Senin, 14 Februari 2011

Perjalanan Kecil Itu 2

The Last Day 


            Pagi menjelang, suasana masih sama seperti kemarin. sunset terlihat indah, udara dingin terasa, suara percikan air terdengar, harumnya udara dingin menusuk. Hari ini hari terkhir kami berada dipondokan.
            Sejak pagi Galih sudah berpesan agar semua bersiap-siap untuk pulang. Setelah makan pagi, kamar mandi sudah mulai terisi, kami bergantian bila ingin menggunakanya, sambil mengantri seperti biasa play station dinyalakan, ada yang bermain gitar, berjalan-jalan, dan lain-lain.
            Setelah selesai mandi aku keluar ber main-main di depan pondok sebentar. Aku mencoba motor Galih yang waktu itu membawa ninja, itu pertama kali mengendarai motor besar, karna melihat Adis bisa mengendarai motor ini, jadi aku semakinn tertarik untuk mencobanya. aku jalani perlahan-lahan, ternyata biasa saja. Ketika hati ini puas menggunakan motor Galih, akhirnya aku memutar balik untuk kembali ke pondokan. Saat mencoba menikung, ternyata, aku tidak kuat menahan motor yang berat itu, ditambah jalanan berpasir. Aku pun jatuh dari motor itu dan lampu sen-nya patah.
            Tragedi ini menyita otaku beberapa saat. Berfikir untuk menggantinya. Mungkin sombongnya dari ini saat berkata kelebihan uang ke orang tua, akhirnya Tuhan menguranginya.
                                                                         *****
            Saat sedang bersiap-siap, aku mendengar kabar tentang mobil Dika. Tampaknya masalah mobil dika masih berlanjut, montir yang semula membongkar mesin mobil Dika, mendadak tidak mau memasang ulang mesinya. Mungkin karena dika tidak jadi membeli Kampas Kopling dikarenakan orang  tua Dari dika akan datang dan membawa Amplas Kopling, masalah pun bertambah satu.
            Ketika semua selesai berbenah, acara dilanjutkan. Sebelum pulang kami melaksanakna rencana yang kemarin dibatalkan yaitu ke cibodas. Ternyata mobil Dika juga dibawa kecibodas. bengkel tersebut berada didalam tempat rekreasi.
            Karena mobil Dika masuk bengkel, jadi kami agak kesusahan untuk membawa pulang peralatan, seperti dispenser dan alat-alat berat yang lain. Teman yang semula berangkat dengan mobil Dika jadi kesulitan pula. Akhirnya kami memutuskan untuk mengantar orang yang terlantar tersebut satu-persatu.
            Aku dan kelima orang teman menunggu dipondokan untuk dijemput, Amri dan Adi bermain sepak bola di depan pondokan. Aku, Rifki, Laila dan Zahra meononton. Tampak Adi sering kalah dengan Amri. Karena kalah,  adi membuka bajunya karena ada perjajian tantangan saat bermain bola. Tiga lapis baju yang dikenakan adi terlepas semua. Hal ini menjadi hiburan yang menyenangkan saat menunggu. Hal ini  menjadi  keceriaan. sampai akhirnya teman kami tiba uintuk menjemput. Kami akhirnya pergi dari pondokan.
            Selamat tingggal Kampung Gunung, Desa Sindang Jaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur. Rt.04/09 no.51.
                                                                        *****
            Saat menuju cibodas, Aku berboncengan dengan Rifki. Aku yang mengendarai motor bebek merah, hitam putih itu. Medan yang kami lalui ialah turunan sepanjang jalan walaupun diawali dengan tanjakan sedikit. Setelah tanjakan, motor dimatikan karena medanya turunan, walupun dimatikan, motor kami melaju dengan kencang. Dari dekat pondokan yang masih desa sampai ke jalan raya cipanas.
            Cibodas pun tiba. Kami langsung menghampiri mobil dika. Benar saja informasi itu, mobil dika terlantar, mesinya sudah terbongkar tanpa dikembalikan, kami sedikit kesal dengan ulah montir yang ngambek tidak mau memasngkanya. Untung saja orang tua dika dikit lagi sampai.

            Kami menunggu sebentar untuk membicarakan mobil dika, melihat keadaanya. Sedangkan perempuan pergi ke warung untuk makan atau istirahat. Tak berapa lama, orangtua dika datang dengan menggunakan mobil berwarna putih. Mereka membawa montir yang di datangkan dari banten. orang tua dika turun dan melihat keadaan Dika lalu melihat keadaan mobil.
            Setelah itu montir pun keluar, melihat-lihat, lalu mengeluarkan peralatan dan onderdil, dan mulai mengutak atik mesin mobil itu. Setelah orang tua dika datang, akhirnya kami pergi makan. Mencari-cari warung makan yang paling murah.
            Sehabis makan Aku, Gofur, Fahmi, Agus, Rahmat, Rifki, Amri  dan Adam bergegas pergi ke air terjun cibodas. Setelah berjalan-jalan sebenter kami pun sampai di pintu gerbang. Saat kami ingin membeli tiket disitu terdapat ketereangan

Harga tiket msuk
Orang/hari/ local                       : Rp    6000
Orang/hari/mancanegara           : Rp. 20000

Air terjun ini dibuka hingga pukul 14.00

            Saat kami melihat jam, ternyata kami lebih dari jam dua, kami pun tak bisa masuk, sempat terbersit untu masuk tetapi larangan itu tercantum jelas. Jadi tanpa ambil resiko kami pun pergi ke mobil.
            Hujan pun turun, deras. Kami berteduh digubuk dekat pintu masuk. Selang beberapa lama akhirnya hujan reda kami bergegas untuk pulang. Sambil berjalan Fahmi mempunyai niatan untuk membeli oleh-oleh untuk ibunya berupa Alpukat. Akhirnya kami menemaninya. Dan ternyata gofur juga ingin membeli tanaman hias berupa kaktus, setelah melihat-lihat ternyata tanaman kaktus ini indah juga, akupun membelinya. Tidak hanya aku saja tapi rahmat dan rifky pun ikut membeli tanaman hias tapi bukan kaktus.
           karena asyik memilih, tanpa sadar,  hujanpun turun lagi, dan kami berteduh lagi di depan warung yang tutup. Setelah selesai berbelanja kami kembali ke tempat istirahat makan tadi. Ketika sampai, huajn pun uturun lagi, tampaknya hujan senang sekali hinggap di cibodas waktu itu.
             Sambil menunggu hujan teman kami pun ada yang berbelanja oleh-oleh juga karma melihat kami.
                                                                        *****
            Mobil dika belum rampung. Masih lama, namun hari sudah mulai sore, kami takut terlalu malam di perjalanan. Tawaran orang tua dika untuk pulang duluan dengan menggunakan mobil putih akhirnya diterima. Setelah menolak berkali-kali karena merasa tidak enak, mau tak mau kami harus pulang sore itu.
            Barang-barang berat dimasukan ke mobil Dika beserta oleh-olehnya. Setelah semua beres kami berpamitan denga orang tua dika dengan perasaan tidak enak karena kami pulang lebi dulu dengan menggunakan mobil orang tuanya. Sedangkan mobil merah yang sedang diperbaiki dan belum selesai dipakai oleh orang tua Dika.
             Begitu besarnya jasa orang tua kepada anaknya, sampai mengorbankan drinya. Kami pulang. Strategi perjalanan diatur, tidak sama seperti saat pergi, saat pulang susunan motor berubah.
            Tak lama berjalan, kami berhenti sebentar untuk membeli oleh-oleh lagi. Setelah dapat, dan  semua siap. Kami berencana agar solat magrib dan isya dijamak taqdim. Akhinya kami pergi.
            Daerah puncak saat magrib sudah lumayan parah ternyata. Kabut sudah tebal, pandangan mata semakin memendek, dan semakin dingin ditambah lagi sehabis hujan. Kami berhenti sentar untuk mengatur strategi lagi. Akhirnya diputuskan agar jalan pelan-pelan saja, walau sudah begitu, tetap saja kami sulit untuk memahami jalan. Setelah berhenti sejenak lagi untuk mengatur strategi akhirnya kami memilih mengikuti di belakang truk agar kami dapat memahami jalan lagi. Dan benar saja, di belakang truk lebih aman karena ada penunjuk jalan, akhirnya kami tenang.
            Kabut sudah tidak ada ketika kami menjauh dari daerah puncak. Truk itu terlewati begitu saja tanpa ucapan terima kasih. Dijalan kami semua berkonsentrasi dengan sisa tenaga yang ada.
                                                                        *****
            27 januari 2011, Pukul 21.00 Kamipun akhirnya tiba di ciputat, tempat berlabuh dipilih dikosan adi.

            Dalam lelah terpikir sebuah kalimat, Terima kasih kawan, setelah tiga hari bersama, makan bersama, tidur bersama, susah senang bersama. Akhirnya kita telah selesai di acara liburan ini, semoga liburan kali ini berkesan untuk kita semua, jangan pernah lupakan hal ini kawan. Mungkin suatu saat nanti kalian akan merindukan saat seperti ini. Disaat kita sudah tidak bersama lagi, disaat kita sudah sibuk dengan urusan masing masing, semoga ini berkesan untuk kalian. Karena tak ada yang akan tahu tentang hari Esok, karma esok adalh sebuah misteri, apakah akan ada anugrah atau penyesalan.

                                                                                                                                     14 Februari 2011 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar