Minggu, 18 Maret 2012

Kali Hitam


Aku akan mewariskan sebuah cerita kepada anakku setelah aku diwariskan ayah. Lalu anakku akan menurunkan cerita ini kepada anaknya. Dan cucuku mungkin akan menceritakannya lagi kepada anaknya, dan begitu seterusnya sampai tak ada lagi mulut yang menceritakannya.
Mungkin nanti cerita ini akan menjadi mitos belaka. Tak akan menjadi pelajaran sejarah di sekolah, tak dikaji dalam forum diskusi, dan tak dibicarakan di warung kopi sebagimana cerita tentang heroiknya perjuangan bangsa. Atau mungkin nanti akan sebaliknya, menjadi materi dalam pelajaran sejarah, menjadi bahan kajian, pembicaraan, atau hipotesis bagi para ahli penelitian.
Ini hanya cerita sebuah kali. Kali yang airnya begitu hitam pekat dan berbusa ditepinya. Dan banyak orang mengira kali ini memang tercipta seperti itu. Airnya tak mengalir, sunyi. Dalam kesunyian itu kadang terdengar suara-suara teriakan penderitaan. Hingga warga segan untuk sendirian di dekatnya karena bisa menaikkan bulu kuduk.
Entah seberapa dalam kali ini, tak ada yang tahu. Apa saja yang berada didalamnya pun orang tak tahu, mungkinkan ada segerombolan ikan di sana atau makhluk air lainnya. Jangan-jangan memang ada makhluk air, makhluk yang serba hitam, hingga tak terlihat, tapi entah, tak ada yang tahu karena memang banyak dari warga yang tak mau tahu. Kegelapan membutakan apa saja.
Setiap benda yang terendam di sana beberapa saat kemudian akan menjadi hitam. Daun kering yang jatuh, lalu menghitam, rerumputan ditepiannya berwarna hitam. Bahkan kulit yang terendam disana juga menjadi hitam seperti terkena larutan tinta dan sulit dibersihkan.
Kali itu sungguh tak berguna untuk kehidupan sehari-hari. Tak bisa digunakan mencuci, tak bisa digunakan untuk minum, apalagi untuk objek wisata. Ini hanya sebuah kali yang, kupikir gunanya hanya untuk memberi nama kampungku ini. kampung kali hitam di daerah terpencil.
                Ketika aku masih kecil, aku selalu takut melihat kali ini. kali yang begitu suram untukku karena kali ini seperti memanggilku untuk mendekat. Aku takut air yang hitam. Namun ketika ayah bercerita tentang kali ini, aku menjadi rutin mengunjunginya. Bahkan aku terkadang betah berlama-lama sendiri.
***
Ayahku mengatakan bahwa ia juga diceritakan oleh ayahnya, dan kakekku diceritakan oleh ayahnya pula. Setelah ayahku bercerita sebelum meninggal, Aku penasaran dengan ceritanya. Mungkinkah kali yang hitam ini menyimpan keindahan. Karena hampir semua orang di sini mengira bahwa kali ini memang tercipta sebagai kali hitam. Dan ketika aku mendekat pada senja hari, seketika itu pula aku melihat bagaimana anak kecil sedang bermain perahu getek menyusuri kali. Perahu yang terbuat dari batang pohon pisang tersusun.
“Ah, mana mungkin ada ada anak-anak yang berani bermain di sini,” pekikku, “Apa mereka tak takut kulit mereka menjadi hitam seperti terkena larutan tinta. Apa mereka tak dimarahi ibu mereka jika ibu mereka melihat kulit anaknya menghitam.” Aku masih heran melihatnya. Dan disana mereka bermain dengan gembira. Satu anak kecil memegang bambu panjang untuk mendorong getek itu berjalan, dan yang lain terkagum menikmati petualangan mereka.
Aku memperhatikan mereka masih dengan terheran-heran sampai mereka menghilang seiring senja yang mulai menghitam. Alampun menjadi gelap. Aku pun berbalik menuju rumah dengan bayang-bayang itu semua. Apakah itu hanya ilusi. Namun itu semua terlihat jelas di hadapanku.
Setibanya aku dirumah, aku melamun, membayangkan itu semua. Dan hanya itu yang kulamunkan. Aku belum bisa memejamkan mata malam itu, bukan belum bisa tapi tak ingin memejamkan mata. Aku tak perduli bahwa hari telah malam dan aku musti tidur. Aku masih asik menerawang itu semua dari permulaan malam hingga malam berakhir, dan fajar merekah dari ufuk timur.
Aku segera bergegas menju kali itu saat hari mulai terang dengan penasaran yang menggebu-gebu. Dan ketika aku tiba disana, ternyata kali itu masih hitam, Tak ada sesiapa. Kala itu aku tak melihat keindahan. Aku setengah berlari menelusiri kali ini dari ujung sampai ujung, tapi hasilnya nihil. Akhirnya aku paksa diriku untuk menerima bahwa senja lalu aku hanya berhalusinasi, berfantasi saja karena cerita ayah yang seperi menceritakan surga dunia.
Nafas kutarik dalam-dalam lalu kuhembuskan perlahan. Akupun berjalan pulang dengan hati begitu kecewa. Tapi aku mencoba untuk ikhlas. Ketika aku sedang berjalan, kulihat beberapa ibu-ibu berjalan bersama sambil mengobrol. Mereka berjalan dengan bertelanjang kaki, sambil membawa sejenis ember yang berisi pakaian. “Apakah mereka ingin mencuci di kali yang hitam ini?” tanyaku membatin.
Kuikuti mereka dan benar saja. Mereka hendak mencuci pakaian disana. “Bodoh sekali mereka, mencuci di air yang hitam,” ucapku. Namun kulihat mereka mencuci sambil bercanda. “Bergembira sekali mereka.”
Kusambangi mereka disana. “Bu, apakah ibu tak takut kulit ibu menjadi hitam seperti terkena larutan tinta?” Tapi sepertinya mereka tak mendengar apa yang kukatakan. Mereka tetap saja melakukan pekerjaannya. Apa mungkin mereka tak melihatku. Ya mungkin saja begitu. Aku meresa aku adalah makhluk halus bagi mereka, tak terlihat, tak didengar, tak digubris. Tapi aku tak perduli. Setelah itu aku duduk di dekat kali itu, memandangi apa saja dan siapa saja.
Tak jauh dari sana, anak-anak kecil kulihat sedang bermandi ria bersama teman-temannya. Anak-anak itu terkadang terjun dari dahan pohon. Mereka mandi tanpa menggunakan satu helai benangpun yang menutupi tubuhnya. Anak-anak itu asik bermain dan ibunya bergembira mencuci. “Tapi mengapa mereka tak takut kulit mereka menghitam seperti terkena larutan tinta.”
Ketika matahari mulai terik, beberapa anak muda datang membawa alat memancing. “Apakah sungai ini ada ikannya?” tanyaku sendiri. Ikan apa yang berada di dalamnya. Mungkinkah ikan yang mempunyai rupa dan warna yang aneh. Atau mungkin mereka ingin memancing ikan sapu-sapu yang tugasnya hanya menyedor kotoran.
Pemuda itu mencari tempat-tempat strategis dibawah pohon. Aku kaget dari mana datangnya pohon yang rindang itu. Padahal di bantaran kali hitam tak ada pohon yang hidup. Banyak keanehan yang ku lihat disini.
Tiba-tiba anginpun begitu semilir, menyejukan hati dan menentramkan. “sejuk sekali di sini,” ucapku membatin. Selain pemuda yang memancing, dibawah pohon yang rindang kulihat ada lelaki paruh baya yang sedang tidur begitu nyeyak tak takut kulitnya menghitam seperti kena larutan tinta karena tercebur.
Sampai sorepun tiba, aktifitas masih belum berhenti. Kulihat anak-anak berenang disana, anak-anak yang senja kemarin sedang menyusuri kali hitam ini. Betapa indah sekali semua yang tampak di kali hitam ini. Begitu juga untuk esok hari, lusa dan seterusnya. Sungguh, ayahku tak berbohong menganai surga dunia ini. ketidak percayaanku akan keindahan kali hitam ini akhirnya lenyap.
Pada suatu hari, aku memberanikan diri bercerita tentang kali hitam itu kepada orang lain. namun mereka semua malah menertawai aku. Aku sudah coba membuat agar mereka mengerti, tapi tetap saja.
“Kau gila, mana mungkin kali hitam itu indah seperti yang kau ceritakan,” Ucap mereka, “kau tersambet setan kali hitam ruapanya, sampai kau mengarang cerita seperti itu. kau gila.”
Lalu aku menceritakan, bagaimana awalnya aku melihat itu semua di kali hitam. Aku sungguh melihat itu semua setelah diceritakan ayah, ayahkupun sepertiku melihat itu semua setelah diceritakan kakek. kakekku pun begitu. kecuali ayah dari kakek. Ia bahkan menjadi salah satu orang yang merasakan segarnya air kali hitam itu.
Ayah dari kakekku bercerita, dahulu kali ini begitu jernih. Hampi selalu ada aktifitas, kecuali saat malam. Kali ini tak dalam, airnya bening hingga bisa langsung diminum. Anak-anak berenang tanpa rasa takut. Pemancing begitu bersemangat memancing karena banyak ikannya. Dan warga kampung biasanya menghabiskan senja di pinggir kali ini sambil beramah-tamah antara satu dengan yang lain.
Itu semua terjadi sebelum sebuah pabrk jeans dibangun. Sebelum pabrik itu mencelupkan bahan-bahannya untuk membuat berbagai model celana. Pabrik ini tak mempunyai alat pengolah limbah sehingga limbah-limbah itu mengalir langsung tanpa diolah terlebih dahulu.
Awalnya keberadaan pabrik itu bagus karena bisa menarik para pemuda pengangguran di desa terpencil ini. Tapi seiring berjalannya waktu, pabrik itu mencemarkan kali. Orang-orang yang menggunakan air itu terkena penyakit. Pabrik itu di demo habis-habisan oleh warga, namun dihadang oleh pemuda kampung yang mejadi buruh disana karena pabrik itu menjadi sumber penghasilannya. Apabila pabrik itu ditutup, banyak warga kampung yang harus kehilangan pekerjaan.
Akhirnya pabrik ini tak ditutup, meski ditutup pun air kali ini tetap saja hitam. Dulu kali ini tak sehitam sekarang namun semakin berganti generasi, kali ini menghitam, dan aktifitas di kali ini pun berakhir. Setelah begini, pabrik juga sudah tak bisa lagi beroperasi, hingga pabrik itu tutup dengan sendirinya. Kepergian pabrik itu meninggalkan seperti yang sekarang kita rasakan.
Oleh karena itu, aku akan menceritakannya kepada anakku agar anakku bia merasakan keindahan di kali hitam ini, meski hanya sebuah fantasi. Lalu anakku akan menurunkan cerita ini kepada anaknya. Dan cucuku mungkin akan menceritakannya lagi kepada anaknya, dan begitu seterusnya sampai tak ada lagi mulut yang bercerita keindahan kali ini.
Mungkin nanti cerita ini akan menjadi mitos belaka. Tak akan pernah jadi pelajaran sejarah. tak dikaji dalam forum diskusi, dan tak banyak dibicarakan orang. Atau mungkin nanti akan sebaliknya, atau bakan menjadi hipotesis bagi para ahli penelitian.
18/02/2012 20:25

Senin, 05 Maret 2012

Rasa Dangdut Disana

Alunan dangdut terdengar lirih dari panggung kampung
disana berjoget
kuli bangnan yang dimpor dari kampung penganggur
tukang ojek resah ditinggal pelanggan yang telah berkendaraan pribadi
atau pengangguran kota yang ijazahnya tak laku digadai

Alunan dangdut terdengar hingar bingar dari panggung kampanye
disana
para politisi berorasi tentang pemberantasan kemiskinan dan korupsi
padahal perkataanya tak ubahnya kentut busuk tak sedap yang menguap tak berbekas

Alunan dangdut terdengar menghentak dari panggun pesta
disana
para ormas radikal berjaga sehabis berkelahi memperebutkan lahan

Alunan dangdut terdengar keras dari camp militer
disana
para tentara mengabiskan malam setelah berburu gerilia,
mereka menunggu malam demi malam agar bisa bertemu keluarga

Alunan dangdut terdengar getir dari speaker kecil
disana
para pelantun tak berduit mengais rejeki karena tak beruang masuk studio rekaman
atau mengamen seorang waria yang terkucil dari kehidupan

Alunan dangdut terdengar resah dari tape mobil truk
disana
para supir pengantar barang tegang mengantri tuk masuk kapal
berharap tak telat agar tak kena damprat para cukong pemilik kapital

Alunan dangdut terdengar samar dari radio usang warung kopi
disana
setiap orang bercuap apa saja
mulai dari candaan sampai pemikiran
diawali masalah sehari-hari sampai kekecewaan terhadap negeri


Alunan dangdut terdengar galau dari sebuah headphone
disana
aku sedang mengahayati sebuah irama
yang berlirik tentang hati yang terluka

Sabtu, 03 Maret 2012

Malthus, Si Pembangkang Smith


Setelah kemunculan Adam Smith yang menyuguhkan konsep kemakmuran baru, datanglah Thomas Robert Malthus (1766-1834) dengan penentangannya terhadap konsep itu. Malthus merupakan salah satu murid Smith yang membangkang, namun ia masih setuju dengan beberapa konsep Smith tentang perdagangan bebas, dan ia juga penganut mazhab laizes faire.
 Ia mengajukan pertanyaa terhadap konsep kemakmuran baru Smith : Dapatkah manusia bertahan hidup ketika manusia semakin lama bertambah seadangkan sumber daya yang tersedia di bumi ini semakin lama akan habis?
Ia mengemukakan pertanyaan yang sangat suram seakan-akan ia ingin mengembalikannya manusia ke era hobbesian. Bahkan Frederick Angels berpendapat bila konsep Malthus merupakan konsep yang barbar dan kelam. Selain Angels, Say juga mengatakan, buat apa sebuah teori yang hanya bisa memenuhi kebutuhan literer namun tidak bisa digunakan dalam kehidupan nyata, seperi teori Malthus dan Ricardo.
Ia bersama sahabatnya David Ricardo menentang kaum-kaum optimis. Tentangannya itu di tunjukan dengan  menerbitkan essay on the priciple of population as it affects the future improvement of society, with remark on the speculation of Mr. Godwin, M. Condorcet, and other writter  - tradisi judul pada waktu itu menggunakan judul yang panjang -  atau disingkat essay on population (1798) saat usianya masih 32 tahun, yang isi esai itu ialah bahwa sumber daya yang ada di Bumi tidak bisa mengimbangi pertumbuhan populasi yang ada.
Setelah tesis muramnya itu, banyak kritikan melayang kepadanya, mulai dari teolog konservatif, penganut liberal, dan radikal utopian. Selain menuai kritikan, esainya juga disebut-sebut sebagai esai yang berpengaruh. Malthus di anggap sebagai pendiri studi tentang demografi dan populasi. Dan dia juga mengilhami lahirnya teori evolusi dari Charles Darwin.

Kehidupan Malthus
Malthus lahir tahun 1766 dari keluarga kaya. Sebagai putra bungsu ia sudah biasa dengan kelebihan penduduk karena ia merupakan delapan bersaudara. Iman kristianinya yang membuatnya agar mempunyai keluarga yang besar. Tuhan memerintahkan Adam dan Hawa untuk “memperbanyak keturunan dan mengisi bumi”.
Pada tahun 1784, Malthus masuk ke universitas Cambridge. Ia mengambil jurusan matematika dan bahasa. Setelah lulus ia menjadi pendeta di Inggris dan meninggalkannya kembali setelah bekerja selama enam tahun sebagai pendeta karena ia ingin menikah pada tahun 1804.


Hukum Alam Malthus yang Terkenal
Essay on population berisi tentang “hukum alam” sebagai “dasar yang tidak bisa terbantahakan”
Pertama : Populasi cenderung bertambah menurut deret ukur (secara geometris ) (1, 2, 4, 16, 32,...)
Kedua : Produksi makanan cenderung bertambah menurut deret hitung (secara Aritmatika) (1, 2, 3, 4, 5, 6,7 ...)
Akibatnya adalah krisis “penderitaan dan kemiskinan” yang tak bisa terbantahkan karena sumber daya alam yang ada dibumi tidak bisa memenuhi kebutuhan yang populasi.
Hukum alam malthus yang pertama bisa dikatakan benar karena jumlah penduduk dunia semakin lama semakin meningkat secara geometris. Pada era Malthus penduduk dunia hanya sekitar 1 miliar sedangkan pada tahun 2000-an penduduk dunia semakin meningkat menjadi 6 miliar. Akan tetapi penyebab pertumbuhan penduduk ini tidak seperti yang dikatakan Malthus yaitu pertumbuhan penduduk terjadi karena semakin tingginya pendapatan penduduk. Namun pertumbuhan penduduk yang tinggi karena angka kematian bayi semakin lama-semakin mengecil dan angka kematian orang dewasa juga menurun. Ini mengindikasikan bahwa harapan hidup begitu tinggi.
Selain itu, angka kelahiran pada bayi bukannya naik malah menurun. Hal ini disebabkan kerena kemajuan teknologi kedokteran dan semakin tingginya pendapatan penduduk. Semakin tinggi pendapatan seseorang semakin tinggi pula tingkat intelektualitasnya, dan semakin tinggi intelektualitasnya, orang tidak menginginkan banyak anak.
Sedangkan Hukum alam yang kedua bisa dikatakan ada kecacatan. Hukum yang kedua adalah produksi makanan cenderung bertambah menurt deret hitung (secara Aritmatika). Hukum ini bisa dikatakan cacat karena hewan bisa lebih cepat melahirkan dan bertelur. Sedangkan manusia sedikit lambat. Hewan bisa melahirkan lebih dari dua anak sekaligus, sedangkan manusia hanya 1, dan apabila kembar itu sangat jarang sekali terjadi.
Begitu pula dengan tumbuhan. Tumbuhan lebih cepat prosesnya, bahkan dengan adanya alat dengan teknologi yang canggih bisa mempercepat proses dari tubuhan itu sendiri. Misalnya seperti adanya traktor, pembasmi hama, pupuk buatan, dll.
Malthus tidak memberikan alasan bahwa tanaman dan hewan tidak seproduktif manusia. Ia hanya mengatakan bahwa “alam menyebar benih kehidupan yang seluas-luasnya dan sebebas-bebasnya, namun bumi kekurangan ruang dan gizi untuk membesarkan benih itu.”


Hukum Pendapatn yang Menurun
Malthus mengemukakan sebuah teori pada edisi berikutnya. Berdasarkan bahwa sumberdaya alam semakin lama-semakin berkurang maka pendapatan manusia semakin menurun – tanah hanya tetap, bahkan cenderung berkurang karena banyak dibangun gedung, sehingga menurunnya proporsi produk. Hal ini yang dijadikan acuan oleh mathus. Malthus diaanggap sebagai ekonom pertama yang mengungkapkan teori ini. Dia mengacu pada semakin banyak orang manambahkan kapital dan tanah pada suatu lahan atau tanah maka penambahan produksi ataupun output semakin menurun. oleh karena itu ia mengungkapkan bahwa pendapatan semakin menurun