Sabtu, 22 Oktober 2011

Pertunjukan Kemewahan

(1)
Aku melihat seorang lelaki sedang menyaksikan pertunjukan kemewahan
Dia duduk dengan sesekali menghembuskan asap dari sigaretnya
Dari pinngir jalan, matanya memperhatikan setiap adegan
Ada rasa yang tumbuh dalam dirinya

(2)
Para aktor dan artis berperan sebagai pejinjing sesuatu
Berlalu lalang kesana-kemari mencari hal yang tak biasa

Tokoh dalam pertunjukan itu tak hanya rupawan
Tak perlu pandai berakting
cuma butuh kantong tebal
atau kartu prabayar tanpa batas

Latar pertunjukan hanya itu-itu saja
Sebuah gedung bertingkat dengan lampu gemerlap dan gambar-gambar menggiur, meracun akal

Alurnya bukan maju, bukan mundur dan bukan juga campuran tapi datar
Jalan cerinya tak menarik, tak lucu, tak dramatis, tak mengharukan
Hanya membuat dengki penontonnya

(3)
Ada hal yang diinginkan dari tatapan lelaki itu
Seperti ingin terjun ke dalam pertunjukan
Bersama-sama aktor-aktris lain
Menghabiskan waktu berkubang di dalam pusat perbelanjaan
Berburu apa saja tuk memuaskan nafsu
Juga untuk menerapkan budaya konsumtif

Jumat, 21 Oktober 2011

Panas

Kau takkan pernah bisa melihat
bagaimana darah beku ini kembali mencair
udara pun menipis dalam rongganya, menguap
menjadikannya sesak

Sudah kucoba atur suhunya
namun lingkungan menjadikan alat pengatur itu rusak
hingga panas ini semakin merangkak naik

Mereka berkata, keadaan seperti ini tak baik
jadi, apakah orang dilarang tuk mengenal marah
dan harus memusuhinya
hingga kemanapun seseorang pergi harus membawa senjata
agar bisa menghabisinya
Tak bisakah kita bertoleransi dengannya

Bukankah Dia memang sengaja membuat rasa ini ada
Ah, tapi yasudahlah
aku tak mau menghujat Tuhan
bisa-bisa aku susah dibuatNya

panas biarlah menjadi panas
tak ingin aku menghalanginya
biarlah kunikmati sejenak

Minggu, 16 Oktober 2011

Tulisan Pelarian yang tak Jelas

Pukul 1.06 WIB, saya masih terjaga dengan keringat bercucuran. Antah apa yang menyebabkan tubuh ini bekeringat, mungkin karena saya habis memangsa makhluk lain. dan sekarang, setelah saya memangsa, banyak makhluk yang ingin memangsa saya. Makhluk itu perlahan mencium bau lezat kulit saya, menjilatnya tuk merasakan bumbu-bumbu yang melekat di kulit saya, sebelum benar-benar mamangsa saya.

Di tengah malam ini, Sebetulnya saya ingin beristirahat agar esok bisa bangun dengan kondisi yang segar, namun karena baru saja saya melahap makanana jadi saya tahan sebentar istirahatnya. Sebab kata mamah saya tak baik bila sehabis makan lalu tidur.

Saya pun tak tahu harus melakukan apa di tengah malam begini. Sebetulnya ada tugas untuk mata kuliah besok, namun saya tinggalkan karena saya belum cukup mengeti dengan materi itu. dan di binter saya hanya tertulis satu jawaban dari kurang lebih sepuluh soal yang ditanyakan. Dan saya yakin jawaban yang saya tulis itu pun salah.

“Tak apalah yang penting setidaknya saya mencoba, walaupun tak sungguh-sungguh,” sedikit pembelaan dari saya. Jadi saya biarkan buku-buku saya tergeletak di atas ranjang. Saya ingin bemalas-malas ria, meskipun saya tak tahu apa yang terjadi besok. Mungkin dikurangi nilainya. Sama dosennya.

Sudah dari bab 2 saya tak mengerti dengan pelajaran. semenjak buku yang saya fotokopi ternyata sudah mengalami pergantian banyak prinsip akuntansi. Jadi membuat saya sedikit malas. Jadi saya biarkan saja.

Kalau niat dalam hati sih. Pengennya belajar dari kunci jawabannya saja nanti, mudah-mudahan benar-benar tersampaikan niat saya ini. walaupun nanti mesti belajar keras pas uts, ahh, yasudahlah, males juga bahas AKL, biarkan sajalah.

Saya sudah mendengar ayam berkokok pukul 1.43 WIB. Nyamuk-nyamuk pun semakin malam, semakin ganas. Padahal saya sudah mengenakan obat anti nyamuk, tapi seperti tak ada efeknya. Mungkin obat itu sudah ternetralisir oleh keringat saya.

Nyamuk ini bikin gatal. Barusan saya menggaruk betis saya sampai merah karena tak tahan dengan gatalnya. Sambil menggaruk, saya mengetik tombol-tombol keyboard laptop, sambil sesekali menepuk nyamuk yang mulai mengajak saya tawuran.

Ahhh, sudah pegel saya rasanya, mau istirahat, sudah hampir pukul 2.00, mudah-mudahan besok bisa bangun pagi. Amin. Biarlah tulisan tak jelas ini menjadi saksi ketidakjelasan saya malam ini, yang sedang galau.

Tulisan ini mungkin bisa disebut tulisan pelarian. saya mencoba menghibur diri saya karena sudah lemas mengerjakan soal akuntansi keuangan lanjutan bab 4. Entah mengapa pelariannya jadi menulis, saya pun tak tahu. mungkin media ini yang paling bisa tuk mengunkapkan ketidakjelasan hati saya.

Dan saya bertekat agar tulisan ini saya masukan ke dalam blog saya. Mesti tulisan ini sangat absurd. “bodo lah.” Entah apa komentar orang setelah membaca tulisan ini, tapi aku ingin tahu juga apa komentar orang tentang tulisan saya ini. sepertinya akan saya sebar tulisan ini. persetan ada yang mau baca atau tidak.

Mungkin saya sampai disni saja. Saya akhiri di 1.54.
2011-10-17

Kamis, 06 Oktober 2011

?

Aku baru saja menemukan tanda tanya baru di halte pinggir jalan
Padahal di kursi kayu itu, aku hampir mati terkuburnya
hampir gila berpapasan dengannya
mungkin sudah sinting bila dihantuinya

mereka datang tanpa dijemput dan pulang minta diantar
belum saja usai mengantar satu, namun ada lagi yang memaksa tuk diantar
semakin aku mengantar, semakin tanda itu berkuadrat
beranak pinak tanpa bersetubuh terlebih dahulu

disetiap tempat, tanda itu bisa muncul tak terbatas ruang dan waktu
tanda tanya itu bisa saja meracuniku, menikamku sampai terkulai lemas
namun jika tanda itu sudah kukalahkan
semilir angin surga mengelus kulit, menerbangkan jiwa

aku punya banyak pilihan tuk memperlakukannya
menerimanya atau mengabaikannya
hal itu, bagaimana nanti saja bersamaan dengan keadaan tanda tanya itu

ingin rasanya memberikan tanda tanya kepada pembuat tanda tanya
namun Dia punya rahasia
rahasia yang penuh tanda tanya dibaliknya
hanya Dia yang tau sampai kapan tanda tanya ini ada
dan aku tak berdaya

2011-06-10