Selasa, 24 Juli 2012

Violinis



Jika kau hendak mengetahui keadaan hatinya, maka dengarkanlah permainan biolanya. Kau akan merasakan perihnya hidup saat untaian nada kesedihan keluar dari biolanya dan membuat kau seperti berada dalam sebuah pesta bila nada itu menyebarkan kebahagiaan. Tapi dengan catatan, dia tidak sedang pentas karena ketika pentas, terkadang ia bersandiwara untuk menghibur penonton.
Begitulah Jo, sahabatku yang menumpahkan keadaan hatinya melalui biola. Ia jarang bercerita tapi dengan mendengarkannya bermain biola, aku tahu apa yang menyelimuti hatinya karena nada yang keluar dari biolanya seolah membentuk suatu alur cerita.
Dulu, ia pernah memainkan biola dengan nada yang merefleksikan kegembiraan. Aku yang berada didekatnya menyeringai tanpa sadar dan hatiku layaknya berada pada sebuah taman. Menyenangkan.
Ajaibnya, seusai bercengkrama dengan biolanya, sebuah tawaran pentas datang dari suatu event organizer. Aku tak tahu bagaimana dia bisa mendapat tawaran itu, ia tak mau menuturkannya padaku.
“Nanti jika aku sudah terkenal, kau saja yang menjadi manajerku, Zak? Haha,” ucapnya dengan nada yang begitu gembira seusai pentas.
“Bisa. Bisa,” ucapku.
“Nanti kau yang mengurus semua jadwal manggungku, haha,” katanya
“Kau jangan terlalu banyak bermimpi. Benahi dulu permainanmu,” ujarku sambil tertawa. Seperti itulah rasanya ketika nada kegembiraan menjalar dari biolanya.
            Berbeda halnya ketika ia sedang galau. Nada-nada resah merayap pelan namun terasa melukai hati. Kegalauannya menjadi hal nyata tatkala kekasihnya berpaling pada pria yang lebih mapan. Saat itu Jo belum populer sehingga kekasihnya mengangapnya hanya pemuda tak berguna. Tapi Jo tak butuh waktu lama untuk menghapus lukanya. Ia hanya butuh  memainkan musik klasik yang tenang.
            Lain halnya jika memainkan lagu sedih. Ia selalu takut. Ada perasaan cemas dalam hatinya jika nada kesedihan keluar. Tetapi bila ia tidak memainkan, tubunya seperti ada yang menarik. Semakin ia berusaha menghindar, semakin hatinya tertekan hingga tubuhnya melemas tak bertenaga. Jantungnyapun berdegup cepat. Waktu itu, Jo pernah memainkan lagu kesedihan sepanjang malam. Sampai ia lelah dan tertidur. Setelah itu ia memainkan nada itu, kakek Tuna netra yang mengajarinya bermain biola, meninggal dunia.
***
Kepandaiannya menggesek biola, sudah dikenal banyak orang sehingga bayarannya pun menjadi mahal. Aku sebagai manajernya tak perlu lagi bersusah-payah mengorbitkannya karena kemampuannya yang membuat penggemar rindu akan setiap pertunjukan yang eksklusif. Aku hanya bertugas mengatur jadwal dan jumlah bayarannya.
Masih belum hilang dari ingatanku saat pertama kali ia tertarik pada alat musik gesek itu. Waktu itu, kami sedang menelusuri pasar Blok M, ia melihat seorang kakek tuna netra bermain biola dengan begitu indah dan Jo hanya terdiam menyaksikannya sampai pada akhirnya jatuh hati pada alat musik itu.
Biola pertamanya dibeli di pasar yang menjual segala macam barang bekas sehingga ia tak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Kegigihannya dalam memperlajari alat musik itu mambuatku salut. Bayangkan saja, hampir setiap buku yang berkaitan dengan biola dibelinya. Selain itu, setiap video, penampilan di televisi sampai konser, sebisa mungkin ditonton demi bisa memahami alat musik itu. Pembicaraanya pun tak jauh dari biola dan nama-nama musisinya yang tak kukenal.
“Jika mau ditonton, kita harus nonton,” ujarnya saat mengemukakan prinsipnya padaku. Oleh karena itu ia selalu memberi apresiasi terhadap Violinis tanpa memandang genre musik yang dimainkan.
Sosok yang paling berpengaruh dalam bakatnya bermain musik adalah kakek tuna netra itu. Ia nekad menghadang kakek itu ketika hendak pulang. Untung saja kakek itu menerima dan mau mengajarkannya. Hampir setiap hari ia berlatih dan dengan sabar sang kakek mengajarkannya selama lima tahun.
Oleh sebab itu, ia merasa kehilangan yang hebat ketika ia tahu sang kakek meninggal. Kesedihannya semakin mendalam ketika ia tak bisa mengikuti prosesi pemakamannya karena tertidur lelap sehabis memainkan biola bernada kesedihan sepanjang malam.
***
Tak ubahnya seperti kehilangan lelaki tua itu, sudah beberapa hari ini, nada-nada yang keluar dari biolanya masih berkisar menganai kesedihan. Aku mendengar itu ketika aku tak sengaja ingin mengambil telepon genggamku yang tertinggal di kamarnya. Saat mendengarnya, Aku merasa ada yang menggumpal di dadaku dan ingin segera kukeluarkan. Sampai akhirnya, satu, dua tetes air keluar dari mataku. Aku tak jadi masuk dan menunggu besok.
Keadaan hatinya sampai-sampai mengganggu penampilannya. Aku tak percaya. Yang aku tahu, Jo adalah orang yang tak ingin mengecewakan siapapun, terlebih para penonton yang ingin menyaksikan pertunjukannya.
“Ini bisa berakibat buruk pada karirnya,” pikirku. Pasalnya, pertunjukannya kali ini di tonton banyak musisi kelas atas. Tapi ia tampil tak seperti layaknya Jo yang selalu menjiwai setiap penampilannya.
Aku tak habis pikir, sudah pertunjukan ketiga ia berpenampilan mengecewakan. Dan sekarang penampilannya pun memburuk, entah apa yang mengganggunya. Nada-nada yang keluar saat tampil terkadang tak selaras dengan lagu yang dibawakan. Ekspresinya datar, padahal dia memainkan lagu yang gembira. Ia seperti tak berniat berada di atas panggung.
Pertunjukan berakhir buruk.
            “Eh, apa yang kau lakukan, kenapa kau bermain begitu buruk,” ujarku.
            “Aku sedang tak ingin tampil.”
            “Seharusnya kau bilang. Ini bisa bisa berakibat buruk pada karirmu.”
            “Aku tak perduli.” Jo pergi begitu saja tanpa memperdulikanku.
“Hei, kau masih punya satu pertunjukan lagi.”  Jo tak perduli dengan ucapanku hingga kuikuti dia ke mobil. Mobil yang dikendarainya keluar dari parkiran. Aku melihat ketakutan pada bola matanya yang hitam.
“Bukankah kau tahu tentang keadaan hatiku,” tutur Jo.
“Tapi kau masih punya satu pertunjukan lagi. Jika kau tak tampil, kita bisa terkena denda. Bagimana dengan penggemarmu, Jo? Ayolah, hadiri. Kau punya kontrak? Hpku sudah berdering berkali-kali?”
“Berisik, aku tidak mood,” suaranya meninggi. Baru pada saat itu aku mendengar ia dalam keadaan marah. “Kau kan manajerku, uruslah itu,” ucapnya dengan wajah merah.
“Ayo lah Jo, satu pertunjukan lagi?” Selama setengah jam aku membujuknya tanpa henti dan ia pun tetap pada pendiriannya. Hingga pada suatu tempat ia memberhentikan mobilnya dan menghadapkan wajahnya ke arahku.
“Sekarang kau keluar,” ucapnya mendadak. Aku sontak kaget mendenger itu dan tak berkata-kata lagi. Pintu telah dibuka olehnya dari dalam. Ia pun melengos menghadap depan. Aku keluar dengan  rasa yang bercampur aduk, antara marah, kesal, dan kecewa.
Ketika pintu kututup, mobil melaju cepat. Aku jadi berpikir tentang keadaan hatinya. Pikiranku masih berputar pada nada-nada sendu yang sudah berhari-hari kudengar. Yang sudah mengocok perasaanku hingga aku menjadi orang cengeng. Aku tahu ada hal yang menyedihkan bila nada sedih terlantun dari gesekan dawai biolanya.
Pikiran ini buruk berputar dalam kepalaku. Ada cemas yang muncul dalam hati. terlintas olehku, orang tua Jo yang terserang penyakit berat. Aku juga mengkhawatirkan keadaan Jo yang sedang tak bagus karena terlalu sering mengkonsumsi alkohol.
Akhirnya, aku memberhentikan taksi untuk mengejernya. Supir itu kusuruh memacu kendaraannya secepat mungkin agar aku bisa bertemu dan meminta maaf tentang apa yang telah kupaksakan.
***
            Di suatu gedung pertunjukan, Jo perlahan memainkan biolanya dengan memejamkan mata, menghayati setiap nada-nada yang keluar bersama angin. Tanpa terasa tetes demi tetes air membasahi tubuh biola lalu jatuh ke lantai. Nada-nada yang keluar menceritakan suatu masa yang telah berlalu tanpa bisa terlupakan dan akan terus membekas. Seperti jahitan luka akibat sayatan busur biola yang merobek hati.
            Jo tak terlihat bersandiwara dalam pertunjukan ini. Penampilan pun mengundang tangis penonton pada suatu pertujukan yang berjudul Untuk Sahabatku, Zak. Pertunjukan ini digelar untuk mengenang kematian sahabat sekaligus manajernya yang meninggal saat berada di dalam taksi yang melaju dengan kecepatan tinggi. Tepat sebulan yang lalu.

12.14
25/07/2012

Selasa, 17 Juli 2012

Tersasar di Kaki Gunung Semeru

-->
Keinginan dan harapan telah terkumpul menyesaki dada, telah mengkristal dalam hati, dan ada rasa yang tak utuh bila perjalanan itu hanya sampai di pertengahan. Meski pernah terbesit pemikiran pesimis dan ragu dalam kepala. Kami berjalan dengan modal keberanian, karena kami tahu jika kami lebih lebih berani dari apa yang kami tahu.
Keberanian inilah yang akhirnya membawa saya, Willy, dan Syarif pada suatu perjalanan yang tak pernah diduga. Setelah menghabiskan dua malam di Pulau Sempu sambil menimati keindahan yang dibuat Tuhan, serta merenungkan rasi bintang yang ternyata tak berubah tiap malam, kami bertolak menuju Probolingga dengan sedikit informasi menuju kota itu.

Sebelumnya , Kami bertiga berbenah di Sendang Biru supaya segar saat melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan kami, yaitu Gunung Bromo. Seluruh tubuh kami bersihkan karena di pulau sempu, kami hanya mandi dengan air asin. Kami memang tak ingin menggunakan sabun atau pasta gigi, biarlah semua menggunakan pembersih yang alami meski badan ini terasa lengket dan berpasir. Walau kami melihat dengan pasrah ketika ada pengunjung yang dengan santai menggunakan sampo dan membilasnya di danau Segoro Anakan.
Selesai berbenah, mobil yang menuju ke arah Turen sudah menunggu. Saat mobil hendak jalan, saya bertingkah bodoh mencari Handphone yang ternyata ada dikantong belakang bersamaan dengan dompet. Setelah itu saya di baiat oleh Syarief dan willy dengan sebutan Kolup, entah apa maksudnya, hanya mereka yang tahu.
Di dalam mobil itu, kami mendapat tempat yang agak lumayan, tak seperti pertama datang. Tempat yang nyaman itu membuat Willy langsung saja tertidur ketika mobil baru jalan sebentar. Mungkin dia memang begitu, Hampir setiap dalam mobil angkutan dia tertidur dan terkadang mengigau. saya dan syarif hanya tertawa melihatnya.
Ternyata perjalan sejauh 43KM dengan kecepatan tak lebih dari 60KM/jam serta angin segar sepoi-sepoi, membuat saya dan syarief juga mengantuk. Saya pun terlelap sejenak dan terbangun pada saat mobil ini sudah hampir sesak dipenuhi penumpang. Meski begitu, mau tak mau saya nikmati saja keadaannya. Hebatnya, willy masih saja pulas tanpa terusik.
Sampai di pertigaan daerah Turen, kami turun dan menuju masjid untuk sejenak beristirahat. Lalu, entah kenapa, ada dua laki-laki yang sudah berumur mendatangi kami. Ternyata mereka adalah tukang ojek yang menawarkan jasanya kepada kami. Kami yang hanya tahu sedikit tetang daerah ini hanya mengangguk apa yang mereka iming-imingi. Lalu kami pergi meninggalkan kedua tukang ojek itu dan menuju rumah makan.
Dalam rumah makan, kami berunding untuk menentukan bagimana caranya mencapai probolinggo. Kami bertanya kepada penjaga warung. Tetapi penjaga warung pun tak tahu rute menuju probolinggo. kami pun bertanya pada konsumen rumah makan itu, dan kami diberi jawaban yang lemas. “Kalau daerah tumpang jauh mas, mobil sudah jarang, apalagi kalau sudah sore begini. Kalau mas jalan sekarang kira-kira sampai sana malam,” ucap pria itu. Akhirnya kami pun termakan perkataan tukang ojek itu yang menjanjikan jalan pintas yang cepat sehingga tak perlu sampai malam. selain itu tukang ojek berjanji akan mengantar sampai daerah yang sudah dekat dengan tujuan kami. Konsokuensi logisnya harganya sangat mahal.
Diantarlah kami bertiga menggunakan ojek. ketika melihat marka jalan, ternyata memang puluhan KM jauhnya. Kami diantar dengan kecepatan yang lumayan tinggi dan kami  sampai sebelum pukul lima di daerah Tumpang. Merekapun langsung menunjuk angkutan umum yang menuju Bromo. Namun saat turun kami disambut oleh tukang ojek pula. Saat kami berbincang ternyata angkutan itu tidak mengarah ke Bromo. Betapa sesak mendengar kabar itu. Tukang ojek itu pun memberitahu rute yang mudah mendapatkan mobil untuk menuju bromo, namun itu sangat jauh dan kami harus kembali ke Argosari. Jalan tengahnya, tukang ojek itu menawarkan jasanya, namun harganya sangat mahal sekali.
Karena habis dikelabuhi tukang ojek, kami skeptis akan perkataan tukang ojek di daerah Tumpang. Kami berjalan-jalan untuk bertanya ke orang lain. Saat tak tahu apa lagi yang harus kami lakukan, kami melihat semobil truk berhenti dengan membawa orang-orang bertas besar yang telah usai mendaki Gunung Semeru. Kami pun bertanya-tanya. Mereka pun tak tahu. Akhirnya, kami temui supirnya dan bertanya, ternyata harganya sama saja dengan kami menyewa mobil Hartop. Lalu ada truk lewat di hadapan kami. Oleh supir truk itu kami di rekomendasikan untuk ikut dengan temannya ke arah Ranu Pani dengan ongkos yang lumayan.
Dengan banyak pertimbangan, kami pun ikut truk pupuk itu menuju Ranu Pani dan meningalkan tukang ojek yang mengiming-imingi kami. Kami ahirnya memilih menuju desa Ranu Pani karena supir truk itu memberi harapan dengan mengatakan “Mudah-mudahan di Ranu Pani ada teman untuk menyewa Hartop.” Dengan keyakinan itu lah kami ikut truk pupuk itu. Setidaknya, jika tidak dapat teman, kita bisa menikmati danau Ranu Pani.
Truk hanya memuat tiga orang, yaitu supir dan dua penumpang. Karena tak cukup, akhirnya Syarif naik di atas truk berbarengan dengan pupuk yang dibawa truk. Di tengah jalan truk berhenti, akhirnya kami berdiskusi lagi dan hasilnya ialah Willy harus melobi supir truk agar mau mengantar kami ke Bromo. Dan saya pun menemani Syarief di atas truk karena kasihan dengannya. Saat saya berpindah dari ke atas truk, supir itu berkata. "Orang Jakarta yang ingin merasakan naik di atas truk." Padahal niat saya hanya ingin menemani Syarief.
Sepanjang perjalalan, saya dan syarief jarang berbicara karena anginnya begitu kencang. Sampai akhirya malam datang merambat menggantikan sore. Truk memasuki daerah yang sepi dengan jalanan yang menanjak. Saya dan Syarif semakin kedinginan di kegelapan malam. 

            Truk menuju ke jalan yang jarang dilalui jika malam. Kupandangi sepanjang jalan itu, ternyata kanan dan kirinnya adalah jurang terlebih jalanan itu tanpa penerang sehingga perjalanan terasa sangat jauh karena truk berjalan pelan akibat jarak pandang yang pendek. Selain itu, jalan ini hanya muat untuk satu truk saja. Jadi, jika berpapasan dengan kendaraan lain, truk harus berhenti. uniknya jika berpapasan dengan truk atau Hartop ataupun sepeda motor, supir truk ini akrab dengan pengemudi yang ditemuinya di jalan.Tebersit ketakutan dihati saya melihat rute truk ini, terlebih ketika truk bergoyang-goyang hebat takkala melintasi jalan yang berbatu. diperjalan itu saya banyak beristigfar karena takut. 
           Udara semakin dingin karena kami mengira embun sudah mulai turun. Saya dan Syarief diterjang oleh kabut itu di atas truk sampai menggigil. Saat berhenti diperjalanan, willy memberikan jaketnya kepada dan lekas saja tangan syarief menarik jaket itu untuk menutupi kepala kami berdua. Anehnya ditengah dingin seperti itu saya mengantuk dan syarief sudah tidur terlebih dahulu di atas truk. Sampai akhirnya kami tiba di desa Ranu Pani, kaki gunung semeru. Kami diturunkan dengan keadaan menggigil ditempat para pendaki bermalam sebelum mendaki Gunung Semeru.
Jika kami melihat medan yang dilalui menuju Ranu Pani, saya beruntung karena tidak menggunakan ojek. Pasalnya, track yang dilalui sulit, selain itu kami tak membayangkan apa jadinya tubuh kami jika menaiki ojek dengan kondisi jalanan dan cuaca yang ada. Selain itu kami merasa kasihan kepada tukang ojek di Tumpang jika mereka mengantarkan kita. Meski uangnya Mahal, tetap saja akan menyiksa kami dan tukang ojek itu.
Berdasarkan cerita supir di perjalanan, Kami pun tahu, ternyata supir itu adalah bos sayuran di Ranu Pani, ia pun memiliki Hartop untuk disewa dan banyak usaha lain yang ia geluti. Rumah supir itu pun banyak. Lalu kami diinapkan dirumah orang tuanya dan diberi makan gratis. Kami senang bukan kepalang meski dengan lauk yang sederhana. Makanan itu sungguh berarti saat udara di sana yang begitu dingin, perut lapar dan kondisi keuangan yang tiris. Setelah itu supir truk itu kembali kerumahnya, dan meninggalkan kami di rumah orang tuanya.
Dalam kedinginan yang menusuk kulit, kami diajak menghangatkan tubuh diperapian oleh orang tua supir itu. kami berbincang-bincang dengan orang tua supir truk itu yang ditemani pemuda setempat. Perbincangan menggunakan bahasa jawa  dan syarief adalah penerjemah ke bahasa Indonesia karena hanya dia yang pandai berbahasa jawa. Berdasarkan cerita pemuda setempat, Kami pun akhirnya tahu jika orang tua supir truk itu adalah Kuncen Gunung Semeru. Dia pun yang membuka jalan untuk para pendaki dan dia pulalah yang mengevakuasi mayat Soe Hok Gie dan ia juga menceritakan penyebab meninggalnya Soe Hok Gie.
Dalam perbincangan itu, ia memberi banyak wejangan bila ingin mendaki dan menceritakan banyak hal yang terjadi di Gunung Semeru, tak tekecuali hal yang tak masuk akal. Ia juga menceritakan jika ia pernah hanya membawa uang ribuan rupiah menuju Jakarta,sedangkan pulangnya diantar dengan pesawat. Hebat. Kami kagum akan ceritanya. Kakek itu bernama Ki Ageng Tumari bila melihat foto dan nama yang tertera di foto itu. Di dekat foto itu pun terdapat piagam yang diberikan oleh Pecinta Alam UI dan malang kepadanya karena telah mengevakuasi Soe Hok gie. Perjalanan yang  bertujuan menuju Gunung Bromo, nyatanya malah tersasar ke Kaki Gunung Semeru.

Senin, 16 Juli 2012

Pulau Sempu: Keindahan yang Tersembunyi



Keinginan dan harapan telah terkumpul menyesaki dada, telah mengkristal dalam hati, dan ada rasa yang tak utuh bila perjalanan itu hanya sampai di pertengahan. Meski pernah terbesit pemikiran pesimis dan ragu dalam kepala. Kami berjalan dengan modal keberanian, karena kami tahu jika kami lebih lebih berani dari apa yang kami tahu.
Keberanian inilah yang akhirnya membawa saya, Willy, dan Syarif pada suatu perjalanan yang tak pernah diduga. Setelah menghabiskan dua malam di Pulau Sempu sambil menimati keindahan yang dibuat Tuhan, serta merenungkan rasi bintang yang ternyata tak berubah tiap malam, kami bertolak menuju Probolingga dengan sedikit informasi menuju kota itu.

Sebelumnya , Kami bertiga berbenah di Sendang Biru supaya segar saat melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan kami, yaitu Gunung Bromo. Seluruh tubuh kami bersihkan karena di pulau sempu, kami hanya mandi dengan air asin. Kami memang tak ingin menggunakan sabun atau pasta gigi, biarlah semua menggunakan pembersih yang alami meski badan ini terasa lengket dan berpasir. Walau kami melihat dengan pasrah ketika ada pengunjung yang dengan santai menggunakan sampo dan membilasnya di danau Segoro Anakan.
Selesai berbenah, mobil yang menuju ke arah Turen sudah menunggu. Saat mobil hendak jalan, saya bertingkah bodoh mencari Handphone yang ternyata ada dikantong belakang bersamaan dengan dompet. Setelah itu saya di baiat oleh Syarief dan willy dengan sebutan Kolup, entah apa maksudnya, hanya mereka yang tahu.
Di dalam mobil itu, kami mendapat tempat yang agak lumayan, tak seperti pertama datang. Tempat yang nyaman itu membuat Willy langsung saja tertidur ketika mobil baru jalan sebentar. Mungkin dia memang begitu, Hampir setiap dalam mobil angkutan dia tertidur dan terkadang mengigau. saya dan syarif hanya tertawa melihatnya.
Ternyata perjalan sejauh 43KM dengan kecepatan tak lebih dari 60KM/jam serta angin segar sepoi-sepoi, membuat saya dan syarief juga mengantuk. Saya pun terlelap sejenak dan terbangun pada saat mobil ini sudah hampir sesak dipenuhi penumpang. Meski begitu, mau tak mau saya nikmati saja keadaannya. Hebatnya, willy masih saja pulas tanpa terusik.
Sampai di pertigaan daerah Turen, kami turun dan menuju masjid untuk sejenak beristirahat. Lalu, entah kenapa, ada dua laki-laki yang sudah berumur mendatangi kami. Ternyata mereka adalah tukang ojek yang menawarkan jasanya kepada kami. Kami yang hanya tahu sedikit tetang daerah ini hanya mengangguk apa yang mereka iming-imingi. Lalu kami pergi meninggalkan kedua tukang ojek itu dan menuju rumah makan.
Dalam rumah makan, kami berunding untuk menentukan bagimana caranya mencapai probolinggo. Kami bertanya kepada penjaga warung. Tetapi penjaga warung pun tak tahu rute menuju probolinggo. kami pun bertanya pada konsumen rumah makan itu, dan kami diberi jawaban yang lemas. “Kalau daerah tumpang jauh mas, mobil sudah jarang, apalagi kalau sudah sore begini. Kalau mas jalan sekarang kira-kira sampai sana malam,” ucap pria itu. Akhirnya kami pun termakan perkataan tukang ojek itu yang menjanjikan jalan pintas yang cepat sehingga tak perlu sampai malam. selain itu tukang ojek berjanji akan mengantar sampai daerah yang sudah dekat dengan tujuan kami. Konsokuensi logisnya harganya sangat mahal.
Diantarlah kami bertiga menggunakan ojek. ketika melihat marka jalan, ternyata memang puluhan KM jauhnya. Kami diantar dengan kecepatan yang lumayan tinggi dan kami  sampai sebelum pukul lima di daerah Tumpang. Merekapun langsung menunjuk angkutan umum yang menuju Bromo. Namun saat turun kami disambut oleh tukang ojek pula. Saat kami berbincang ternyata angkutan itu tidak mengarah ke Bromo. Betapa sesak mendengar kabar itu. Tukang ojek itu pun memberitahu rute yang mudah mendapatkan mobil untuk menuju bromo, namun itu sangat jauh dan kami harus kembali ke Argosari. Jalan tengahnya, tukang ojek itu menawarkan jasanya, namun harganya sangat mahal sekali.
Karena habis dikelabuhi tukang ojek, kami skeptis akan perkataan tukang ojek di daerah Tumpang. Kami berjalan-jalan untuk bertanya ke orang lain. Saat tak tahu apa lagi yang harus kami lakukan, kami melihat semobil truk berhenti dengan membawa orang-orang bertas besar yang telah usai mendaki Gunung Semeru. Kami pun bertanya-tanya. Mereka pun tak tahu. Akhirnya, kami temui supirnya dan bertanya, ternyata harganya sama saja dengan kami menyewa mobil Hartop. Lalu ada truk lewat di hadapan kami. Oleh supir truk itu kami di rekomendasikan untuk ikut dengan temannya ke arah Ranu Pani dengan ongkos yang lumayan.
Dengan banyak pertimbangan, kami pun ikut truk pupuk itu menuju Ranu Pani dan meningalkan tukang ojek yang mengiming-imingi kami. Kami ahirnya memilih menuju desa Ranu Pani karena supir truk itu memberi harapan dengan mengatakan “Mudah-mudahan di Ranu Pani ada teman untuk menyewa Hartop.” Dengan keyakinan itu lah kami ikut truk pupuk itu. Setidaknya, jika tidak dapat teman, kita bisa menikmati danau Ranu Pani.
Truk hanya memuat tiga orang, yaitu supir dan dua penumpang. Karena tak cukup, akhirnya Syarif naik di atas truk berbarengan dengan pupuk yang dibawa truk. Di tengah jalan truk berhenti, akhirnya kami berdiskusi lagi dan hasilnya ialah Willy harus melobi supir truk agar mau mengantar kami ke Bromo. Dan saya pun menemani Syarief di atas truk karena kasihan dengannya. Saat saya berpindah dari ke atas truk, supir itu berkata. "Orang Jakarta yang ingin merasakan naik di atas truk." Padahal niat saya hanya ingin menemani Syarief.
Sepanjang perjalalan, saya dan syarief jarang berbicara karena anginnya begitu kencang. Sampai akhirya malam datang merambat menggantikan sore. Truk memasuki daerah yang sepi dengan jalanan yang menanjak. Saya dan Syarif semakin kedinginan di kegelapan malam. 

  Truk menuju ke jalan yang jarang dilalui jika malam. Kupandangi sepanjang jalan itu, ternyata kanan dan kirinnya adalah jurang terlebih jalanan itu tanpa penerang sehingga perjalanan terasa sangat jauh karena truk berjalan pelan akibat jarak pandang yang pendek. Selain itu, jalan ini hanya muat untuk satu truk saja. Jadi, jika berpapasan dengan kendaraan lain, truk harus berhenti. uniknya jika berpapasan dengan truk atau Hartop ataupun sepeda motor, supir truk ini akrab dengan pengemudi yang ditemuinya di jalan.Tebersit ketakutan dihati saya melihat rute truk ini, terlebih ketika truk bergoyang-goyang hebat takkala melintasi jalan yang berbatu. diperjalan itu saya banyak beristigfar karena takut. 
  Udara semakin dingin karena kami mengira embun sudah mulai turun. Saya dan Syarief diterjang oleh kabut itu di atas truk sampai menggigil. Saat berhenti diperjalanan, willy memberikan jaketnya kepada dan lekas saja tangan syarief menarik jaket itu untuk menutupi kepala kami berdua. Anehnya ditengah dingin seperti itu saya mengantuk dan syarief sudah tidur terlebih dahulu di atas truk. Sampai akhirnya kami tiba di desa Ranu Pani, kaki gunung semeru. Kami diturunkan dengan keadaan menggigil ditempat para pendaki bermalam sebelum mendaki Gunung Semeru.
Jika kami melihat medan yang dilalui menuju Ranu Pani, saya beruntung karena tidak menggunakan ojek. Pasalnya, track yang dilalui sulit, selain itu kami tak membayangkan apa jadinya tubuh kami jika menaiki ojek dengan kondisi jalanan dan cuaca yang ada. Selain itu kami merasa kasihan kepada tukang ojek di Tumpang jika mereka mengantarkan kita. Meski uangnya Mahal, tetap saja akan menyiksa kami dan tukang ojek itu.
Berdasarkan cerita supir di perjalanan, Kami pun tahu, ternyata supir itu adalah bos sayuran di Ranu Pani, ia pun memiliki Hartop untuk disewa dan banyak usaha lain yang ia geluti. Rumah supir itu pun banyak. Lalu kami diinapkan dirumah orang tuanya dan diberi makan gratis. Kami senang bukan kepalang meski dengan lauk yang sederhana. Makanan itu sungguh berarti saat udara di sana yang begitu dingin, perut lapar dan kondisi keuangan yang tiris. Setelah itu supir truk itu kembali kerumahnya, dan meninggalkan kami di rumah orang tuanya.
Dalam kedinginan yang menusuk kulit, kami diajak menghangatkan tubuh diperapian oleh orang tua supir itu. kami berbincang-bincang dengan orang tua supir truk itu yang ditemani pemuda setempat. Perbincangan menggunakan bahasa jawa  dan syarief adalah penerjemah ke bahasa Indonesia karena hanya dia yang pandai berbahasa jawa. Berdasarkan cerita pemuda setempat, Kami pun akhirnya tahu jika orang tua supir truk itu adalah Kuncen Gunung Semeru. Dia pun yang membuka jalan untuk para pendaki dan dia pulalah yang mengevakuasi mayat Soe Hok Gie dan ia juga menceritakan penyebab meninggalnya Soe Hok Gie.
Dalam perbincangan itu, ia memberi banyak wejangan bila ingin mendaki dan menceritakan banyak hal yang terjadi di Gunung Semeru, tak tekecuali hal yang tak masuk akal. Ia juga menceritakan jika ia pernah hanya membawa uang ribuan rupiah menuju Jakarta,sedangkan pulangnya diantar dengan pesawat. Hebat. Kami kagum akan ceritanya. Kakek itu bernama Ki Ageng Tumari bila melihat foto dan nama yang tertera di foto itu. Di dekat foto itu pun terdapat piagam yang diberikan oleh Pecinta Alam UI dan malang kepadanya karena telah mengevakuasi Soe Hok gie. Perjalanan yang  bertujuan menuju Gunung Bromo, nyatanya malah tersasar ke Kaki Gunung Semeru.

Selasa, 10 Juli 2012

kabut ketakuan


Aku berjalan dengan hati tertutup kabut ketakuan yang datang merambat beriring pikiran resah terbayang Atid yang mungkin sudah menghela nafas lelah mencatat amal sedangkan Rokib mungkin sedang bersantai ria disudut kanan menunggu kejadian yang akan ia goreskan dengan pena buatan Tuhan di lembaran buku saku kecilnya dan otakku masih memikirkan angin yang menghembuskan tanya tentang banyak hal yang dimulai dari masa lampau sampai masa yang tak akan pernah kuketahui dimana ujungnya terlebih aku merisaukan diriku yang kerap berfikir liar sehingga banyak hal yang absurd terbayang dan mungkin itu berlebihan tapi terkadang pikiran ini susah untuk dijinakan tak seperti macan sirkus yang buas lalu berubah menjadi penari yang mengagumkan untuk ditonton dan entah pikiran ini bermaksud apa karena sejujurnya  aku tak tahu apa yang akan diberikan Tuhan kepadaku karena Ia yang memiliki diriku dan memiliki segala apa yang bisa dimiliki dan aku meminta kepada Sang Pemilik dari segala itu agar memberikan aku suatu yang paling baik menurut-Nya karena aku tak tahu apa rencana yang telah dibuatnya dan semoga kegelisahan yang sedang kukubangi ini memberikan suatu jalan menuju ketenangan yang diberikan oleh-Nya untukku dan aku berharap agar setiap kegalauan yang menimbulkan tanya ini lekas menemukan lembah jawaban dengan cahaya yang indah yang lebih indah dari fajar atau senja yang paling indah.