Minggu, 26 Februari 2012

Kapitalisme Smith


Kebebasan Alamiah
Berbicara tentang perekonomian kapitalis, kita tak bisa lepaskan sosok Adam Smith. Pasalnya ia merupakan pencetus sistem perekonomian kapitalis yang sampai saat ini masih diterapkan di beberapa negara eropa. Melalui bukunya yang berjudul An inquiry into the nature and cause of the wealth of nations atau biasa disingkat the wealth of nations, Smith yakin telah menemukan jenis ekonomi yang benar untuk menciptakan “kemakmuran universal” atau kemakmuran untuk semua golongan.
                Pria asal Skotlandia ini berargumen, kemakmuran suatu negara terjadi bila jika semua kebutuhan dan fasilitas untuk hidup tersedia dengan murah. Ia mengkritik sistem merkantilisme yang menganggap sumber kemakmuran berasal dari emas dan perak sebagai tolak ukurnya. Sehingga sistem ini harus mengorbankan negara lain “menjajah” untuk mendapatkan emas dan perak itu. merkantilisme percaya bahwa ekonomi dunia adalah stagnan dan kekayaannya tetap sehingga suatu bangsa untuk bisa berkembang hanya bisa dengan mengorbankan negara lain.
                Konsekuensinya, mereka harus ekspansi dengan mengirimkan agen-agen mereka ke negara lain untuk mendapatkan emas dan perak itu dan megeruknya. Terkadang mereka mengabaikan biaya-biaya yang di pakai untuk perang demi pengumpulan kekayaan. selain itu merkantilisme berusaha melakukan perdagangan yang seimbang, yang berarti simpanan emas dan perak tidak boleh berkurang. Merkantilisme melakukannya dengan cara memperbesar ekspor dan memperkecil impor. Mereka melakukan suatu permbatasan perdagangan dangan adanya banyak aturan,tarif yang tinggi, kewajiban dan kuota.
                Smith jelas menentang pembatasan perdagangan itu. Usaha untuk menyeimbangkan perdagangan adalah absurd. Masuk akalkan apabila membeli barang produksi negara sendiri dengan harga yang sangat mahal, tertimbang membeli dari negara lain namun dengan harga yang lebih murah. Bila memang kebijakan merkantilisme seperti itu (memproduksi sendiri dan tidak mengimpor) maka hal itu hanya menguntungkan untuk produsen dan pemegang monopoli saja. Dalam merkantilisme kepentingan konsumen selalu dikorbankan.
                Pembatasan itu menghambat perdagangan dan mengurangi kemampuan kedua negara untuk berproduksi sehingga hambatan itu harus dihilangkan. Dengan hilangnya hambatan itu pula akan menguntungkan kedua negara. Smith berargumen bahwa kunci untuk membuka “kemakmuran negara” adalah dengan produksi dan perdagangan. Peningkatan terbesar dalam produksi para buruh adalah dengan adanya pembagian kerja dan spesialisasi.
 Untuk memaksimalkan produksi dan perdagangan itu rakyat harus diberi kebebasan. Smith sangat mendukung “kebebasan alamiah.” Kebebasan orang untuk melakukan apapun tanpa campur tangan negara. Ini berarti orang bebas untuk bekerja dimana saja (pada abad 18 buruh harus memiliki izin untu berpindah tugas), bebas untuk mengalokasikan modalnya, bebas untuk membeli barang dan fasilitas kepada siapa saja. Kebebasan bukan hanya menghasilkan kehidupan material yang lebih baik tetapi kebebasan adalah hak asasi manusia. Hal itu membuat para buruh pada waktu itu mempunyai harapan karena Smith mendukung kemakmuran bagi semua.
                Kebebasan alamiah mencakup mendapat upah sesuai kemampuan pasar. Smith menentang penentuan upah berdasarkan aturan negara (pada waktu itu, upah yang diatur negara cenderung menurunkan, bukan menaikan). Jadi biarkan proses alamiah yang menuntukan seberapa besar upah yang akan diterima.

Smith dengan Tangan Gaibnya
                Selain kebebasan, ada unsur lain yang merupakan sistem model klasik yang juga penting yaitu kepentingan diri. Menurut Adam Smith kepentingan diri dari jutaan orang akan menghasilkan masyarakat yang stabil dan makmur tanpa perlipa perlu diarahkan negara secara terpusat. Doktrin ini sering disebut invisble hand (tangan gaib). Seperti yang di kutipkan dari buku the wealth of nations.  
“kita mendapatkan makan malam bukan dari kemurahan hati tukang daging... tetapi dari penghargaan mereka terhadap kepentingan diri mereka sendiri. Kita tidak memperhatikan kemanusiaan mereka, tetapi kepada cinta diri mereka... setiap individu [yang]... menggunakan kapital ... dan ... ... tenaga kerja ... tidak bermaksud untuk mempromosikan publik dan tidak tahu seberapa besar ia mempromosikannya ... dia... dibimbing oleh tangan tak terlihat untuk mempromosikan tujuan yang sebenarnya bukan dari kehendaknya. .. dengan kepentingannya sendiri sering kali dia mempromosikan kepentingan masyarakat.”

Adam Smith mendukung sifat mementingkan diri sendiri. Para kritikus mengkhawairkan usulan Smith itu. mereka menilai ini akan memberikan pembenaran kepada kecurangan, keserakahan, bahkan memicu “pergolakan sosial, pengrusakan lingkungan, dan penyalahgunaan kekuasaan.
Namun Smith menjawab “Tetapi manusia hampir selalu punya kesempatan untuk membantu saudaranya... dia lebih besar untuk menang jika dia dapat menarik kepentingan diri mereka untuk membantu dirinya. Beri saya apa yang saya inginkan dan anda akan mendapat apa yang anda inginkan. Itu adalah makna pemberian.” Dengan kata lain, semua pertukaran dan perdagangan yang sah harus bermanfaat bagi pembeli dan penjual, tidak mengorbankan salah satu pihak.
Tangan tak terlihat Smith bekerja jika hanya pengusaha menganut pandangan persaingan jangka panjang dan mereka memntingkan reputasi bisnis. Jadi kepentingan diri sendiri akan membantu kepentingan masyarakat jika produsen merespon kepentingan konsumen. Jika konsumen dicurangi, kepentingan diri sendiri akan terpenuhi tetapi dengahn mengorbankan masyarakat. Sesungguhnya masyarakat ideal menurut Smith ialah masyarakat yang di penuhi kebaikan, kedermawanan, dan hukum yang melarang praktik bisnis curang.
Smith juga mendukung pemerintahan yang kuat namun dibatasi. Tujuannya adalah menganngkat negara dari barbarisme rendah menjadi tingkat kemakmuran yang tinggi dengan cara damai, pajak ringan, dan adminitrasi yang adil dan toleran. Smith mendukung 1. Pendanaan yang cukup bagi milisi yang membela negara, 2. Sistem hukun yang melindungi hak milik, menjamin perjanjian dan pembayaran hutang, 3. Kerja publik dan 4. Pendidikan yang menyeluruh.
Disamping itu Smith juga mengkritik pemerintahan yang besar. Menurut Smith politi adalah orang munafik yang boros. “tidak ada seni yang bisa dipelajari dengan cepat oleh pemerintahan kecuali seni menguras duit dari kantong penduduk. Karena itu raja dan para menteri telah melakukan kelancangan dan kekurang ajaran yang luar biasa saat mereka berpura-pura mengawasi perekonomian orang swasta, dan membatasi pengeluaran meraka, entah itu dengan undang-undang barang mewah, atau dengan melarang impor barang-barang mewah luar negri. Mereka sendiri adalah orang-orang paling boros dalam masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar