Sabtu, 02 April 2011

Serobek Kertas

Pagi yang terik kali itu, matahari masuk dari sela-sela jendela tanpa tertutup gorden, kaca jendela seperti tak mampu menahan laju terangnya cahaya, menyinari ruangan yang sempit karena banyaknya peralatan. Dan memaksa Yahya untuk membuka mata serta menatap dunia. Sisa mabuk semalam masih terasa di kepalanya saat bangun. Bagian belakang kepala seperti terselip krikil besar sampai menyentuh tengkorak. Akhirnya remaja tanggung ini tertidur lagi tanpa sadar telah membuk matanya sebentar.

Jarum pendek jam dinding menunjuk kearah 11, yahya terbangun lagi, dunia terlihat datar dalam ruang kamarnya, matahari sudah meninggi seakan memaksa kerbau pemalas untuk menyeka belek dari matanya. Peningya sudah tidak terlalu berasa. Dia masih telentang diatas kasur selama beberapa menit untuk menyiapkan dirinya tegak. ketika sudah cukup bertenaga, dia mengangkat badan, nenopang badanya dengan tangan dan berdiri, Siulan otot terdengar tak kala andre menekuk badanya ke kiri dan kanan. Lalu dia mulai berjalan menuju pintu dan tangan kanannya membuka pintu kamar yang terkunci.

Tadi pagi daun pintu kamar sudah digedor berkali-kali oleh ibunya, namun tak ada tanggapan. Yahya masih bermain di alam mimpi dan belum pulang kealam nyata. Ibunyapun bosan, lalu meninggalkan pergi. Rumahnya kosong waktu itu. Ibunya sudah melangkahkan kakinya untuk bekerja sebagai akuntan dan ayahnya sedang berada di Asutralia selama sebulan untuk studi banding antar perusahaan.

Rumahpun sepi, hanya tersisa satu manusia dan para peralatan penopang hidupnya. Tujuan pertama Yahya kala itu adalah makanan, perutnya terkentut-kentut karena lapar. Dari semalam Yahya memang belum mengkonsumsi nasi sedikitpun. Perutnya terisi oleh air beer asal eropa. Pesta alcohol semalam sudah membuatnya lupa makan, jadwal kuliah hari ini pun tak ia ikuti, mungkin terlah terlupakan oleh alcohol yang merambah keotaknya.

Bel rumah berbunyi saat yahya sedang makan. Piring yang masih penuh dengan makanan ditinggalnya. Pamanya datang. Yahya pun menyambut. Mereka berdua pun masuk.

“Wah tamu jauh ni datang, apa kabar om?”
“Eh yahya, baik ya, nggak kuliah?”
“wah lagi nggak om, dosenya lagi sibuk jadi libur,” yahya memberikan alasan agar tidak malu.
“oh baguslah. om datang kesini karena ingin membayar hutang ke ibumu.”
“oh begitu, okelahh, anggap saja rumah sendiri.”
“kamu bisa aja Ya, haha.”

Mereka berdua sangat akrab. Perbedaan usia yang sangat jauh, tak membedakan obrolan mereka. Keakraban sangat terasa seperti sorang sahabat yang telah lama berpisah. Kadang tertawa, berdebat, memberi opini tentang polemik yang sedang terjadi dll. Sampai akhirnya wejangan dari seorang paman kepada seorang kemenakan membuat suasana menjadi sepi sejenak.
“Kamu berbaktilah kepada orang tuamu, jangan sampai mengecewakanya, sungguh berat perjuanganya saat melahirkanmu.”


***
Lalu yahya menyimak pamanya yang mulai bercerita setelah memberi wejangan

aku yakin ibumu tak pernah bercerita, jadi aku bercerita karena aku dengar kau mulai tak sopan dengan ibumu. Begini, Ibumu sering bercerita tentang kenakalanmu. Aku hanya ingin memberitahu kamu bagimana susahnya dia melahirkan kamu, agar kamu mengerti bagaimana ibumu sayang padamu. Jadi jangan lah kau sakiti ibumu.

Dulu, Ibumu melahirkan dua anak lebih dulu sebelum kamu. Kakak pertamamu keguguran saat kandungan ibumu masih berusia 6 bulan. Kesedihan ibumu sangat mendalam waktu itu, anak pertama hasil buah cinta ayah dan ibumu gagal dilahirkan. Kabarnya, Penyebab keguguran karena terlalu lelah ibumu. mengejar deadline untuk menyerahkan laporan keuangan yang belum selesai.

Setelah itu, Kakak keduamu juga meninggal saat berusia setengah tahun karena penyakit. Ibumu sudah dua kali gagal sampai pernah depresi, Tidak makan dan minum selama dua hari. Terlebih ibumu pernah menyuruh ayahmu untuk menikah lagi agar mendapatkan anak. Kegagalan ibumu yang kedua menjadi dasar untuk mengizinkan ayahnmu berpoligami. Ibumu sudah sangat pasrah terhadap keadaan. Namun ayahmu selalu memberi motivasi agar segera bangkit dan bersemangat menjalani hidup.

Banyak usaha yang telah dilakukan, sampai-sampai ibumu pergi ke orang pintar untuk mendapat nasihat, tetapi tetap saja tak ada hasilnya. Disamping itu, Hampir tiap malam ibumu berdoa agar dititipkan buah hati oleh Tuhan, sampai dua tahun ibumu tak diberi namun ibumu tetap gigih, semakin rajin berdoa, membaca buku ini dan itu, mencari informasi sana-sini, dan itu semua karena ibumu mempunyai keinginan yang kuat untuk mempunyai anak agar tak mengecewakan ayah.

Satu tahun kemudian ibumu berbadan dua lagi, Mungkin Tuhan kasihan, akhirnya perut ibumu berisi setelah melakukan banyak usaha dan dibalut doa. Ibumupun bersyukur dan sangat menjaga amanat dari tuhan. Sehingga dia sangat hati-hati terhadap titipanya. Setiap sedikit hal aneh terdapat pada kandungan, dengan segera ibumu langsung membawanya kedokter. Tak peduli dengan biaya. Semua dilakukan untuk pertumbuhanmu di dalam perut. Bukan hanya itu, secara rutin, ibumu memeriksa kandunganya kedokter. Segala nasihat dokterpun diturutinya tanpa terkecuali.

Pernah suatu waktu, ibumu mengalami pendarahan hebat sehabis jatuh saat menaiki tangga. Mobil ambulanpun dipanggil. 15 menit kemudian suara keras mobil memecah kesunyian kampung, seisi rumah panik dan segera bergegas menuju suara itu. Ibumu dibawa menuju rumah sakit terdekat.

Kata dokter, kesempatanmu untuk hidup hanya sepulih persen. ibumu terkaget-kaget mendengarnya. Walau begitu ibunya tetap berusaha agar anaknya tetap selamat. Ibumu memaksa dokter untuk melakukan apa saja agar kandunganya selamat.

Doa semakin sering dilakukan ibumu. Doanya melebihi permintaan-permintaan lain. Bahkan Ibumu yang sedang terbaring di kasur rumah sakit, menyuruh ayahmu untuk memanggil orang satu kampung beserta beberapa ustad ternama untuk mendoakanya.

lagi-lagi tuhan kasihan melihat ibumu, kabar gembirapun datang. Dokter menyatakan bila kondisi ibumu membaik sejalan dengan waktu. Sebulan kemudian kamu lahir. Nama Yahya diberikan kepadamu. Sebenernya nama itu mempunya arti yang mendalam. Kata Yahya berasal dari kata berbahasa arab yang berati HIDUP, karena mendapatkan kegagalan selama dua kali maka kedua orang tuamu menamakanmu Yahya agar kamu tetap hidup. Kedua orang tuamu percaya jika nama adalah doa .

Sejak lahir kamu dirawat dengan baik oleh kedua orang tuamu, bila sakit sedikit, ibumu langsung membawamu ke dokter. Bahkan ibumu sampai berhenti bekerja agar bisa lebih intensif menjagamu dan didekatmu, karena kamu merupakan anak semata wayangnya.

Cobaan tampaknya tak berhenti begitu saja, saat Usiamu 3 tahun lebih 3 hari. Cuaca mendung, kelabu pekat. Hanjunpun mengguyur bumi. Ketika itu orangtuamu sedang membangun rumah baru. Lubang-lubang terisi oleh air hujan. Ganasnya hujan itu akhirnya berhenti 30 menit kemudian. Mentari bersinar lagi.

Aku dan ibumu mengecek kondisi rumah setelah hujan besar itu, kamu turut serta dibawanya. Karna jalan didalam rumah baru itu licin dan bertanah akhirnya hanya aku dan ibumu saja yang masuk untuk melihat kondisi kerangka rumah sedangkan kamu didukan dibangku beranda yang tak becek. Aku terus mengecek dan ibumu hanya sebantar saja karma khawatir terhadapmu. Ternyata kekhatiran ibumu benar, kamu sudah tidak ada ditempat, ibumu seraya berteriak, aku yang sedang melihat sontak dan kaget, aku langsung bergegas menghampiri. Keika mendekat terlihat ibumu panic mencarimu, akupun menjadi panic.

Segera pikiran negative datang, aku langsung mencari orang yang berada di dekat rumah, pikirku kamu diculik, tetapi memang tak ada siapapun didekat rumah saat berkeliling, ibumu berteriak lagi dengan tersengal-senggal hampir pingsan saat melihat gelembung di dalam septictank yang baru digali, akupun langsung meraba, ternyata benar saja, kamu hampir tenggelam di septictank yang baru digali, kami pun segera berangkat kerumah sakit dengan tergesa-gesa.

Diperjalanan, yang dilakukan ibumu hanya berdoa dan berdoa, nafasnya hampir lepas karena sesak melihat anaknya yang sehabis tenggelam. Beruntung rumah sakit hanya lima menit dari rumah barumu.

Sesampainya dirumah sakit, aku langsung menuju unit gawat darurat, dan diperiksalah kamu, untung saja tidak terjadi apa-apa denganmu, kata dokter kamu hanya tenggelam kira-kira sekitar 10 detik, dan tak terlalu parah. Hampir saja kau pergi meninggalkan ibumu.

Beberapa kali tuhan ingin mengambil titipanya yang dipegang ibumu, namun saat itu pula ibumu meminta dengan sangat agar jangan terlalu cepat mengambilmu. Kesabaran, keiklasan dan kegigihan ibumu lagi-lagi membuat Tuhan menunda untuk mengambilmu.

Bersyukur lah kau kepada tuhuna dan Banyak beerbaktilah kau kepada ibu.
***
Setelah bercerita selama lima jam, pamanya pun mulai bosan dan menunggu sambil menonton televisi, Yahya masih terdiam di tempat duduknya, mukanya menghadap tv namun pandanganya menembus dinding rumah, pergi ke suatu padang yang luas. Akalnya menggambarkan bayang-bayang pikiranya tentang dosa apa yang telah dilakukan manusia parasit sepertinya. Otaknya berusaha menarik partikel kisah lama tentang dosa, menerjang waktu, air mata darah berasa ingin keluar namun ditahan karena tak enak dengan pamanya. Yahya beranjak dari ruang tv dan pergi menuju kamarnya.

Yahya lalu duduk di depan meja tak malakukan sesuatu, hanya terdiam disatu tempat, stak dan tak tahu mesti berbuat apa, tanganya menopang dahi sambil menunduk, waktu berhembus begitu saja, tanpa mau menoleh kebelakang sampai langit pun mulai senja, seraya ibunya pulang serta menemui pamanya. Setelah urusnya selesai pamanya beranjak pulang diiringi langit yang mulai menghitam.

Saat ibunya pulang, Yahya tak berani menatap muka ibunya, kekusaman mukanya yang melumpuhkannya. Teriakan ibunya untuk makan malam, hanya dijawab sekedarnya oleh Yahya, ibunya yang sudah biasa dengan sikap Yahya, tak memaksa.

Yahya duduk dalam resah memikirkan sesuatu, dan berpindah-pindah tempat bersamaan dengan pikiranya melompat-lompat dari satu kejadian ke kejadian lain, tanpa mau berhenti. setiap nafas yang ditariknya mulai mendalam, seiring dadanya tertekan beban, tanpa memberi ampun, sesak.

Tanganya seperti tak bernyawa, hanya tergantung dipergelangan tangan tanpa berfungsi. Badanya lemas seperti mengambang, tak bergairah. Lelahpun mulai hinggap di mukanya tapi pikiranya tak mau berdamai tuk beristirahat sejenak, tatapan matanya tetap kosong tak berarti apa-apa, mulutnyapun susah berkata-kata, yang terlitas dalam pikiranya adalah ucapan berupa hujatan untuk dirinya sendiri.

Menit-demi menit berlalu, setetes airmatapun akhirnya keluar, dipaksa oleh dadanya yang sesak. Air itu Satu persatu turun, bergerak bebas tidak mengikuti jalurnya melewati pipi, serta dagu dan hilang ditelan baju. Ini merupakan tangis terbesarnya sejak dia masih SD sampai sekarang. Tanpa diseka air itu dibiairknaya mengalir. Matanya memerah dan hitungnya mulai mampet. Hujan air mata semain mendereas. Lama sudah ia menagis, matanyanya sudah sembab dan ia pun pergi kekamar mandi untuk membersihkan wajahnya dari air mata dosa.

Ia kembali lagi ke kamar dan merebakan badanya sebentar, tanpa sadar Pagipun menjelang, ia tak bisa tidur nyenyak karena pikiranya terus bekerja. Bandanya masih lelah akibat aktivitas semalam yang penuh penyesalan, matanya masih mengantuk namun pikiranya tak mau membawanya tidur, ia pun memksanya untuk tidur tapi matahari pagi dengan sinarnya yang menyilaukan melarangya tidur. Iapun bangun, pergi kamar mandi, membersihkan diri, dibenarkanya mukanya dengan air segar pagi itu. Ia berniat untuk pergi kuliah dan memperbaiki dirinya yang penuh dosa.

Ibunya sudah pergi kerja sejak awan hitam menguning, ia yang sendiri dirumah langsung berbenah, mulai berangkat, sebelum berangkat ia menempelkan secarik kertas didepan pintu kamar ibunya. Kertas itu bertuliskan

Untukmu, Ma

Mama, aku menulis ini dengan kertas peyesalan dosa dan tinta air mata.
Aku tak pernah membayangkan untuk melihat datarnya bumi yang bulat,
Mempesonanya matahari terbit dan tenggelam,
Melodi indah dari burung yang bersahutan,
Serta indanya dunia apabila kau tak ada

Mama, aku tahu
Aku tak peduli perasaanmu bila aku nakal
Aku tak peduli perasaanmu bila aku tak berpulang kerumah
Aku tak peduli perasaanmu bila kau memperdulikanku

Aku ingin bersujud didepanmu seraya meminta ampun

Mama, saat aku pulang nanti,
Aku ingin mencium tanganmu dan memelukmu
Sebagaimana anak- anak lain yang berbakti kepada mamanya


Iapun pergi dengan berpamitan pada rumahnya, menuju kampus.

***
Senjapun tiba, ibunya baru saja pulang dari kantor dan segera masuk seraya melepas penat dengan menaruh tasnya yang berat, menjatuhkan bokong sejanak diruang tamu dan menhela nafas. Tarikan dalam nafasnya membuat badanya serasa ringan. Ia pun segera memberesknya dan bergegas beranjak kekamar.

Sesampainya di depan pintu kamar, ia melihat serobek kertas menempel. Tas yang dipegangnya terjatuh serta membiarkanya. Tangan kananya mengambil dan matanya bergerak ke kanan, ke kiri mengikuti kata-kata yang tertera.

Perasaanya kaget, hatinyapun tersenyum membaca tulisan anaknya. Hanya saja dia terheran karena tak pernah ada sesuatu yang berbeda hari ini, semua kejadian sama, seperti biasa, dan datar. Cuacapun biasa tak ada perubahan, tak terang juga tak hujan, semua berjalan sesuai. Tak ada apapun, yang ada hanya secarik kertas ditanganya.
Hatinyapun berucap
“Semoga semua bertanda baik.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar