Sabtu, 16 Juni 2012

Ada yang berdetak


“Ada yang berdetak di dinding sana. bunyinya begitu menyayat pikiran yang dirundung resah. aku menunggu satu detik untuk masa depan yang telah menjadi sekarang. Masih terasa ada yang tertunda bila hanya mendengarkan bunyi detaknya. Tanpa gerakan. Adalah waktu yang seperti pedang bermata dua. Membunuh atau terbunuh lawan”
Ah sudahlah, waktu menunjukan pukul 1.40. Ada yang menyugesti tuk melepas lelah dan resah sejenak.
17/06/2012

Seperi rokok yang terbakar api


Seperi rokok yang terbakar api. Asapnya membentuk alur yang asik untuk kita tuturkan. sambil menunggu waktu mengikis batang demi batangnya. Ketika itu juga kita berbagi pengalaman serupa kita berbagi tembakau dalam bungkus yang sama untuk lekas mengosongkan rasa  bosan. Ibarat asap yang kita hembuskan, ucapan kita terbang kesana-kemari melewati waktu dan masa. Pergi mengarungi dunia.

01.26
17/06/2012

Lukisan Iba


Entah kenapa, pada suatu ketika
Tuhan mengirim sebingkai lukisan
Yang dititip kepada angin,
Terbang bersamaan dengan debu dan asap
menghempas wajah
menyentuh mata hingga refleks terpejam seketika

lukisan itu bertema iba
berobjek cebol bertopi rimba, berkarung.
tertatih menyeret bengkok kakinya
dengan kerut paras, lembab peluh nan berdebu.

Lukisan itu mampir sejenak
Ketika otak mulai bebal akan kisah cinta
Serupa lumut yang berkerak ditempat lembabnya pikiran lawas

otakku tersindir ketika sedang berpikir
cinta hitam yang nyinyir
lalu, otakku bertanya
“Apakah cebol itu berpikir tentang cinta remeh temeh? Apakah ia sempat memikirkannya? ketika ia harus berjuang untuk hidup. Apakah ia pernah patah hati? Apakah ia pernah meyukai seseorang? Atau jatuh cinta? Apakah dua menyesali hidup?”
“Apa yang dia pikirkan?”

Entah apa isyarat Tuhan
meyinggahkan 5 detik lukisan dihadapan
setelah itu lenyap, tapi
Terekam, terukir, tesentuh dalam hati

Apakah Ia sedang berujar, jika hidup tak sekedar kisah cinta daun kelor.


16/06/2012