Selasa, 18 Februari 2014

lelaki pemalu



Sebuah lagu berjudul lelaki pemalu dari Efek Rumah Kaca (ERK) mengalun ditelinga dari sepasang headset berwarna hitam. Lagu ini membuat mataku terpejam sejenak sambil terbaring diatas karpet berwarna cokelat. Entah kenapa aku seperti memasuki diriku. Bahkan lebih dalam.

Sekitar pukul 04.40, seorang muazin berteriak dari sebuah langgar dengan suara agak serak. Mulutku masih belum menguap meski kepala bagian belakang terasa ditekan. Rupanya Aku pun teringat padamu di hari yang gelap ini. Lirik lagu lelaki pemalu pun terngiang di otakku.

Nanti malam kan ia jerat rembulan; disimpan dalam sunyi hingga esok hari; lelah berpura-pura, bersandiwara, esok pagi kan seperti hari in; menyisakan duri , menyisakan perih, menyisakan sunyi.

Matahari dan rembulan seolah hanya bertukar tempat, tanpa aku melakukan sesuatu. Penyesalan seolah-olah tumbuh besar tiap hari berganti. Rasa itu semakin menekan dan menyesakan. Menurutku, menentukan waktu yang pas dengan ragu-ragu hanya beda tipis. Dan kali ini aku ragu. Setiap kali kesempatan menyambangiku, aku sering menghindar. sebab kupikir kesempatan itu hanya kebetulan, tidak benar-benar untukku.

Berharap gadis mengerti hatinya; tetes keringat mengalir mencoba melawan ragu.
Ada harapan agar kamu paham—mengutip judul lagu dari warkop—sebuah nyanyian kode. Setelah kutelusuri ulang apa yang telah kunyanyikan, memang suaraku biasa saja sehingga tak mengusik perhatianmu dan membuatmu menengok ke arahku. Meski untuk satu detik. Padahal jika kamu menengok, kenangan satu detik itu akan tersimpan rapih di otakku. Kuletakkan di tempat yang paling spesial. Agar aku tak perlu kehilangan bila ingin membuka ingatan tentang parasmu.

Aku adalah orang yang mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi. Tentunya mencari tahu tentang kamu. Hampir setiap aku masuk ke dunia maya, tak lupa aku sempatkan diri tuk melihat berandamu. Aku selalu berharap kamu sedang bermain di beranda agar hariku saat itu menjadi cerah karena melihatmu. Jika kamu sedang bermain, aku hanya berani melihat dari kejauhan tanpa mendekati pagar rumahmu. Tapi jika tidak, setidaknya terdapat sesuatu yang berbekas diberandamu. Agak aku tahu aktivitasmu di hari itu.

Suatu hari, kamu pernah meningalkan sebuah kamera di beranda. Sesegera mungkin aku otak-atik kamera itu. Mungkin aku lancang karena menembus gerbang rumahmu yang tak terkunci. Aku ingin memastikan bahwa di kamera itu tak ada gambar seorang laki-laki. Meski Sesekali aku dikagetkan dengan adanya sesosok laki-laki di gambar digital itu. Tapi, mau dikata apa, aku tak bisa melarangmu. Aku bukan polisi yang bisa menghukum. Aku juga bukan anggota DPR yang mambuat aturan. Aku pun bukan seorang pemimpin yang punya hak prerogatif.

Senja akan segera berlalu; seorang lelaki melintas menyimpan malu; menyusul langkah sang gadis yang mungil; tapak kakinya yang lelah menyisakan perih.
Pernah di saat matahari yang lelah mulai menghilang dari balik gedung-gedung. Guratan merah horizontal menghiasi langit, kamu meninggalkan sebuah pemutar musik di berandamu. Sekali lagi, aku lancang memasuki berandamu tanpa izin. Aku ingin mengetahui lagu apa yang kamu dengar hari itu. Sebab aku percaya, lagu yang ada di sana merefleksikan apa yang sedang kamu rasakan.

Pernah aku temui sebuah lagu tentang jatuh cinta. Terkadang aku terlalu percaya diri bahwa lagu itu untukku. bibirku pun tersenyum dengan sendirinya. Meski jika ditinjau dari logika, kemungkinan lagu itu untukku adalah 10 persen. Tak apa. Itu membuatku senang.
Tapi aku adalah seorang lelaki yang hanya berani melihatmu dari kejauhan atau dari suatu tempat dimana kau tak bisa melihatku. Sebab saat ini aku adalah lelaki pemalu yang sedang mengikuti jejakmu. Sedang memperhatikan gesturmu. Sedang mengamati senyummu. Itu yang bisa kulakukan saat ini.

Ruang tengah, lantai dua
02.30
19/02/2014

Selasa, 04 Februari 2014

Untuk Cahaya


Salam. Semoga kau selalu dalam lindungan Zat yang maha pelindung, Tuhan. Sepertinya sudah lama kita tak bertegur sapa. Ya memang, dalam segala pertemuan kita hanya bertegur sapa, tak pernah lebih. Bagaimana kabarmu? Semoga kau sehat. Amin.

Cahaya, Kau tahu, perasaanku sudah tak tertahan untuk menulis tentangmu. Saat ini adalah dua pertiga malam. waktu yang sangat tepat untuk merenung. Sebab malam ini sungguh sunyi sepi. Hanya bunyi jangkrik yang begitu terasa dan mungkin sesekali suara kendaraan bermotor memecah kesuyian malam.

Kulihat ke luar jendela dari kamarku, hanya hitam warna yang terlihat. Kupikir malam ini kau menjadi penerangnya. Cahaya, kau tahu, begitu banyak buku yang ingin kubaca, aku juga ingin menyelesaikan skripsiku, dan masih banyak hal lain yang sangat penting, tapi tampaknya, saat ini kau menjadi sangat penting bagiku. Aku ingin memutar ingatanku dan memikirkanmu.

Cahaya, aku lupa kapan terakhir kau hadir di depan kedua bola mataku, tapi seingatku kita bertemu di ruang teater. Waku itu aku baru saja menyelesaikan ujian akuntansi biaya dan sedang membenahi barang-barangku. Tapi tanpa sengaja aku melihatmu sedang duduk di belakang. Mungkin setelah tempat ujianku, ruang ini menjadi tempat ujianmu.

Cahaya, Aku kira kau tahu keberadaanku waktu itu, tapi kamu seoalah-olah tak melihat dan sedikit memalingkan wajah. Ah. Itu yang aku suka padamu. Malu-malu. Aku pun segera keluar tanpa menegurmu juga.

Saat itu, kau tahu, langit sedang menghitam, air pun turun dari langit. Ya memang, hujan sering membuat cerita menjadi dramatis. Tapi itulah hujan. Rintik-rintiknya terkadang membawa rindu. Mungkin hujan waktu itu menjadi tanda bahwa kita tak akan bertemu lagi. Tapi entahlah, selalu ada misteri di masa depan. Seperti yang diungkapkan Oogway dalam film Kungfu Panda, “Yesterday is history, tommorow is a mystery, but today is a gift.”

Saat pertama kali bertemu dengamu, aku tak menduga akan mempunyai cerita seperti saat ini. tapi tak apa, Hari ini kuanggap sebagai hadiah dari Tuhan karena masih mengingatmu.

Cahaya, agaknya aku ingin menceritakan bagaimana pertemuan pertama kita yang sederhana itu. kupikir kau tak pernah menyadarinya atau mungkin tak perduli. Dulu, kita sedang Ospek dalam satu ruangan yang sama. Grup ospekmu berada di sebelah grup ospekku. Ketika sedang duduk, beberapa pria di grupku agak berbisik memberi tanda kalau kau datang. Namun kau tahu, aku tak begitu peduli.

Waktu itu, jika tak salah ingat, kau mengenakan rok dan kemeja berwarna putih. Kau terlihat cantik. Kupikir, warna putih begitu cocok untukmu sebab semakin membuatmu bercahaya seperti namamu. Saat kulihat matamu, ada aura yang terpancar. Kau pun terlihat manis dengan alis lentikmu. Namun aku tak peduli sebab aku begitu mengantuk waktu itu. Aku pun tidur saat Ospek berlangsung, namun sepertinya posisiku tidurku mengundang tawa bagimu.

Namun karena beberapa temanku masih terus mengagumimu, aku pun ingin mengetahuimu juga. Ngantuk pun mulai sedikit menghilang. Sampai akhirnya aku bertanya kepadamu. “Ada apa sih, kok pada ketawa?” kataku. “Oh itu ada yang lucu di depan,” ucapmu sambil menyambut senyumku.

Setelah kejadian itu, aku pun mencarimu. Beberapa kali aku juga mencarimu bersama teman satu grup denganku saat Ospek. Cahaya, temanku pun mengagumimu. Aku pun tahu banyak dari kawan-kawan di tempat itu juga mengagumimu. Sepertinya, usahaku waktu itu belum diberi jalan oleh Tuhan hingga aku tak menemukan sesuatu yang bersinar yaitu kamu.

Tampaknya, zaman bergerak begitu cepat ya. Dahulu internet menjadi sesuatu yang langka. Tapi saat ini, internet sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Sosial media pun tumbuh menjamur dan sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia Indonesia. Dulu, aku pernah menambahkanmu sebagai teman di facebook. Mungkin, bagimu waktu itu, aku adalah orang asing sehingga permintaanku sebagai teman ternyata ditolak olehmu.

Kau tahu, aku begitu kesal. Sampai pada akhirnya aku berujar dalam hati “Lihat, nanti lu yang bakal nge add facebook gw.” Akhirnya, aku tak pernah lagi mencarimu. Tapi, kupikir kau pasti tahu bahwa kamu sering dibicarakan olehku, temanku dan orang lain.

Sebentar Cahaya, aku mencoba mencari jejakmu diingatanku. Terlalu banyak hal yang harus diingat sehingga ruang untukmu diingatanku agak sedikit mengecil. Tapi yasudahlah. Oh ya, aku ingin bertanya kepadamu, apakah kau memberi ruang untukku diingatanmu?

***

Cahaya, waktu berlalu begitu cepat, sampai akhirnya kita sudah melewati beberapa semester di kampus itu. Aku sibuk dengan urusanku di kampus. Aku ikut dalam sebuah UKM yang bergerak di bidang tulis menulis, dan Aku sibuk dengan berbagai kegiatan dalamnya. Entah denganmu.

Tapi pada suatu ketika, pada bulan Ramadhan 2 tahun lalu, atau tepatnya pada bulan Agustus 2011, aku melihat notifikasi di facebook. Di situ kulihat namamu meminta bertemen denganku. Aku pun senang bukan kepalang meski aku tak tahu apa tujuanmu itu. Akhirnya kata hatiku terwujud. Meski begitu, aku tak langsung menerimamu sebagai teman, tapi kutunggu beberapa hari terlebih dahulu.

Barangkali, dari sini awal mula kita menjalin komunikasi. Ya melalui dunia maya. Dunia abstrak. Dunia yang menumpang di dunia manusia. Dunia yang menelurkan media sosial. melalui sosial media, banyak orang yang berpisah menjadi bersatu. Orang yang terlupakan bisa mencuat kembalik. Orang yang awalnya tak kenal bisa menjadi sepasang kekasih. Mungkin itu bisa disebut keajaiban sosial media.

Kau tahu Cahaya, media sosial membuat kita bisa berhubungan. Dimulai dari tegur sapa, sampai akhirnya kita membiacarakan banyak hal. Tentang perkualiahan, tentang dosen, tentang kawan yang kita kenal, tentang mantan kekasih, tentang film, tentang hobi, tentang apapun.

Pada sapaan pertama kita di dunia maya itu, kau sangat terbuka dan ramah menyambutku. Itu semakin membuatku nyaman. Awalnya kupikir, kau tipe orang yang cuek. Tapi ternyata tidak. Kita akhirnya terlibat beberapa obrolan yang intens.

Obroloan itu tanpa terasa membuat waktu menjadi dua kali lebih cepat. Dari sehabis tarawih sampai menjelang sahur kita membicarakan banyak hal. Padahal keesokan harinya kau ingin berangkat ke kampus, sampai akhirnya kau menyuruhku bertanggung jawab membangunkanmu karena obrolan kita membuatmu tak tidur.

Bagaimana tak senang? Aku mendapatkan nomor telepon genggammu. Untuk membangunkanmu tepat waktu, kau tahu, aku tak bisa tidur. Pada saat yang ditentukan aku membangukanmu. “woi bangun, bangun,” ujarku. “iya, ini udah bangun,” ucapmu waktu itu jika aku tak salah ingat. “udah bangun kan, oke deh,” ujarku. Percakapan kita pun berakhir.

Kau tahu, aku tak bisa berkata banyak-banyak saat meneleponmu itu. Dadaku berdetak begitu kencang. Aku bertindak bodoh, padahal itu satu kesempatan untuk mendengar suaramu langsung. Tapi, aku adalah tipe orang yang menjadi pengecut saat berhadapan orang yang ku suka. Begitu Cahaya.

Nyaliku ciut, dada berdetak begitu cepat, pikiran mengawang-awang. Begitulah aku jika berhadapan dengan orang yang kusuka. Setelah kejadian itu kita tetep berhubungan, dan semakin akrab. Namun karena aku terlalu banyak pertimbangan untuk medekatimu, jadi aku terkadang ciut.
Terlebih ketika kau menyebutkan bahwa, kau lebih ingin menjalin hubungan percintaan dengan orang yang lebih tua denganmu. Kepercayaan yang sudah kubangun menjadi runtuh. Namun kita masih berhubungan bukan.

Sampai pada akhirnya, kau tak membalas beberapa percakapanku. Kau bahkan tak mengenalku di yahoo mail. Itu membuatku semakin jatuh dan jatuh. Tapi aku tetap mencoba. Kau membalas tapi dengan sekadarnya. Hubunganku denganmu menjadi tidak enak. Aku pun menjadi malas.

Kau tahu, terlalu banyak manusia yang berubah tiba-tiba. Aku mempelajari banyak hal dari organisasi yang kuikuti. Bahkan penyerahan tubuh pun tak menjamin sikapnya dan komitmennya.

Pada saat-saat tertentu, aku masih berharap. Terkadang terlintas keinginanku untuk kembali mendeekatimu, tapi setelah memikirkannya lagi kuurungkan. Begitu dan begitu seterusnya. Sampai akhirnya aku mempunyai keyakinan penuh untuk mendekatimu kembali. Kuatur strategi, aku menganalisis semua kemungkinan yang terjadi, kukumpulkan semua data pendukung tentangmu agar strategi yang kususun bisa berhasil. Tekad sudah kubulatkan. Keyakinan pun sudah terisi penuh. Selanjutnya adalah eksekusi.

***
Hai cahaya, pada suatu ketika aku bertemu dengan teman sekelas di jalan. aku mengobrol sebentar. Saat itu, senja sudah mulai menampakan sinarnya. Jingga. Sinar jingga itu mungkin yang menunjukan bahwa hari mulai gelap. Hingga pada akhirnya ia mengatakan sesuatu secara tidak sengaja. “eh, si ‘cahaya’ udah nikah ya?” ujarnya. Dari situ, aku diam sejenak.

Namum aku sedikit pandai menyembunyikan rasa, hingga akhirnya kabar itu menjadi bahan bercandaan dan lelucun saja. Ketika di rumah, kucari tahu informasi melalui sosial media, ternyata ada indikasi bahwa itu benar terjadi. Ada beberapa ucapan selamat yang dialamatkan kepadanya.

Segala strategi itu pun akhirnya kubatalkan. “Yasudah, mau bagaimana lagi,” ujarku dalam hati. Beberapa minggu kemudian, foto-foto pernikahannya muncul di media sosial. Akhirnya terlihat juga. Pada satu foto tersebut, aku klik tulisan “like” di facebook. Mungkin “like” di situ kumaksudkan sebagai hadiah dariku untukmu yang sudah menempuh hidup baru.

Kabar pada saat senja itu menjadi obrolan yang kurang tepat. Mungkin senja sengaja datang lebih cepat agar malam bisa datang lebih cepat. Seperti halnya kabar yang begitu cepat agar aku lebih cepat tahu kalau dia membuatku sedikit kelam. Tapi yasudahlah. Kuharap kau bahagia. Kabar terakhir kau telah mempunyai anak ya, semoga anakmu sehat dan kau selalu menjadi cahaya, setidaknya untuk anak dan suamimu.


Terima kasih.
Salam

Ruang tengah, lantai dua.
05/02/2014