Selasa, 30 Agustus 2011

Fajar Pembawa Asa

Kali ini fajar datang
setelah sekian lama mendung menghalang

Ia datang dari jauh
dari tempat tak diketahui
singgah dimana pun ia mau
fajar tak henti berjalan atau berlari
meski segala tempat
segala waktu
segala zaman
telah disambangi

ia terus bergerak
sampai pasir di tabung waktu itu habis
dan ruang menguap

Ia datang mencari sisi gelap
menenteng setitik cahaya terus menyebar
mengusir takut dan membawa asa

Harapan diselipkan disaku manusia yang ditemuinya
dibawa kepada terik
berpeluh bersama terang
dan panas mengolahnya

Lalu senja yang menentukan dengan semburat jingga
dengan dua pilhan cahaya
bagus atau tidak bagus

hasil diberikan kepada sang malam
ia mengumumkan dibawah terang bulan
hasil bisa menyebarkan ketakutan dengan hitam mencekam
atau memperindah kebahagiaan dengan kerlip bintang

sampai akhirnya asa itu diserahkanke fajar
fajar membawa asa

2011-08-30

Senin, 29 Agustus 2011

Televisi

Bermula dari Satu semut
menjadi kumpulan semut berantakan
menyusun barisan hingga terbentuk
yang hitam dan yang putih
lalu mereka bosan
merapat sampai terbentuk ragam warna
merah, hijau, kuning serta semua warna

Berawal dari satu kumpulan semut
bertelur menjadi beberapa
mewabah
dengan ciri serta karakternya

Berdasar dari dari barisan semut
terbentuk beberapa barisan
berkreasi menjadi ratusan
hingga bingung memilih

Lalu semua kelompok berkreasi
menciptakan inovasi
agar memperoleh sandang, pangan, papan

Sekarang mereka beragam
menpunyai puluhan bentuk
dengan ratusan variasi
terus berinovasi

Sekelompokan semut itu berkelana
mendatangi siapa saja
dengan tujuannya

Dan apabila mereka mendatangimu
engkau memperoleh pilihan
apakah mempersilahkan semut itu menggitmu
atau kau pengandali mereka
2011-08-30

Pertarungan

Mereka tak pernah permisi
Hilir mudik
Menganggu dalam sunyi senyap sepi
Di hari yang hitam dengan seonggok cahaya
Manyerang
Menggigit hingga menembus kulit
Menghisap darah tuk menambal lapar
Hingga kenyang
Mabuk dengan perut menggelembung hampir pecah
dan gereknya menjelma menjadi keong


Sebadan raksasa
memburu, mencari dan memusuhi
menatap tajam dan jeli
juga dengan sinis
mencoba membunuh dengan cara apapun
dari yang sederhana sampai tak biasa
hingga mereka mati tergeletak
menjadi sampah
lalu menjadi makanan makhluk lain


Mereka tewas ditangan raksasa
terhimpit dengan darah membuncah
tercecer menyiprati kulit

Mereka tewas ditangan raksasa
diracun sampai lemas, tak berdaya
dan tergeletak

Mereka tewas ditangan raksasa
disetrum dan tak bisa lari
sampai gosong dan bulu-bulu berdiri

Sang raksasa tersenyum penuh dendam
serta kemenangan

Ciuman

Pada suatu malam, di sebuah mall, tepatnya dibilangan Alam Sutra, Tangerang. Saya melihat seorang muda-mudi sedang asyik bercengkrama. Mereka besenang-senang disebuah kafe yang menyajikan masakan tradisional daerah tertentu. Suasana kafe itu sepi, (saya hanya melihat mereka berdua di kafe itu) jarang orang berlalu lalang disana, hanya sesekali karyawan mall itu melintas. Ditambah malam yang sudah semakin larut membuatnya semakin sunyi.

Muda-mudi itu terlihat menikmati suasana, mereka tertawa riang, mendengarkan musik bersama menggunakan headset, berfoto dan bercanda ria. Bila dilihat menurut subjektif saya, penampilan mereka dan keadaan fisik mereka terlihat menarik. Mereka terlihat sepasang kekasih, meski saya tak tahu yang sebenarnya.

Ketika saya menengok sejenak dari samping kafe tersebut, tak sengaja melihat si perempuan itu memegang pipi si laki-laki sambil duduk di sofa kafe itu. Setelah itu si perempuan mencium bibir si laki-laki tersebut, namun tak lama durasinya. Setelah itu mereka bersikap seperti biasa saja dan tak perduli sekitar.

Saat saya melihat kejadian itu, tak ada sesuatu yang berbeda, biasa saja. Namun ketika saya terbengong sejenak, saya merasa ada suatu keadaan yang berubah. Mungkinkah budaya? Anak sekecil mereka (saya tak tahu apakah tubuh mereka yang kecil namun sudah berumur atau memang mereka masih belum punya KTP) sudah berani melakukan hal tersebut di tempat umum.

Mungkin sudah biasa bila remaja seusia mereka melakukan hal itu di kota ini (pandangan subjektif saya). Namun bila dilakukan di tempat seumum itu, di tempat yang semua orang bias melihatnya, bahkan balita sekali pun. Saya pikir tidak biasa dan itu yang sangat menjadi perhatian bagi saya terutama tempat mereka melakukannya. Sepasang suami-istri pun jarang terlihat berciuman di tempat umum seperti itu.

Apakah ada suatu transformasi budaya? Bukankah hal seperti itu merupakan hal yang pribadi dan intim untuk dilakukan di Negara timur seperti Indonesia. Apakah mereka sudah benar-benar terpengaruh budaya Negara barat? Tapi setahu saya di beberapa Negara barat pun dilarang melakukannya di tempat umum.

Terlebih mereka merasa biasa saja, seperti hal itu sudah umum, dan tak perlu diperbincangkan. Atau mungkin karena terlalu terbakar gelora asmara sehingga mereka tak memperdulikan keadaan sekitar. Se”buta” itukah asmara semasa muda? Mungkinkah karena jiwa muda, jiwa yang mengidam-idamkan kebabasan sehingga mereka bersikap bebas tanpa tahu keadaan.

Walau begitu, mereka merupakan salah satu pelajaran bagi saya. Mungkinkah mereka manifestasi keadaan remaja di kota ini, atau di negara ini? Saya tak tahu bagaimana keadaannya sesungguhnya. Saya harap tidak.

Setelah dirasa upacara bercumbu dan dinnernya cukup, muda-mudi itu pun bergegas pergi dengan santai. Dan saya masih duduk di tempat itu dan belum berniat beranjak sambil menikmati sebuah kopi bersama teman-teman saya.

Minggu, 28 Agustus 2011

Young Gunners

Namanya Arsenal, ini merupakan salah satu klub raksasa Inggris. Banyak terlahir bintang dari klub ini, sebut saja Thierry Henry, patrick vieira, dan Freddie Ljungberg. Mereka adalah pemain yang awalnya tak pernah dikenal namun menjadi pemain yang sangat diperhitungkan.

Arsenal seperti belum ada habisnya menelurkan pemain seperti Francesc Fabregas dan Samir Nasri. Namun nahas, di bursa transfer 2011 para pemain yang ditelurkan itu pergi dari Arsenal ke klub yang mengincarnya.

Francesc Fabregas pergi ke Barcelona dengan nilai tranfer sekitar 40 juta pound. 35 juta dari barcelona dan 5 juta tambahan dari kocek pribadi Fabregas sendiri. Namun pengorbanan ini tak sia-sia. Fabregas yang baru saja beranjak dari arsenal sudah mendapatkan dua gelar, sedangkan selama betahun-tahun ia di berada di arsenal, hampir tak ada gelar bergengsi yang diperoleh.

Selain itu Samir Nasri dan juga Gael Clichy yang pindah pada bursa tranfer 2011/2012 telah memperlhatkan kematangan dari klub yang baru di belanya itu. Debut pertama Nasri, sudah mengantarkan klub barunya memperoleh hasil yang meyakinkan untuk memperoleh gelar liga inggris.

Setelah ditinggal para punggawanya, Arsenal tertatih-tatih menghadapi kerasnya liga inggris. Klub ini seperti tak terlihat seperti klub besar di liga inggris. Kejayaan masa lalunya seperti tak berguna apa-apa.

Sebetulnya, klub ini mempunyai banyak materi pemain bagus namun para pemainnya masih kurang berpengalaman. Klub ini sebenarnya sangat bagus karena mengusung pemain muda yang fresh dan mempunyai semangat yang tinggi, namun tak bisa dipungkiri seorang figur dibutuhkan untuk mengimbangi.

Rabu, 24 Agustus 2011

Hanya omong kosong

oleh Muhammad Umar
Apakah jadinya bila tokoh dalam sebuah cerita menolak di takdirkan seperti itu dan tokoh itu mencari penulis ceritanya untuk menggugat nasibnya?

Di sebuah tempat lokalisasi, terdapat seorang pelacur yang memiliki rajah kuda yang terlihat seperti berlari. Syahdan, rajah kuda itu keluar dari punggung perempuan itu dan menjelma menjadi kuda sungguhan yang menyebabkan sebuah bencana bernama persembahan kuda. Kuda itu berlari dan serta merta diikuti oleh satu juta pasukan berkuda yang dikirim oleh Sri Rama untuk persembahan.

Pasukan itu merupakan pasukan yang sangat kuat hingga menyebabkan apa saja yang dilewatinya di seluruh penjuru bumi akan hancur lebur. Bagi mereka yang melawan sudah tentu nasib daerahnya akan rata dengan tanah dan penghuni kampung itu akan habis dibunuh dan untuk yang menyerah maka mereka akan selamat.

Pasukan sri rama ini sangat kuat dan apabila pasukan kudanya dapat dikalahkan maka ia masih mempunyai prajurit wanara (kera) yang siap menolongnya. Sampai akhirnya tentara ini dapat dikalahkan oleh Lawa dan Kusa yang juga anak Sri Rama titisan Dewa Wisnu dan Sinta titisan Dewa Laksmi.

Meski sudah bisa dikalahkan, akibat yang ditimbulkan oleh persembahan kuda itu sangat parah. Setiap wilayah yang dilewatinya rata dengan tanah, setiap yang melawan maka ia hanya datang memasrahkan nyawanya. Peradaban hancur, manusia menjadi saling memangsa, membunuh, merampok, dan lain-lain. oleh karena itu maka peradaban harus dibangun kembali agar kehidupan kembali kesediakala, kembali ke masa sebelum persembahan kuda.

Dan untuk menghemat waktu 300 tahun untuk membangun peradaban maka harus ditemukan sebuah kitab yang bernama omong kosong. Pencarian kitab ini dilakukan oleh Satya dan Maneka, serta jutaan manusia dengan berjuta maksud, baik itu maksud buruk atau maksud baik.

Awal kisah, Maneka adalah seorang pelacur yang mempunyai rajah kuda itu. Setelah bencana persembahan kuda itu selesai, rajah yang menjelma itu kembali ke punggung maneka melalui jendala. Banyak orang yang melihatnya sehingga setelah kejadian itu banyak yang mendatangi maneka untuk tidur dengannya. Semua orang dalam kota itu ingin tidur dengannya, baik laki-laki maupun perempuan.

Sampai pada akhirnya Maneka melarikan diri karena tak tahan. Pelarain itu yang akhirnya membawa Maneka kepada Satya. Satya adalah seorang pemuda yang menolong maneka saat pingsan sehabis melarikan diri. Setelah pertolongan itu Satya menyukai maneka, dan bersedia melakukan apa saja untuk Maneka.

Karena merasa bernasib sial akhirnya Maneka ingin merubahnya dengan mencara seorang penulis yang berkisah tentang dia, tentang persembahan kuda, tentang Sri Rama, dan tentang kisah Ramayana. Penulis itu bernama Walmiki.

Pencarian yang dilakukan Maneka tentu saja ditemani Satya yang lebih mahir dari Maneka. Pencarian itu membawanya ke sebuah petualangan yang seru dengan menggunakan pedati yang ditarik oleh kerbau dengan gentanya.

Selama berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun mereka mencari Walmiki menuju arah senja berdasarkan informasi yang didapatnya. Walmiki yang merupakan tukang cerita yang pandai berkelana keliling dunia untuk bercerita tentang Ramayana.

Dalam perjalan itu Maneka banyak dicari untuk dibunuh karena rajah itu atau bahkan banyak orang yang lari terbirit-birit ketika melihat rajah kuda yang berada di punggungnya itu. karena kuda itu yang pertama kali muncul sebelum terjadinya persembahan kuda oleh prajurit ayodya.

Sebelum akhirnya pencarian yang dilakukan oleh Maneka dan Satya ini berbelok arah menjadi mencari Kitab Omong Kosong yang terdiri dari lima bagian. karena mereka pikir Kitab Omong Kosong lebih penting karena bisa membangun peradaban manusia yang sudah hancur akibat persembahan kuda dan bisa menghemat waktu selam 300 tahun.

Dalam pencarian kitab yang berada di gunung Kendalisada itu, mereka malah menemukan Walmiki. Dengan segera maneka minta dirubah nasibnya. Walmiki tidak bisa merubahnya namun maneka bisa menulis ceritanya sendiri tanpa tergantung dengan Walmiki. karena kebahagiaan harus dibentuk sendiri, Walmiki menyerahkan semuanya kepada maneka.

Setelah Maneka diberikan otoritas penuh untuk menuliskan ceritanya sendiri. Mereka pergi mencari Kitab Omong Kosong yang berada digunung Kendalisada tempat Hanoman bertapa. Dan setelah mereka menemukan walmiki akhirnya mereka bertemu dengan hanoman dan kitab omong kosong yang pertama ditemukan.

Kitab Omong Kosong itu ditulis oleh hanoman dan mereka harus berusaha keras untuk mencari kitab itu. kitab pertama yang berjudul “Dunia Sebagaimana Adanya Dunia” telah didapt. Setelah itu pencarian diwarnai oleh berbagai macam petualangan. Sampai kelima kitab itu ditemukan dengan cara yang tak disangka, ajaib dan beruntung.

Setiap kitab mempunya makna tersendiri. Setiap judulnya mengandung sebuah makna filosofis tentang dunia ini. serpeti kitab yang kedua berjudul “Dunia Seperti Dipandang Manusia.” Ketiga berjudul “Dunia Yang Tidak Ada.” Yang keempat berjudul “Mengadakan Dunia” sampai yang kelima berjudul “kitab keheningan.”

Dalam “Kitab Omong Kosong” ini Seno Gumira Ajidarma banyak memberika pandangan terhadap sesuatu, seperti cinta, kekuasaan, kebenaran, kedudukan wanita dan banyak lagi. cerita ini sangat menarik karena mempunyai banyak makna dalam isinya.

Sampai pada akhirnya Togog, tokoh yang diciptakan oleh Seno mengakui bahwa kitab ini adalah hanya omong kosong belaka. Ia berpesan kepada pembacanya agar tak membaca Kitab Omong Kosong ini karna hanya membuang waktu. Tidak bagus karena togog mengaku tidak bisa bercerita, tidak intelek, penggambaran yang kurang bagus dan berbagai alasan yang dikemukakan togog agar kitab ini tidak dibaca. Dan terakhir togog minta maaf, minta beribu-ribu maaf atas cerita yang ia tulis ini.

Kamis, 18 Agustus 2011

Lukisan Dinding Di Wijaya Galery

Oleh Muhammad Umar
Lukisan berukuran 50x50 cm itu terpampang di dinding menghadap pintu masuk toko wijaya galery. Penempatanya seolah-oleh merupakan lukisan selamat datang yang menyapa pengunjung dengan tatapan genit, hingga mata pengunjung akan secera refleks melihatnya ketika masuk.

Lukisan itu berupa seorang perempuan bersayap seperti peri berdiri tanpa mengenakan sehelai benang di tubuhnya. Perempuan itu menutup paras eloknyanya dengan kedua tangannya. Kulit putih mulusnya terlihat dari ujung jempol kaki hinggal kening seraya turut memancarkan keindahan duniawi. Rambut panjang dan kemerahan kukunya, ditambah latar belakang lukisan yang berwarna pelangi akan memaku setiap tatapan yang mengarah kepadanya.

Itu merupakan lukisan paling berwarna yang tertempel di dinding toko itu. Pemilik lukisan itu adalah wijaya, seorang seniman dan juga sebagai pemilik wijaya galery. Wijaya mempunyai rambut yang panjang hingga pundak yang dikuncir. berperut buncit dan tak terlalu tinggi. Lelaki berumur 40 tahun ini telah membuka galerynya selama berpuluh-puluh tahun hingga banyak orang yang sudah mengenalnya dekat.
***
Di saat terik matahari pagi menjelang siang, seorang bapak dengan menggandeng anaknya menginjakan kakinya di wijaya galery. Bapak itu mempunyai tinggi sekitar 175cm dan sedikit kurus, ia menggunakan sepatu sandal santai berwarna coklat. Bila dilihat dari wajahnya, ia berumur kurang lebih 35 tahun. Sedangkan anaknya kira-kira berumur 5 tahun. Anak ini menggunakan celana pendek berbahan denim dengan kaos berkerah berwarna warni kesukaanya.

Dengan membawa sebuah gambar orang itu menyambangi wijaya gallery. Gambar itu merupakan gambar kota suci dimana ratusan orang setiap tahunnya datang untuk berziarah kesana. Kota suci terlihat indah dengan suasana malam ditemani lampu-lampu yang dengan sombongnya menunjukan cahayanya silaunya.

Lelaki itu berkeinginan memasangkan bingkai untuk gambarnya. sebelumnya ia celingak-celinguk di depan daftar pilihan bingkai yang tersangkut di dinding toko untuk memilih bingkai yang tepat. Ia membayangkan satu demi satu bingkai itu bila diadu dengan gambar kota suci miliknya.

Sambil memilih, ia bertanya harga kepada pemilik toko itu. lelaki itu menunjuk frame yang bertekstur agar gambarnya terkesan mewah. Setelah menjawab tingkatan harga, pemilik toko wijaya galery itu merekomendasikan beberapa alternatif kepada lelaki itu agar gambarnya tak terlihat ruwet. Percakapn itu terjadi begit santai dalam terik mentari pagi menuju siang.

Suara deru mesin kendaraan bermotor dan sesekali bunyi klokson menemani diskusi kedua orang itu di galery wijaya yang bersentuhan langsung dengan jalan raya. Tumpahan cat minyak, beberapa potongan kayu, serta beberapa karya yang rusak atau gagal menjadi pemandangan tersendiri yang mencuat dari toko itu.

Selama proses tawar-menawar , lelaki itu membiarkan anaknya untuk melihat lihat. Anak itu melihat beberapa lukisan dengan aneh. Lalu ia berpindah untuk melihat lukisan setengah jadi yang masih tertera di kanvas yang dijepit oleh besi dengan tiga potong kaki kayu untuk menopang sketsa lukisan itu. saat ia mencoba menyentuhnya,bapaknya langsung melarangnya.
“Jangan pegang-pegang nak!”
“Kenapa pak?”
“Nanti lukisan pak wijaya rusak.”
Anak itu segera menjauh dan kembali melihat lihat lagi.

Saat terik matahari pagi bergerak menuju siang. Lelaki itu sepakat untuk memasang bingkai dengan bahan kayu yang warnanya natural. Kayu itu terbuat dari kayu jati dengan beberapa ukiran disetiap sudutnya. Pelukis itu segera mengukur gambar itu untuk disesuaikan dengan bingkainya.

Sambil menunggu, bapak itu melihat beberapa karya pemilik toko itu. saat sedang mengagumi keindahan lukisan itu, anak kecil itu mendekati ayahnya, lalu ia menunjukan sebuah gambar yang terpampang di dinding menghadap pintu masuk toko wijaya galery. Ayahnya terkaget-kaget melihatnya.
“Kenapa nak dengan gambar itu?”
“aku mau gambar itu pak.”
Lelaki tua itu sontak, hatinya berdebar. Ia tak menyangka anak sekecil itu meminta lukisan seorang perempuan bersayap yang berdiri tanpa mengenakan sehelai benang di tubuhnya. Perempuan itu menutup paras eloknyanya dengan kedua tangannya. Kulit putih mulusnya dari jempol kaki sampai keningnya terlihat indah. Ditambah lagi kukunya yang merah dan rambuynya yang hitam beradu dengan Latar belakang berwarna warni hingga menambah cerah gambar itu.

Lelaki itu mencoba bersikap tenang. Rasa kagetnya sebisa mungkin ia sembunyikan di depan anaknya. Dengan tenang ia menasihati anaknya agar tak memilih gambar itu.
“Gambar itu jelek, nak.”
“Aku mau gambar itu, pak.”
“Iya, tapi jangan gambar itu, nanti saja bapak belikan mainan,” bujuknya
“Gambar itu sama mainannya juga, pak.”
“Nanti bapak belikan mainan saja, nggak dengan gambar itu,”
“Nggak mau, aku mau gambar itu,” bantah anak itu.
Orang tua ini kesal karena anaknya tak mau menuruti ucapanya. Ia mencoba membujuk anakya lagi dengan cara yang berbeda.
“Adi kan anak baik, anak baik harus nurut apa kata bapak.”
“Iya, tapi aku mau gambar itu pak,”
“Iya, kita pulang dulu, bilang mamah dulu ya.”
“Nggak mau, bapak nanti bohong.”
“Itu gambar porno, kamu masih kecil, nggak boleh.”
“Aku mau gambar porno itu pak,” ucapnya mengikuti ayahnya.
Kesabaran lelaki itu hilang juga. Ia menarik anaknya, dan memarahinya. Anak itu langsung ngambek dan duduk lantai toko yang hanya beralaskan peluran. Anak itu menendang-nendang, lalu melepas sepatunya dan melempar-lempar sepatunya. Tetapi ia belum menangis.

Anak ini sangat pintar, biasanya dengan melakukan hal seperti ini bapaknya memberikan sesuatu yang di inginkanya. Namun kali ini bapaknya tak akan mau menurut kemauan anaknya itu. ia bahkan bertambah marah saat anaknya melakukan hal itu.

Lalu lelaki tua itu berpura-pura ingin memukul anaknya, namun anak itu tak bergeming, anak itu masih menendang-nendang dan menangis ketika bapaknya menjewernya telinganya karena tak bisa diberi tahu.

Lalu pemilik toko itu keluar tuk melihat apa yang terjadi sekaligus mengkonfirmasi bahwa materi untuk gambar itu tersedia. Pemilik toko itu langsung menanyakan peri hal yang terjadi kepada lelaki itu. pertanyaan itu disambut oleh makian dari lelaki itu.
setelah memberi uang, ia langsung menarik anaknya yang sedang menangis menuju mobil. namun anak itu berontak dan berhasil lolos. Ia pergi ke arah wijaya galery, berlari kencang. namun dengan sigap bapaknya keluar sebelum anak itu merusak koleksi seniman itu.
***
Saat terik matahari pagi sedang berjalan menuju siang, bapak dan anak ini sampai dirumah. Anak ini langsung masuk dan segera memeluk ibunya.
“Kenapa anak ini nangis?” ujar ibunya sambil menggendongnya.
“Gimana saya nggak mau marah, dia merengek minta gambar porno,”
Mendengar seperti itu ibunyapun kaget tak percaya dengan ucapkan suaminya.
“Ya, aku ingin gambar porno,” kata anak itu luguh.
“Kamu belum boleh, kamu masih kecil, nanti kalau sudah besar akan bapak beri tahu, sekarang belum boleh. Kamu tau dari mana gambar itu?”
“Nggak tahu,” lanjutnya
“Apakah kamu yang memberi tahu,” tanyanya kepada istrinya.
“Saya tak pernah mengajaknya menonton siaran porno.”
“Kamu seharusnya lebih menjaga tontonan buat anak dari pagi sampai siang,kalau sore sampai ia tidar ada aku, dan aku tahu tontonan yang baik untuknya. Seharusnya kamu menjaganya bukan membebaskanya, karena akibatnya anak ini bisa kecanduan. Memang tak ada acara lain yang bermutu dan mendidik?”
“Di pagi hari acara tv kecendrungannya lebih ke entertainment seperti gosip dan acara musik, hanya sedikit acara televisi yang menayangkan berita atau acara anak-anak”
“Memang tidak ada yang lain”
“Kecendrunganya seperti itu”
“Ah, acara tv indonesia sekarang, apakah tidak ada yang lebih kreatif, lebih mendidik dan bermutu? Apakah kreatifitas mereka sudah mati hingga sulit membuat acara yang mendidik? Ah, Sudah lah aku pusing, urus anak itu,” ucapnya seraya pergi ke kamar.
Selepas kepergian ayahnya ibunya langsung mengambil alih keadaan. Kesempatan itu dia gunakan sebaik-baiknya. Dengan segera ia menanyakan anak itu dengan lembut.
“Kenapa menginginkan gambar porno itu.”
“Orangnya bersayap mirip peri yang mengabulkan segala permintaan anak-anak yang mamah ceritakan semalam. Terus Gambarnya juga berwarna warni seperti pelangi, kan mamah tahu kalau aku suka pelangi, dan aku ingin mamah melihatnya juga.”
2011-08-19

Awal Adalah Kelanjutan Cerita Dari Yang Akhir

Awal adalah kelanjutan cerita dari yang akhir. Seperti halnya suatu pagi yang merupakan kelanjutan cerita pada malam hari atau suatu bulan yang barakhir di desember dan dimulai lagi saat januari, berputar. Dunia ini berputar, seperti kata orang terkadang manusia di atas dan terkadang sebalinya, namun dengan berputarnya dunia berarti dunia ini takan berhenti, terus menuerus tanpa batas, sampai pada akhirnya Si Empunya batas itu yang menghentikannya.

Dalam cerita ini tak ada yang akhir, karena selalu ada yang baru, dan yang baru. Tetapi mengapa kita menyebut kata “akhir.” Bukankah saat manusia meninggalkan dunia itu ia memasuki sesuatu yang baru, dan ketika dunia itu berakhir kita akan berpindah kepada dunia yang baru, ya awal merupakan kelanjutan dari yang akhir.

Saat manusia lahir, itu merupakan suatu awal dari berakhirnya manusia yang lain. lalu masa bayi itu berakhir yang merupakan awal ia menjadi anak-anak. Ia bersekolah dasar lalu berakhir dan memulai lagi kepada yang menengah dan begitu selanjutnya sampai ia berakhir dengan mati dan ada lagi manusia yang memulainya di dunia.

Pada saat seorang orang berumah tangga, ia mempunyai anak yang merupakan “penerus keturunan.” Saat orang tua itu meninggal, ia berharap anaknya bisa melanjutkan perjuanganya. Dan ketika seorang anak itu mempunyai anak lagi saat dewasa, ia mungkin akan bertindak seperti itu kepada anaknya.
Mungkin bisa dilihat dari perjuangan Indonesia. Saat belum merdeka, atau ketika indonesia dijajah oleh bangsa lain, rakyat indonesia berjuang agar Indonesia merdeka. Dan ketika masa penjajahan berakhir, maka di mulai suatu masa yang baru lagi yaitu masa kemerdekaan.

Bahkan ketika seorang kalah dalam meja judi. Ia mesti menyelesaikan kekalahanya itu, dan apabila ingin menang ia, harus memulai lagi dengan kekuatan yang baru, begitu sebaliknya, saat ia menang di meja judi, bisa saja masa kejayaanya berakhir dan masa kekalahannya dimulai. Dan bisa dibilang awal adalah kelanjutan dari yang akhir.

Jadi apa itu kata awal dan kata akhir. Dimana yang awal dan dimana yang akhir. Jadi yang awal itu bagaimana dan yang akhir itu bagaimana bila akhir itu kelanjutan dari yang awal. Seperti halnya pertanyaan apakah bebek dulu aatau telurnya dulu.

Mimpi

Entah bermula dari mana. Seingatku, tiba-tiba semalam aku berada didekatmu dalam sebuah ruangan. Ruangan yang asing bagiku, ruangan yang tak ada sangkut pautnya denganmu. Aku pun merasa heran karena kita masih bersama disana.

Tampaknya kau juga masih sangat menginginkanku. Dan masih tergambar jelas bila diruangan itu ada kita bertiga, aku, kamu, dan adikmu. Mungkin adikmu itu ingin menjahili kita namun karena dia belum mengerti apa-apa jadi adikmu mengerti saat kau suruh dia untuk keluar, bermain bersama temanya.

Temanya langsung menjemputnya di depan pintu ruang itu. Di sana adikmu dengan temenya seperti berbicara karena terlihat dari dalam ruangan yang berjendela kaca. Mungkin membicarakan kita, tapi aku acuh karena diruang itu hanya tinggal kau dan aku.

Tak suatu hal khusus kita lakukan. Kita melakukan hal yang biasa kita lakukan namun ada yang sedikit berbeda. Kau lain dari biasanya dan kau mengizinkan apapun yang kumau. Aku heran, namun aku senang, sampai aku terbangun dengan rasa jengkel mewabah dari dalam hati.

Sekarang, ya malam ini kamu harus bertanggung jawab atas mimpi yang kamu berikan itu. karena membuat aku belum bisa melupakanya. Aku menginginkan mimpi itu lagi. Semoga kau datang dengan wajah indah dan menemaniku sampai aku terbangun nanti.

2011-08-19

Siluman Menjelma Menjadi Sinetron

oleh Muhammad Umar
Hari senin, 15 Agustus 2011, sekitar pukul sembilan pagi WIB. Terdapat suatu acara sinetron di salah satu stasiun televisi swasta. Dalam film itu digambarkan seorang cowo jagoan yang ingin mengembalikan tali persahabatannya dengan seorang cewe, dimana si cowo itu akan melakukan apa saja agar si cewe mau menerimanya lagi menjadi sahabatnya.

Latar belakang film ini adalah sebuah sekolah SMA mewah, dimana si tokoh utamanya mengandarai harley davidson sebagai alat tranportasi. Tak lupa ajakan clubing seperti sudah lazim disebut dalam sinetron itu oleh remaja yang KTPnya saja masih dibuatkan, belum mengurus sendiri. Terlebih uang yang berwarna biru seperti uang ribuan yang dengan mudah dibuang-buang dari kantongnya.

Tayangan ini seperti siluman yang bisa merasuk ke tubuh para remaja atau anak-anak yang menontonya. Hingga terbentuk suatu pola pikir yang mempengaruhi mereka dalam bertingkah laku. Pola pikir dimana untuk dianggap “keren” dia harus berpola hidup mewah, Pola hidup yang biasa tinggal di negara kapitalis dan mulai mewabah ke indonesia. Hal ini tergambar jelas dalam sinetron ini.

Bila ditinjau dengan konteks kekinian, menjadi wajar bila banyak para remaja yang rela menghabiskan uangnya untuk berpola hidup mewah. Pola hidup yang kurang cocok bila diterapkan di negara yang masih terdapat rumah dipinggir kali. Bila orang tua dari para remaja itu adalah seorang yang berkecukupan itu akan menjadi lumrah, namun dengan status sosial masayarakat yang masih terseok-seok untuk memenuhi biaya pendidikan, bagaimana?

Budaya ini mulai merasuk ke pemuda-pemudi indonesia, dan bisa dikatakan salah satu faktornya adalah sebuah tontonan itu sendiri. Yang perlu dipertanyakan apakah motif dar si pembuat film itu sendiri, dan para manusia yang terlibat dalam produksinya. Bila bemotif ekonomi, haruskah mengorbankan pemuda-pemudi indonesia.

jika diamati, masih sangat banyak tayangan yang mendidik, dan biasanya tontonan yang disuguhkan oleh mereka adalah tontonan yang mempunyai rating tinggi dan berkualitas tinggi. Namun tak mengurangi minat masyarakat untuk melahap tontonan itu.

Mestinya tayangan yang mempunyai rating baik juga jangan menjadi berlebihan. Jangan karena “aji mumpung” mereka manambah eposide begitu saja. Terkadang penambahan yang seperti itu akan membuat para penontonya jengah karena jalan ceritanya tak lagi bagus. Serta pesan-pesan yang disampaikan menjadi tidak bisa dicerna oleh penontonya.

Meski begitu, mesti ada kontrol dari para remaja tersebut. Mereka mesti bisa mennyeleksi tontonan-tontonan yang baik dan yang buruk. Selain itu juga masih banyak tontonan yang lebih baik tertimbang sinetron yang menyuguhkan mimpi-mimpi patah hati yang diselimuti kemewahan membunuh.

Untuk para produsen sinetron, semestinya mereka membuat suatu film yang secara langsung atau tak langsung berguna dan mendidik, karena para remaja dan anak-anak sedang dalam masa pendidikan dan mudah terpengaruh. Jadi bila sudah sedari kecil seperti itu bagaimana dimasa depannya. Jangan hanya membuat film yang menjual mimpi indah tanpa memberikan pendidikan untuk mencapainya. Sesuai takaran bukankah lebih baik daripada berlebihan atau kurang.

Dua Puluh Lima Juta Rupiah Di Selipan Dompet

Oleh Muhammad Umar
Di kafe yang berpendingin udara, Sardi sedang berdiskusi dengan Bono, teman semejanya saat SMA. Mereka tertawa lepas dengan sesekali mengecup gelas yang berisikan air teh. Di atas meja tersaji beberapa toples kue, satu piring beling variasi buah, dua cangkir teh, dan satu kertas persegi panjang dengan tulisan dua puluh lima juta rupiah yang dibubuhkan dengan tinta pena. Di pojok kiri bawah tertera sebuah tanda tangan dengan nama jelas Bono Sunandar.

Mereka sudah tahunan tak bersua seperti seorang ibu yang menunggu anaknya pulang dari rantau. Mereka mentertawakan kebodohan masa remaja yang sudah lalu, menceritakan permasalahn keluarga sampai membicarakan pemerintahan suatu daerah.
Semakin lama, alur pembicaraan mereka berubah. Dari pembicaraan pemerintahan suatu daerah, perlahan tapi pasti, Bono membawa pembicaraan itu ke maksud utamanya mengajak Sardi bertemu.
“Perusahaan saya ikut lelang. Mudah-mudahan menang lelang yah. Kamu panitia lelangnya kan?”

Seiring berjalanya detak jarum jam, Senyum sardi menjadi tak alami sepert terdapat sesuatu yang menahannya tuk merubah bentuk bibir, namun ia paksakan untuk menghormati sahabat karibnya semasa SMA itu. Sardi mulai mengendus maksud dibalik pertemuannya. Meski dari mulutnya tak terlontar kata tolong tetapi maksud dan tujuannya jelas, karena Sardi sudah mengenal temannya itu.

Sebelum mereka tercerai, bono memberikan kertas yang bertuliskan dua puluh lima juta rupiah itu. Dengan segera Sardi menolaknya. Bono masih memaksa, sardi tetap menolak. Namun Bono memasukan cek itu ke kantong celana Sardi, lalu ia beranjak pergi.
“Kalau perlu, cairkan saja. Ada uangnya kok, buat berobat istrimu,” ucap Bono dengan ramah.
“Maaf, saya tak bisa terima.”
“Saya tak ada maksud apa-apa, saya hanya ingin membantu.”
“Ya, tapi maaf, saya tak bisa bantu apa-apa.”
***
Seusai perpisahan itu, Sardi tak pulang ke rumah. Ia menuju rumah sakit tempat istrinya diobati. Sudah tiga hari istrinya terbaring karena kangker kulit. Penyakit yang menetap di tubuh istrinya sejak dua tahun lalu akibat luka yang tak sembuh.

Sardi masuk kedalam pintu yang bertuliskan dahlia. Di dalam ruangan adik iparnya duduk menunggunya. Di malam yang hitam pekat itu, waktunya Sardi untuk menjaga istrinya. Adik iparnya pamit kepada Sardi namun tak pamit kepada kakaknya, karena sudah tertidur.

Di tepi kasur putih rumah sakit ia merebahkan bokongnya serta menatap wajah istrinya yang putih memucat dengan rambut panjangnya lurus terurai. Sardi menggenggam tangan istrinya yang diselusupi selang infus dengan sesekali mencium punggung tangan istrinya seraya mengucap doa di hati. Istrinya bergerak dengan keadaan masih tertidur.

Ia masih menatap paras putihnya selama setengah jam, sambil sesekali mengusap keringat yang merembes dari pori-pori kulit keningnya. Ia terpaku memandangnya namun penglihatannya semakin lama semakin kosong karena akalnya berkelana meninggalkan tubuhnya. Akalnya masih mencari cara agar ia bisa membayar operasi istrinya besok.

Setelah berkeliaran lama, akalnya secara refleks disapa oleh perjumpaan tadi sore dengan Bono. Sardi langsung merogoh kantongnya, mengeluarkan kertas yang tertulis dua puluh lima juta itu dari celana hitamnya. Lalu membuka lipatan kertas itu dan memandangnya. Hatinya ragu melihat kertas itu. Setelah itu ia melipatnya lagi dan menyelipkannya disela dompet.

Ketika waktu sudah hampir mengubah hari, Sardi menyadarkan pikirannya. Ia beranjak dari tepi kasur dan mencium kening istrinya yang basah oleh keringat. Ia menggelar karpet di lantai samping ranjang istrinya dan menarik tasnya untuk dijadikan bantal. Tubuhnya telentang sambil matanya menatap langit-langit ruangan rumah sakit. Beberapa saat kemudian tertidur.

Fajar sudah merekah dengan guratan cahaya jingga ketika sardi membuka mata. Hari ini istrinya akan dioperasi, namun ia tak bisa menemani karena harus memimpin rapat. Sardi berangkat bertepatan dengan dimulainya operasi.

Tiba di kantor, ia langsung memulai rapat. Ia dan kesembilan rekanya harus menentukan satu dari dari tiga kontraktor yang memenuhi syarat. Ternyata kesembilan dari rekannya sudah memilih perusahaan X karena dinilai kompeten.
“Saya tak mengerti mengapa bapak-bapak sekalian meilih perusahaan X, sedangkan perusahaan itu adalah perusahaan baru. Orang-orang diperusahaan itu merupakan orang-orang dari perusahaan B yang telah kita black list karena sering gagal,” ucap Sardi.
“Itu yang paling kompeten,” ucap lelaki di sebarang meja Sardi.
“Bagaimana dengan dua perusahaan lain.”
“Mereka sama saja, tiga perusahaan itu mempunyai akal bulus, kalau sudah di black list maka akan merubah nama,” ucap lelaki disamping kiri meja Sardi.
“Meski begitu kita harus objektif.”
“Ah, sudahlah, ini sudah konsensus,” ucap seorang wanita.
“Tapi setidaknya harus kita bedah lagi, kita harus diskusikan lagi soal ini.”
“Kami bersembilan sudah mendiskusikannya,” ucap lelaki diseberang meja lagi.

Mereka bersembilan masih berdebat dengan Sardi yang cuma sendirian selama satu jam.

“Sudahlah, terlalu lama kita berdebat. Pak Sardi, Ini sudah pesanan dari atas.”
“Kenapa tidak menolak.”
“Saya hanya bawahan.” Ucap lelaki yang terletak disamping kanan Sardi.

Sardi tercengan lalu terdiam. Ia mengamati orang-orang yang berada di ruang rapat itu. Dan lelaki yang terletak di hadapan meja Sardi berdiri, kursi yang di dudukinya bergoyang. Ia berdiri dengan satu tangan masih menempel di meja melingkar raung rapat. Lalu menambahkan.
“ah, saudara anak baru, sudah diam saja, ikuti saja jalan mainnya, terlalu idealis saudara,” dengan nada yang menyindir, setelah itu ia duduk dan menggumam.
Rapat selesai. Lelang dimenangkan perusahaan X yang dipimpin Bono. Semua peserta rapat segera berhamburan keluar. Sardi membereskan berkas sebelum keluar. Salah satu peserta rapat berbicara kepada temannya “Ini adalah rapat terlama yang pernah saya alami di sini.”

Sardi hanya diam saja, kupingnya menyimak namun ia pura-pura tak mendengar perkataan mereka. Sardi bergegas menuju ruangannya untuk menyimpan berkas dan membereskan tas agar bisa bersegera ke rumah sakit. Tiba-tiba salah satu peserta rapat yang juga teman sepermainannya mendekatinya.

“Memang nggak dapat dari Si Bono,” ucapnya. “Setahu saya dia selalu ngasih ke semua panitia, malah kalau ketua biasanya diberi paling banyak,” tambahnya.
Sardi hanya tersenyum meladeni teman waktu kecilnya itu.
“Kalau di sini jangan terlalu jujur lah, Sar, santai saja,” katanya lagi.

Sardi seperti disambar petir di siang bolong. Ia tersentak ketika teman seangkatannya itu bertutur. Padahal dia yang mengajarinya agama saat remaja. Sardi menghela nafas. Tempat ini seperti topi pesulap. Bisa merubah apa saja yang baik menjadi kurang baik atau mungkin tidak baik secara instan. Sardi berpamitan kepada temannya itu ketika berada di depan ruangannya.

Ia langsung pergi kerumah sakit. Di perjalanan ia gelisah namun ia memacu mobilnya dengan kencang denagn tidak konsentrasi. Hampir kulit mobilnya tergores metro mini yang berugal-ugalan ria. Dalam kecepatan tinggi, telepon genggamnya berbunyi. Adik iparnya memberi kabar baik tentang istrinya, berita itu membuat perasaannya tenang.

Setelah sampai dirumah sakit, ia langsung menuju ruang dahlia dengan setengah berlari. Ia mendorong pintu dan ketika melihat istrinya, ia segera memeluk dan mencium kening istrinya. Lalu ia mengajak istrinya mengobrol sambil menggenggam tangannya kuat-kuat. Rasa galau Sardi runtuh ketika.

Dua hari setelah itu, istrinya diperbolehkan pulang. Ia menuju bank terdekat untuk menyelesaikan biaya rumah sakit sebesar 20 juta rupiah. Cek ia keluarkan dengan ragu namun pikirannya memberikan banyak macam alasan karena perusahaan X yang dipimpin oleh Bono memenangkan tender.

Ketika sampai di depan teller bank, ia memberikan cek itu kepada petugas untuk diproses. Petugas itu melayaninya dengan ramah. Sardi menunggu proses itu dengan resah. Di belakangnya para nasabah bank itu mengantri dengan sabar. Dengan cepat petugas wanita itu muncul dan munyuruh Sardi tuk tanda tangan.

Pena tergenggam di tangannya dan sudah mengarah ke kertas yang diberi petugas bank itu. Sardi membaca kertas yang akan ia tanda tangani. Petugas itu mempersilahkan dengan senyum sambil menunjukan ke tempat ia harus menorehkan tintanya. Ia terdiam.

Sardi menjatuhkan pulpennya di atas kertas yang harus ia tanda tangani dan menanyakan bagaimana caranya meminjam uang dengan jaminan sertifikat rumah. Cek yang ia serahkan, dipintanya. Ia melipatnya dan diselipkan di dompet.
***
Mereka sampai di rumah dengan pesan dokter harus berobat jalan. Istrinya diarahkan menuju kamar perlahan-lahan. Sardi menemani di sampingnya sambil sesekali mengambil sesuatu yang diinginkannya.

Sardi masih mentap wajah putih istrinya yang menyegar. Bulu mata lentiknya dan hidung bangirnya terlihat indah dengan rambut lurus yang terurai. Ia masih terpaku melihatnya dan pandangannya semakin lama semakin kosong karena akalnya menayangkan peristiwa di ruang rapat itu.

Teguran dari istrinya mengembalikan akalnya yang berkelana. Sardi lalu berkata kepada istrinya.
“Maafkan aku, aku sudah berusaha jujur. Aku tidak bisa mengubah. Aku tak bisa melawan arus. Tapi aku tak mau mengikuti arus. Aku berusaha tak seperti mereka.”
Istrinya yang tak mengerti, melihat suaminya dengan tatapan aneh, setelah itu mereka berdua tertawa.
2011-08-18

Jumat, 12 Agustus 2011

Jalan yang bercerita


Oleh Muhammad Umar
Seperti pohon putri malu yang secara refleks menguncup ketika tersentuh, otakku secara refleks menjurus kesuatu era ketika memoriku tersentuh jalan ini. masa dimana aku masih menjadi remaja tanggung, saat pertama kali aku diajari cara merokok oleh temanku yang juga murid haji sardi. Jalan ini seperti sedang bercerita, dan aku menyimaknya dengan khusyu.

Waktu itu, jalan ini adalah tumpukan tanah yang akan becek berlumpur ketika musim hujan dan akan mengeras lalu retak dan berdebu disaat kemarau. Jalan ini sempit karena banyak tumbuhan besar tertancap dengan tanahnya beralas pohon putri malu yang batangnya tajam.

Dulu, jalan ini gelap dengan mitos tempat jin buang anak. Tak ada warga kampung yang ingin melewati jalan ini bila malam, kecuali terpaksa. Biasanya orang asing yang sering melewati jalan ini. Hanya aku dan murid haji sardi lain yang mau tak mau harus melewatinya karena diujung jalan sana terletak rumah haji sardi, guruku.

Kala itu, aku merupakan bagian dari murid haji sardi yang tiga. Sedikit oarang yang lulus ujian pertama karena syaratnya adalah kejujuran. Oleh karena itu alam yang mengawasi dan ia juga akan menyeleksi. Tak mungkin ada kecurangan pendidikan, karena kecurangan itu akan melumpuhkan tubuhnya ketika ujian di masa depan.
Mereka yang memilih jalan ilmu ini harus siap dengan kosekuensinya karena Ilmu yang diberikan oleh guruku itu ilmu kebal belati, parang, beceng, atau bahkan dilindas kereta tak mempan. Ini sangat sulit, sudah tiga tahun aku berguru, namun belum ada hasil, waktu itu.

setelah tujuh tahun kuarungi, ilmu itu ialah bagian dari tubuhku. Saat itu umurku kira-kira 20 tahun dan sedang mengeyam bangku SMU. Namun baru satu bulan aku menguasai ilmu itu, guruku kembali ke pangkuan sang empunya.

“Ilmu seperti itu sudah tak lagi berguna zaman sekarang, lebih baik kamu sekolah yang pintar agar tak dibodohi sepertiku,” ucapnya kepadaku saat nafasnya sudah di ujung tenggorokan, sebelum nafasnya terbang dibawa malaikat yang menjelma menjadi hembusan angin berudara dingin.
“ya,” ucapku.
Bersamaan dengan itu, kukembalikan ilmu itu ke alam. Akupun berbelok dipersimpangan dan tidak memilih melanjutkan jalan itu.
***
Aku berlari sekencang-kencangnya ketika aku mulai melihat jalan ini. “kenapa harus malam hari aku menimba ilmu itu, hingga aku harus lewat sini,” pekikku. kegelapan pekat berkuasa dijalan ini, “ah” kenapa aku takut gelap? Apa karena ada setan? Bukankah setan muncul kapan saja, dimana saja, dan dari mana saja. Kenapa harus malam, kenapa tidak siang yang ditakuti manusia? bukankah pada siang lebih banyak terjadi keseraman dibanding malam, pemeresan para petani dikampungku terjadi pada siang hari.

Nafasku tersenggal-sengal ketika sampai dan disambut senyum oleh guruku. Senyum tanpa menampilkan gigi dari lelaki tua berkopiah hitam dengan sorban di lehernya. Guruku sangat sederhana, Pakaian yang dikenakan hanya gamis putih yang menguning. Pakaian itu hampir menutup semua kulit keriputnya, kecuali telapak tangan, telapak kaki dan muka. Kerut diwajahnya seperti menggambarkan sisa usianya di bumi ini, matanya yang teduh menyiratkan ketenangan.

Aku harus pulang lebih cepat. Selain karena sedang ujian, aku harus menjaga keluargaku. Sudah dua bulan ini, kampungku sering disatroni garong. Banyak warga yang resah, termasuk ibuku yang takut akan kehilangan sapi satu-satunya.

Keesokan harinya, saat aku ingin menyambangi rumah guruku, tersiar kabar sapi milik tetanggaku hilang. Aku datangi rumahnya, ternyata benar kedua sapinya hilang. Perempuan pemilik sapi itu hanya menangis, terkadang mengamuk, meronta-ronta. Suaminya dikabarkan mengejar garong itu dengan golok.

Lalu aku langsung melapor ke haji sardi. Seperti biasa aku berlari sekencang-kecangnya di jalan itu, dan ketika sudah dekat dengan rumah guruku, aku menemukan seseorang tergeletak dan lariku semakin kencang.
“Pak haji.., ada mayat pak, pak haji.., pak haji..,” aku berteriak dengan sisa nafas.
Pintu dari bambu itu berderit. Pak haji langsung menghampiriku
“Ada apa?” ucapnya kaget
“Ada mayat, di jalan itu.”

Kami berempat langsung menuju ke tempat kejadian perkara. Hari itu pertama kalinya aku berjalan dan berlama-lama disana. Kami langsung membopong mayat pak barjo menuju rumahnya Selama perjalanan itu aku tak berani menatap jalan, juga mayat yang punggungnya hancur. Tatapan ini aku paksa mengarah ke haji sardi dan tak ku izinkan ke yang lain.

Sampai dirumahnya, istrinya yang baru saja menyelesaikan tangisnya harus memulai lagi, mungkin kali ini tangisnya tak akan berakhir. Setelah kejadian itu, para warga berjaga-jaga di depan rumah pak barjo. Tak ada yang bertangan kosong, semua memegang senjata kecuali haji sardi, ia hanya mengamati sekelilingnya sambil sesekali menghembuskan asap dari rokok yang dihisapnya.

Ketika sedang berjalan menuju rumah haji sardi. Aku melihat para lelaki itu berjaga di pos ronda dengan segala senjata dan amunisinya. Mereka seperti tak ada letihnya. Saat pagi mereka harus bertani, mencangkul hamparan sawah, menyirami, memupuki, menjaganya dari hama dan memanennya. Sedangkan saat malam mereka menyedikitkan waktu tidur untuk meronda.

Seusai pelajaran, aku langsung bergegas pulang.
“Kalian hati-hati, aku takut terjadi sesuatu pada kalian,” sambil terbatut-batuk ia mengucapkannya.
“Baik, pak haji,” ujar kami.

Sudah dua minggu setelah kematian pak barjo, guruku selalu berpesan seperti itu.
Saat sedang berlari, ku lihat pergerakan sesuatu, dadaku semakin terpacu cepat. Batinku semakin menciut, takut jikalau aku melihat setan, atau kuntilanak. Aku semakin menambah kecepatanku. Sudah dua kali aku terjatuh dan ditanganku manancap duri-duri pohon putri malu, namun anehnya aku tak merasakan sakit sedikitpun.

Malam ini tak hanya hitam pekat, seperti dipenuhi rasa panik, ya rasa yang paling egois, karena bisa menyingkirkan rasa apa saja. Rasa sakit, rasa pusing, rasa malas. Panik juga bisa mengalihkan apa saja, sebab pikiran akan terfokus kepada rasa itu, dan tak memberi ruang pada rasa lain untuk sekedar singgah.

Sesampai dirumah aku minta dibukakan pintu oleh ibuku.
“Ibu.., bu.., ibu..,” teriaku dari jarak jauh.
Dari beranda rumah, ku lihat satu-satunya kerbau kami tak ada, hanya terlihat kandangnya dengan rumput hijau masih menumpuk seperti baru sedikit termakan. Lalu kubuka pintu, ku tengok ke semua ruangan ternyata tak ada.

Akupun berlari, mengetuk pintu tetangga, tetapi tak tak ada satupun yang membuka pintu rumah mereka. Dua, tiga, empat pintu kuketuk, namun tak ada yang membuka. Dan dibukakan di pintu kelima. Ku lihat wanita itu didalam rumah sedang menggigil ketakutan.
“Dimana ibuku?”
“Aku tak tahu.”
“Ada apa ini?”
“Garong datang lagi!”

Saat aku keluar dari rumah itu, kulihat garong itu sedang berlari membawa sapiku dan beberapa sapi lain. Dibelakangnya beramai-ramai warga kampung sedang mengejarnya. Dan dibarisan paling depan kulihat seorang wanita sedang memegang parang. Aku sontak kaget dan langsung berlari mengejar wanita itu.

“Ibu ngapain?”
“Kerbau kita dicuri.”
“Yasudah, ibu pulang saja, biar aku yang mengurus.”
“Tidak, ibu ingin membunuh orang itu.”

Ketika hampir di muka jalan yang manuktkan itu, seorang lelaki mendapatkan garong itu, dan langsung membacoknya berkali-kali. Lalu lelaki itu terdiam, dan berusaha untuk kabur karena garong yang dibacoknya tak mempan golok. Tapi na’as lelaki itu malah menjadi korban pertama. Ibuku yang paling semangat mengejarnya tiba-tiba diam seperti tak ber-ruh.
Perlahan-lahan mereka mundur meski hatinya terus menerus membara, dan garong itu pergi. Mereka hanya menatap dengan segala amarah, dengan segala dendam.
***
Aku malu karena tak bisa berbuat apa-apa. lalu haji sardi datang dari balik jalan itu, ia berjalan tenang. Lalu menatap tajam kedua garong itu. Karena merasa dihadang dan ditutupi jalanya, salah satu garong menyerang haji sardi. Haji sardi memukulkan goloknya ke badan garong itu, namun tak mempan. Ia heran dan membuang goloknya

Lalu guruku itu mengambil keris yang berada dipinggangnya. Aku masih ingat cerita keris itu. Keris bertuah yang didapat guruku di alam mimpi, bisa merobek apa saja yang tersentuh. Di keris itu, terdapat banyak ukiran huruf aneh. Gagang keris itu terbuat dari emas murni, serta terdapat berlian di atasnya.

Mereka saling serang, namun duel itu dimenangkan haji sardi. Salah satu garong lagi terperanjat, karena badan temannya tembus. Ia pun langsung menyerang haji sardi yang belum sigap. Pundak kiri sampai puting haji sardi robek, darahpun terlihat jelas di baju putih yang menguning. Ia terusheran karena badannya bisa robek.
Hanya senjata tertentu yang bisa merobek tubuh haji sardi, biasanya senjata yang telah berumu lebih dari seratus tahun.

Haji sardi lalu menyerang balik, namun tidak menganai sasaran, malah tangannya tergores lagi. Haji sardi lalu jatuh, telentang setengah duduk. Tinggal selangkah lagi dari jangkauan garong itu.

Melihat kejadian itu, aku langsung menendang garong itu hingga ia terpelanting. Aku langsung mangambil keris haji sardi dan menusuknya dipunggung. Garong itu mengeram kesakitan.

Namun dengan segera garong itu menyibakku dengan sikunya, aku terpental. Posisi terbalik, aku melemah. Garong itu mendekatiku, aku berusaha untuk kabur, namun tak bisa. Garong mendekati. Aku pasrahkan semuanya kepada Tuhan, Lalu aku merasa terdapat darah ditubuhku dengan bau anyirnya. Nafasku sesak seperti tertimpa sesuatu. Pandanganku gelap.

Tububuhku tertindih garong itu yang tertusuk keris oleh haji sardi. Garong itu mati di jalan gelap ini.
***
Aku masih menatap jalan ini. memandangi suasana sekitanya, aku merasa banyak berubah sesudah 20 tahun aku tak kesini karena kuliah dan kerja di Australia. Aku masih mengingat saat terakhir kali aku disni. Ya satu bulan setelah kejadian itu disaat haji sardi dan ibuku jatuh diharibaan sang pencipta.

Bersamaan dengan berubahnya tanah manjadi aspal, pohon besar menjelma menjadi rumah bertingkat, pohon putri malu bermetamorfosis menjadi rumput jepang, dan suasana sepi berevolusi menjadi ramai. Aku mambating rokokku yang tinggal puntung, seraya berjalan melewati tiang dengan tulisan “JL. HAJI SARDI”
***
2011-08-12
Cerita seorang ayah kepada anaknya