerja. Dika dan galih ikut untuk memantau mobil.
            Gandhi dan sholeh ingin mengikuti. Mereka meminjam sepeda motor dari kami. Sepeda motor yang digunakan kala itu ialah motor matic kepunyaan Adi. Mereka juga meminjam dua helm dan  Setelah meminjam STNKnya juga mereka langsung pergi.
            Saat kami sedang asyik menikmati malam dengan permainan bola yang sedang dimainkan, kami dapat kabar jika motor yang digunakan Gandhi dan soleh, bannya bocor dan mesti diganti, maka Adi yang kala itu membawa uang kurang, dan tidak memprediksi dengan hal ini, mau tak mau harus menggantinya.
            Saat sedang asyik menghabiskna waktu dengan bermain PS, orangtua ku menelpon untuk menanyakan kabarku, keadaanku, serta ongkos yang diberi. Saat ditanya ongkos yang diberi, aku menjawab. “Uang yang dikasih kelebihan pa, alhamdulilah,” ujarku. Sambungan telpon akhirnya ditutup dengan nasihat yang diberikan oleh orangtuaku.
            Malampun semakin larut. Matapun semakin ngantuk, akhirnya aku tidur. Untungya aku sudah menjadi penjaga pondokan kemarin jadi hari ini aku bisa tidur nyenyak. akupun tertidur maka aktifitas yang dilakukan oleh yang lain aku tak  tahu. Yang aku tahu saat terbangun untuk sholat isya, kira-kira pukul dua malam. Adi dan Amri sedang bermian Play station. PS lagi, PS lagi, mungkin jika PS situ bisa bicara, dia akan meminta waktu untuk istirahat, utnuk merehat mesinnya. Atau mungkin optic itu sudah menggunakan lensa yang tebal karena terlalu sering membaca kaset yang digunakan untuk bermain.

Senin, 07 Februari 2011

Perjalanan Kecil Itu

Makan malam selesai, malam sudah semakin larut, dingin semakin menusuk, pakaian yang digunakan semakin tebel, dan mata semakin mengantuk.
            “Sebelum kita tidur, kita bagi tugas untuk berjaga. malam ini yang jaga, yang tidur di pondokan sini, besok malam yang tidur dipondokan sana” ujar galih. Setelah pembagain tugas itu, aku, Hamdan dan Rifki berjaga sesuai dengan jam yang ditentukan. Sambil berjaga play ststion dinyalakan. Aku menunggu waktu untuk main sambil membaca sebuah roman.
Saat kami sedang berjaga waktu itu, banyak teman perempuan yang tidak bisa tidur juga, dan beberapa yang dari pondokan sebelah juga tidak bisa tidur. Akhirnya roman pun aku tinggalkan. aku dan mereka yang matanya tidak bisa terpejam bermain uno. Tenyata permainan ini menyenagkan juga pada saat itu pertama kalinya Aku memainkan permainan kartu ini. ternyata Aku ketagihan sampai-sampai aku tak peduli dengan giliranku bermain PS karena ayik bermain uno.
            Pada saat awal, aku sering kesulitan dan sering kalah. Lama-kelamaan akhirnya kemenangan sering aku dominasi.
            “Main uno tuh serunya bukan hanya pas menang, tetapi pada saat menjebak teman kita untuk mengambil kartu tambahan yang banyak,” tutur Rifki yang disambut tertawa hangat oleh yang lain.
Keceriaan ini terus menerus sampai pukul satu yang artinya tugas jagaku berakhir. Akupun mulai tidur dan tak tau lagi apa yang terjadi.

*****

            Kesibukan sudah terasa saat mata ini terbuka, rasa dingin tetap menyengat, langkah kaki sangat berat, malas rasanya. Badan ingin terbaring saja ditempat tidur. Beberapa lama kemudian kutekatkan untuk bangun dan solat, kupergi ke kamar mandi, dan ku injak lantai kamar mandi yang basah, dan rasanya, “kaku.” Perlahan kubasuh air ke bagian yang harus terkena air wudhu, “woow,’ dalam hati berkata. Kulit seperti mati rasa. Akhirnya aku hanya membasuh kulit sekedarnya, hanya yang wajib saja.
            Akibat terkena air wudhu tersebu, setelah solat, aku tidak bisa tidur lagi
sun set ada di sebelah sana, (berada di samping pondokan),” uacap rifki. Setelah melongok sebentar kearah terbitnya matahari Aku dan Rahmat kesana, tak lupa kusertakan juga kamera saku untuk mengababadikan saat itu. 

            Beberapa kali kuambil gambar tentang pemandangan itu, beberapa saat kemudian rifki pun datang, satu per satu kita berfoto ria yang berlatar belakang matahari terbit.
            “eh, pada makan dulu, buruan kesini biar semua kebagian dan dapet semua” Ucap Tiwi, soerang wanita yang sering measak makanan untuk kami saat berada di podokan. Matahari yang semakin naik mengiringi kami melangkah ke pondokan, seperti biasa, dalam urusan makan, mahasiswa ini paling dulu, sejak makanan disajikan, sudah hampir semua orang dipondokan mengerubungi. Kekelurgaanya sangat terasa waktu itu, semua bersuka cita, walau ada yang kekurangan nasi, ada yang kekurangan lauk, ada yang kekurangan  sambal, ada yang tak dapat piring, ada yang tak dapat sendok, ada yang menyembunyikan lauk, entah apalah, ada saja tingkahnya
            Nikmatnya makan bersama, bercanda saat makan, ada yang makan sambil menonton Spongebob, sambil melihat pemandangan, ada yang mengumpat sambil makan, ada yang makan sendirian dan khusuk menikmati makanan. yang pasti semua itu membuat kami semakin dekat dan semakin dekat, sudah seperti keluarga, ya keluarga besar Akuntansi C 2009 UIN Jakarta.
            “abis makan piringnya cuci ya,” ucap Galih. Walaupun sudah diseru seperti itu oleh Galih tetap saja masih banyak yang tidak mencuci. Hanya beberapa orang saja.
            Setelah  semua beres kami semua bersiap-siap untuk pergi ke Air Terjun Curug. tempatnya masih satu wilaya dengan pondokan kami. Untuk kesana kita mesti jalan dari pondok, lumayan jauh dari pondok, setelah beli karcis seharga Rp.2500,- yang semestinya harga karcis itu Rp.1000,- kami berjalan melewati kebun pertanian sampai masuk ke wilayah air terjun. Saat masuk kami juga mesti berjalan lagi agar sampai ke air terjun. Jalananya sempit dan juga terletak di pinggir jurang. Pagar pembatas banyak yang rubuh, terjal saat jalan menurun, dan terdapat jalanan yang licin.
            Pohom-pohon tinggi dan hijau. Menemani perjalanan kami, lumayan jauh dan meletihkan. Melewati sungai yang airnya jernih, jembatan kecil, jalan setapak. Karena jarak yang lumayan jauh, banyak perempuan yang mengeluh.
            Sekian lama kami berjalan kami pun tiba juga di air terjun itu. Tempatnya indah dengan udaranya yang dingi, airnya jernih , jatuh dari tempat yang sangat tinggi. Masih dikelilingi hutan. Bukit-bukit, Terdapat aliran sungai yang mungkin untuk mengairi lahan pertanian. Sungai itu airnya bening dan kita bisa melihat isi dari dasar sungai itu yang berisi kerikil dan pasir, walau terkadang berlumut. Bau airnya sangat terasa. Banyak terdapat batu-batu cadas, Dan terlihat ada bekas kayu terbakar yang tampaknya ada beberapa orang yang habis bermalam disini.
            Banyak yang berfoto ria disana, mengamati keadaan sekitar, bermain air, dengan menceburkan kaki ke sungai yang dangkal tempat air terjun tumpah, menciprati teman. adapula yang naik ke keatas, ketempat awal jatuhnya air, serta ada jua yang menelusuri  sumber sungai tetapi sulit, karena banyak yang dahan yang menghalangi. Semua menikmati suasana dan keindahan tempat ini.
            Selang beberapa lama, haripun sudah mulai siang. kami kembali ke pondokan. Jalan kami lalui dari air terjun masih sama dengan yang tadi, namun ditengah perjalan ada jalan bercabag dan kami memilih jalan baru, dan benar saja ternyata terdapat tempat indah. Tempatnya memang sebuah lahan pertanian, namun sangat indah, lebih indah dari pemandangan didepan pondokan. kami berada di tempat yang tinggi sehingga terlihat semua yang terhampar luas, ditambah sinar matahari sehingga membuat terang semua, gunung-gunung yang terlihat kekar serta perbukitanya yang tersusun rapi,  lahan pertanian, dilengkapi para petani yang membuatnya semakin indah, gubuk kecil tempat menyimpan pupuk dan juga istirahat, tanaman pertanian yang sudah menghasilkan buah, ditambah suara nyaian burung yang membuatnya serasa mengngagumkan. Mambuat kami merasa seperti tidak ada apa-apanya ditengah hamparan tempat indah itu.
            Disana, aku berhenti sejenak, berdiri disebuah jalan kecil yang membelah antara lahan pertanian dan hutan,  memejamkan mata dibawah sinar mentari pagi, menghirup dalam-dalam udara segar waktu itu, mengangkat tangan, merasakan kedatangan angin yang berhembus. Keindahan itu  merasuk ke dalam hati, membuat diri ini tenang dengan keadaan disekitar, dan me-refresh otak dengan kenyamananya.
            Keindahan itu mengantar perjalanan kami kepondokan. Sesampainya dipondokan, semua istirahat.. kamar mandi yang cuma dua menjadi rebutan oleh mahasiswa ini. Dan  Sisa-sisa keindahan itu masih tergambar jelas  di kepala, maha karya Tuhan yang menciptakan semua ini. Puji syukur kepada Engkau kami panjatkan atas segala keindahan alam Indonesia ini, yang subur kaya raya akan hasil bumi. Semoga ini akan terawat dan tidak dirusak oleh manusia, selaku protagonist atas ciptaan-MU ini.

Jumat, 04 Februari 2011

sebuah perjalanan kecil 2

Sepi, pondokan yang kami tinggali merupakan sebuah pedesaan yang berada di dekat subuah gunung, dataran tinggi, dan jarang terdapat rumah, mungkin ini yang membuat sunyi. Di sana kebun pertanian terhampar luas, kol, bawang, mint, daun bawang, dan yang menjadi komoditas utama ialah wortel. System pertanian yang bersusun di daerah pegunungan berupa sengekedan tersusun rapih dan indah. Gunung terlihat sangat dekat, berwarna hijau karena ditumbuhi pohon-pohon besar dan tinggi, itu semua terlihat anggun dan menimbulkan sebuah kesejukan.
            Perasaan lelah masih terasa, mie cepat saji  hangat disediakan oleh para wanita. Kami menikmati suasana waktu itu, biarlah urusan mobil dika kita kurangi dulu intensitasnya, walaupun kala itu Dika sibuk dengan urusan mobilnya.
Makan, ibadah telah selesai, Dika masih sibuk dengan mobilnya. Sambungan antara cipanas-jakarta sering terjadi untuk menyelesaikan masalah mobil. Orang tua Dika ingin datang untuk menyelesaikan masalah ini tetapi dika menahanya, “Biarlah kami yang berusaha mengurusnya dulu.”

Saat itu, Suasana kekeluargaan sangat terasa, dan hangat ,  sebagain dari  kami bercengkrama lalu mengobrol dan bercanda ria. Beberapa teman terlihat sudah telentang diatas ranjang. Yang lain ada yang diluar duduk di sebuah bangku yang mengahadap ke hamparan luar, melihat pemandanganya indah. Serta Menghirup udara segar di tengah pedesaan yang hijau, masih asri. Disana kendaraan bermotor masih jarang. Suara knalpot dari sebuah motor sesekali terdengar dan terlihat.
“Renang yuu,” ucap Adis, dan Galih.
“Ayo, Ayo,” beberapa teman menyetujui.
“Nanti aja abis ashar,” ucap Ku.
“iya entar aja,” wahi menyambut.
Rencana renang pun ditunda setelah ba’da Ashar, dan semua sibuk dengan keasyikanya masing-masing.

Azan ashar tak terdengar, namun patokan kami adalah jam, dan ashar pun tiba, setelah solat, Erik, wahie, Adi ingin buru-buru. Hampir semua sudah siap dengan pakainaya untuk berenang. namun beberapa teman mengurungkan niatnya, malah ada yang tidak ingin berenang. “dingin” ujar mereka, ada yang malah mendekam di bawah selimut. Erick Darmawan, pria berpostur tinggi, dan suka bernyayi lagu daerah, yang paling bersemangat dalah hal berenang, terlihat jelas jika dia yang paling bergegas dalam berenang dan mengiming-imingi mereka yang semangatnya luntur.
            Adi, erik, dan aku akhirnya acuh terhadap mereka yang tak igin berenang. Kami ber tiga jalan lebih dulu ke kolam renang. Di kolam renang itu tampak beberapa anak-anak yang juga sedang berenang. Erik masuk lebih dahulu dan meminta izin kepada pengelola kolam renang, setelah mendapat izin, erik, adi dan aku berlari. Aku dan adi mengamati kolam renang itu dulu tetapi erik tidak, dia langsung berenang setelah melepas baju, melompat ke kolam, seperti tak pernah kena air selama sebulan. Adi dan akupun menceburkan diri, setelah Erick memulai.

           
               Teman yang lain pun akhirnya datang juga, namun tidak semua berenang, Fahmi dan Amri tidak, kolam renang yang kami gunakan airnya berwarna hijau, lantai yang licin, mungkin berlumut, berbentuk persegi dan tersekat dua antara kolam yang dangkal dan yang dalam. Di kolam itu terdapat sebuah tempat untuk meloncat, ketinggianya sekitar dua meter dari pinggir kolam renang. Aku melompat dan banyak pula teman yang melompat, dan bergaya di udara sebelum tercebur ke kolam.
            Pada saat melompat kedua kalinya, aku merasa was-was. Takut apabila terpeleset jika lompat dan tak tahu apa yang terjadi. Karena kakiku basah dan terdapat pasir di tempat untuk melompat itu. Setelah rifki lompat akhirnya aku harus melompat, mau atau tak mau. Saat berlari untuk melompat, aku mengerem dan dan tak jadi, diam sebentar dan mulai lagi. Mundur kebelakang lalu melompat. Saat melompat aku berexpresi sebentar. Saat tercebur, aku meminum air berlumut itu sedikit. Rasanya biasa tetapi tetatp saja perasaan aneh datang ketika meminum air berlumut itu, sehabis itu akupun langsung naik dan tak ingin berenang lagi.
            Anak-anak yang berenang itu pun menyingkir, mungkin tergusur oleh kami yang jumlahnya banyak. Mereka hanya melihat kita dari atas, menyaksikan kami bersenang-senang dengan tampang yang iri.
Kolam yang kami pakai semakin lama, semakin hijau. Mungkin lumut yang berada di lantai dan dinding kolam terlepas akibat terinjak-injak atau tergesek kulit kami. Akhirnya kami pun selesai. Adis dan Aku lari terlebih dahulu kepondokan agar bisa menggunakan kamar mandi  tetapi Adi dan Adam ternyata lebih dahulu. Aku pun menunggu sebentar. Dan akhirnya bisa menggunakanya. Untuk menggunakan kamar mandi, kami harus mengantri karena hanya tersedia dua.
Semua teman pun selesai berbenah. Hari pun semakin gelap, udara dingin mulai teras di kulit, azan magrib menyambut kami, beberapa dari kami mulai memakai celana training dan jaket tebal akibat udaara yang menusuk kulit.
Ketika malamnya tiba, kami mengadakan acara bakar-bakar, ayam telah tersedia, sudah dipotong, direbus, dibumbui, dan diungkep. Arang sudah deibeli, panggangan telah tersedia di pondokan, kipas juga sudah siap walaupun terbuat dari kerdus.
Rifki, Erick, Tiwi merupakan pemeran utama yang mengerjakan bakar-bakar, lainya bermain gitar ataupun playstation, nampaknya permainan modern ini banyak sekali peminatnya. dengan begitu bakar-bakar tetap dilaksanakan, walau asupan tenaga untuk bakar ayam kurang. Sesekali aku datang untuk melihat, dan pada saat ingin mencicipi aku dilarang. Ya aku terima, memang pada saat itu tak ada kontribusinya dalam bakar-bakar.
Bakar-bakar selesai, para wanita juga sudah selesai menanak nasi, makan-makan pun segera dilaksanakan. Tapi masih harus menunggu teman lain. Pada saat ayam dan nasi dihidangkan, pemuda-pemuda ini dengan gesit mendekati, langkahnya cepat, playstation ditinggal, gitar juga, yang sudah rebahan terbangun. Hampir semua pria sudah mendekati, tangan  dari mahasiswa lapar ini terlihat banyak, tampangnya sudah seperti srigala mendekati mangsanya.
Makan-makanpun dimulai. Dalam sekejap mangsa itu hampir habis, prilakunya saat makan sperti suku bar-bar. Galih pada saat itu tidak mendapatklan ayam.
“Galih belom dapet woi, balikin lagi ayamnya,” ujar Wahi
Hampir semua dari kami mengembalikan ayamnya, tak lupa nasinya ke magicjar. Dan jalan tengah dari kejadian makan ini ialah nasi dan ayam dimakan di nampan, semua tampak menikmati, walaupun untuk memasukan tangan susah, namun semua dapat, dan bersuka ria. Termasuk aku, aku tak tau yang aku lakuakn licik atau tidak, aku mengambil ayam dalam ukuran besar dan menyimpanya dipiring, nasi kuraup dari nampan satu tangan penuh, mungkin bisa dimakan untuk empat sampai lima suap, dua kali aku mengambil nasi seperti itu. Pada saat selesai perutku sangat kekenyangan. dengan begitu Aku jadi tak enak dengan teman yang mendapatkan sedikit nasi.
“Maaf  kawan” ucapku.

Rabu, 02 Februari 2011

sebuah perjalanan kecil 1

Rasa capek dan pegal terasa di badan, tanpa pikir panjang beberapa teman (Agus Sukoco, Rahmat Dwi Winardi, Fauzi Al Gofur, Wahidiyat Fauzi, Adi Nugraha, Risyad Adam, Adis Alkhalifah, Erik Darmwan, Galih Ihsan, Rifki Sulviar) langsung turun  dari pondokan untuk menolong teman yang sedang kesusahan dengan mobilnya. Dika Hermawan, Laki-laki yang berperawakan tinggi, si pemilik mobil terlihat mumet saat mobilnya sedang dievakuasi.
*****
Setiap perjalanan selalu membuat sebuah cerita. baik itu perjalanan yang dilakukan oleh manusia atau bukan. Manusia dan manusia yang menceritakanya. Terlebih, suatu  perjalanan yang dilakukan oleh “si tukang cerita itu”. Pengalaman perjalanan mempunyai rasa yang berbeda antara satu dengan yang lain. jika dikisahkan kembali oleh pelakunya. setelah perjalan itu terlewati dengan segala cobaan dan rintanganya yang menghadang. Setiap rasa yang dihasilkan akibat perjalanan itu mempunyai arti tersendiri bagi manusia yang berperan sebagai pelaku utama. Dan selalu ada hikmah dari setiap pengalaman perjalanan
Pengalaman perjalanan waktu itu sangat menarik tampaknya untuk seorang Dika Hermawan. Karena sebuah rintangan berupa jalan yang berbatu serta tanjakan curam mobil merahnya pun menjadi mogok. Sedan ini terdiam tak berdaya menghadapi rintangan di desa sindang jaya, kampung gunung, cipanas. Sebuah cobaan pada kopling mobilnya yang menjadi masalah utama. Mobil ini mengangkut Hamdan Fadilah, Laila Badriah, Puspo Wardani, Nurul Hidayati dan Zahra Septianingsih serta peralatan-peralatan untuk bertahan hidup dan bersenang-senang di pondokan.
Kejadian seperti ini sering terjadi” papar Gandi, pria yang seharusnya bertugas sebagai penjaga pondokoan. Masalah pada mobil ini menyeret beberapa warga kampung gunung untuk membantu. Dan kejadian ini menjadi tontonan bagi mereka. Air muka pucat, panic, tegang, lelah terlihat pada raut wajah Dika. Mungkin pusing atau sakit kepala yang dirasakan oleh dika pada waktu mobilnya bermasalah, atau mungkin stress.
Angkutan umum di datangkan untuk menarik mobil timor merah. Sebuah tali  diikatkan ke kedua mobil. Beberapa orang mendorong mobil yang bermasalah itu. Karena jalan yang sempit dan idealnya hanya cukup untuk satu mobil, sehingga mengakibatkan dua mobil dibelakang berhenti, mengantri untuk naik ke atas. Setelah usaha di coba, dorongan mobil sudah sekuat tenaga, dan supir ankutan umum itu berusaha dengan sekuat tenaga, ternyata usaha pertama nihil, supir dari kedua mobil dibelakang turun membantu mendorong, usaha kedua dicoba. “Satu…, dua…, tiga…” teriakan bersama. Ternyata usaha kedua pun gagal. tali yang di ikat kan itu pun putus dan membuat chasis mobil pria tinggi ini bengkok
Salah satu mobil di belakang yang merupakan mobil pick up mencoba membantu, setelah bersempit-sempitan berusaha mendului mobil dika akhirnya pick up itu berhasil lewat dan berada di depan mobil dika. Mobil pick up itu merupakan mobil yang mengangkut hasil pertanian, itu berarti mobil itu mempunyai tali untuk mengikat hasil pertanian. Salah satu tali tambang tidak sedang digunakan. tali yang tak terpakai itu digunakan untuk menarik mobil dika. Tali itu tebal dan panjang. Untuk mengantisipasi tali itu putus maka tali itu didobel menjadi empat.
Usah ketiga dilakukan, lima orang (Adis, Rahmat, Adi, Adam, dan Agus) naik ke mobil pick up untuk menahan apabila mobil itu merosot pada saat tanjakan. Tali diikatkan. Dengan rokok dimulutnya, supir itu berusaha menjalankan mobil, beberapa orang mendorong mobil dika, lalu teriakan terdengar lagi “Satu…, dau…, tiga…”. Mobil pick itu menggerung, dan jalan perlahan, tali mengancang, mobil dika tertarik dan  mulai berjalan.
Sedikit demi sedikit mobil dika melaju, dan para pendorong mobil semakin terpacu untuk mendorong dan bersemangat. Tanjakan yang menikung serta berbatu dan berpasir itu akhirnya terlewati, mobil dika melaju dengan deras setelah itu. Para pendorong pun melepaskan mobil yang sudah berlari itu. Kami, para pendorong terengah-engah sehabis mendorong, namun kami pun lega karena usaha ini berhasil.
Usaha ketiga pun berhasil, tali tambang oren yang berlapis itu kuat, supir mobil pick terlihat berpengalaman, dan mobil dika pun sampai juga di pondokan, dengan percobaan beberapa kali. Lalu lintas desa itu pun lancar kembali. Warga yang menonton pun mulai bubar. Dan kami memberi uang sekedarnya kepada mereka yang membantu, sebagai ucapan terima kasih. Semua teman kembali ke pondokan untuk beristirahat. Sebuah indomie hangat menyambut. Kami pun segera makan bersama, sambil menghirup udara pedesaan yang masih segar, sambil menatap pegunungan dan bercanda ria.

Bersambung..