Jumat, 13 April 2012

Tentang Hujan

Ketika siang beranjak sore,
aku menonton hujan dari muka pintu.
Hujan itu sungguh lebat,
meneteskan huruf demi huruf dari langit.

Hujan itu kudekati.
serta merta kujulurkan tangan
dan membiarkan tetesan itu jatuh menerjang.

Lalu kucoba rangkai titik- titik huruf yang tertinggal di telapak,
menjadi kata
menjadi sajak
tentang hujan.
Agar huruf itu tak menguap terbakar matahari.
atau pergi menyusuri kulit
dan jatuh dari siku.

Sambil menunggu matahari yang keluar begitu lambat.

Sekret, 15.15
4/13/2012

Minggu, 08 April 2012

Penyair Idol


(1)
Hari ini aku sedang resah
menunggu giliran tampil membaca sajak.
Teman pesaingku pentas silih berganti
lalu membawa hasil komentar tak serupa




(2)
Aku semakin gugup ketika akan membaca sajak tentang risau.
Di hadapan para penyair kakap.
Di depan juri (Rendra dan Chairil Anwar).

(3)
Semakin waktu mendekat, tanganku bergetar serta merta,
suaraku mendengung, tak lagi bulat.
Kupandangi sekeliling,
ternyata banyak kamera mengintai.
Aku tersadar bahwa aku akan ditatap pemirsa

(4)
Aku gelisah karna butuh tampil indah
agar permirsa mendukungku lewat pesan singkat
agar aku bisa menjadi terkenal
agar aku bisa menjadi idola.
Ah, tapi ya sudahlah, ini aku adanya.

(5)
Sekarang pembawa acara menyebut namaku.
Aku terbangun dari dudukku.
Ternyata demam merasuk
tapi kucoba bergaya santai
Dan memulai
“Risau,” ujarku.