Jumat, 16 November 2012

Perjalanan, Perjuangan dan Insiden


Ketika kaki saya mulai melangkah dari puncak Gunung Bromo untuk turun ke bawah pada 7 juli 2012 lalu, saya tahu liburan saya akan berakhir dan saya akan kembali menjalani rutinitas menjadi mahasiswa. Apa yang saya dan kedua kawan saya lalui pasti akan menjadi kenangan yang menyenangkan untuk diceritakan.


Saya teringat rumah ketika ketika turun dari pucak Gunung Bromo. Sudah satu minggu saya meninggalkan rumah, pergi berpindah-pindah, menyambangi tempat-tempat indah. Di mulai dari Jojga bersama ACID, Pulau sempu, Ranu Pane, dan berakhir di Gunung Bromo. itu semua terasa mengagumkan karena sebelumnya, perjalanan ini hanya sebuah wacana yang tak tahu akan terjadi atau tidak.




Perjuangan

Saat itu, kami mulai turun menapaki pasir di badan Gunung Bromo. Sesampainya dibawah, kami segera mengambil carier yang di titipkan di warung dan memulai perjanan lagi mengarungi padang pasir kawasan bromo menuju pananjakan agar kami mendapatkan mobil angkutan untuk pulang.

Perjalanan itu terasa sangat panjang, seperti sebuah perjuangan. jika dilhat rute dari gunung bromo ke pananjakan, jaraknya tidak terlalu jauh. Namun ketika kami arungi padang pasir itu, rasanya seperti tak berujung. sebenarnya, Teman saya sudah lelah dan tak ingin tracking lagi tapi karena uang ditangan sudah hampir habis, mau tak mau kami harus melakukannya. Pak Suyoto yang mengantar kami dengan jeepnya dari Ranu Pane sudah pergi karena ada urusan. Lagi pula kami hanya membayarnya dengan setengah harga, tak enak kalau minta diantar pula ke pananjakan.

Memang perjalanan mengarungi padang pasir terasa membosankan, namun karena keindahan alamnya, kawasan Bromo Tengger Semeru membuat rasa bosan itu tak semakin akut.


Setelah mengarungi padang pasir beberapa saat, kami dihadapkan pada klimaks perjalanan sebelum mendapatkan angkutan bernama taksi. seperti halnya klimaks dalam cerita yang berada di titik puncak, kami juga harus mendaki tebing yang curam dan tinggi untuk sampai titik puncak.


Setelah pendakian selesai dengan nafas tersenggal dan kaki terasa pegal, kami bertiga beristirahat di sebuah warung sebelum mencari taksi. Awalnya, kami mengira angkutan yang bernama Taksi ini bener-bernar taksi seperti umunya, namun setelah kami melihat langsung ternyata hanya angkutan mini bus. Kami menghela nafas lega karena tak perlu mengeluarkan banyak uang taksi.

Saya kurang tahu kenapa angkutan itu di namakan taksi, mungkin karena mobil itu berwana biru seperti taksi. tapi entah lah. Taksi ini unik. ia belum jalan sampai kursi di dalam mobil penuh. setelah sekitar setengah jam menunggu sambil mencari oleh-oleh, akhirnya kami berangkat menuju Probolinggo.

awalnya Kami belum tahu pasti harus menaiki dari Probolinggo menuju Jakarta biayanya tidak terlalu mahal. Namun saat seorang kawan membeli oleh-oleh, seorang pedagang merekomendasikan agar kami naik travel karena harganya lebih murah. Kami pun termakan omongan pedagang itu karena kami sudah terlalu lelah untuk berfikir.




Sesampainya kami di probolinggo, kenek taksi itu mencarikan kami travel yang murah. Karena sudah tanggung, akhirnya kami naik travel menuju jogja dengan harga yang menurut kami cukup mahal.

Namun ketika mobil itu ingin jalan, datang beberapa perempuan muda yang berasal dari Negara lain di hadapan kami. Mereka membawa barang yang cukup banyak. Satu orang membawa dua tas, satu tas carier dan satu lagi tas ransel.

Ketika meraka memasukan tasnya ke bagasi mobil, kami pun langsung tahu jika perempuan bule itu menaiki mobil yang sama dengan kami. Di dalam mobil, saya duduk bersebalahan dengan perempuan bule itu. Sungguh perempuan bule itu cantik. Saya jadi canggung duduk disamping salah satu darinya.

Mobil travel itu mulai melaju selepas azan isya. Di perjalanan, tiba-tiba salah satu bule yang duduk dibelakang menegur saya. “Can you speak Indonesia?” tanyanya. Tentu saja ujar saya dengan bahasa inggris yang terbata-bata. Salah satu dari mereka meminta saya agar supir menyalakan AC tapi supir itu menjawab jika ACnya rusak dan menyuruh bule itu untuk membuka kaca jendela.

“There is no air conditioner but there is natural air conditioner,” ucap saya waktu itu. Lalu perempuan bule itu meminta saya untuk membukakan jendalanya karena tak bisa. Setelah pembukaan jendela, kami menjadi akrab dengan mereka. Saat berbincang-bincang, mereka mengatakan jika mereka berasal dari Norway. Setelah dari Probolinggo, mereka akan melanjutkan perjalanan ke jogja dan meneruskannya ke kuala lumpur.

Mereka pun menayakan beberapa tempat menarik yang terdapat di Jogjakarta dan kami beri tahu dengan senang hati. Lalu kami berbincang lagi dengan mereka, ternyata hampir semua dari mereka adalah mahasiswa ekonomi. Sedangkan orang yang bersebelahan dengan saya adalah seorang auditor. Kebetulan sekali kami bertiga adalah mahasiswa akuntansi, tepatnya akuntansi menajeman. Lalu kami berbicara tentang kegiatan kami di kampus.

Setelah itu, saya bertanya kepada mereka mengapa mendatangi Indonesia. Mereka menjawab kalau orang Indonesia ramah. Kemudian, perbincangan pun kami akhiri karena malam semakin larut.saya pun mencoba tertidur. namum perempuan itu menarik perhatian saya sehingga saya pandangi dia. Perempuan di sebelah saya menggunakan alat tidur agar kepalanya teratur, padahal saya berharap agar dia bersandar di pundak saya saat tertidur. Tapi apa daya, niat saya tak disetujui Tuhan. Saya pun bergergas memejamkan mata.


pada hari yang sudah beranjak pagi, tiba-tiba saya terbangun saat mobil berhenti. Saya mengira sudah sampai di Jogja, namun ternyata bule itu sedang ke toilet di salah satu pom bensin. Ketika saya memandang ke seseorang bule, saya melihatnya sedang merekok di pompa bensin. Syarif pun melihatnya. Untung saja mobil sudah bersiap jalan sehingga perempuan itu mematikan rokoknya. Sangat tak lucu jika perjanan ini menjadi buruk karena kelakuan perempuan bule itu.

Sesampainya di jogja, kami berpamitan dengan perempuan bule itu dan bersiap menuju Jakarta pada pagi-pagi buta. "have a great day in jogja," kata saya. Sebenarnya ada yang kurang karena kami tak berfoto bersama mereaka. tapi yasudah lah, saya sudah rindu rumah.

Insiden

Perjalanan kami dari jogja begitu menyenangkan karena bus yang kami naiki sepi dari penumpang. Sehingga, Kami bebas memilih tempat dimana saja kami mau. Bahkan 2 tempat sekaligus. Rasanya bus ini milik beberapa orang saja.

Seehabis isya, saya terasa begitu lelah dan memutuskan untuk memejamkan mata. Namun dengan tiba-tiba Syarif membangunkan saya sekitar pukul 20.00. Saat membuka mata, tak ada penumpang lain di bus itu kecuali kami berdua. Kami pun segera keluar dari mobil dan mencari tahu apa yang baru saja terjadi.




Ketika turun, saya terpana melihat apa yang sedang saya alami. Seseorang penumpang lain mengatakan kalau sebuah truk tangki tak kuat menanjak ketika berada di tanjakan berbelok daerah Tasikmalaya. Lalu truk itu mundur dan menabrak Bus. Kemudian, bus menyerempet mobil xenia putih yang ada disampingnya. Sampai akhirnya semua terkunci. Moncong mobil xenia masuk kebawah bus, dan bus terapit meocong xenia. Bus sedikit terhalang truk yang menghadap dinding. Untung saja truk tangki itu berisi oli, apabila truk itu berisi minyak, suram lah perjalanan kami bertiga.

Tabrakan itu, membuat jalanan begitu macet. Seseorang polisi dan warga mencoba mengatur jalannya lalu lintar agar kemacetan tak bertambah parah. Sebuah truk pun diberhentikan untuk menarik, namun tali penariknya malah putus. Bus itu kembali gagal di tarik.

Kami hanya memandangi apa yang terjadi dan tak tahu harus bebuat apa. Tas-tas kami masih berada dalam bagasi mobil dan tak bisa kami ambil. Kemudian sebuah truk besar diberhentikan lagi tapi menolak. Sampai akhirnya sebuah truk berisi bahan bakar minyak diberhentikan untuk menarik bus. Aku menjadi resah karena takut truk tangki minyak itu malah tak kuat dan menabrak bus. Aahh habis lah kita.



Saat beberapa orang selesai memasang tali pengait, saya semakin menjauh karena takut hal yang buruk menimpa kami. Tapi perkiraan saya meleset. Truk tangki minyak itu berhasil menarik bus sehingga bus bisa dipinggirkan.

Meski bus itu selamat, bus tak bisa jalan karena bus itu bermasalah dengan tali kopling. Akhirnya kami menurunkan barang-barang kami dari bagasi dan menunggu mobil yang sama. Beberapa kali mobil dari perusahaan dan jurusan yang sama melintas, tapi pera penumpang tidak diberi menebeng karena bus sudah terlalu penuh.




Saya pun menunggu sampai tertidur. Saya yang tak nyaman tidur di kursi kayu depan sebuah rumah makan, masuk ke dalam bus dan untuk tidur. Hingga pagi menjelang, tak ada satu pun mobil yang mau kami tumpangi. Supir bus sampai melempar batu kepada bus yang menolak di tumpangi.

Akhirnya, ketika hari sudah pagi, ada mobil yang mau ditumapangi kerana di paksa. Saat masuk bus, hanya saya yang tidak mendapat tempat duduk, akhirnya saya duduk di tangga pintu belakang sampai kami tiba dilebak bulus.

Sampai kiar-kira jam 12 siang kami sampai di lebak bulus dan berpisah. Kami bertiga sudah sangat lelah dan ingin merasakan suasana rumah. Kami ingin pulang dengan membawa cerita yang tak terlupakan.

22:33
16/11/12

Bromo: Savana, Kawah, Gunung dan Hamparan Pasir

Rasanya, saya ingin sekali menulis ketika melihat foto-foto yang ada di laptop. Sekaligus melanjutkan cerita perjanan yang belum selesai. Cerita tentang perjalanan saya dan kedua kawan saya, Syarif dan willy, saat berlibur ke malang untuk menyegarkan kembali pikiran dari mumetnya ujian.
Sebelumnya, sudah saya tulis bagaimana perjanan saya berlibur ke Jogja bersama Accounting C’s Indescribable Democracy (ACID), naik bus yang sudah dikenal ugal-ugalan, menikmati indahnya tebing dan danau Segoro Anakan Pulau Sempu, sampai tersasar di kaki Gunung Semeru dan bertemu dengan kuncennya.
Sekarang saya ingin menceritakan bagaimana saya pergi ke Gunung Bromo. Saat itu, saya dan kedua kawan saya masih ragu untuk pergi ke Gunung Bromo dari Pulau Sempu karena melihat kas yang ada di dompet. Namun karena nekat, akhirnya kami sampai juga ke daerah Tumpang dan naik truk menuju Ranu Pane. Sesungguhnya, Ini bukan rute yang bagus jika ingin ke Bromo dari Pulau Sempu. Seharusnya kami balik lagi ke Arjo Sari. Lalu naik bus ke Probolinggo, namun karena  termakan rayuan tukang ojek akhirnya kami malah ke daerah Tumpang—tempat para pendaki gunung semeru menunggu jeep atau truk sebelum menuju ranu pane.
Seperti yang sudah saya ceritakan di tulisan Tersasar Di kaki GunungSemeru  saya disambut tukang ojek yang menetapkan tarif mahal. Bertemu para pendaki yang baru saja turun dari truk. Bertemu Pak Suyoto yang mengantar kami ke ranu pane melewati jalan berbatu yang terdapat jurang di kanan dan kirnya. Kedinginan karena kehujanan di atas truk. Sampai akhirnya mendengar kisah tentang gunung semeru oleh Pak Tumari—orangtuanya Pak Suyoto.
Jika tak salah ingat, tanggal 13 Juli 2012, kami bermalam dan di Ranu Pane dan keesokan paginya kami bertiga diantar ke Bromo oleh Pak Suyoto menggunakan jeep. Sebenarnya, kami ingin melihat fajar dari pananjakan. Namun, karena pak suyoto tidak bisa, akhirnya kami diantar sekitar pukul 7 pagi dari Ranu Pane.
Alam Indonesai yang  Indah
Udara pagi itu sungguh menusuk kulit. "Padahal kami masih berada di kaki gunung semeru, bagaimana di badan gunungnya," pikir saya. Jaket, kaos tangan dan kaos kaki pun sadah saya kenakan, namun tetap saja udaranya terasa dingin. Sambil menunggu Pak Suyoto datang kami berjalan-jalan agar tubuh kami terbiasa dengan dinginnya Ranu Pane
Kemudian kami mengemas barang-barang dan bersiap menuju Bromo. Saat Pak Suyuto datang, kami pamit dan mengucapkan terima kasih kepada Pak Tumari karena  telah memberi kami kamar untuk bermalam. Selain ucapan terima kasih kami juga memberi beras, gula dan kopi yang kami punya. Kami tahu, itu tak cukup membayar kebaikan yang diberikannya.
Kami pun pergi ke bromo melewati jalan berbatu hingga mengguncang mobil yang kami naiki. Di dalam mobil, kami bertanya banyak hal sampai akhirnya telunjuk Pak Suyoto menunjukan ke arah Gunung Bromo. Hasrat kami semakin besar ketika melihat keindahan padang savanna atau bukit teletubis yang ada di Gunung Bromo dari kejauhan. kami tak menyangka, tanah yang berundak-undak itu begitu hijau, mulus nan luas. Terbentuk begitu rapih oleh alam. 
Jika teman saya memangilnya bukit teletubis, sekilas memang terlihat seperti itu. Tapi bukit teletubis tak sealami tempat ini. Sungguh tempat itu membuat saya terkagum-kagum. Di tempat itu, Kami meminta Pak Suyoto agar berhenti sebentar untuk berfoto ria. Kami pun mengabadikan tempat indah dan alami ini melalui mata lensa milik willy.
Sebenarnya kami belum ingin beranjak karena belum merasa puas. Kami masih ingin berjalan-jalan sejenak di tempat itu. Tracking. Lalu mengobrol sambil minum kopi. Atau mungkin merabahkan diri. Tapi karena waktu juga yang sudah mulai siang, mau tak mau lanjut ke kawah bromo.
Sepanjang perjalanan dari padang savana menuju kawah bromo, perkerjaan yang saya lakukan hanya melihat pemandangan yang tersaji di kanan, di kiri, dan di hadapan. Rasa kagum tumbuh dari dalam hati. Rasanya saya ingin beri tahu orang di luar Indonesia. “woy. Ini Indonesia. Coba dateng ke sini dah, dan kalian lihat.”
Sampai akhirnya, kami disambut oleh kuda-kuda, jejeran jeep yang terparkir rapih, turis lokal dan manca negara, pura, Gunung batok, dan tentu saja kawah bromo. Sesampainya di sana, kami tak langsung mendaki kawah bromo tapi kami mencari tempat sepi dan mengeluarkan peralatan masak karena kami belum sarapan. Dari tempat itu saya langsung teringat film Tendangan Dari Langit yang berlatar dan setting di tempat ini.
Kompor menyala dengan api yang paling besar tapi air yang ada di nesting tak  matang. Sayapun langsung mengambil matras dan menutup kompor agar terlindung dari angin yang dingin. Saat saya dan willy memasak, syarif merebahkan badan dan tertidur di sana seperti gelandangan. Sepertinya dia sudah tak peduli dengan kaadaan sekitar.
.
Kemudian kami bertiga makan mie dengan lauk sarden yang tak hangat setelah berusaha kami hangatkan. Udara dingin itu membuat api tidak focus dan kecil. Jadi sarden itu terasa seperti tak dipanaskan. Namun makanan terasa cukup enak meski kami tahu makanan kami bercampr dengan pasir. Mungkin bumbu pasir yang membua makanan kami terasa enak. Seusai makan kami pun mulai bearnjak.
Indomie yang kami makan seperti tak memberi kami energy untuk mendaki Gunung Bromo. Badan masih terasa berat saat di bawa. Jadi sebelum mendaki, kami memutuskan untuk menitip carier di tempat orang berdagang agar tak berat saat mendaki.
Pasir-pasir di badan gunung kami tapaki dengan susah payah. Terlebih pasir di tangga sebelum mencapai puncak kawah. Rasanya naik dua langkah dan turun satu langkah karena pasirnya sedikit amblas menahan telapak kaki kami

Namun  rasa lelah itu terbayar ketika sampai di puncak kawah bromo. Hati saya seperti mendesir. "Sampai juga kami di sini," pikir saya waktu itu. Padahal satu minggu yang lalu hal ini masih sebatas pembicaraan saja di kampus.
Oh kawah bromo yang curam berasap. Megahnya gunung batok yang berwarna hijau. Pemandangan yang tersaji di sekitar berupa hamparan padang pasir yang luas dan indah. serta gundukan-gundukan pasir yang unik, alami dan Aahh susah sekali mendeskripsikan tampat ini. Yang pasti satu kata “mengagumkam.”
Jika kalian belum pernah ke bromo saya sarankan kalian ke sana, karena kalian akan melihat bagaimana mengagumkannya alam Indonesia.

21:17
16/11/2012

Kamis, 09 Agustus 2012

Pengemis Tuhan



Sebuah pertanyaan terkadang terlontar begitu saja, seperti halnya, bagaimana sih sholat yang khusyu? Apa yang mesti kita pikirkan. Kalau kata penceramah yang pernah saya dengar, pikiran kita tak boleh pergi ke mana-mana atau pikiran kita tak boleh berkelana ke mana pun meninggalkan jasad kita tatkala sedang sholat. Jadi, apa yang harus menjadi fokus pikiran kita. Apakah berfikir tentang Tuhan?
Bukankah Tuhan itu zat, yang tak ada seorang pun tahu bagaimana rupanya. Jadi apa yang mesti kita pikirakan, apakah memikirkan ciptaannya? Bukankah pikiran kita tidak boleh pergi melampaui jasad kita. Seumpama, saya memikirkan ciptaan Tuhan berupa keindahan alam, lalu apakah itu yang menjadi fokus perhatian kita. Tapi dengan memikirkan itu, pikiran kita bisa dikatakan berkelana.
Ah, yasudah lah. Tapi tadi saya sempat berfikir ketika sedang sholat. Entahlah, pikiran saya sering pergi, mungkin dia ingin bebas, tak mau terkungkung. Bukankah pahala hanya tuhan yang tahu. Apakah itu dapat pahala atau tidak,itu urusan Tuhan. Terkadang bisa membuat pusing juga jika memikirkan apakah suatu ibadah diterima atau tidak. Yang saya pahami kita hanya bisa ikhtiar, sabar,dan tawakal, meski itu sangat sulit untuk saya.
Suatu hal yang saya pikirkan ketika sholat tadi yaitu tentang sholat itu sendiri. yang saya pahami dari para guru agama, sholat itu berdoa.  Mungkin, sekali lagi, ini hanya mungkin, soalnya saya belum tahu bagaimana cara khusyuk untuk solat. Saya bukan pakar, saya bukan alim ulama, saya hanya sedang berusaha mendekati Tuhan. Mungkin yang harus saya pikirkan tentang sholat yaitu tentang meminta kepada tuhan, karna sholat itu adalah doa. Selain itu memujinya agar doa kita dikabulkan. Mungkin seperi itu pemikiran sholat versi saya. Jadi kita fokus akan doa-doa kita. Fukus saat memujinya.
Lalu, saya berfikir lagi tantang berdoa dan meminta. Setiap orang kan harus meminta kepada Tuhan. Salah satunya ketika sholat, dalam artian sholat itu kan berdoa, dan berdoa itu kan meminta, atau ada sesuatu yang kita pinta. Itu menurut saya, sekali lagi menurut saya, jika ada yang tidak setuju, tak apa. Bebas. Lalu untuk dikabulkannya doa, kita tidak boleh sombong, kita harus memuji Tuhan. bukankah seperti itu.
Manusia hidup untuk meminta kepada Tuhan. kita meminta kepadanya, kita mengemis kepadanya. Berarti manusia dilahirkan sebagai pengemis. Pengemis Tuhan. pemikiran yang iseng. Kalau ada yang tak setuju, terserah. haha


Selasa, 24 Juli 2012

Violinis



Jika kau hendak mengetahui keadaan hatinya, maka dengarkanlah permainan biolanya. Kau akan merasakan perihnya hidup saat untaian nada kesedihan keluar dari biolanya dan membuat kau seperti berada dalam sebuah pesta bila nada itu menyebarkan kebahagiaan. Tapi dengan catatan, dia tidak sedang pentas karena ketika pentas, terkadang ia bersandiwara untuk menghibur penonton.
Begitulah Jo, sahabatku yang menumpahkan keadaan hatinya melalui biola. Ia jarang bercerita tapi dengan mendengarkannya bermain biola, aku tahu apa yang menyelimuti hatinya karena nada yang keluar dari biolanya seolah membentuk suatu alur cerita.
Dulu, ia pernah memainkan biola dengan nada yang merefleksikan kegembiraan. Aku yang berada didekatnya menyeringai tanpa sadar dan hatiku layaknya berada pada sebuah taman. Menyenangkan.
Ajaibnya, seusai bercengkrama dengan biolanya, sebuah tawaran pentas datang dari suatu event organizer. Aku tak tahu bagaimana dia bisa mendapat tawaran itu, ia tak mau menuturkannya padaku.
“Nanti jika aku sudah terkenal, kau saja yang menjadi manajerku, Zak? Haha,” ucapnya dengan nada yang begitu gembira seusai pentas.
“Bisa. Bisa,” ucapku.
“Nanti kau yang mengurus semua jadwal manggungku, haha,” katanya
“Kau jangan terlalu banyak bermimpi. Benahi dulu permainanmu,” ujarku sambil tertawa. Seperti itulah rasanya ketika nada kegembiraan menjalar dari biolanya.
            Berbeda halnya ketika ia sedang galau. Nada-nada resah merayap pelan namun terasa melukai hati. Kegalauannya menjadi hal nyata tatkala kekasihnya berpaling pada pria yang lebih mapan. Saat itu Jo belum populer sehingga kekasihnya mengangapnya hanya pemuda tak berguna. Tapi Jo tak butuh waktu lama untuk menghapus lukanya. Ia hanya butuh  memainkan musik klasik yang tenang.
            Lain halnya jika memainkan lagu sedih. Ia selalu takut. Ada perasaan cemas dalam hatinya jika nada kesedihan keluar. Tetapi bila ia tidak memainkan, tubunya seperti ada yang menarik. Semakin ia berusaha menghindar, semakin hatinya tertekan hingga tubuhnya melemas tak bertenaga. Jantungnyapun berdegup cepat. Waktu itu, Jo pernah memainkan lagu kesedihan sepanjang malam. Sampai ia lelah dan tertidur. Setelah itu ia memainkan nada itu, kakek Tuna netra yang mengajarinya bermain biola, meninggal dunia.
***
Kepandaiannya menggesek biola, sudah dikenal banyak orang sehingga bayarannya pun menjadi mahal. Aku sebagai manajernya tak perlu lagi bersusah-payah mengorbitkannya karena kemampuannya yang membuat penggemar rindu akan setiap pertunjukan yang eksklusif. Aku hanya bertugas mengatur jadwal dan jumlah bayarannya.
Masih belum hilang dari ingatanku saat pertama kali ia tertarik pada alat musik gesek itu. Waktu itu, kami sedang menelusuri pasar Blok M, ia melihat seorang kakek tuna netra bermain biola dengan begitu indah dan Jo hanya terdiam menyaksikannya sampai pada akhirnya jatuh hati pada alat musik itu.
Biola pertamanya dibeli di pasar yang menjual segala macam barang bekas sehingga ia tak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Kegigihannya dalam memperlajari alat musik itu mambuatku salut. Bayangkan saja, hampir setiap buku yang berkaitan dengan biola dibelinya. Selain itu, setiap video, penampilan di televisi sampai konser, sebisa mungkin ditonton demi bisa memahami alat musik itu. Pembicaraanya pun tak jauh dari biola dan nama-nama musisinya yang tak kukenal.
“Jika mau ditonton, kita harus nonton,” ujarnya saat mengemukakan prinsipnya padaku. Oleh karena itu ia selalu memberi apresiasi terhadap Violinis tanpa memandang genre musik yang dimainkan.
Sosok yang paling berpengaruh dalam bakatnya bermain musik adalah kakek tuna netra itu. Ia nekad menghadang kakek itu ketika hendak pulang. Untung saja kakek itu menerima dan mau mengajarkannya. Hampir setiap hari ia berlatih dan dengan sabar sang kakek mengajarkannya selama lima tahun.
Oleh sebab itu, ia merasa kehilangan yang hebat ketika ia tahu sang kakek meninggal. Kesedihannya semakin mendalam ketika ia tak bisa mengikuti prosesi pemakamannya karena tertidur lelap sehabis memainkan biola bernada kesedihan sepanjang malam.
***
Tak ubahnya seperti kehilangan lelaki tua itu, sudah beberapa hari ini, nada-nada yang keluar dari biolanya masih berkisar menganai kesedihan. Aku mendengar itu ketika aku tak sengaja ingin mengambil telepon genggamku yang tertinggal di kamarnya. Saat mendengarnya, Aku merasa ada yang menggumpal di dadaku dan ingin segera kukeluarkan. Sampai akhirnya, satu, dua tetes air keluar dari mataku. Aku tak jadi masuk dan menunggu besok.
Keadaan hatinya sampai-sampai mengganggu penampilannya. Aku tak percaya. Yang aku tahu, Jo adalah orang yang tak ingin mengecewakan siapapun, terlebih para penonton yang ingin menyaksikan pertunjukannya.
“Ini bisa berakibat buruk pada karirnya,” pikirku. Pasalnya, pertunjukannya kali ini di tonton banyak musisi kelas atas. Tapi ia tampil tak seperti layaknya Jo yang selalu menjiwai setiap penampilannya.
Aku tak habis pikir, sudah pertunjukan ketiga ia berpenampilan mengecewakan. Dan sekarang penampilannya pun memburuk, entah apa yang mengganggunya. Nada-nada yang keluar saat tampil terkadang tak selaras dengan lagu yang dibawakan. Ekspresinya datar, padahal dia memainkan lagu yang gembira. Ia seperti tak berniat berada di atas panggung.
Pertunjukan berakhir buruk.
            “Eh, apa yang kau lakukan, kenapa kau bermain begitu buruk,” ujarku.
            “Aku sedang tak ingin tampil.”
            “Seharusnya kau bilang. Ini bisa bisa berakibat buruk pada karirmu.”
            “Aku tak perduli.” Jo pergi begitu saja tanpa memperdulikanku.
“Hei, kau masih punya satu pertunjukan lagi.”  Jo tak perduli dengan ucapanku hingga kuikuti dia ke mobil. Mobil yang dikendarainya keluar dari parkiran. Aku melihat ketakutan pada bola matanya yang hitam.
“Bukankah kau tahu tentang keadaan hatiku,” tutur Jo.
“Tapi kau masih punya satu pertunjukan lagi. Jika kau tak tampil, kita bisa terkena denda. Bagimana dengan penggemarmu, Jo? Ayolah, hadiri. Kau punya kontrak? Hpku sudah berdering berkali-kali?”
“Berisik, aku tidak mood,” suaranya meninggi. Baru pada saat itu aku mendengar ia dalam keadaan marah. “Kau kan manajerku, uruslah itu,” ucapnya dengan wajah merah.
“Ayo lah Jo, satu pertunjukan lagi?” Selama setengah jam aku membujuknya tanpa henti dan ia pun tetap pada pendiriannya. Hingga pada suatu tempat ia memberhentikan mobilnya dan menghadapkan wajahnya ke arahku.
“Sekarang kau keluar,” ucapnya mendadak. Aku sontak kaget mendenger itu dan tak berkata-kata lagi. Pintu telah dibuka olehnya dari dalam. Ia pun melengos menghadap depan. Aku keluar dengan  rasa yang bercampur aduk, antara marah, kesal, dan kecewa.
Ketika pintu kututup, mobil melaju cepat. Aku jadi berpikir tentang keadaan hatinya. Pikiranku masih berputar pada nada-nada sendu yang sudah berhari-hari kudengar. Yang sudah mengocok perasaanku hingga aku menjadi orang cengeng. Aku tahu ada hal yang menyedihkan bila nada sedih terlantun dari gesekan dawai biolanya.
Pikiran ini buruk berputar dalam kepalaku. Ada cemas yang muncul dalam hati. terlintas olehku, orang tua Jo yang terserang penyakit berat. Aku juga mengkhawatirkan keadaan Jo yang sedang tak bagus karena terlalu sering mengkonsumsi alkohol.
Akhirnya, aku memberhentikan taksi untuk mengejernya. Supir itu kusuruh memacu kendaraannya secepat mungkin agar aku bisa bertemu dan meminta maaf tentang apa yang telah kupaksakan.
***
            Di suatu gedung pertunjukan, Jo perlahan memainkan biolanya dengan memejamkan mata, menghayati setiap nada-nada yang keluar bersama angin. Tanpa terasa tetes demi tetes air membasahi tubuh biola lalu jatuh ke lantai. Nada-nada yang keluar menceritakan suatu masa yang telah berlalu tanpa bisa terlupakan dan akan terus membekas. Seperti jahitan luka akibat sayatan busur biola yang merobek hati.
            Jo tak terlihat bersandiwara dalam pertunjukan ini. Penampilan pun mengundang tangis penonton pada suatu pertujukan yang berjudul Untuk Sahabatku, Zak. Pertunjukan ini digelar untuk mengenang kematian sahabat sekaligus manajernya yang meninggal saat berada di dalam taksi yang melaju dengan kecepatan tinggi. Tepat sebulan yang lalu.

12.14
25/07/2012

Selasa, 17 Juli 2012

Tersasar di Kaki Gunung Semeru

-->
Keinginan dan harapan telah terkumpul menyesaki dada, telah mengkristal dalam hati, dan ada rasa yang tak utuh bila perjalanan itu hanya sampai di pertengahan. Meski pernah terbesit pemikiran pesimis dan ragu dalam kepala. Kami berjalan dengan modal keberanian, karena kami tahu jika kami lebih lebih berani dari apa yang kami tahu.
Keberanian inilah yang akhirnya membawa saya, Willy, dan Syarif pada suatu perjalanan yang tak pernah diduga. Setelah menghabiskan dua malam di Pulau Sempu sambil menimati keindahan yang dibuat Tuhan, serta merenungkan rasi bintang yang ternyata tak berubah tiap malam, kami bertolak menuju Probolingga dengan sedikit informasi menuju kota itu.

Sebelumnya , Kami bertiga berbenah di Sendang Biru supaya segar saat melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan kami, yaitu Gunung Bromo. Seluruh tubuh kami bersihkan karena di pulau sempu, kami hanya mandi dengan air asin. Kami memang tak ingin menggunakan sabun atau pasta gigi, biarlah semua menggunakan pembersih yang alami meski badan ini terasa lengket dan berpasir. Walau kami melihat dengan pasrah ketika ada pengunjung yang dengan santai menggunakan sampo dan membilasnya di danau Segoro Anakan.
Selesai berbenah, mobil yang menuju ke arah Turen sudah menunggu. Saat mobil hendak jalan, saya bertingkah bodoh mencari Handphone yang ternyata ada dikantong belakang bersamaan dengan dompet. Setelah itu saya di baiat oleh Syarief dan willy dengan sebutan Kolup, entah apa maksudnya, hanya mereka yang tahu.
Di dalam mobil itu, kami mendapat tempat yang agak lumayan, tak seperti pertama datang. Tempat yang nyaman itu membuat Willy langsung saja tertidur ketika mobil baru jalan sebentar. Mungkin dia memang begitu, Hampir setiap dalam mobil angkutan dia tertidur dan terkadang mengigau. saya dan syarif hanya tertawa melihatnya.
Ternyata perjalan sejauh 43KM dengan kecepatan tak lebih dari 60KM/jam serta angin segar sepoi-sepoi, membuat saya dan syarief juga mengantuk. Saya pun terlelap sejenak dan terbangun pada saat mobil ini sudah hampir sesak dipenuhi penumpang. Meski begitu, mau tak mau saya nikmati saja keadaannya. Hebatnya, willy masih saja pulas tanpa terusik.
Sampai di pertigaan daerah Turen, kami turun dan menuju masjid untuk sejenak beristirahat. Lalu, entah kenapa, ada dua laki-laki yang sudah berumur mendatangi kami. Ternyata mereka adalah tukang ojek yang menawarkan jasanya kepada kami. Kami yang hanya tahu sedikit tetang daerah ini hanya mengangguk apa yang mereka iming-imingi. Lalu kami pergi meninggalkan kedua tukang ojek itu dan menuju rumah makan.
Dalam rumah makan, kami berunding untuk menentukan bagimana caranya mencapai probolinggo. Kami bertanya kepada penjaga warung. Tetapi penjaga warung pun tak tahu rute menuju probolinggo. kami pun bertanya pada konsumen rumah makan itu, dan kami diberi jawaban yang lemas. “Kalau daerah tumpang jauh mas, mobil sudah jarang, apalagi kalau sudah sore begini. Kalau mas jalan sekarang kira-kira sampai sana malam,” ucap pria itu. Akhirnya kami pun termakan perkataan tukang ojek itu yang menjanjikan jalan pintas yang cepat sehingga tak perlu sampai malam. selain itu tukang ojek berjanji akan mengantar sampai daerah yang sudah dekat dengan tujuan kami. Konsokuensi logisnya harganya sangat mahal.
Diantarlah kami bertiga menggunakan ojek. ketika melihat marka jalan, ternyata memang puluhan KM jauhnya. Kami diantar dengan kecepatan yang lumayan tinggi dan kami  sampai sebelum pukul lima di daerah Tumpang. Merekapun langsung menunjuk angkutan umum yang menuju Bromo. Namun saat turun kami disambut oleh tukang ojek pula. Saat kami berbincang ternyata angkutan itu tidak mengarah ke Bromo. Betapa sesak mendengar kabar itu. Tukang ojek itu pun memberitahu rute yang mudah mendapatkan mobil untuk menuju bromo, namun itu sangat jauh dan kami harus kembali ke Argosari. Jalan tengahnya, tukang ojek itu menawarkan jasanya, namun harganya sangat mahal sekali.
Karena habis dikelabuhi tukang ojek, kami skeptis akan perkataan tukang ojek di daerah Tumpang. Kami berjalan-jalan untuk bertanya ke orang lain. Saat tak tahu apa lagi yang harus kami lakukan, kami melihat semobil truk berhenti dengan membawa orang-orang bertas besar yang telah usai mendaki Gunung Semeru. Kami pun bertanya-tanya. Mereka pun tak tahu. Akhirnya, kami temui supirnya dan bertanya, ternyata harganya sama saja dengan kami menyewa mobil Hartop. Lalu ada truk lewat di hadapan kami. Oleh supir truk itu kami di rekomendasikan untuk ikut dengan temannya ke arah Ranu Pani dengan ongkos yang lumayan.
Dengan banyak pertimbangan, kami pun ikut truk pupuk itu menuju Ranu Pani dan meningalkan tukang ojek yang mengiming-imingi kami. Kami ahirnya memilih menuju desa Ranu Pani karena supir truk itu memberi harapan dengan mengatakan “Mudah-mudahan di Ranu Pani ada teman untuk menyewa Hartop.” Dengan keyakinan itu lah kami ikut truk pupuk itu. Setidaknya, jika tidak dapat teman, kita bisa menikmati danau Ranu Pani.
Truk hanya memuat tiga orang, yaitu supir dan dua penumpang. Karena tak cukup, akhirnya Syarif naik di atas truk berbarengan dengan pupuk yang dibawa truk. Di tengah jalan truk berhenti, akhirnya kami berdiskusi lagi dan hasilnya ialah Willy harus melobi supir truk agar mau mengantar kami ke Bromo. Dan saya pun menemani Syarief di atas truk karena kasihan dengannya. Saat saya berpindah dari ke atas truk, supir itu berkata. "Orang Jakarta yang ingin merasakan naik di atas truk." Padahal niat saya hanya ingin menemani Syarief.
Sepanjang perjalalan, saya dan syarief jarang berbicara karena anginnya begitu kencang. Sampai akhirya malam datang merambat menggantikan sore. Truk memasuki daerah yang sepi dengan jalanan yang menanjak. Saya dan Syarif semakin kedinginan di kegelapan malam. 

            Truk menuju ke jalan yang jarang dilalui jika malam. Kupandangi sepanjang jalan itu, ternyata kanan dan kirinnya adalah jurang terlebih jalanan itu tanpa penerang sehingga perjalanan terasa sangat jauh karena truk berjalan pelan akibat jarak pandang yang pendek. Selain itu, jalan ini hanya muat untuk satu truk saja. Jadi, jika berpapasan dengan kendaraan lain, truk harus berhenti. uniknya jika berpapasan dengan truk atau Hartop ataupun sepeda motor, supir truk ini akrab dengan pengemudi yang ditemuinya di jalan.Tebersit ketakutan dihati saya melihat rute truk ini, terlebih ketika truk bergoyang-goyang hebat takkala melintasi jalan yang berbatu. diperjalan itu saya banyak beristigfar karena takut. 
           Udara semakin dingin karena kami mengira embun sudah mulai turun. Saya dan Syarief diterjang oleh kabut itu di atas truk sampai menggigil. Saat berhenti diperjalanan, willy memberikan jaketnya kepada dan lekas saja tangan syarief menarik jaket itu untuk menutupi kepala kami berdua. Anehnya ditengah dingin seperti itu saya mengantuk dan syarief sudah tidur terlebih dahulu di atas truk. Sampai akhirnya kami tiba di desa Ranu Pani, kaki gunung semeru. Kami diturunkan dengan keadaan menggigil ditempat para pendaki bermalam sebelum mendaki Gunung Semeru.
Jika kami melihat medan yang dilalui menuju Ranu Pani, saya beruntung karena tidak menggunakan ojek. Pasalnya, track yang dilalui sulit, selain itu kami tak membayangkan apa jadinya tubuh kami jika menaiki ojek dengan kondisi jalanan dan cuaca yang ada. Selain itu kami merasa kasihan kepada tukang ojek di Tumpang jika mereka mengantarkan kita. Meski uangnya Mahal, tetap saja akan menyiksa kami dan tukang ojek itu.
Berdasarkan cerita supir di perjalanan, Kami pun tahu, ternyata supir itu adalah bos sayuran di Ranu Pani, ia pun memiliki Hartop untuk disewa dan banyak usaha lain yang ia geluti. Rumah supir itu pun banyak. Lalu kami diinapkan dirumah orang tuanya dan diberi makan gratis. Kami senang bukan kepalang meski dengan lauk yang sederhana. Makanan itu sungguh berarti saat udara di sana yang begitu dingin, perut lapar dan kondisi keuangan yang tiris. Setelah itu supir truk itu kembali kerumahnya, dan meninggalkan kami di rumah orang tuanya.
Dalam kedinginan yang menusuk kulit, kami diajak menghangatkan tubuh diperapian oleh orang tua supir itu. kami berbincang-bincang dengan orang tua supir truk itu yang ditemani pemuda setempat. Perbincangan menggunakan bahasa jawa  dan syarief adalah penerjemah ke bahasa Indonesia karena hanya dia yang pandai berbahasa jawa. Berdasarkan cerita pemuda setempat, Kami pun akhirnya tahu jika orang tua supir truk itu adalah Kuncen Gunung Semeru. Dia pun yang membuka jalan untuk para pendaki dan dia pulalah yang mengevakuasi mayat Soe Hok Gie dan ia juga menceritakan penyebab meninggalnya Soe Hok Gie.
Dalam perbincangan itu, ia memberi banyak wejangan bila ingin mendaki dan menceritakan banyak hal yang terjadi di Gunung Semeru, tak tekecuali hal yang tak masuk akal. Ia juga menceritakan jika ia pernah hanya membawa uang ribuan rupiah menuju Jakarta,sedangkan pulangnya diantar dengan pesawat. Hebat. Kami kagum akan ceritanya. Kakek itu bernama Ki Ageng Tumari bila melihat foto dan nama yang tertera di foto itu. Di dekat foto itu pun terdapat piagam yang diberikan oleh Pecinta Alam UI dan malang kepadanya karena telah mengevakuasi Soe Hok gie. Perjalanan yang  bertujuan menuju Gunung Bromo, nyatanya malah tersasar ke Kaki Gunung Semeru.

Senin, 16 Juli 2012

Pulau Sempu: Keindahan yang Tersembunyi



Keinginan dan harapan telah terkumpul menyesaki dada, telah mengkristal dalam hati, dan ada rasa yang tak utuh bila perjalanan itu hanya sampai di pertengahan. Meski pernah terbesit pemikiran pesimis dan ragu dalam kepala. Kami berjalan dengan modal keberanian, karena kami tahu jika kami lebih lebih berani dari apa yang kami tahu.
Keberanian inilah yang akhirnya membawa saya, Willy, dan Syarif pada suatu perjalanan yang tak pernah diduga. Setelah menghabiskan dua malam di Pulau Sempu sambil menimati keindahan yang dibuat Tuhan, serta merenungkan rasi bintang yang ternyata tak berubah tiap malam, kami bertolak menuju Probolingga dengan sedikit informasi menuju kota itu.

Sebelumnya , Kami bertiga berbenah di Sendang Biru supaya segar saat melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan kami, yaitu Gunung Bromo. Seluruh tubuh kami bersihkan karena di pulau sempu, kami hanya mandi dengan air asin. Kami memang tak ingin menggunakan sabun atau pasta gigi, biarlah semua menggunakan pembersih yang alami meski badan ini terasa lengket dan berpasir. Walau kami melihat dengan pasrah ketika ada pengunjung yang dengan santai menggunakan sampo dan membilasnya di danau Segoro Anakan.
Selesai berbenah, mobil yang menuju ke arah Turen sudah menunggu. Saat mobil hendak jalan, saya bertingkah bodoh mencari Handphone yang ternyata ada dikantong belakang bersamaan dengan dompet. Setelah itu saya di baiat oleh Syarief dan willy dengan sebutan Kolup, entah apa maksudnya, hanya mereka yang tahu.
Di dalam mobil itu, kami mendapat tempat yang agak lumayan, tak seperti pertama datang. Tempat yang nyaman itu membuat Willy langsung saja tertidur ketika mobil baru jalan sebentar. Mungkin dia memang begitu, Hampir setiap dalam mobil angkutan dia tertidur dan terkadang mengigau. saya dan syarif hanya tertawa melihatnya.
Ternyata perjalan sejauh 43KM dengan kecepatan tak lebih dari 60KM/jam serta angin segar sepoi-sepoi, membuat saya dan syarief juga mengantuk. Saya pun terlelap sejenak dan terbangun pada saat mobil ini sudah hampir sesak dipenuhi penumpang. Meski begitu, mau tak mau saya nikmati saja keadaannya. Hebatnya, willy masih saja pulas tanpa terusik.
Sampai di pertigaan daerah Turen, kami turun dan menuju masjid untuk sejenak beristirahat. Lalu, entah kenapa, ada dua laki-laki yang sudah berumur mendatangi kami. Ternyata mereka adalah tukang ojek yang menawarkan jasanya kepada kami. Kami yang hanya tahu sedikit tetang daerah ini hanya mengangguk apa yang mereka iming-imingi. Lalu kami pergi meninggalkan kedua tukang ojek itu dan menuju rumah makan.
Dalam rumah makan, kami berunding untuk menentukan bagimana caranya mencapai probolinggo. Kami bertanya kepada penjaga warung. Tetapi penjaga warung pun tak tahu rute menuju probolinggo. kami pun bertanya pada konsumen rumah makan itu, dan kami diberi jawaban yang lemas. “Kalau daerah tumpang jauh mas, mobil sudah jarang, apalagi kalau sudah sore begini. Kalau mas jalan sekarang kira-kira sampai sana malam,” ucap pria itu. Akhirnya kami pun termakan perkataan tukang ojek itu yang menjanjikan jalan pintas yang cepat sehingga tak perlu sampai malam. selain itu tukang ojek berjanji akan mengantar sampai daerah yang sudah dekat dengan tujuan kami. Konsokuensi logisnya harganya sangat mahal.
Diantarlah kami bertiga menggunakan ojek. ketika melihat marka jalan, ternyata memang puluhan KM jauhnya. Kami diantar dengan kecepatan yang lumayan tinggi dan kami  sampai sebelum pukul lima di daerah Tumpang. Merekapun langsung menunjuk angkutan umum yang menuju Bromo. Namun saat turun kami disambut oleh tukang ojek pula. Saat kami berbincang ternyata angkutan itu tidak mengarah ke Bromo. Betapa sesak mendengar kabar itu. Tukang ojek itu pun memberitahu rute yang mudah mendapatkan mobil untuk menuju bromo, namun itu sangat jauh dan kami harus kembali ke Argosari. Jalan tengahnya, tukang ojek itu menawarkan jasanya, namun harganya sangat mahal sekali.
Karena habis dikelabuhi tukang ojek, kami skeptis akan perkataan tukang ojek di daerah Tumpang. Kami berjalan-jalan untuk bertanya ke orang lain. Saat tak tahu apa lagi yang harus kami lakukan, kami melihat semobil truk berhenti dengan membawa orang-orang bertas besar yang telah usai mendaki Gunung Semeru. Kami pun bertanya-tanya. Mereka pun tak tahu. Akhirnya, kami temui supirnya dan bertanya, ternyata harganya sama saja dengan kami menyewa mobil Hartop. Lalu ada truk lewat di hadapan kami. Oleh supir truk itu kami di rekomendasikan untuk ikut dengan temannya ke arah Ranu Pani dengan ongkos yang lumayan.
Dengan banyak pertimbangan, kami pun ikut truk pupuk itu menuju Ranu Pani dan meningalkan tukang ojek yang mengiming-imingi kami. Kami ahirnya memilih menuju desa Ranu Pani karena supir truk itu memberi harapan dengan mengatakan “Mudah-mudahan di Ranu Pani ada teman untuk menyewa Hartop.” Dengan keyakinan itu lah kami ikut truk pupuk itu. Setidaknya, jika tidak dapat teman, kita bisa menikmati danau Ranu Pani.
Truk hanya memuat tiga orang, yaitu supir dan dua penumpang. Karena tak cukup, akhirnya Syarif naik di atas truk berbarengan dengan pupuk yang dibawa truk. Di tengah jalan truk berhenti, akhirnya kami berdiskusi lagi dan hasilnya ialah Willy harus melobi supir truk agar mau mengantar kami ke Bromo. Dan saya pun menemani Syarief di atas truk karena kasihan dengannya. Saat saya berpindah dari ke atas truk, supir itu berkata. "Orang Jakarta yang ingin merasakan naik di atas truk." Padahal niat saya hanya ingin menemani Syarief.
Sepanjang perjalalan, saya dan syarief jarang berbicara karena anginnya begitu kencang. Sampai akhirya malam datang merambat menggantikan sore. Truk memasuki daerah yang sepi dengan jalanan yang menanjak. Saya dan Syarif semakin kedinginan di kegelapan malam. 

  Truk menuju ke jalan yang jarang dilalui jika malam. Kupandangi sepanjang jalan itu, ternyata kanan dan kirinnya adalah jurang terlebih jalanan itu tanpa penerang sehingga perjalanan terasa sangat jauh karena truk berjalan pelan akibat jarak pandang yang pendek. Selain itu, jalan ini hanya muat untuk satu truk saja. Jadi, jika berpapasan dengan kendaraan lain, truk harus berhenti. uniknya jika berpapasan dengan truk atau Hartop ataupun sepeda motor, supir truk ini akrab dengan pengemudi yang ditemuinya di jalan.Tebersit ketakutan dihati saya melihat rute truk ini, terlebih ketika truk bergoyang-goyang hebat takkala melintasi jalan yang berbatu. diperjalan itu saya banyak beristigfar karena takut. 
  Udara semakin dingin karena kami mengira embun sudah mulai turun. Saya dan Syarief diterjang oleh kabut itu di atas truk sampai menggigil. Saat berhenti diperjalanan, willy memberikan jaketnya kepada dan lekas saja tangan syarief menarik jaket itu untuk menutupi kepala kami berdua. Anehnya ditengah dingin seperti itu saya mengantuk dan syarief sudah tidur terlebih dahulu di atas truk. Sampai akhirnya kami tiba di desa Ranu Pani, kaki gunung semeru. Kami diturunkan dengan keadaan menggigil ditempat para pendaki bermalam sebelum mendaki Gunung Semeru.
Jika kami melihat medan yang dilalui menuju Ranu Pani, saya beruntung karena tidak menggunakan ojek. Pasalnya, track yang dilalui sulit, selain itu kami tak membayangkan apa jadinya tubuh kami jika menaiki ojek dengan kondisi jalanan dan cuaca yang ada. Selain itu kami merasa kasihan kepada tukang ojek di Tumpang jika mereka mengantarkan kita. Meski uangnya Mahal, tetap saja akan menyiksa kami dan tukang ojek itu.
Berdasarkan cerita supir di perjalanan, Kami pun tahu, ternyata supir itu adalah bos sayuran di Ranu Pani, ia pun memiliki Hartop untuk disewa dan banyak usaha lain yang ia geluti. Rumah supir itu pun banyak. Lalu kami diinapkan dirumah orang tuanya dan diberi makan gratis. Kami senang bukan kepalang meski dengan lauk yang sederhana. Makanan itu sungguh berarti saat udara di sana yang begitu dingin, perut lapar dan kondisi keuangan yang tiris. Setelah itu supir truk itu kembali kerumahnya, dan meninggalkan kami di rumah orang tuanya.
Dalam kedinginan yang menusuk kulit, kami diajak menghangatkan tubuh diperapian oleh orang tua supir itu. kami berbincang-bincang dengan orang tua supir truk itu yang ditemani pemuda setempat. Perbincangan menggunakan bahasa jawa  dan syarief adalah penerjemah ke bahasa Indonesia karena hanya dia yang pandai berbahasa jawa. Berdasarkan cerita pemuda setempat, Kami pun akhirnya tahu jika orang tua supir truk itu adalah Kuncen Gunung Semeru. Dia pun yang membuka jalan untuk para pendaki dan dia pulalah yang mengevakuasi mayat Soe Hok Gie dan ia juga menceritakan penyebab meninggalnya Soe Hok Gie.
Dalam perbincangan itu, ia memberi banyak wejangan bila ingin mendaki dan menceritakan banyak hal yang terjadi di Gunung Semeru, tak tekecuali hal yang tak masuk akal. Ia juga menceritakan jika ia pernah hanya membawa uang ribuan rupiah menuju Jakarta,sedangkan pulangnya diantar dengan pesawat. Hebat. Kami kagum akan ceritanya. Kakek itu bernama Ki Ageng Tumari bila melihat foto dan nama yang tertera di foto itu. Di dekat foto itu pun terdapat piagam yang diberikan oleh Pecinta Alam UI dan malang kepadanya karena telah mengevakuasi Soe Hok gie. Perjalanan yang  bertujuan menuju Gunung Bromo, nyatanya malah tersasar ke Kaki Gunung Semeru.

Selasa, 10 Juli 2012

kabut ketakuan


Aku berjalan dengan hati tertutup kabut ketakuan yang datang merambat beriring pikiran resah terbayang Atid yang mungkin sudah menghela nafas lelah mencatat amal sedangkan Rokib mungkin sedang bersantai ria disudut kanan menunggu kejadian yang akan ia goreskan dengan pena buatan Tuhan di lembaran buku saku kecilnya dan otakku masih memikirkan angin yang menghembuskan tanya tentang banyak hal yang dimulai dari masa lampau sampai masa yang tak akan pernah kuketahui dimana ujungnya terlebih aku merisaukan diriku yang kerap berfikir liar sehingga banyak hal yang absurd terbayang dan mungkin itu berlebihan tapi terkadang pikiran ini susah untuk dijinakan tak seperti macan sirkus yang buas lalu berubah menjadi penari yang mengagumkan untuk ditonton dan entah pikiran ini bermaksud apa karena sejujurnya  aku tak tahu apa yang akan diberikan Tuhan kepadaku karena Ia yang memiliki diriku dan memiliki segala apa yang bisa dimiliki dan aku meminta kepada Sang Pemilik dari segala itu agar memberikan aku suatu yang paling baik menurut-Nya karena aku tak tahu apa rencana yang telah dibuatnya dan semoga kegelisahan yang sedang kukubangi ini memberikan suatu jalan menuju ketenangan yang diberikan oleh-Nya untukku dan aku berharap agar setiap kegalauan yang menimbulkan tanya ini lekas menemukan lembah jawaban dengan cahaya yang indah yang lebih indah dari fajar atau senja yang paling indah.