Jumat, 16 Desember 2011

Bukan Gaya, Tapi Skill

Ketika berada di ruang kelas 703 kalau tidak salah ingat, teman saya bercerita tentang tetangga dan juga teman mainnya. Diceritakan olehnya jika terjadi keributan antara teman rumahnya itu (kita sebut saja si A) dengan ayahnya sehingga terdengar sampai keluar.Keributan itu pun sampai “mengundang” ayah teman saya untuk ikut campur karena keributan itu bisa dianggap lumayan parah. Ada kata-kata yang terucap oleh si A yang bisa dianggap tak patut di katakan dari seorang anak kepada ayahnya dalam budaya timur.
Karena sudah dinilai tak lumrah, ayah teman saya pun akhirnya menarik si A kerumahnya untuk dipisahkan. Ia menanyakan perihal masalah yang terjadi antara si A dan ayahnya. Si A pun menceritakan bila dia dimarahi oleh ayahnya karena ia baru saja menambah rajah tato di salah satu bagian tubuhnya.
Saat si A ditanya apa alasannya menambah tatto dibagian tubuhnya? Si A menjawab banyak hal  namun ada satu hal terucap “bla, bla,bla,..ini buat modal nge-band, dan bla, bla, bla..”
“ini nih jeleknya orang Indonesia, kebanyakan gaya. Mestinya skill dulu yang digedein. Klo udah punya skill tinggi, lu mau gaya kaya apa juga bodo,” ucap ayah teman saya.
Setelah berdebat panjang dengan ayah teman saya. Si A pun menangis dan, akhirnya meminta maaf.
Ribut seperti itu sudah beberapa kali terjadi menurut carita teman saya. Dimulai saat si A membuat tato pertamanya yang akhirnya diketahui saat si A sedang tidur kalau saya tak salah ingat. Ia pun dimarahi. Tetapi si A malah menambah satu demi satu rajah tubuhnya. Awalnya rajah itu tak “keluar” tetapi lama-lama “keluar-keluar.” Sampai akhirnya kemarahan  besar itu terjadi
Bila diperhatikan, tidak salah juga apabila orang tua si A memarahi anak itu. Mungkin dia “shock” melihat anaknya yang tiba-tba menambah tatto di tubuhnya. Apabila orang tua si A memandang tatto dari “kaca mata” agama maka hal itu jelas dilarang. Karena dalam isi kitab suci salah satu agama terdapat ayat yang melarang untuk merubah bentuk tubuhnya dalam hal ini merubah bentuk kulit dengan tatto.
Disamping itu, Ada faktor psikologis dari lingkungan yang mempengaruhi pandangan ayah si A tersebut. Seperti stigma negatif orang yang mempunyai tato. Misalnya orang yang mempunyai tato merupakan kriminal, meski tatto itu bukan merupakan suatu tolak ukur untuk seseorang yang berbuat jahat.
Bila ditinjau, secara etimologi, tatto itu berasal dari kata Tahitian / Tatu, yang memilki arti menandakan sesuatu. Bila dilihat dari sejarahnya rajah tubuh sudah dilakukan sejak 3000 tahun SM(sebelum Masehi). Tato ditemukan untuk pertama kalinya pada sebuah mumi yang terdapat di Mesir. Konon hal itu dianggap yang menjadikan tato kemudian menyebar ke suku-suku di dunia, termasuk salah satunya suku Indian di Amerika Serikat dan Polinesia di Asia, lalu berkembang ke seluruh suku-suku dunia salah satunya suku Dayak di Kalimantan.
Dari arti menandakan tubuh itu bisa terdapat berbagai macam makna didalamnya. Berbeda makna mengenai tatto antara satu daerah dengan daerah lain Seperti misalnya di Indian, melukis tubuh/ body painting dan mengukir kulit, dilakukan untuk mempercantik (sebagai tujuan estetika) dan menunjukkan status sosial. Atau Di Borneo (Kalimantan), penduduk asli wanita disana menganggap bahwa tato merupakan sebuah simbol yang menunjukkan keahlian khusus.
Sekarang, banyak yang berpendapat Tato adalah bagian dari seni, bukan lagi untuk dunia kekerasan dan kriminalitas. Tato sebuah ajang ekspresi seseorang, baik si artist (pembuat tato) atau pecinta tato sendiri. Layaknya lukisan, tato sendiri mempunyai makna dibalik sebuah gambarnya.
Nah, dari sejarah itu tak ada hubungannya antara tatto dengan kriminalitas. Mungkin karena pelaku kejahatan banyak yang menggunakan rajah ditubuhnya sehingga tatto itu mempunyai definisi negatif di dalam masyrakat.
Dari stereotipe itu, bila dikaitkan dengan ekonomi, suatu perusahaan atau pemberi kerja formal banyak yang tak mau menerima pegawai yang mempunyai “gambar” di tubuhnya itu. hal itu tak bisa lepas dari label masyarakat tentang tatto itu sendiri. Karena tempat pemberi kerja tidak mau mengambil resiko dengan memasukannya. Mereka tak mau institusinya menjadi buruk karena mereka menganggap bagus-jeleknya lembaga itu tergantung kepada sumber daya manusia yang ada di dalamnya. Setiap perusahaan juga bertujuan untuk untuk going concern. mungkin wajar bila manajer berhati-hati dalam merekrut pegawai.
                Sekali lagi, meskipun tak semua orang bertatto itu kriminal dan orang yang tak betatto itu tidak kriminal. Itu semua tergantung dari setiap individu itu sendiri. Mungkin karena orang tua si A itu sangat sayang kepadanya maka ia menginginkan anaknya sukses di masa depan dengan bekerja. Dan tak dipandang buruk oleh orang lain dari label tatto yang ada.      
Namun tidak bisa kita sangkal, Banyak orang-orang yang bertato yang sukses seperti menjadi wirausaha, pesepak bola atau artis. Ada hal menarik disni. Si A ingin menjadi artis atau musisi dengan dengan modal tatto. Tak ada yang salah disini, itu hak siapa pun. Namun bukankah modal untuk menjadi artis atau musisi salah satunya adalah skill. Paras juga berpengaruh namun bila tak ada skill, maka paras tak akan ada apa-apanya. 
Bisakah dibayangkan bila Travis Barker, drummer Blink 182 tidak mempunyai skill yang mumpuni? Tidak mungkin ia bisa terkenal sampai di seluruh dunia. bukan itu saja, cara berpakaian dengan celana "melorot"nya pun banyak ditiru anak muda disuluruh dunia. Cirikhas travis bermain drum pun banyak menjadi inspirasi musisi indonesia seperti Eno (Netral) atau drummer T.R.I.A.D. mungkinkah bisa sukses bila si Travis tidak punya kemampuan dibidangnya.
  Bukan hanya untuk mejadi artis, setiap pekerjaan apapun yang dibutuhkan bukankah kemapuan? bukan bergaya seolah-olah mampu tapi ternyata tidak mampu.
Ada beberapa musisi atau artis banyak yang menyinggung orang yang terlalu banyak gaya tapi tak ada kemampuannya. Sebut saja Saykoji dengan lagu “so what gitu loh” yang populer di masanya. Bila didengar liriknya “Jadi bokap lu kaya, nyokap lu juga kaya,bisa ngasih duit biar elo bisa begaya, Supaya kaya. rapper yang tajir dan berduit padahal nggak bisa ngerap bisanya Cuma suit”. Lirik dengan gaya satir. Mengusik orang yang terlalu banyak bergaya tapi tanpa bisa apa-apa.
                Selain itu, lagu “loe toe ye” karya band rock terkenal, Rif. Itu juga merupakan sindiran telak bila ditengok liriknya “Lo toe gaya lo emang keren, lo tu laga lo juga keren, lo tu tampang lo keren tapi otak lo kagak lo pake, Lo tu gaya lo emang keren, lo tu laga lo juga keren, lo tu tampang lo keren Tapi nafsu lo yang lo pake”
                Mungkin dari semua itu, semestinya kita tak boleh lupakan jasa orang tua, meskipun orang tua sering berbeda pendapat dengan kita. Itu semata mereka ingin seorang anak bahagia di masa depan. Alangkah baiknya terlebih dahulu memikirkan dan mendiskusikan kepada orang tua. bukan berdasarkan Nafsu. Beri dia alasan yang baik tentang apa yang kita inginkan. Dia akan menerima bila menurutnya itu akan baik untuk masa depan kita
Selain itu menurut saya, dalam hal ini bukan saya menasihati orang tua, tapi  saya mengemukakan apa yang saya rasakan sebagai anak. Ini bisa disebut curahan hati saya. Mungkin Orang tua boleh membebaskan anak-anaknya berekspresi. Awasi anaknya. Bila mulai berlebihan, maka arahkan. Biarkan anak memilih apa yang disukainya. Beri penjelasan tentang suatu hal, tentang pilihan si anak, kelebihan dan kekurangannya, agar dia bisa tau disetiap langkahnya, agar dia mengerti. Luruskan apabila dia mulai melenceng. Kesuksesan bukan hanya dalam satu bidang saja, masih banyak bidang lain yang bisa membuat sukses.
           Mengutip kata-kata kahlil gibran “Carilah nasihat dari orang tua karena matanya telah melihat wajah tahun demi tahun dan telinganya telah mendengar suara kehidupan.”

1 komentar: