Jumat, 06 Juni 2014

Menolak Menjadi Berlian

Kau adalah pemantik api,
menyulut gumpalan darah beku
yang terlumur bahan bakar
hingga memerah memenas.

Darah itu tak pernah kembali cair
namun meninggalkan warna hitam
yang mencipta geram
saat kondisi yang kelam.

Kita tahu
kita berada di persimpangan jalan
untuk menuju sebuah masa depan

Kau merasa benar, tentu juga aku.
Tapi siapakah yang benar?
Benar akan selalu benar.
Merasa benar belum tentu benar.
Meski kita mungkin bisa benar.
Tergantung dari sudut mana kita memandang.
Kau mengatakan Koran adalah media informasi.
Tapi bukankan akan menjadi salah bila Koran itu menjadi alas tidur.

Kau sempat mengatakan bahwa kita akan menuju garis finish bersama
tapi di jalur bercabang,
kau mengamputasi bagian tubuhku
hingga aku berjalan gontai
dengan sebelah kaki berlumur darah
“Show must go on”

Tapi seperti yang kau katakan
bukankah sesuatu harus diperjuangkan.
Sebab kita dididik untuk berjuang
seperti bangsa ini yang lahir dari perjuangan.
Sampai kita menjadi bangkai dan terbuang

Rupanya kau tak hanya mengamputasi.
Dari semak-semak tak terlihat,
kau berupaya melempariku tombak
yang ujungnya kau raut dengan tanganmu
hingga lancip dan tajam
agar lukaku semakin menganga
darah semakin tumpah.


Kau tahu, darah yang tumpah ini menemani jejak.
Meski nanti akan hilang tersapu angin dan hanyut bersama hujan


Ya, Aku menolak.
aku menolak menjadi berlian
yang menyilaukan
Sebab aku ingin menjadi air.



Bilik Mimpi
7/6/2014
02.34

Tidak ada komentar:

Posting Komentar