Senin, 02 Mei 2011

Nasib

Bang dodi masih memimpin tahlilan saat 40 hari meninggalnya bapak tom. Mulutnya komat-kamit melantunkan tahlil seirama dengan dengan gerak tanganya menarik-narik tasbih, berulang-ulang kali. Suaranya keras terdengar sampai keluar rumah bapak tom. bang dodi termasuk sedikit orang yang hafal benar susunan tahlil, mungkin karena dari kecil sering memimpin tahlil.

tahlil pun selesai setelah dua jam berlangsung. bang dodi yang berpenampilan sederhana, menyudahi dengan senyuman. Satu persatu para jemaat pulang kerumahnya, bang dodi pun ikut pulang dengan membawa amplop berisi uang dari keluarga tom. Sesampainya dirumah, istrinya sudah menunggu, duduk di ruang tamu, setengah tertidur. Daun pintu diketok bang dodi

“Asalamualaikum, ti…, abang pulang.”
“waalaikumsalam, iya, bentar bang,” istrinya membuka pintu pelan-pelan
“cepet bang tahlilanya, gimana dapet amplop nggak,”
“astagfiruwloh, pikiranya nggak berubah-berubah, abang baru pulang, bukanya ambil minum malah nanya ampolop,”
“amplopnya dulu bang, minum gampang, lagian kita udah ngga punya beras,utangjuga udah banyak.”

Dengan sabar bang dodi menyerahkan ampolop, lalu langsung pergi masuk ke kamar untuk beristirahat. Dengan tenang ia melangkah disertai wajah lelah namun masih dihiasi senyum untuk istrinya. Sesampainya di ranjang ia langsung merebahkan badan, beristirahat dan bersiap untuk membersihkan mushola besok pagi

“bang ko Cuma dapet segini, emang ngga minta lagi sama kelaurga tom, dia kan orang kaya, masa Cuma ngasih segini, minta lagi sana.”
Bang dodi menjawab dengan hati yang panas namun tetap berusaha tenang
“Udah syukurin aja, rezeki itu,”
Dan langsung dibalas oleh suara dengung yang mengisi diruang kamarnya.

***

bang dodi tinggal disebuah kampong yang tenang dan merupakan salah satu orang yang dihormati, tak ada yang tak kenal denganya.mulai dari anak-anak sampai orang tua, mulai dari pendatang sampai pribumi, mengenal baik bang dodi karena sikapnya yang ramah dan bersahaja.

Penampilanya sederhana, tak berlebih, yang dikenakanya sehari-hari hanya sebuah kaos yang didapat ketika seorang wakil rakyat berkmapanye, atau kaos bergambar merek rokok, ataupun kaos kutang putih yang dipadukan dengan celana bahan hitam atau hijau. Namun ia tak pernah merasa malu dengan keadaan penampilanya, bahkan orang-orang senang karena kesederhanaanya.

Berbeda bila saat beribadah dan pergi ke tempat hajatan. Ia selalu mengeluarkan pakaian terbaiknya meski pakaian terbaiknya hanya sebuah batik berwarna biru lusuh dengan warnanya sudah sedikit memudar atau sebuah kemeja putih bergaris hitam yang terlihat sudah lemas karena sering dicuci dan dipakai. Ini merupakan pakaian berharga baginya walaupun bisa disebut seperti pakaian yang sudah tak layak pakai.

Rambutnya putih, Wajahnya sudah kendur, banyak lipatan-lipatan dan kerutan, dibarengi dengan Kulit tangan yang sudah terlihat keriput, urat-uratnya menyembul keluar, betisnya kencang akibat sering mengeluarkan tenaga. lelaki tua ini adalah seorang pekerja keras sejati. Tak kenal lelah bekerja, meski kerjanya serabutan ia tak pernah patah semangat ataupun mengeluh ketika mencari rizki untuk keluarganya. Karena mengeluh merupakan tanda seseorang takut kepada kehidupan, pikirnya.

anak-anak bang dodi sudah besar. Dua laki-laki dan satu perempuan. tak ada yang bersekolah tinggi, hanya lulusan SMP. Wajar bila yang paling besar hanya sebuah kuli bangunan yang kerjanya ketika ada panggilan, lalu yang kedua adalah sebuah kuli di matrial, dan si bungsu hanya seorang penjahit di pabrik.

Biasanya bang dodi mendapat uang ketika malaksanakan pekerjaan yang disuruh orang. Bila tidak, maka ia tak dapat uang, kecuali ketika ada tahlilan. Dahulu bang dodi bekerja sebagai petani, namun tanah di daerahnya lama-kelamaan terkikis habis oleh bangunan-banmgunan rumah dan mengakibatkna susah untuk bertani. Hasil taninya yang masih tersisa dan dirasakan sampai sekarang hanya sepohon jambu besar yang tumbuh dibelakang rumahnya. Istrinya sangat menyukai jambu itu karena rasanya enak.

Istri bang dodi sama seperti istri-istri yang lain, suka mengobrol dengan tetangga dan ramah terhadap orang lain. Tak ada perbedaan yang mencolok dengan istri-istri yang lain hanya saja istrinya sedikit cerewet. Bang dodi sering sekali dimarahi oleh istrinya dari semenjak menikah. Biasanya yang jadi permasalahan utama adalah persoalan ekonomi. Dan bila dimarahi oleh istrinya, bang dodi hanya sabar dan diam saja membiarkan hatinya panas, hanya pernah sekali bang dodi memarahi balik istrinya.

Bang dodi jarang bercerita karena sifanya yang pendiam. Setiap ada permasalahan, dia hanya menyimpannya dalam hati, dan apabila di Tanya, ia hanya menjawab “namanya juga hidup, selalu dikelilingi masalah” dengan tenang ia menjawabnya sepeti itu. Dari perkataanya tersebut orang-orang sekampung melihatnya sebagai pribadi yang selalu bersyukur.

Kesabaran dan ketenangan bang dodi sering dijadikan contoh oleh keluarga-keluarga lain dikampungnya. Bang dodi sering dijadikan tolak ukur perbandingan bagi orangyang patah semangat, pendendam, kasar, dan masih banyak lagi. Sampai-sampai bang dodi disegani dikanpungnya.

***

“uang tahlilan yang abang kasih 2 hari lalu udah abis bang, kita juga udah ngga punya beras, terus gimana ni?”
“sabar ya ti, abang lagi usaha ni.”
“sabar mulu jawabanya, emangnya kita bias makan sabar.”
“terima aja ti, emang udah nasib kita.”
“nasih-nasib, seterah lah, nggak mau tau abang harus dapet uang biar bisa makan.”
bang dodi pun meninggalkan surti tanpa permisi, berkeliling kampong untuk mencari apa yang dia kerjakan, dikantongnya masih terdapat uang, namun itu merupakan uang amal warga untuk membersihkan mushola.

Langkahnya tertinggal dengan pikiranya yang menerawang jauh, mencari cara mengejar uang, mendapatkan pekerjaan, memikirkan hutang, melihat anak-anak dalam keadaan sudah, ditambah kupingnya yang sudah sangat bising karena bertahun-tahun mendengarkan istrinya mengaung.

Pikiranya masih terus berkelana dan langkahnya juga terus berjalan. Orang-orang melihatnya seperti orang yang sangat sedang ling-lung, terlihat tak seperti biasanya, aneh, namun bibirnya tetap saja dibuat tersenyum dalam keasaan seperti itu. Sudah dua kali warga kampunya melihatnya mondar-mandir, akhirnya wargapun penasaran
“bang mau kemana, ko kaya orang ling-ling gitu.”
Bang dodi tidak menjawab namun hanya menyeringai, kali ini terlihat jelas bila ia sedang mempunyai masalah besar.

Senja pun datang, namun bang dodi masih belum mendapatkan pekerjaan dan uang, hatinya sudah sangat panas, dia bertanya-tanya, berdialog dengan hati dan pikiranya.
“Siapakah yang bersalah dalam hal ini? Apakah aku yang kurang bekerja keras? Atau istriki yang terlalu besar mulut sampai aku begini, atau apakah karena takdir, tapi Tuhan tak pernah memberi cobaan melebihi kemampuan manusia, siapa yang harus disalahkan.”
“tak ada yang terlalu bersalah, aku tak mau dikatakanan bersalah sepenuhnya, walaupun aku sangat bersalah. Istriku juga tak bias disalahkan sepenuhnya, dia hanya menuntut haknya sebagai istri, ataukah nasib, ya aku kira nasib yang mesti disalahkan, dia yang paling bersalah dalam hal ini, aku bernasib sial, dari kecil aku sudah hidup susah, berpeluh untuk mendaptkan uang, berdoa siang malam, tapi apa yang kudapat. kata ustad nasib itu bias berubah.tapi tak berlaku kepadaku. Aku tak mengerti hidup ini, terlalu banyak hal yang tak bisa ditebak, yang bias ditebak hanyalah manusia pasti akan mati,” Pikiranya membuat tubunya lelah, melebihi bekerja keras yang dilakukan sehari-hari. Sampai akhirnya ia tertidur pulas, tak sadarkan diri.

Suara bising istrinya membangunkanya dari lelah, tak terasa hari sudah pagi, matahari sudah mulai naik.
“Bukanya kerja, malah enak-enakan tidur, bang. Disuruh pak Rw bersihin mushola, nanti kalau udah bersihin minta uangnya sama pak rw, biar kita bias makan.”
Bang dodi pun langsung pergi ke mushola untuk membersihkanya, dengan perut lapar karena tiga hari belum makan ia berjalan membeli sebuah karbon pembersih lantai di warung sebelumnya. Setelah membeli dia pulang kerumah dan disambut dengan teriakan istrinya.
“mau ngapain lagi?”
“ini abang hanya mau ngasih uang untuk kamu. Semoga kamu bias hidup tenang” Uang yang diberikan bang dodi ke istrinya merupakan uang kebersihan mushola.
lalu bang dodi mengambil sebuah gelas dan menuangkan sebuah air kedalamnya.
“abang ingin mati aja.”
Lalu bang dodi pun meminum air yang telah ia tuangkan. Setelah itu ia terjatuh dan beberapa saat kemudian mulut bang dodi mengeluarkan busa berwarna putih, tubunya yang tadinya mengencang kini melemas.
“abaaaaaaang”

Salah satu Warga mendengar teriakannya keras itu. Karna penasaran maka ia menyambanginya, setelah melihat kejadian tersebut, warga itu langsung berlari mengambil kendaraan, dipanggilnya warga lain untuk membantu. Setelah dinaikan ke dalam kendaraan, maka dibawalah kerumah sakit terdekat, namun diperjalan karbol pembersih lantai tersebut telah membunuh bang dodi terlebih dahulu tanpa memberi sedikit waktu lagi untuk diperiksa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar