Minggu, 08 April 2018

Unjuk Rasa

Kali ini kita bertemu di ketinggian ketika cahaya kelap-kelip datang dari kunang-kunang. Jika kita persilahkan waktu menghitung ulang, sudah 2 x 365 hari kita tak beradu pandang. Tentu saja, waktu selalu menang dan kita adalah para pecundang.

Kau tatap kota tanpa kata sementara aku duduk di tepi kasur yang tak berenda. Masing-masing kita mempersilahkan kesunyian menyapa, berdua, kita hanya memberi isyarat lewat mata.

Waktu sudah memberi tanda, agar kita menunjukan rasa. Ada hal terpendam yang ingin dituntaskan dengan segera. Tentu saja tentang kita.

Mencipta, Lagi

Ini soal menumpahkan ide.
mengalir
tak beraturan
menelusuri ruang
melintasi imajinasi
menerbangkan jiwa



Masa Lalu

Masa lalu bagiku adalah jeratan tak kasat mata. Aku selalu terjebak dan terpenjara oleh rindu yang tak pernah tuntas. Rindu pada sesuatu kejayaan dan penyesalan yang tak bisa kutemui lagi. Masa lalu selalu membuat kesempatan hidup di dunia menjadi tak produktif atas lamunan-lamunan yang tak bisa tercapai. Sebuah mimpi yang tak pernah terwujud meski didorong oleh ambisi dan usaha. Sekarang, ia menjeratku untuk kesekian kalinya pada 2/3 malam yang sunyi.
Mungkin, ada baiknya aku tidur, proyek di masa depan telah menanti.