Selasa, 12 September 2017

Perspektif

Kubilang, “kau butuh kertas putih untuk mencetak tugas-tugas penelitianmu, bukan?”
“Tentu. Putih, bersih, Suci. Adakah orang yang tak suka kertas putih,” tanyamu.
“Maksudmu?”
“Kertas putih selalu dibutuhkan dimana-mana, bukan?”
“Mungkin,”

Lalu kita berjalan sejajar, menelusuri lorong-lorong sempit dengan tumpukan-tumpukan kertas bercover yang tersusun rapih.

“Lihat?” serumu.
“Ada apa?” tanyaku
“Ada noda di sini.”
“Hanya berupa titik hitam. Tak signifikan,” ujarku
“Aku cari yang lain saja,” tukasmu
“Kenapa? Ini stok terakhir di sini,” paksaku.
“Kau tak masalah bukan untuk ke toko lain?”
“Aku tak masalah. Tapi, tiitik ini akan tertimpa tinta, lalu tak terlihat.” Aku berusaha meyakinkan.
“Lebih baik mencegah, bukan?”
“Tentu,”


Lalu kita berpindah pada toko yang lain. Kemudian, kita melewati tumpukan kertas.

“Ini tumpukan ketas hitam, ayo kita pindah ke tumpukan kertas putih di sana!”
“Adakah kau melihat titik putih di sini,”ujarku.
“Tidak terlihat kok. Itu hitam pekat. Gelap.”
“Hitam memang sering jadi perhatian.”
“Maksudmu,”
“Tidak apa. Ini masalah perspektif saja.”
“Maksudmu?"
"Tidak," ucapku dengan malas
"Ayo kita bayar, aku sudah ambil kertas putihnya.”
“Oke.”


Bilik Mimpi
12/9/2017
8:04