Jumat, 16 November 2012

Bromo: Savana, Kawah, Gunung dan Hamparan Pasir

Rasanya, saya ingin sekali menulis ketika melihat foto-foto yang ada di laptop. Sekaligus melanjutkan cerita perjanan yang belum selesai. Cerita tentang perjalanan saya dan kedua kawan saya, Syarif dan willy, saat berlibur ke malang untuk menyegarkan kembali pikiran dari mumetnya ujian.
Sebelumnya, sudah saya tulis bagaimana perjanan saya berlibur ke Jogja bersama Accounting C’s Indescribable Democracy (ACID), naik bus yang sudah dikenal ugal-ugalan, menikmati indahnya tebing dan danau Segoro Anakan Pulau Sempu, sampai tersasar di kaki Gunung Semeru dan bertemu dengan kuncennya.
Sekarang saya ingin menceritakan bagaimana saya pergi ke Gunung Bromo. Saat itu, saya dan kedua kawan saya masih ragu untuk pergi ke Gunung Bromo dari Pulau Sempu karena melihat kas yang ada di dompet. Namun karena nekat, akhirnya kami sampai juga ke daerah Tumpang dan naik truk menuju Ranu Pane. Sesungguhnya, Ini bukan rute yang bagus jika ingin ke Bromo dari Pulau Sempu. Seharusnya kami balik lagi ke Arjo Sari. Lalu naik bus ke Probolinggo, namun karena  termakan rayuan tukang ojek akhirnya kami malah ke daerah Tumpang—tempat para pendaki gunung semeru menunggu jeep atau truk sebelum menuju ranu pane.
Seperti yang sudah saya ceritakan di tulisan Tersasar Di kaki GunungSemeru  saya disambut tukang ojek yang menetapkan tarif mahal. Bertemu para pendaki yang baru saja turun dari truk. Bertemu Pak Suyoto yang mengantar kami ke ranu pane melewati jalan berbatu yang terdapat jurang di kanan dan kirnya. Kedinginan karena kehujanan di atas truk. Sampai akhirnya mendengar kisah tentang gunung semeru oleh Pak Tumari—orangtuanya Pak Suyoto.
Jika tak salah ingat, tanggal 13 Juli 2012, kami bermalam dan di Ranu Pane dan keesokan paginya kami bertiga diantar ke Bromo oleh Pak Suyoto menggunakan jeep. Sebenarnya, kami ingin melihat fajar dari pananjakan. Namun, karena pak suyoto tidak bisa, akhirnya kami diantar sekitar pukul 7 pagi dari Ranu Pane.
Alam Indonesai yang  Indah
Udara pagi itu sungguh menusuk kulit. "Padahal kami masih berada di kaki gunung semeru, bagaimana di badan gunungnya," pikir saya. Jaket, kaos tangan dan kaos kaki pun sadah saya kenakan, namun tetap saja udaranya terasa dingin. Sambil menunggu Pak Suyoto datang kami berjalan-jalan agar tubuh kami terbiasa dengan dinginnya Ranu Pane
Kemudian kami mengemas barang-barang dan bersiap menuju Bromo. Saat Pak Suyuto datang, kami pamit dan mengucapkan terima kasih kepada Pak Tumari karena  telah memberi kami kamar untuk bermalam. Selain ucapan terima kasih kami juga memberi beras, gula dan kopi yang kami punya. Kami tahu, itu tak cukup membayar kebaikan yang diberikannya.
Kami pun pergi ke bromo melewati jalan berbatu hingga mengguncang mobil yang kami naiki. Di dalam mobil, kami bertanya banyak hal sampai akhirnya telunjuk Pak Suyoto menunjukan ke arah Gunung Bromo. Hasrat kami semakin besar ketika melihat keindahan padang savanna atau bukit teletubis yang ada di Gunung Bromo dari kejauhan. kami tak menyangka, tanah yang berundak-undak itu begitu hijau, mulus nan luas. Terbentuk begitu rapih oleh alam. 
Jika teman saya memangilnya bukit teletubis, sekilas memang terlihat seperti itu. Tapi bukit teletubis tak sealami tempat ini. Sungguh tempat itu membuat saya terkagum-kagum. Di tempat itu, Kami meminta Pak Suyoto agar berhenti sebentar untuk berfoto ria. Kami pun mengabadikan tempat indah dan alami ini melalui mata lensa milik willy.
Sebenarnya kami belum ingin beranjak karena belum merasa puas. Kami masih ingin berjalan-jalan sejenak di tempat itu. Tracking. Lalu mengobrol sambil minum kopi. Atau mungkin merabahkan diri. Tapi karena waktu juga yang sudah mulai siang, mau tak mau lanjut ke kawah bromo.
Sepanjang perjalanan dari padang savana menuju kawah bromo, perkerjaan yang saya lakukan hanya melihat pemandangan yang tersaji di kanan, di kiri, dan di hadapan. Rasa kagum tumbuh dari dalam hati. Rasanya saya ingin beri tahu orang di luar Indonesia. “woy. Ini Indonesia. Coba dateng ke sini dah, dan kalian lihat.”
Sampai akhirnya, kami disambut oleh kuda-kuda, jejeran jeep yang terparkir rapih, turis lokal dan manca negara, pura, Gunung batok, dan tentu saja kawah bromo. Sesampainya di sana, kami tak langsung mendaki kawah bromo tapi kami mencari tempat sepi dan mengeluarkan peralatan masak karena kami belum sarapan. Dari tempat itu saya langsung teringat film Tendangan Dari Langit yang berlatar dan setting di tempat ini.
Kompor menyala dengan api yang paling besar tapi air yang ada di nesting tak  matang. Sayapun langsung mengambil matras dan menutup kompor agar terlindung dari angin yang dingin. Saat saya dan willy memasak, syarif merebahkan badan dan tertidur di sana seperti gelandangan. Sepertinya dia sudah tak peduli dengan kaadaan sekitar.
.
Kemudian kami bertiga makan mie dengan lauk sarden yang tak hangat setelah berusaha kami hangatkan. Udara dingin itu membuat api tidak focus dan kecil. Jadi sarden itu terasa seperti tak dipanaskan. Namun makanan terasa cukup enak meski kami tahu makanan kami bercampr dengan pasir. Mungkin bumbu pasir yang membua makanan kami terasa enak. Seusai makan kami pun mulai bearnjak.
Indomie yang kami makan seperti tak memberi kami energy untuk mendaki Gunung Bromo. Badan masih terasa berat saat di bawa. Jadi sebelum mendaki, kami memutuskan untuk menitip carier di tempat orang berdagang agar tak berat saat mendaki.
Pasir-pasir di badan gunung kami tapaki dengan susah payah. Terlebih pasir di tangga sebelum mencapai puncak kawah. Rasanya naik dua langkah dan turun satu langkah karena pasirnya sedikit amblas menahan telapak kaki kami

Namun  rasa lelah itu terbayar ketika sampai di puncak kawah bromo. Hati saya seperti mendesir. "Sampai juga kami di sini," pikir saya waktu itu. Padahal satu minggu yang lalu hal ini masih sebatas pembicaraan saja di kampus.
Oh kawah bromo yang curam berasap. Megahnya gunung batok yang berwarna hijau. Pemandangan yang tersaji di sekitar berupa hamparan padang pasir yang luas dan indah. serta gundukan-gundukan pasir yang unik, alami dan Aahh susah sekali mendeskripsikan tampat ini. Yang pasti satu kata “mengagumkam.”
Jika kalian belum pernah ke bromo saya sarankan kalian ke sana, karena kalian akan melihat bagaimana mengagumkannya alam Indonesia.

21:17
16/11/2012

2 komentar:

  1. PErjalanan wisata yang menyenangkan...

    Saya setuju dengan bung admin,,sangat rugi jika ke bromo tanpa mengunjungi savana.

    Paket Wisata Bromo | Paket Bromo | Bromo Tour | Wisata Bromo

    BalasHapus
  2. Bromo Tanjung Pondok Tani
    Dalam rangka Memperkenalkan " Kawasan Tengger-Bromo" dari segala aspek, menginap di pondok tani tanjung-tosari, cukup membayar dng sukarela “tanpa tarif” (khusus untuk rombongan)
    @.kamar los + 2 km mandi luar, dapur, teras serba guna, kapst: 8 s/d 16 orang, cukup memasukkan dana "sukarela" ke kotak dana perawatan pondok pertanian.
    # untuk informasi hub per sms/tlp: 081249244733 - 085608326673 ( Elie – Sulis ) 081553258296 (Dudick). 0343-571144 (pondok pertanian).
    # Informasi di Facebook dengan nama : Bromo Tanjung Pondok Pertanian

    BalasHapus