Senin, 31 Januari 2011

Sebuah Perjalanan Kecil

Setelah beberapa jam perjalan atau tepatnya lebih dari 3 jam akhirnya aku dan beberapa temanku sampai di sebuah tempat yang memang kami sudah rencanakan sebelumnya.
          Setelah melewati perjalanan yang lumayan panjang, yang dimulai dari sebuah kampus yang terletak disudut kota tangerang, tepatnya UIN jakarta. “Sebelum kita berangkat ada baiknya kita berdoa untuk keselamatan kita diperjalanan,” ucap Adis Alkhalifa selaku ketua dalam perjalana kali ini. Dia mengenakan jaket hijau hitam  yang bertuliskan “magma still writen”. Menggunakan celana jeans hitam panjang, bermotor batangan berwarna merah dan berhelm merah.
“Ingat susunan masing-masing, Umar sama Tiwi di depan sebagai pengatur kecepatan, gue di belakang, jangan saling mendahului,” kata Galih Ihsan yang menjabat sebagai KM baik dikampus maupun diluar kampus, Jabatan ini nampaknya tak mau lepas darinya.
Pukul 09.00 WIB kami meluncur kearah bogor dengan melewati pasar-pasar, satu peket beserta kemacetanya.
Batas antara Tangerang dan Bogor pun terlewati, yang artinya kami telah memasuki kota hujan, Di tengah perjalanan kami berehenti untuk menjemput seorang teman bernama Fahmi Setiawan yang terlihat dari kejauhan sedang menenteng sebuah helm hitam dengan list berwarna merah. Fahmi telah menunggu di dekat sebuah swalayan yang bernama mal Jogja namun terletak di daerah Bogor.
            Kami berkumpul setelah berjumpa dengan Fahmi. Galih yang namanya berarti sebatang kayu yang kuat, mengingatkan “Ingat susunan masing-masing!, jangan saling mendahului.” sehabis itu perjalana segera di lanjutkan kearah puncak, beberapa pemberhentian dilakukan untuk mengisi amunisi kendaraan sebagai cadangan untuk bertempur melawan jarak.
            Setelah berkendaraan kurang-lebih 2 jam, kawasan puncak kami masuki, pohon teh hijau segar terlihat jelas dari jarak dekat, dengan sengkedan tersusun rapi menanjak di sebelah kiri maupun kanan. Pagar-pagar pembatas sudah ada, jurang-jurang terlihat cukup menyeramkan, namun perjalanan mesti berlanjut. Warung-warung berjejer di pinggir jurang, baik  menjual makanan, sampai menjual tanaman hias atau pajangan yang terbuat dari batang kayu yang di awetkan. Jalanan yang menanjak dengan berbagai tikungan, tajam maupun tidak, mengiringi perjalanna kami. Udara dingin sudah terasa dikulit yang sensitive, dan tak terasa setelah memacu kendaraan roda dua ini  pada akhirnya kami berada di tempat paling tinggi di daerah itu.
            Puncak pas terlewati begitu saja tanpa peduli sedikit pun, setelah itu jalanan menurun menunggu di depan. Sedikit masalah terjadi pada teman kami yang nasibnya belum baik pada saat itu. Saat sedang menunggu, seorang polisi jahil kekurangan uang yang ingin menambah buncit perutnya menghampiri, dengan motor besar, seragam polisi, rompi hijau, sepatu boat, polisi itu menilang beberapa teman kami di daerah Botol Kecap.
            Sambil menunggu teman (Rifki Sulviar dan Amri Irawan yang menggunakan motor matic berwarna biru serta Adis dan Adi Nugraha yang menggunakan motor batangan merah) yang bernasib sial itu. Kami duduk disebuah warung kecil untuk minum. Wahidiyat Fauzi, pria yang  menggunakan celana street hitam serta menggenakan jaket biru hitam yang bertuliskan GANCO FC dana namanya, diseliselingi oleh gambar yang terlihat sedang menendang bola, bersama Galih menyambangi teman yang bernasib sial itu.
Risyad Adam, seorang pria tambun, berjalan unik, dengan helm yang bermerk transformer, merasa dingin dan berkata “Rokok dong, dingin nich.” Dengan suara yang bernada datar namun berlogat unik. Karena beberapa teman tak ada yang mempunyai rokok akhirnya Fahmi membeli rokok dengan menggunakan uang Adam, setelah merokok sebentar, teman kami yang bernasib sial datang, dan beberapa menit kemudian Wahi dan Galih datang dengan berjalan kaki.
Setelah berjalan sebentar, kami pun sudah sampai di daerah cipanas. Pasar, serta istana presiden sudah terlewati, kami pun mulai untuk masuk ke daerah pedesaan, seorang lelaki terlihat sedang berjalan  menenteng pacul, dan bertopi yang terbuat dari anyaman bamboo. Lainya terlihat sedang membawa hasil petikan mereka dikebun. Anak-anak yang berseragam putih merah berlarian, namun ada pula yang berjalan. Anak-anak itu memperhatika kami seolah-olah rombongan presiden lewat.
Jalanan berbatu, serta tanjakan yang curam sangat terasa sekali, munfkin karena di Jakarta jarang menemui jalan seperti ini. Namun rute perjalanan ini harus kita lalui. Skill berkendaraan kami sangat dicoba, Karena bukan tanjakan saja, turunan, serta jembatan kecil yang terbuat  dari kayu pun harus kita lewati.
Tak jauh dari jembatan ini. Pada akhirnya kami sampai juga di pondokan yang beralamat di Kampung Gunung, Desa Sindang Jaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur. Rt.04/09 no.51.
Setelah sampai kami pun tidak bisa langsung ber istirahat karena ada beberapa teman kami sedang kesulitan berurusan dengan mobilnya.

Bersambung..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar