Selasa, 22 Agustus 2017

Terjerat

Setiap kita punya misi. Itu yang membuat kita hidup. Begitu juga kau. Aku tahu misimu meski selalu kau sembunyikan dibalik wajah ceria meronamu. Serupa udang yang bersembunyi di bebatuan, tak terlihat pada awalnya, meski akhirnya terciduk juga.

Pemberontakan. Agak ekstrim awalnya. Lalu kau datang kepadaku, serupa propagandis ketika mengajak massa bergerak. Kau bercerita begitu semangat tentang kebebasan untuk memilih, berpendapat, dan berkumpul. Ibarat bangsa yang dijajah tirani, kau ingin bebas dari kedigdayaan diktator otoriter yang melumat kesederhanaan menjadi kemiskinan.

Tanpa banyak kata. Kata-kata iya, boleh, ayo, siap, terlontar dari mulutku. Sederhana. Lalu kita melangkah bersama. Unjuk rasa kecil-kecilan kita lakukan. Namun saat ada aksi dari pihak istana, kau takluk. Lalu kau diguyur dengan kemewahan, keindahan, dan angan-angan akan perubahan di masa depan. Janji setia terucap di atas dunia yang penuh ketidaktentuan.

"Oh, yasudah jika memang cukup," ujarku ketika kau anggap perjuangan telah usai. Kita tak berjumpa. Entah beberapa lama. Dunia berputar seperti biasa. Yang berkecukupan menjadi berlebih, yang berkekuranga menjadi tak punya. Selalu ada dua kutub di dunia ini. Mungkin itu yang membuat dunia seimbang.

Hingga pada suatu masa kita berjumpa. Kukira kau serupa kacang yang isinya selalu ditelan dan kulitnya selalu dibuang. Tapi nyatanya tidak. Lalu kita bicara tentang perjuangan. Oh kau rupanya terjebak. Hutang budimu terlalu banyak hingga tak ada pilihan kecuali pasrah.

Aku sudah pernah katakan, bukan? jangan percaya pada si mulut besar. Dia pandai membual dan tidak lucu.

engan maksud yang samar, kau mengajaku melawan untuk kedua kalinya.. Ah, tak sulit membacamu, kau perempuan yang emosinya selalu tercurah. Kuterima ajakanmu untuk kedua kalinya. Unjuk rasa yang lebih ektrim kita lakukan. Perlahan tapi pasti kita maju. Hal itu membuat istananya bergetar, dan dia mulai was-was.

Perlawanan semakin masif. Dia pun menyerah. Kemudian, aku dicari, ingin diberi kemewahan yang sebetulnya tidak seberapa. Setelah kurenungkan sejenak, ternyata, dia pun tidak ada apa-apanya kecuali kesombongan dari kebohongan yang ingin menunjukan kebesaran namun sebetulnya menggambarkan kejatuhan.

"Oh segitu saja."

Kini kau terjebak. Dia memberimu janji untuk kesekian kali, mencoba menawarkan masa depan dengan bualan. Kau tahu sebetulnya dia sedang bersilat lidah, tapi ada hal yang selalu menahanmu pergi, yaitu; Balas budi.

Sedangkan aku di sini dengan kesederhanaan yang sebetulnya merupakan kemewahan hidup. Kini aku hanya tertawa. Sepenuh hatimu memilih kebebasan, dan lingkunganmu menuntut tuntasnya utang. Jangan memilih, saranku. Sebab aku bukanlah pilihan. Unjuk rasa itu, biarlah berlalu, melapuk, bersama angin dan hujan. Sedangkan perjuangan kita, tak perlu dikenang.