Kamis, 28 Juli 2011

Setangkai Mawar Hitam

Oleh Muhammad Umar

Kau menunjukan rasa sakitmu terhadapnya dengan menggunakan aku sebagai umpannya. Sampai akhirnya kau tak tahan dengan rasa sakit itu hingga kau mengemis untuk mengobati rasa sakit terhadapnya. Dengan senang hati dia menugulurkan tanganya untuk menggapaimu.

***
Tak sengaja mataku terbuka pada tengah malam. Tatapan pertama secara langsung mengarah ke langit-langit ruang. Entah mengapa tidurku cacat malam ini. Pikiranku gelisah ketika berhadapan dengan kajadian beberapa hari lalu. Kejadian yang hanya membuat remuk seperti cermin yang kau hampaskan ke bumi dari lantai 13 di saat cermin itu kau gunakan untuk memperbaiki kumalnya wajahmu.

Aku tahu ini bodoh, tubuh ini hanya terbolak-balik di atas ranjang. Padahal, tubuh ini masih membutuhkan istirahat dari lelahnya siang, namun pikiranku tak mau diganggu kesenangannya karena masih asik bermain dengan luka, tak mau dibujuk. Bayang-bayang keindahanmu masih tertonton jelas di otakku. Ketika sebuah perhatian berlebih datang untuk diriku, hiburan setelah penat karena dipacu tekanan.

Masih kuat kemampuanku mengingat ketika kakakmu mengajakku berjabat tangan denganmu. Akupun secara sombong menyebut namaku, sebab tak ada yang sangat menarik di dirimu dalam sentuhan pertama, namun iming-iming kakamu yang menyebutkan sebuah taman bunga indah disekitarmu, aku terhasut.

Tak terbersit dipikiranku untuk menggemgam tubuhmu, sebuah taman yang mengelilingumu serta merta membuat aku harus mendekatimu. Harapku agar dapat memetik satu saja bunga merah wangi di taman itu. Tetapi waktu bercerita lain, Seiring hari yang silih berganti membuat aku terpaku menatapmu.

Setiap hari, ada jembatan yang menghubungkan kita. Aku tak percaya jembatan itu terbentuk begitu saja. Sampai aku bisa mendatangimu di ujung jembatan sana. Dan heranya, setelah aku menyebrangi jembatan itu, kau dengan baik memberi apa saja yang aku mau.

Keherananku bertambah saat kau mau kusuruh menulis untaian kata indah. Bahkan beratus-ratus kata indah kau sebutkan. Secara tak langsung aku melihat ketulusan itu. Sebelum akhirnya aku memberimu satu ucapan yang membuat taliku dan talimu tersambung.

Ketika kita terikat, hari-hariku mulai menyenangkan, Terlebih saat pertama kali kau tinggalkan bekas bibirmu di dibirku di atas sofa ruang tamu. Dengan genggaman tangan yang sangat kuat seperti takut kehilangan. Aku semakin merasakan kehangatan detik demi detik yang kita lalui

Aku termenung saat aku tak didekatmu, hal apa ini, konyol, hampir membuatku gila, setiap detik aku merasa panik. Panik apabila ada orang lain yang mendekatimu. Bukan hanya mendekati tapi perasaan ini panik saat orang lain memandangmu kagum. Akan ku pukul apabila ada seseorang yang begitu.

Rasa yang kau berika lain, kau juga seperti takut kehilanganku. Ini terlihat ketika aku tak menghubungimu satu jam saja, kau dengan segera merengek. Hampir tak percaya, kau begitu takutnya sampai-sampai tak boleh putus kominikasi denganku.

Bunga-bunga kurasakan sangat indah, bemekaran, wangi, tak layu-layu, sampai aku tak pedulikan bunga lain. Setiap bekas pelukan tubuhmu yang membekas di tubuhku membuat aku gemetar memikirkanya. Pikiran ini sampai membuat aku tak memperdulikan bunga lain yang mendekat.

***
Saat hari pertama, aku ingin sekali memberimu bunga, jadi ku cari bunga yang terbaik yang ada. Namun ketika aku ingin memberimu, aku lupa dimana aku menyimpanya. Lalu ku urungkan niatku. Padahal Bunga itu merah, wangi, dan merekah menggambarkan perasaanku kepadamu, mungkin juga perasaanmu kepadaku.

Setiap ku cari bunga itu, tak pernah aku menemukanya. Sudah tiga hari aku mencarinya tapi masih belum. Aku pikir bunga ini pasti busuk, jadi pemberian bunga itu tak pernah terjadi selama aku dan kamu terikat.

Hari-hari berikutnya ku jalani seperti biasa, hamper setiap hari aku menyambangi rumahmu, aku tak pernah bisa menolak ajakamu untuk memakasaku bermain cinta dirumahmu. Hingga aku tak enak dengan para tetanggamu saat aku terlalu sering melepas hasratku bertemu.

Aku semakin menjadi posesif saat seorang anak kecil di dekat rumahmu mengatakan.
“kakak cowonya ganti lagi ya, kemaren yang tinggi kayanya, sekarang beda lagi,” ucap anak itu polos
Kecemburuanku meningkat tajam, hingga aku merasa harus tahu semua kegiatanmu.

Tapi aku piker kau tak akan main-main dengan yang lain karena kau tampak takut kehilangan ku, meski begitu anak kecil didekat rumahmu secara tak langsung telah mmbuatku gundah, ya gundah karena takut kehilanganmu.

Inginku menghabiskan waktu-waktu yang lama denganmu, sampai-samapi aku membayangkan sesuatu yang jauh di waktu yang akan datang. Bagaimana kau mengancingi kemejaku saat aku ingin berangkat bekerja, dan selalu membereskan barang berantakanku ketika pulang kerja.

Angan-anagn itu semaki jelas ketika di hari ketujuh kau ingin mengenalkan orang tuamu kepadaku. Suatu hal yang sudah kutunggu, mungkin angan-anagn itu akan menjadi kenyataan pikirku waktu itu.
***
Di hari-hari yang kutungu, ketika aku sedang mencari sesuatu tapi tak tahu apa yang kucari waktu itu. Kutemukan bunga yang ingin ku berikan kepadamu. Bunga itu sudah menghitam pekat, retak, dan rusak.

Bunga ini merupakan gambaran rasaku kepadamu waktu masih indah. Dan aku mulai takut bila bunga ini benar-benar menggambarkan rasaku kepadamu saat ini. Tapi aku tak acuh karena kepercayaanku yang tinggi terhadapmu.

Karena hari mulai sore, aku bersiap-siap untuk makan malam di sebuah tempat. Dan aku tak sabar ingin mengenal orang yang sudah melahirkanmu untuk meminta izin kepadanya. Jadi kupersiapkan semua. Kupakai, celana dan kemeja terbaikku saat itu, serta kupakai wewangian yang lumayan banyak dan tak lupa ku cuci kendaraanku.

Setelah meminta izin kepada orang tuamu, akhirnya kita menuju tempat itu. Tempat dimana kita-benar-benar bicara pertama kali. Tetapi ada hal yang aneh ketika di perjalanan, keramaian kota Jakarta terasa sunyi selama diperjalanan.

Ketika sampai, aku jadi teringat mawar hitam yang ketika masih merah merekah melambangkan perasaanku terhadapmu.
“apakah mawar ini merupakan perlambanganku terhadapnya?” ucapku dalam hati.

Kami makan dengan khusyu, tak ada yang bicara. Sampai akhirnya aku mencairkan suasana. Kau pun tersenyum dan aku menyuruhmu berbicara. Tapi kau tampaknya sedang tak ingin, jadi aku yang bercerita agar membuatmu tertawa. Sampai akhirnya kau bicara.

Seusai makan kita pun pulang. Disepanjang jalan kau memelukku dan berkata takut apabila aku menyakitimu, tapi dengan sombong aku tetap tenang. Kita berjalan menembus kesunyian malam dengan suasana kaku. Tak tahu apa rasa dari pelukan itu. Mungkin pelukan tersakit waktu itu setelah ditempat makan kau berkata.
“Kita sampai disini saja.”

kamis, 28 juli 2011

Senin, 25 Juli 2011

Layang-layang lelaki tua yang putus

Oleh Muhammad umar
Seorang kakek, umurnya kira-kira berkisar 60-70 tahun, aku tak tahu jelas siapa dia? Aku tak pernah melihatnya, mungkin ia warga pendatang baru. Aku sudah jarang bermain dengan teman rumahku, lebih sering berdiam dirumah.

Perawakan lelaki tua itu kurus, badanya kecil dan kempes. Tulangnya terlihat jelas, dibaluti dengan kulit yang mengkerut hampir di setiap bagian tubuhnya. Kulitnya sawo matang dan rambutnya sudah putih semua.

Tampaknya ia senang sekali memainkanya. Ini terlihat dari bentukan wajahnya yang sering bebinar ketika menggengam kaleng benang.Walaupun layang-layang itu tak terlalu bagus karena layangan itu singit, miring ke samping bila angin menerpa keras, ia masih berusaha membuat layang-layang itu tetap tinggi berada di udara.

Di sekelilingnya beberapa anak kecil juga sedang berusaha menerbangkan layang-layang. Bila dilihat, tubuh kakek itu yang paling berbeda. Ia adalah orang paling tinggi ditempat itu yang sedang bermain. Sepertinya tak ada rasa malu saat bermain meski orang itu telah berumur.

Beberapa anak kecil mengganggunya, dengan miminta untuk dipinjamkan layang-layang, bahkan beberapa anak kecil lain, ada yang merengek meminta agar kakek itu menerbangkan layang-layangnya yang sedari tadi belum terbang. Dengan baik kakek itu menuruti permintaan anak kecil itu.

Ketika orang tua berpakaian kaos oblong itu menerbangkan layang-layang salah satu anak kecil, Layang-layang miliknya yang dimainkan oleh anak kecil lainya tersangkut karena layang-layang itu sulit dikendalikan. Akhirnya lelaki tua ini memarahi anak kecil itu, sambil membereskan benangnya.

Benang digulungnya di tempat kaleng bekas susu yang dibaluti kertas agar kesat. Supaya benang tak keluar jalur dan tak kusut. Banyak sekali sambungan di benangnya. Mungkin benang miliknya hasil dari memungut benang yang tercecer di jalan. Layang-layangnya juga banyak sekali tambalan, mungkin orang tau itu dapat ketika layang-layang putus. Setelah selesai mengulung benang, ia langsung pergi.
***
Layang-layang berjejer banyak di langit cerah sore ketika aku pulang sekolah. Pertanda, musim layang-layang mulai mewabah. Aku sedikit senang karna sudah lama aku tak memainkanya. Menurut ingatanku, terakhir kali aku menarik benang layang-layang saat aku beranjak menuju SMP.

setelah melepas seragam putih abu-abu, Akhirnya ku persiapkan sedikit peralatan serta membeli beberapa layang-layang untuk dimaninkan.
“akhirnya. sudah lama aku tak memainkanya,” ucapku dalam hati.

Aku bermain di samping rumahku, disebuah halaman barisan kontrakan sempit. Aku sudah tak bisa bermain layang-layang ditanah lapang yang luas, maklum saja di perkampunganku sudah banyak tertanam bangunan rumah. Tanah lapang tempat aku bermain layang-layang dan sepak bola waktu kecil, sudah digusur dan berubah menjadi komplek perumahan.

Teman-temanku yang ingin bermain layang-layang harus mencari tempat khusus untuk bermain layang-layang. apabila mereka ingin bermain di tanah lapang, mereka harus berjalan dan itu lumayan jauh. Sebenarnya dekat namun lapangan itu berpagar tembok dan diatasnya terdapat kawat besi. Pintu masuk lapangan itu jauh. rumornya tanah lapang itu akan menjadi korban keganasan pembangunan dengan didirikannya kluster.

Layang-layang sudah mendapatkan anginya ketika kuterbangkan, ku ulur benangku agar mudah ku kendalikan. Setelah lumayan tinggi, ku lihat ada beberapa lawan di depan. lalu layang-layang ku beradu dengan layang-layang didepan, entah siapa pemiliknya, dan menang. Lalu ku coba beradu lagi, namun duel ku yang kedua kalah.

Aku tak terlalu pandai dalam memainkanya tetapi ada rasa tersendiri yang membuat aku ingin sekalii memainkanya. Ada rasa berdebar saat layang-layang ini mulai didekati ke lawan dan diadu, rasa kemenangan saat layang-layang musuh putus, dan ada rasa kecewa saat kalah, lalu penasaran untuk melawanya lagi. Jadi tak cukup punya satu layang-layang.

Layang-layang kucoba terbangkan lagi. Tetapi lawan tinggal satu, dan layangan itu tampaknya tak untuk di adu karna diberi hiasan rumbai- rumbai dan buntut. Karna tak ada lagi, Aku mencoba mendatangi temanku untuk menyuruhnya bermain dan berduel denganku tetapi layang-layangnya sudah habis.

Setelah itu aku pulang. Aku tak sengaja melihat pemain layang-layang yang berumbai-rumbai dan berbuntut itu. Aku pikir seorang anak kecil yang meminta dimainkan oleh kakeknya. Tetapi saat ku amati lagi selama beberapa lama, aku tau jikalau pemain layang-layang adalah seorang lelaki tua, kakek-kakek.
***
Pada suatu waktu aku melihat kakek itu sedang mengejar layang-layang bersama segerombolan anak kecil. Ia bersemangat sekali mengejarnya dengan peluh bercucuran terkena terik sore. Tak seperti aku, aku memilih membeli tertimbang mengejar layang-layang putus, tetapi terkadang ingin juga mengejarnya bila membayangkan saat masa-masa ku berlari berebut layang-layang putus dengan teman sampai akhirnya layang-layang itu sobek.

Lelaki tua itu tak pantang menyerah walaupun beberapa layang-layang yang ia kejar sering tersangkut di atas genting. Banyaknya rumah yang tertanam dikampungku tak hanya membuat ruwet dan jalan sempit, tapi juga membuat lelaki tua itu tak bisa mendaptkan layang-layang.

ketika mendapatkanya, orang tua itu langsung memberi hiasan pada layang-layang itu dan memainkanya. Bila ku hitung sudah lima hari orang tua itu memakai layang-layang itu dan tak berganti. Sampai layang-layang itu terlihat kotor dan hampir rusak. Sebelum akhirnya seorang bocah membabat layang-layang lelaki tua itu sampai putus.
Benang dikalengnya semakin pendek, dan layang-layang yang ia dapatkan sering di adu oleh anak kecil. Dan ketika layang-layang lelaki tua itu putus, anak kecil itu menertawakanya dengar terbahak-bahak.

Bila sudah putus begitu aku sering menemuinya di persimpangan jalan, sedang menunggu layang-layang putus. Ia menunggu dengan sabar. Dan ketika dapat, ia pasangkan hiasan lagi agar terlihat menarik, lalu menerbangkanya lagi. Tetapi anak-anak jahil itu menertawakanya ketika layang-layang kakek itu putus lagi.

Terkadang aku kasihan melihatnya. Dan membuatku kesal bila anak-anak itu mengadunya. Bila ada tanda-tanda anak tengik itu ingin mengadu kakek itu dengan sengaja aku sering memutuskan layang-layang anak kecil itu terlebh dahulu. Walau konsekuensinya akan dimarahi oleh kakak atau orang tua dari anak nakal itu.

Pernah pada suatu sore, aku ingin mengadu dengan temanku, untuk itu aku harus mengulur benangku hingga jauh, agar sampai. Tak sengaja ketika aku membelokan arah, layang-layangku mengenai layang-layangnya. Dan membuat layang-layang kakek itu putus.

Aku jadi merasa tidak enak dengan kekek itu, walaupun aku tak pernah kenal, temen-temanku juga berkata tak usah dipikirkan, tapi aku seperti merusak kebahagiaan yang telah dimilikinya. Aku berinisiatif untuk menggantinya, tetapi hari sudah terlalu sore.

Matahari sudah mengumpat dibalik awan yang mulai menghitam, waktu pertunjukannya hampir habis. Bulan bersiap untuk keluar dari balik layar menuju ke pentas, untuk menghibur manusia dengan cahaya terangnya agar alam ini tak terlalu gelap. suasana kala itu dingin mencekam, cuacapun menunjukan tanda-tanda akan hujan. dan aku menunda pemberianku kepada kakek itu.
***
Saat aku berjalan pulang, aku merasa lega sekali karena acaraku di sekolah sudah selesai.
“akhirnya bisa bermain layangan lagi, sahabis aku menginap disekolah karena ada acara,”ucapku dalam hati.
“aku juga ingin memberikan kakek itu beberapa layangan untuk mengganti layang-layangnya,” tambahku membatin

Hari sudah sore kala itu, cuaca sangat cerah, dan aku berfikir itu merupakan waktu ideal untuku bermain layang-layang. selama perjalan pulang dari depan gang menuju rumahku, tak ada tanda-tanda kehidupan layang-layang di udara. Sepi.

Bebrapa saat ku coba perhatikan, tetap tak tampak. Suasana sunyi. Dan ketika aku semakin dekat dengan kampungku, tak ada anak-anak yang bermain layang-layang. Mungkin aku pikir, musim layang-layang sudah berakhir, namun apakah begitu cepat musim permainan itu berkahir.

Semakin dekat, terlihat sebuah bendera ditiang-tiang listik tertempel. Bendera itu beukuran kecil berbentuk segi empat dan terbuat dari kertas minyak
“Inalilahi, wa ina ialihi rojiun,” ucapku dalam hati.

Ketik sampai dirumah, aku menyiapkan beberapa layang-layang untuk diberikan kepada lelaki tua itu. Setelah ku siapkan dan ingin pergi kerumah lelaki tua itu. Kutanyakan kepada orang yang berada dirumah perihal bendera kuning yang banyak tertempel di kampung ini.

“siapa yang meninggal,” ucap ku
“lelaki tua yang tinggal di ujung jalan sana, tadi siang dikuburkan”

Ciledug, 26 juli 2011

Minggu, 03 Juli 2011

Angin Segar (iseng)

Sebuah angin segar dating tiba-tiba dan tak terduga, memberi sebuah harapan akan masa depan. Di saat perasaan saya sedang berharap cemas akan nilai yang belum juga keluar mungkin rasanya Seperti berada di arena perjudian dan menunggu seorang Bandar menjatuhkan batok kelapa yang berisi sebuah dadu.

Angin segar ini timbul Mungkin dari hal yang biasa, hanya cerita kenangan masa lalu. Sebuah pengalamanya dalam menjalani hidup. Ia berccerita bagaimana temanya yang sangat pintar dan kaya hanya menjadi seorang supir. Padahal Otaknya sudah tidak diragukan lagi. Hamper setiap ujian ia mendapat nilai 9 di pelajaran eksak. Bahkan kabarnya orang itu jarang belajar, (aku mengira bila makannaya sangat begizi dan berprotein hingga ia menjadi seperti itu) ditambah lagi hidupnya mewah, disaat tahun tujuh puluhan ia sudah mengendarai mobil saat bersekolah. Tapi sayiag saat kuliah tingkat dua dia sudah keburu menikah.

Dari cerita itu saya mengambil pelajaran, bila jangan menikah bila masih kuliah. Meski Saya masih belum tau apa hubunganya menuntut ilmu sama sudah nikah. Mungkin bila sudah menikah focus terhadap kuliah menjadi kurang.dan tendensinya lebih kepada istri. Selain itu pelajaran yang saya dapat ialah bila kepintaran tak menjamin sukses di masa depan bila tak di pergunakan dengan baik.

Pintar saja belum tentu sukses apalagi yang bego?

Ada lagi cerita tentang teman ayah saya yang pintar, kaya dan sukses dimasa depan. Ditambah lagi tampan serta dikerubungi banyak wanita. (“nggak seperti bapak, salaman aja malu sama cewe. Karna tanganya tajem akibat kapalan” ucap ayah}. Meski dikerubungi banyak wanita teman ayah saya tak begitu peduli, dia tetap saja belajar. Sampai akhirnya masuk ITB dan menjadi seorang direktur

Pelajaran yang saya ambil adalah wajar kalau orang ini sukses.

Lalu, ada lagi, kali ini seorang anak bupati yang menjadi pemborong (saya masih belum mengerti pekerjaan pemborong itu seperti apa dan bagaimana? Mungkin semacam kntraktor). Sekarang Dia meminta proyek kepada pejabat daerah. Padahal dahulu ayahnya pejabat. Tetapi sekarang keadaanya berubah. Bahkan ada yang berkata “sekarang elu minta proyek ama gw sampe nunduk-nunduk gitu, dulu bapak lu lewat gw ciumin mobilnya” dulu saat orangtuanya menjadi bupati ia hidup senang tetapi saat sudah lengser,. Semua berubah.

Pelajaran yang saya ambil adalah jangan memanfaatkan kekayaan orang tua untuk hidup. Tetapi manfaatkan kemampuan diri sendiri. Dari cerita ini orang tua saya malah menasihati saya agar saya tidak nyontek. Da nmenasihati agar memanfaatkan kemampuan sendiri.

Sekarang cerita seorang anak guru, miskin namun sukses. Kata orang tua saya orang ini belajar dengan sungguh-sungguh, bahkan sampai nangis-nangis saat belajar. Ditambah orang tuanya keras dalam mendidik. Tak segan untuk memukul dengan kayu yang besar terlebih orang tuanya tak akan menyerah sebelum memukul anaknya. Kesungguh-sungguhanya membawakan hasil dan anak ini pernah merasakan kursi mentri luar negri sebanyak 2 periode meskipun sudah tidak menjadi menlu lagi saat ini.

Pelajaran yang saya ambil adalah harus belajar dengan sungguh-sungguh, klo perlu sampai nagis-nagis agar bias jadi orang sukses..

Dan ini cerita terakhir. Ayah saya punya seorang teman, anak ini bias dikatakan kurang pintar atau bahasanya kasarnya bodoh, tapi saat lulus tak ada yang menyangka bila anak ini masuk ITB, saat diteriman, anak ini juga tak percaya saat mendapat ITB, bahkan anak ini mengikuti test lagi untuk memastikan, dan ternyata anak ini lulus. Hamper semua teman-temanya heran terhadapanya. Sebelum akhirnya keluar karena tidak kuat kuliah di ITB

Pelajaran yang saya ambil adalah kadang-kadang keberuntungan dating tak terduga-duga.

Inti dari cerita yang saya ambil dari semua itu ialah, kepintaan tak menjamin orang itu akan sukses bila tak dimanfaatkan dengan baik. Apabila ingin sukses orang itu harus sungguh-sungguh dalam mejalankan sesuatu. walau terkadang keberuntungan dari maha pencipta juga bias memperngaruhi