Jumat, 16 November 2012

Perjalanan, Perjuangan dan Insiden


Ketika kaki saya mulai melangkah dari puncak Gunung Bromo untuk turun ke bawah pada 7 juli 2012 lalu, saya tahu liburan saya akan berakhir dan saya akan kembali menjalani rutinitas menjadi mahasiswa. Apa yang saya dan kedua kawan saya lalui pasti akan menjadi kenangan yang menyenangkan untuk diceritakan.


Saya teringat rumah ketika ketika turun dari pucak Gunung Bromo. Sudah satu minggu saya meninggalkan rumah, pergi berpindah-pindah, menyambangi tempat-tempat indah. Di mulai dari Jojga bersama ACID, Pulau sempu, Ranu Pane, dan berakhir di Gunung Bromo. itu semua terasa mengagumkan karena sebelumnya, perjalanan ini hanya sebuah wacana yang tak tahu akan terjadi atau tidak.




Perjuangan

Saat itu, kami mulai turun menapaki pasir di badan Gunung Bromo. Sesampainya dibawah, kami segera mengambil carier yang di titipkan di warung dan memulai perjanan lagi mengarungi padang pasir kawasan bromo menuju pananjakan agar kami mendapatkan mobil angkutan untuk pulang.

Perjalanan itu terasa sangat panjang, seperti sebuah perjuangan. jika dilhat rute dari gunung bromo ke pananjakan, jaraknya tidak terlalu jauh. Namun ketika kami arungi padang pasir itu, rasanya seperti tak berujung. sebenarnya, Teman saya sudah lelah dan tak ingin tracking lagi tapi karena uang ditangan sudah hampir habis, mau tak mau kami harus melakukannya. Pak Suyoto yang mengantar kami dengan jeepnya dari Ranu Pane sudah pergi karena ada urusan. Lagi pula kami hanya membayarnya dengan setengah harga, tak enak kalau minta diantar pula ke pananjakan.

Memang perjalanan mengarungi padang pasir terasa membosankan, namun karena keindahan alamnya, kawasan Bromo Tengger Semeru membuat rasa bosan itu tak semakin akut.


Setelah mengarungi padang pasir beberapa saat, kami dihadapkan pada klimaks perjalanan sebelum mendapatkan angkutan bernama taksi. seperti halnya klimaks dalam cerita yang berada di titik puncak, kami juga harus mendaki tebing yang curam dan tinggi untuk sampai titik puncak.


Setelah pendakian selesai dengan nafas tersenggal dan kaki terasa pegal, kami bertiga beristirahat di sebuah warung sebelum mencari taksi. Awalnya, kami mengira angkutan yang bernama Taksi ini bener-bernar taksi seperti umunya, namun setelah kami melihat langsung ternyata hanya angkutan mini bus. Kami menghela nafas lega karena tak perlu mengeluarkan banyak uang taksi.

Saya kurang tahu kenapa angkutan itu di namakan taksi, mungkin karena mobil itu berwana biru seperti taksi. tapi entah lah. Taksi ini unik. ia belum jalan sampai kursi di dalam mobil penuh. setelah sekitar setengah jam menunggu sambil mencari oleh-oleh, akhirnya kami berangkat menuju Probolinggo.

awalnya Kami belum tahu pasti harus menaiki dari Probolinggo menuju Jakarta biayanya tidak terlalu mahal. Namun saat seorang kawan membeli oleh-oleh, seorang pedagang merekomendasikan agar kami naik travel karena harganya lebih murah. Kami pun termakan omongan pedagang itu karena kami sudah terlalu lelah untuk berfikir.




Sesampainya kami di probolinggo, kenek taksi itu mencarikan kami travel yang murah. Karena sudah tanggung, akhirnya kami naik travel menuju jogja dengan harga yang menurut kami cukup mahal.

Namun ketika mobil itu ingin jalan, datang beberapa perempuan muda yang berasal dari Negara lain di hadapan kami. Mereka membawa barang yang cukup banyak. Satu orang membawa dua tas, satu tas carier dan satu lagi tas ransel.

Ketika meraka memasukan tasnya ke bagasi mobil, kami pun langsung tahu jika perempuan bule itu menaiki mobil yang sama dengan kami. Di dalam mobil, saya duduk bersebalahan dengan perempuan bule itu. Sungguh perempuan bule itu cantik. Saya jadi canggung duduk disamping salah satu darinya.

Mobil travel itu mulai melaju selepas azan isya. Di perjalanan, tiba-tiba salah satu bule yang duduk dibelakang menegur saya. “Can you speak Indonesia?” tanyanya. Tentu saja ujar saya dengan bahasa inggris yang terbata-bata. Salah satu dari mereka meminta saya agar supir menyalakan AC tapi supir itu menjawab jika ACnya rusak dan menyuruh bule itu untuk membuka kaca jendela.

“There is no air conditioner but there is natural air conditioner,” ucap saya waktu itu. Lalu perempuan bule itu meminta saya untuk membukakan jendalanya karena tak bisa. Setelah pembukaan jendela, kami menjadi akrab dengan mereka. Saat berbincang-bincang, mereka mengatakan jika mereka berasal dari Norway. Setelah dari Probolinggo, mereka akan melanjutkan perjalanan ke jogja dan meneruskannya ke kuala lumpur.

Mereka pun menayakan beberapa tempat menarik yang terdapat di Jogjakarta dan kami beri tahu dengan senang hati. Lalu kami berbincang lagi dengan mereka, ternyata hampir semua dari mereka adalah mahasiswa ekonomi. Sedangkan orang yang bersebelahan dengan saya adalah seorang auditor. Kebetulan sekali kami bertiga adalah mahasiswa akuntansi, tepatnya akuntansi menajeman. Lalu kami berbicara tentang kegiatan kami di kampus.

Setelah itu, saya bertanya kepada mereka mengapa mendatangi Indonesia. Mereka menjawab kalau orang Indonesia ramah. Kemudian, perbincangan pun kami akhiri karena malam semakin larut.saya pun mencoba tertidur. namum perempuan itu menarik perhatian saya sehingga saya pandangi dia. Perempuan di sebelah saya menggunakan alat tidur agar kepalanya teratur, padahal saya berharap agar dia bersandar di pundak saya saat tertidur. Tapi apa daya, niat saya tak disetujui Tuhan. Saya pun bergergas memejamkan mata.


pada hari yang sudah beranjak pagi, tiba-tiba saya terbangun saat mobil berhenti. Saya mengira sudah sampai di Jogja, namun ternyata bule itu sedang ke toilet di salah satu pom bensin. Ketika saya memandang ke seseorang bule, saya melihatnya sedang merekok di pompa bensin. Syarif pun melihatnya. Untung saja mobil sudah bersiap jalan sehingga perempuan itu mematikan rokoknya. Sangat tak lucu jika perjanan ini menjadi buruk karena kelakuan perempuan bule itu.

Sesampainya di jogja, kami berpamitan dengan perempuan bule itu dan bersiap menuju Jakarta pada pagi-pagi buta. "have a great day in jogja," kata saya. Sebenarnya ada yang kurang karena kami tak berfoto bersama mereaka. tapi yasudah lah, saya sudah rindu rumah.

Insiden

Perjalanan kami dari jogja begitu menyenangkan karena bus yang kami naiki sepi dari penumpang. Sehingga, Kami bebas memilih tempat dimana saja kami mau. Bahkan 2 tempat sekaligus. Rasanya bus ini milik beberapa orang saja.

Seehabis isya, saya terasa begitu lelah dan memutuskan untuk memejamkan mata. Namun dengan tiba-tiba Syarif membangunkan saya sekitar pukul 20.00. Saat membuka mata, tak ada penumpang lain di bus itu kecuali kami berdua. Kami pun segera keluar dari mobil dan mencari tahu apa yang baru saja terjadi.




Ketika turun, saya terpana melihat apa yang sedang saya alami. Seseorang penumpang lain mengatakan kalau sebuah truk tangki tak kuat menanjak ketika berada di tanjakan berbelok daerah Tasikmalaya. Lalu truk itu mundur dan menabrak Bus. Kemudian, bus menyerempet mobil xenia putih yang ada disampingnya. Sampai akhirnya semua terkunci. Moncong mobil xenia masuk kebawah bus, dan bus terapit meocong xenia. Bus sedikit terhalang truk yang menghadap dinding. Untung saja truk tangki itu berisi oli, apabila truk itu berisi minyak, suram lah perjalanan kami bertiga.

Tabrakan itu, membuat jalanan begitu macet. Seseorang polisi dan warga mencoba mengatur jalannya lalu lintar agar kemacetan tak bertambah parah. Sebuah truk pun diberhentikan untuk menarik, namun tali penariknya malah putus. Bus itu kembali gagal di tarik.

Kami hanya memandangi apa yang terjadi dan tak tahu harus bebuat apa. Tas-tas kami masih berada dalam bagasi mobil dan tak bisa kami ambil. Kemudian sebuah truk besar diberhentikan lagi tapi menolak. Sampai akhirnya sebuah truk berisi bahan bakar minyak diberhentikan untuk menarik bus. Aku menjadi resah karena takut truk tangki minyak itu malah tak kuat dan menabrak bus. Aahh habis lah kita.



Saat beberapa orang selesai memasang tali pengait, saya semakin menjauh karena takut hal yang buruk menimpa kami. Tapi perkiraan saya meleset. Truk tangki minyak itu berhasil menarik bus sehingga bus bisa dipinggirkan.

Meski bus itu selamat, bus tak bisa jalan karena bus itu bermasalah dengan tali kopling. Akhirnya kami menurunkan barang-barang kami dari bagasi dan menunggu mobil yang sama. Beberapa kali mobil dari perusahaan dan jurusan yang sama melintas, tapi pera penumpang tidak diberi menebeng karena bus sudah terlalu penuh.




Saya pun menunggu sampai tertidur. Saya yang tak nyaman tidur di kursi kayu depan sebuah rumah makan, masuk ke dalam bus dan untuk tidur. Hingga pagi menjelang, tak ada satu pun mobil yang mau kami tumpangi. Supir bus sampai melempar batu kepada bus yang menolak di tumpangi.

Akhirnya, ketika hari sudah pagi, ada mobil yang mau ditumapangi kerana di paksa. Saat masuk bus, hanya saya yang tidak mendapat tempat duduk, akhirnya saya duduk di tangga pintu belakang sampai kami tiba dilebak bulus.

Sampai kiar-kira jam 12 siang kami sampai di lebak bulus dan berpisah. Kami bertiga sudah sangat lelah dan ingin merasakan suasana rumah. Kami ingin pulang dengan membawa cerita yang tak terlupakan.

22:33
16/11/12

Bromo: Savana, Kawah, Gunung dan Hamparan Pasir

Rasanya, saya ingin sekali menulis ketika melihat foto-foto yang ada di laptop. Sekaligus melanjutkan cerita perjanan yang belum selesai. Cerita tentang perjalanan saya dan kedua kawan saya, Syarif dan willy, saat berlibur ke malang untuk menyegarkan kembali pikiran dari mumetnya ujian.
Sebelumnya, sudah saya tulis bagaimana perjanan saya berlibur ke Jogja bersama Accounting C’s Indescribable Democracy (ACID), naik bus yang sudah dikenal ugal-ugalan, menikmati indahnya tebing dan danau Segoro Anakan Pulau Sempu, sampai tersasar di kaki Gunung Semeru dan bertemu dengan kuncennya.
Sekarang saya ingin menceritakan bagaimana saya pergi ke Gunung Bromo. Saat itu, saya dan kedua kawan saya masih ragu untuk pergi ke Gunung Bromo dari Pulau Sempu karena melihat kas yang ada di dompet. Namun karena nekat, akhirnya kami sampai juga ke daerah Tumpang dan naik truk menuju Ranu Pane. Sesungguhnya, Ini bukan rute yang bagus jika ingin ke Bromo dari Pulau Sempu. Seharusnya kami balik lagi ke Arjo Sari. Lalu naik bus ke Probolinggo, namun karena  termakan rayuan tukang ojek akhirnya kami malah ke daerah Tumpang—tempat para pendaki gunung semeru menunggu jeep atau truk sebelum menuju ranu pane.
Seperti yang sudah saya ceritakan di tulisan Tersasar Di kaki GunungSemeru  saya disambut tukang ojek yang menetapkan tarif mahal. Bertemu para pendaki yang baru saja turun dari truk. Bertemu Pak Suyoto yang mengantar kami ke ranu pane melewati jalan berbatu yang terdapat jurang di kanan dan kirnya. Kedinginan karena kehujanan di atas truk. Sampai akhirnya mendengar kisah tentang gunung semeru oleh Pak Tumari—orangtuanya Pak Suyoto.
Jika tak salah ingat, tanggal 13 Juli 2012, kami bermalam dan di Ranu Pane dan keesokan paginya kami bertiga diantar ke Bromo oleh Pak Suyoto menggunakan jeep. Sebenarnya, kami ingin melihat fajar dari pananjakan. Namun, karena pak suyoto tidak bisa, akhirnya kami diantar sekitar pukul 7 pagi dari Ranu Pane.
Alam Indonesai yang  Indah
Udara pagi itu sungguh menusuk kulit. "Padahal kami masih berada di kaki gunung semeru, bagaimana di badan gunungnya," pikir saya. Jaket, kaos tangan dan kaos kaki pun sadah saya kenakan, namun tetap saja udaranya terasa dingin. Sambil menunggu Pak Suyoto datang kami berjalan-jalan agar tubuh kami terbiasa dengan dinginnya Ranu Pane
Kemudian kami mengemas barang-barang dan bersiap menuju Bromo. Saat Pak Suyuto datang, kami pamit dan mengucapkan terima kasih kepada Pak Tumari karena  telah memberi kami kamar untuk bermalam. Selain ucapan terima kasih kami juga memberi beras, gula dan kopi yang kami punya. Kami tahu, itu tak cukup membayar kebaikan yang diberikannya.
Kami pun pergi ke bromo melewati jalan berbatu hingga mengguncang mobil yang kami naiki. Di dalam mobil, kami bertanya banyak hal sampai akhirnya telunjuk Pak Suyoto menunjukan ke arah Gunung Bromo. Hasrat kami semakin besar ketika melihat keindahan padang savanna atau bukit teletubis yang ada di Gunung Bromo dari kejauhan. kami tak menyangka, tanah yang berundak-undak itu begitu hijau, mulus nan luas. Terbentuk begitu rapih oleh alam. 
Jika teman saya memangilnya bukit teletubis, sekilas memang terlihat seperti itu. Tapi bukit teletubis tak sealami tempat ini. Sungguh tempat itu membuat saya terkagum-kagum. Di tempat itu, Kami meminta Pak Suyoto agar berhenti sebentar untuk berfoto ria. Kami pun mengabadikan tempat indah dan alami ini melalui mata lensa milik willy.
Sebenarnya kami belum ingin beranjak karena belum merasa puas. Kami masih ingin berjalan-jalan sejenak di tempat itu. Tracking. Lalu mengobrol sambil minum kopi. Atau mungkin merabahkan diri. Tapi karena waktu juga yang sudah mulai siang, mau tak mau lanjut ke kawah bromo.
Sepanjang perjalanan dari padang savana menuju kawah bromo, perkerjaan yang saya lakukan hanya melihat pemandangan yang tersaji di kanan, di kiri, dan di hadapan. Rasa kagum tumbuh dari dalam hati. Rasanya saya ingin beri tahu orang di luar Indonesia. “woy. Ini Indonesia. Coba dateng ke sini dah, dan kalian lihat.”
Sampai akhirnya, kami disambut oleh kuda-kuda, jejeran jeep yang terparkir rapih, turis lokal dan manca negara, pura, Gunung batok, dan tentu saja kawah bromo. Sesampainya di sana, kami tak langsung mendaki kawah bromo tapi kami mencari tempat sepi dan mengeluarkan peralatan masak karena kami belum sarapan. Dari tempat itu saya langsung teringat film Tendangan Dari Langit yang berlatar dan setting di tempat ini.
Kompor menyala dengan api yang paling besar tapi air yang ada di nesting tak  matang. Sayapun langsung mengambil matras dan menutup kompor agar terlindung dari angin yang dingin. Saat saya dan willy memasak, syarif merebahkan badan dan tertidur di sana seperti gelandangan. Sepertinya dia sudah tak peduli dengan kaadaan sekitar.
.
Kemudian kami bertiga makan mie dengan lauk sarden yang tak hangat setelah berusaha kami hangatkan. Udara dingin itu membuat api tidak focus dan kecil. Jadi sarden itu terasa seperti tak dipanaskan. Namun makanan terasa cukup enak meski kami tahu makanan kami bercampr dengan pasir. Mungkin bumbu pasir yang membua makanan kami terasa enak. Seusai makan kami pun mulai bearnjak.
Indomie yang kami makan seperti tak memberi kami energy untuk mendaki Gunung Bromo. Badan masih terasa berat saat di bawa. Jadi sebelum mendaki, kami memutuskan untuk menitip carier di tempat orang berdagang agar tak berat saat mendaki.
Pasir-pasir di badan gunung kami tapaki dengan susah payah. Terlebih pasir di tangga sebelum mencapai puncak kawah. Rasanya naik dua langkah dan turun satu langkah karena pasirnya sedikit amblas menahan telapak kaki kami

Namun  rasa lelah itu terbayar ketika sampai di puncak kawah bromo. Hati saya seperti mendesir. "Sampai juga kami di sini," pikir saya waktu itu. Padahal satu minggu yang lalu hal ini masih sebatas pembicaraan saja di kampus.
Oh kawah bromo yang curam berasap. Megahnya gunung batok yang berwarna hijau. Pemandangan yang tersaji di sekitar berupa hamparan padang pasir yang luas dan indah. serta gundukan-gundukan pasir yang unik, alami dan Aahh susah sekali mendeskripsikan tampat ini. Yang pasti satu kata “mengagumkam.”
Jika kalian belum pernah ke bromo saya sarankan kalian ke sana, karena kalian akan melihat bagaimana mengagumkannya alam Indonesia.

21:17
16/11/2012