Minggu, 15 September 2013

Tergesa-gesa



Sekitar pukul 05.00 pada awal pekan, Muazin baru saja selesai mengumdangkan azan dari sebuah langgar kecil. Suaranya masih menggema seolah mengetuk pintu tuk membangunkan umat yang lelap tertidur. Di sebuah rumah, jam weker mulai berteriak menggetarkan gendang telinga seorang pemuda. Lelaki itu bangun tergesa-gesa. Selimut yang dipakainya tercecer di lantai ketika lelaki itu hendak menuju kamar mandi. Sprei kasurnya pun tak teratur karena tak dirapikan terlebih dahulu.

Lelaki itu mandi dengan lekas hingga busa sabun masih tertinggal di telinganya. Dalam keadaan tubuh belum benar-benar kering, ia mengenakan kemeja yang baru saja diambil dari almari. Tanpa sadar, kancingnya dimasukan bukan pada lubang yang tak tepat dan terlihat kerah kiri lebih tinggi dari pada kerah kanan. ia pun lupa menarik resleting celananya yang berbahan denim.

Tas dan sepatu pun ia kenakan. Kemudian ia berlari kecil menuju sepeda motornya. Ketika hendak menyalakan sepeda motor, ia lupa jika kuncinya tertinggal. Akhirnya ia pun kembali ke kamarnya untuk mengambil kunci.

Ketika sepeda motornya sudah menghadap pintu gerbang, kemudian lelaki itu berhenti.

“Aku mau kemana?” tanyanya dalam hati.

Sekarang, lelaki itu tak tahu hendak pergi ke mana. Rencannya tak terlaksana Karena di susun tergesa-gesa. Dengan santai, lelaki itu kembali menuju kamarnya. ia menarik selimut yang tadi tercecer di lantai dan kembali merebahkan dirinya.

dialog dini hari
23:59
15/09/2013

Sabtu, 27 Juli 2013

Heraclitus dan Gunung Gede


“No man ever steps in the same river twice, for it's not the same river,” Heraclitus, salah satu filsuf yang lahir di Ephesus tahun 535-475 S/M. Bila diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia, kira-kira berarti, seseorang tidak bisa melangkahi sungai yang sama untuk kedua kalinya.

Kata-kata yang di ucapkan heraclitus cukup lugas dan mengandung arti. Jika saya beri analogi, pada saat pertama kali kita berjalan melewati sungai, kita akan merasakan kondisi-kondisi tertentu seperti air yang begitu jernih mengalir deras menabrak batu-batu yang tersusun rapi. Udara lembab sehabis hujan membuat tanah di sekitar sungai itu menjadi becek hingga tapak sepatu telihat jelas di jalannya. Serta pelangi terlihat dari balik dedaunan melukiskan langit sore yang indah.

Namun ketika kita ke sungai itu untuk yang kedua kalinya, sungai itu sudah berubah, tidak sama dengan sungai yang telah kita lewati. Mungkin kondisi airnyanya mengalir tidak kencang hingga kita bisa melihat ikan-ikan yang sedang berenang. Atau susunan batunya sudah berubah karena derasanya air sungai hingga menghempas batu dan merubah letakanya. Pun dengan udara, mungkin udara begitu panas dan membuat kita berkeringat. Bahkan perpindahan debu bisa membuat kondisi berubah hingga kita tidak bisa melangkahi sungai yang sama.

Entah seperti apa yang dimaksudkan Heraclitus, mungkin seperti itu yang saya intepretasi dari kata-katanya. Tapi yasudahlah, tulisan saya kali ini bukan membahas panjang lebar tentang filsafat, tapi saya hanya ingin menceritakan pendakian ke Gunung Gede Pangango. Entah Heraclitus membuat pembahasan filsafat relativisme atau apapun, itu urusan lain.

Pada 3 Juli 2013 lalu, saya bersama beberapa orang temen menyusuri Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Kepergian kala itu dimaksudkan untuk merefresh pikiran seusai menggarap majalah INSTITUT edisi 40 dan seusai menjalani kesibukan kuliah. Terlebih saya sudah rindu mendaki dan ingin berjumpa dengan alam yang asri untuk merenungi ciptaan Tuhan.

Kenapa saya membawa Heraclitus ke dalam tulisan ini karena kata-katanya yang telah disebutkan di atas relevan dengan cerita saya. Mungkin kata-katanya bisa berubah menjadi seperti ini jika dikaitkan dengan perjalanan saya. “Saya tidak bisa mendaki gunung gede-pangrango dengan kondisi dan cerita yang sama untuk kedua kalinya.”

Sudah tiga kali saya mendaki gunung gede pangrango, namun dengan kondisi yang berbeda-beda. Cerita yang berbeda pula, bukankan suatu perjalanan bisa membangun suatu ceritaya masing-masing.


Hipotermia

Pendakian pertama. Kala itu saya ingin dilantik menjadi anggota Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) INSTITUT UIN Jakarta sekitar tahun 2011, jadi mau tak mau saya harus ikut. Jika tidak salah ingat, Kami mendaki gunung gede pangrango dengan jumlah personil sekitar 26 orang. Saat itu kondisi udara agak sedikit mendung.

Perjalanan itu menyisakan suatu cerita yang sulit dilupakan. Bagimana tidak, saya membawa satu carier di punggung dan satu tas di dada karene ditengah perjalanan mendaki, salah seorang teman ada yang sakit. Kemudian, saya ditinggal sendiri pada tengah malam untuk menulis dengan penerangan cahaya lilin. Setelah itu direndam di air terjun dekat kandang batu sekitar waktu subuh.

Sebelum direndam, saya dibangunkan paksa. Dingin. Kulit seperti mati rasa saat bangun karena suhu tubuh belum menyesuaikan dengan udara gunung. Saat itu, dilarang menggunakan jaket. Kemudian saya digiring ke air terjun dan direndam. Saat direndam dada terasa begitu sesak. Untuk bernafas saya harus menunduk dahulu dan menyerap udara dalam-dalam. lucunya, salah seorang temen sampai tak bergerak karena kedinginan. Saat diajak bicara, jawabannya hanya iya, iya dan iya tanpa bergerak. Saya menyebutnya, Hipotermia.

Pendakian yang kedua sekitar awal 2012. Saya bersama teman sekelas saya. Kita menyebut kelompok kita Accounting C’s Indecribable Democracy (ACID). Perjalanan kali ini untuk menuntaskan rasa penasaran karena saat pendakian pertama tak sampai puncak. Perjalanan kali ini pun sulit dilupakan karena kami akhirnya mengarungi kawasan puncak gunung gede saat langit senja berwarna jingga.

Kami pun sampai ke Surya Kencana, sebuah lapangan luas yang banyak ditumbuhi bunga eidelwise dengan pemandangan puncak gunung gede yang indah. Meskipun kami harus bersusah payah menuruni gunung dengan kondisi malam hari.

Badai

Kemudian perjalanan ketiga sekitar pertengahan 2013. Pendakian saya ke gunung gede yang paling baru. Saat itu kondisi gunung gede sudah berubah karena banyak jalannya yang teleh diperbaiki dengan diberi banyak batu. Agaknya perjalanan kali ini kurang didukung oleh cuaca karena hujan. Meski saya akhirnya merasakan trecking ketika hujan.

Akibat hujan, beberapa pakaian saya lepek dan tidur dengan tidak nyenyak saat bermalam di kandang badak. Sebelum tidur, ada suatu perbincangan dan kami ragu untuk meneruskan perjalanan ke pucak. Lagi-lagi karena alasan cuaca yang kurang bersahabat. Namun saat pagi, keraguan itu semakin lama pudar karena dirasa tanggung jika tidak kepuncak gunung gede meski cuaca tetep tak bersahabat.

Sekitar pukul 10.00 pagi kami mulai naik. Saya memutuskan menggunakan celana yang basah dengan balutan jaket saja tanpa tanpa baju. Keputusan itu saya ambil agar baju saya yang kering tidak kehujanan saat mendaki kepncak. Tentu saja itu sangat dingin.

Seusai melewati tanjakan setan, salah seorang pendaki yang hendak turun bepesan kepada saya agar berhati-hati karena di puncak sedang badai. Dia pun mengatakan bahwa beberapa hari lalu suhu di puncak adalah minus dan seminggu yang lalu terjadi hujan es di puncak gunung. Perasaan was-was sedikit muncul. Sesungguhnya saya belum tahu, badai itu seperti apa di gunung. Yang saya tahu saat menonton televisi, badai itu menyeremkan dan mematikan.

Setelah beberapa jam mendaki akhirnya saya sampai ke batas vegetasi dan berencana ke puncak. Saat berjalan sebentar, angin bertiup sangat kencang dan angin itu membawa embun. Jarak pandang pun pendek. Saat melewati terjagangan angin itu, Jaket saya menjadi basah. Tentu udara semakin dingin. Seteleha beberapa pertimbangan akhirnya kami tak jadi meneruskan perjalanan. Tentu kami meyempatkan untuk berfoto sebentar. Meski tak sampai pucak Kami menyebut bahwa kami sudah sampai di kawasan puncak bila ditanya orang lain. itu kesepakatannya.

Cara Cepat Turun Gunung


Kami kembali menuju tenda. Hujan pun menyambut lagi. Setelah makan dan berbenah, kami akhirnya turun dari kandang badak pukul 17.30. Saya dan kedua temen perempuan saya berencana aga melewati air panas sebelum gelap sehingga kami berjalan agak cepat. Terget kami pun sampai, namun kami terpisah dengan ketujuh orang lainnya. Setelah istirahat sejenak di pos air panas, kami memutuskan untuk terus jalan meskipun hanya bertiga. Karena saat istirahat saya teringat teman saya yang melihat makhluk halus di kawasan itu.

Dalam perjalanan, udara malam gunung yang dingin membuat saya gerah. Dada pun agak berdegup. Kami jalan dalam diam. Ditengah perjalanan saya betemu dengan beberapa rombongan pendaki yang trecking malam. Sampai akhirnya tiba di pos pertigaan air terjun cibeurem untuk istirahat. Saat istirahat, terdengar suara aneh lebih dari 2 kali. Entah suara ketukan, entah sesuatu jatuh. Saat lampu senter saya mengarahkan ke pos itu, tak ada orang sama sekali. Meski begitu saya anggap itu biasa saja, alih-alih mengurangi rasa takut.

“Jalan lagi yuk,” ujar seorang temen. “Ayo, kita jalan,” kata saya. Akhirnya kami tiba di bawah sekitar pukul 20.30. Tidak terasa, kami berjalan begitu cepat hingga sampai lebih dulu. Bayangkan, hanya 3 jam perjalanan dari kandang badak hingga sampai ke bawah. Tanpa minum pula.

Setelah itu, akhirnya saya mendapatkan suatu cara baru. Menurut saya, ada dua cara yang membuat seseorang turun gunung dengan cepat.

1. Kebelet buang air besar

2. Takut

Ini berdasarkan pengalaman empiris dengan studi kasus teman saya saat pendakian pertama dan saya. Seorang teman dengan carier yang tinggi dan bawaan yang banyak, rela berlari mendahului yang lain agar cepat sampai ke bawah untuk buang air besar. Ini yang menjadi dasar saya hingga terciptanya cara ini. Yang kedua tentu saja pengalaman saya sendiri.


Mistis

Kami bertiga pun menunggu 7 orang teman kami yang lain. Sekitar satu jam menunggu, kami bertemu beberapa teman. Teman saya bercerita hal aneh. Salah seorang teman mengatakan, saya meneriakinya dan titip salam melalui pendaki lain kepadanya, padahal saya tidak penah meneriakinya dan menitip salam. Kemudian teman saya melihat seseorang sedang jongkok sendirian.

Setelah diverifikasi, seorang teman yang lain juga melihat seseorang sedang berjongkok sendirian. Dia juga dibisiki sepanjang perjalanan dari pos air terjun sampai telaga biru. Dan beberapa cerita lain. Itu menjadi suatu pengalaman yang berharga. Selama pegalaman saya pergi ke gunung gede, setiap perjalanannya mempunyai kondisi dan cerita yang berbeda antara satu dengan yang lain. Tentu itu saya anggap menjadi cerita dan sesuatu yang baru serta siap untuk diperbincangkan. Sekian