Rabu, 02 Februari 2011

sebuah perjalanan kecil 1

Rasa capek dan pegal terasa di badan, tanpa pikir panjang beberapa teman (Agus Sukoco, Rahmat Dwi Winardi, Fauzi Al Gofur, Wahidiyat Fauzi, Adi Nugraha, Risyad Adam, Adis Alkhalifah, Erik Darmwan, Galih Ihsan, Rifki Sulviar) langsung turun  dari pondokan untuk menolong teman yang sedang kesusahan dengan mobilnya. Dika Hermawan, Laki-laki yang berperawakan tinggi, si pemilik mobil terlihat mumet saat mobilnya sedang dievakuasi.
*****
Setiap perjalanan selalu membuat sebuah cerita. baik itu perjalanan yang dilakukan oleh manusia atau bukan. Manusia dan manusia yang menceritakanya. Terlebih, suatu  perjalanan yang dilakukan oleh “si tukang cerita itu”. Pengalaman perjalanan mempunyai rasa yang berbeda antara satu dengan yang lain. jika dikisahkan kembali oleh pelakunya. setelah perjalan itu terlewati dengan segala cobaan dan rintanganya yang menghadang. Setiap rasa yang dihasilkan akibat perjalanan itu mempunyai arti tersendiri bagi manusia yang berperan sebagai pelaku utama. Dan selalu ada hikmah dari setiap pengalaman perjalanan
Pengalaman perjalanan waktu itu sangat menarik tampaknya untuk seorang Dika Hermawan. Karena sebuah rintangan berupa jalan yang berbatu serta tanjakan curam mobil merahnya pun menjadi mogok. Sedan ini terdiam tak berdaya menghadapi rintangan di desa sindang jaya, kampung gunung, cipanas. Sebuah cobaan pada kopling mobilnya yang menjadi masalah utama. Mobil ini mengangkut Hamdan Fadilah, Laila Badriah, Puspo Wardani, Nurul Hidayati dan Zahra Septianingsih serta peralatan-peralatan untuk bertahan hidup dan bersenang-senang di pondokan.
Kejadian seperti ini sering terjadi” papar Gandi, pria yang seharusnya bertugas sebagai penjaga pondokoan. Masalah pada mobil ini menyeret beberapa warga kampung gunung untuk membantu. Dan kejadian ini menjadi tontonan bagi mereka. Air muka pucat, panic, tegang, lelah terlihat pada raut wajah Dika. Mungkin pusing atau sakit kepala yang dirasakan oleh dika pada waktu mobilnya bermasalah, atau mungkin stress.
Angkutan umum di datangkan untuk menarik mobil timor merah. Sebuah tali  diikatkan ke kedua mobil. Beberapa orang mendorong mobil yang bermasalah itu. Karena jalan yang sempit dan idealnya hanya cukup untuk satu mobil, sehingga mengakibatkan dua mobil dibelakang berhenti, mengantri untuk naik ke atas. Setelah usaha di coba, dorongan mobil sudah sekuat tenaga, dan supir ankutan umum itu berusaha dengan sekuat tenaga, ternyata usaha pertama nihil, supir dari kedua mobil dibelakang turun membantu mendorong, usaha kedua dicoba. “Satu…, dua…, tiga…” teriakan bersama. Ternyata usaha kedua pun gagal. tali yang di ikat kan itu pun putus dan membuat chasis mobil pria tinggi ini bengkok
Salah satu mobil di belakang yang merupakan mobil pick up mencoba membantu, setelah bersempit-sempitan berusaha mendului mobil dika akhirnya pick up itu berhasil lewat dan berada di depan mobil dika. Mobil pick up itu merupakan mobil yang mengangkut hasil pertanian, itu berarti mobil itu mempunyai tali untuk mengikat hasil pertanian. Salah satu tali tambang tidak sedang digunakan. tali yang tak terpakai itu digunakan untuk menarik mobil dika. Tali itu tebal dan panjang. Untuk mengantisipasi tali itu putus maka tali itu didobel menjadi empat.
Usah ketiga dilakukan, lima orang (Adis, Rahmat, Adi, Adam, dan Agus) naik ke mobil pick up untuk menahan apabila mobil itu merosot pada saat tanjakan. Tali diikatkan. Dengan rokok dimulutnya, supir itu berusaha menjalankan mobil, beberapa orang mendorong mobil dika, lalu teriakan terdengar lagi “Satu…, dau…, tiga…”. Mobil pick itu menggerung, dan jalan perlahan, tali mengancang, mobil dika tertarik dan  mulai berjalan.
Sedikit demi sedikit mobil dika melaju, dan para pendorong mobil semakin terpacu untuk mendorong dan bersemangat. Tanjakan yang menikung serta berbatu dan berpasir itu akhirnya terlewati, mobil dika melaju dengan deras setelah itu. Para pendorong pun melepaskan mobil yang sudah berlari itu. Kami, para pendorong terengah-engah sehabis mendorong, namun kami pun lega karena usaha ini berhasil.
Usaha ketiga pun berhasil, tali tambang oren yang berlapis itu kuat, supir mobil pick terlihat berpengalaman, dan mobil dika pun sampai juga di pondokan, dengan percobaan beberapa kali. Lalu lintas desa itu pun lancar kembali. Warga yang menonton pun mulai bubar. Dan kami memberi uang sekedarnya kepada mereka yang membantu, sebagai ucapan terima kasih. Semua teman kembali ke pondokan untuk beristirahat. Sebuah indomie hangat menyambut. Kami pun segera makan bersama, sambil menghirup udara pedesaan yang masih segar, sambil menatap pegunungan dan bercanda ria.

Bersambung..

1 komentar: