Selasa, 15 Februari 2011

Panggil Aku Seorang Pelacur

Oleh Muhammad Umar

Aku harus melakukan sesuatu saat ku tahu ayah sudah tak bisa membiayai hidupku. Jangankan membiayai diriku, membiayai hidupnya sendiri pun ayah sudah tak mampu sejak stroke hinggap ke dalam tubuhnya. Penyakit itu menyita banyak hal. Tenaga ayah, uang, kebahagiaan, kesenangan, dan kedamaian dalam rumah sederhana ini.

Sudah terlalu banyak usaha yang telah dilakukan untuku, bahkan ketika sakit. Bukan hanya usaha untuk bekerja tetapi berhutang juga ia dilakukan untuku, untuk hidupku, untuk makanku, untuk pendidikanku.

Sebelum stroke tinggal dan menetap dirumah sederhana ini, ayah dan aku hidup berkecukupan. Ayah juga bisa menabung untuk pendidikan ku di perguruan tinggi. Kami cukup bahagia.

Ibuku seorang wanita yang berparas cantik, Berkulit putih bersih, berambut hitam pekat dan bergelombang. Matanya indah berbinar, suaranya serak basah. Ibuku berpostur tinggi dan bertubuh sekel. Buah dadanya matang dan besar, berpinggul mantap, mirip gitar spanyol. Indah.

Ayah berpisah dengan ibu saat usiaku baru 10 tahun. Kata tetanggaku, ibuku adalah seorang lonte. Ayah telah menceraikan ibu saat ibu ketahuan sedang selingkuh dengan seorang pria entah siapa.

Ibu berpisah dengan selingkuhannya, seminggu setelah bercerai dengan ayah. Sejak itu, langkah hidupnya gontai, tak tentu arah akibat perpisahan berganda. Pandangannya sudah tak lagi tegap, pikirannya mengawang-awang terbang mengikuti jejak langkah iblis yang tertawa geli melihat penderitaan pengikutnya. ibu akhirnya stress.

Aku tak tahu ibu dimana, tak ada niat untuk mencarinya. Kekecewaanku begitu mendalam. sikap bodoh ibu yang terbawa nafsu dunia mengakibatkan kehormatanya runtuh. Entah hal apa yang membuat ibu meninggalkan seorang suami yang sangat baik seperti ayah

“Nanti jikalau kamu sudah besar, jadilah wanita Suci, wanita terhormat, jangan menjadi wanita hina, jangan menjadi sampah,” kata ayah. sebuah nasihat sakral untuk ku.
"Nak, dimanapun itu, yang hitam bisa menjadi putih, begitu sebaliknya, yang baik bisa menjadi jahat yang jahat bisa menjadi baik. jangan kau suka merendahkan orang lain, nak, karena yang merendahkan bisa saja lebih rendah dari seorang pelacur."
***
Namaku adalah Dewi Harum Lestari. Kata ayah, aku mempunyai paras cantik, tak ubahnya dengan ibu. Perbedaanya adalah aku lebih pendek, dan berambut lurus. Turunan dari gen ayah. Meski begitu, aku sangat tidak suka bila disamakan dengan manusia binatang itu.

Banyak laki-laki yang berminat menjadi pacarku. Tapi semua aku tolak. Aku tak ingin berpacaran, karena aku sangat membenci orang yang selingkuh, rasanya ingin kubunuh orang itu.

Aku tak punya adik, ataupun kakak. Yang kupunya hanyalah cinta seorang ayah yang sangat tulus kepada anaknya. Aku tak pernah bisa jauh dari perkataan ayah, perkataannya seperti ucapan nabi yang menyentuh kalbu, merasuk kepikiran dan menjadi dasar sebelum bertindak. Pengalaman yang mau tidak mau ditelannya telah merasuk menjadi satu dalam tubuhnya hingga menimbulkan kebijaksanaan dalam mengemukakan sesuatu.

Ia sangat menyayangiku dan akan ku serahkan jiwa raguku untuk ayah apapun yang terjadi, dia telah menyelamatkan aku dari segala bahaya, dari segala kesulitan. Kasih sayangnya tak terbatas, dan aku berjanji akan membahagiakannya
***
Siang yang terik waktu itu, kira-kira pukul 15.00, matahari menyilaukan mata, terang tanpa tersaring dedaunan, dan langsung berinteraksi dengan kulitku, membakar perlahan-lahan. Membuat ku tak tahan denganya.

Terlebih angin kencang yang berhembus, mengajak debu dan pasir untuk bermigrasi dari satu tempat ketempat lain. Aku melangkah dengan cepat agar sampai rumah lebih awal. Panasnya sang surya tak teresa membuat kuliku merah, sampai-sampai aku tak peduli keadaan di sekitar.

Rumahku sudah terlihat dari kejauhan, disana kulihat seorang wanita gemuk sedang menghisap rokok. Kuperlamabat langkahku, keperhatikan, dan mengira-ngira.

Saat sampai gerbang depan rumah. Aku memperhatikannya, Benar saja perkiraanku. Panas bukan hanya terasa dikulit, juga terasa di hati saat wanita yang mengaku ibuku datang. Aku biarkan dia disitu.

Wanita itu langsung membuang rokoknya dan memelukku secara tiba-tiba, aku acuh, diapun menangis dan mengatakan sesuatu, aku tak terlalu memperhatikan apa yang diucapnya.

Akhirnya kulepaskan pelan-pelan pelukannya. Aku langsung masuk kedalam rumah yang tak berpenghuni itu. Lantas melihatnya di balik jendela. Dia pun tambah menangis dan terlihat gerakanya seperti berdoa.

Aku tahu dia ibuku, mungkinkah Tuhan menghukumku karena durhaka terhadap ibu yang melahirkanku. tak tahu mana yang salah dan mana yang benar, yang kutahu, dia telah menelantarkan anaknya ini. Jika memang aku berdosa, aku tak peduli.

Ayah tak tahu jika aku pernah bertemu ibu, aku juga tak mau menceritakannya. Biarlah hal ini hilang ditelan waktu. Aku takut jika ayah tahu, itu akan membangkitkan kenangan masa lalunya bersama ibu.
***
Hari ini, hari rabu, pukul 11.00 dan cuaca mendung. Saat di sekolah, aku mendapat kabar jika ayahku terserempet subuah mobil saat sedang berjalan. Kepala dan lehernya terbentur trotoar jalan, dan pingsan. Pengendara mobil itu tak menolong melainkan menyembunyikannya di bawah jalan layang, lalu pergi.

Karena terlalu lama dibawa ke rumah sakit, dokter mengatakan bila ayah bisa terkena stroke. Terbenturnya kepala dan leher ayah, ditambah infeksi lukanya, dan diperkuat oleh pikiran-pikiran ayah yang aneh, menjadikanya penyebab terkenanya penyakit berbahaya ini.

Uang semakin lama semakin tak ada. Aku pun berfikir dan harus melakukan sesuatu. Aku harus bekerja. Tetapi pekerjaan apa bisa aku lakukan sambil mengurus ayah. Ia sudah tidak bisa melakukan sesuatu sendiri. Hampir semua tentang ayah, aku yang mengurusi.

Kemarin teman dekat ibuku datang untuk menjenguk ayah, aku bercerita banyak tentang keadaanku, akhirnya teman dekat ibuku pun memberikan rekomendasi untuk bekerja. Hasil uangnya sangat banyak, cukup untuk membiayai ayah dan melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Walau ia meminta jatah 30 persen dari pendapatanku.

Aku dikenalkan kepada seorang lelaki seumuran dengan ayah, namanya om Boby. Dia merupakan seorang pengusaha sukses, kaya, tampan, banyak wanita yang tesipu dengan parasnya.

Dia berjanji akan memberikan aku pekerjaan, hasil uangnya lebih besar dari yang diberitahukan teman dekat ibuku itu. Lebih dari cukup, berlebihan mungkin. Aku sangat senang mendengar hal itu. Akupun setuju.

Kesenanganku terhenti saat aku mendengar pekerjaan yang disebutnya. Akupun menolak mentah pekerjaan itu, pekerjaan ini sangat aku benci. Lantas aku segera berlari menjauh, dan aku pulang dengan rasa kesal yang tak tertahankan. Aku mengira bahwa teman ibuku dibayar oleh boby untuk membawaku kepadanya.

Sesampainya dirumah, aku melihat ayah sedang kesulitan membukakan pintu untukku, aku pun kasihan melihatnya, tubuhnya semakin kurus, tangannya sudah susah digunakan, terkadang bergetar. Ayah duduk di kursi roda karna kakinya sudah tak bisa digunakan.

Aku menerima pekerjaan itu sambil mengingat pesan sakral ayah untuk menjadi wanita suci.
“ya, Sekarang kalian boleh sebut aku pelacur, karena aku mencari uang dengan menjual tubuhku” ucapku miris dalam hati.
“Maafkan aku ayah, aku mengikuti jejak ibu.”
***
Sekarang aku menjadi simpanan lelaki brengsek bernama boby, saat itu pun aku kuliah, kesehatan ayah membaik karena ada sokongan uang dari boby. Akupun sudah berkecukupan.

Saat sedang berjalan, tiba-tiba seorang tetangga laki-laki memanggilku. Dia adalah orang yang sangat mengenal keluargaku dengan baik karena ayah sering bercerita kepadanya. Aku pun mengahmpiri, diapun menyuruh duduk dengan ramah. Dia menyuguhkan teh hangat lalu bercerita.

Aku mendengarkan ceritanya dibawah cahaya remang lampu teras. Bulan terlihat berbeda malam itu, hanya sebagian, terangnya pun lain. Malam sangat pekat saat itu, tanpa bintang. Udara malam berhembus, dingin terasa di kulit. Suara-suara jangkrik bersautan, merdu. lalu lama-kelamaan hilang, sunyi.

“Ibu mu berselingkuh dengal lelaki bernama Boby, Dia mengincar kamu, menunggu kamu menjadi besar. Hati-hati, jangan sampai kamu dimakan olehnya, dia sangat bernafsu terhadapmu.”

Edit,
Kamis, 28 juli 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar