Jumat, 04 Februari 2011

sebuah perjalanan kecil 2

Sepi, pondokan yang kami tinggali merupakan sebuah pedesaan yang berada di dekat subuah gunung, dataran tinggi, dan jarang terdapat rumah, mungkin ini yang membuat sunyi. Di sana kebun pertanian terhampar luas, kol, bawang, mint, daun bawang, dan yang menjadi komoditas utama ialah wortel. System pertanian yang bersusun di daerah pegunungan berupa sengekedan tersusun rapih dan indah. Gunung terlihat sangat dekat, berwarna hijau karena ditumbuhi pohon-pohon besar dan tinggi, itu semua terlihat anggun dan menimbulkan sebuah kesejukan.
            Perasaan lelah masih terasa, mie cepat saji  hangat disediakan oleh para wanita. Kami menikmati suasana waktu itu, biarlah urusan mobil dika kita kurangi dulu intensitasnya, walaupun kala itu Dika sibuk dengan urusan mobilnya.
Makan, ibadah telah selesai, Dika masih sibuk dengan mobilnya. Sambungan antara cipanas-jakarta sering terjadi untuk menyelesaikan masalah mobil. Orang tua Dika ingin datang untuk menyelesaikan masalah ini tetapi dika menahanya, “Biarlah kami yang berusaha mengurusnya dulu.”

Saat itu, Suasana kekeluargaan sangat terasa, dan hangat ,  sebagain dari  kami bercengkrama lalu mengobrol dan bercanda ria. Beberapa teman terlihat sudah telentang diatas ranjang. Yang lain ada yang diluar duduk di sebuah bangku yang mengahadap ke hamparan luar, melihat pemandanganya indah. Serta Menghirup udara segar di tengah pedesaan yang hijau, masih asri. Disana kendaraan bermotor masih jarang. Suara knalpot dari sebuah motor sesekali terdengar dan terlihat.
“Renang yuu,” ucap Adis, dan Galih.
“Ayo, Ayo,” beberapa teman menyetujui.
“Nanti aja abis ashar,” ucap Ku.
“iya entar aja,” wahi menyambut.
Rencana renang pun ditunda setelah ba’da Ashar, dan semua sibuk dengan keasyikanya masing-masing.

Azan ashar tak terdengar, namun patokan kami adalah jam, dan ashar pun tiba, setelah solat, Erik, wahie, Adi ingin buru-buru. Hampir semua sudah siap dengan pakainaya untuk berenang. namun beberapa teman mengurungkan niatnya, malah ada yang tidak ingin berenang. “dingin” ujar mereka, ada yang malah mendekam di bawah selimut. Erick Darmawan, pria berpostur tinggi, dan suka bernyayi lagu daerah, yang paling bersemangat dalah hal berenang, terlihat jelas jika dia yang paling bergegas dalam berenang dan mengiming-imingi mereka yang semangatnya luntur.
            Adi, erik, dan aku akhirnya acuh terhadap mereka yang tak igin berenang. Kami ber tiga jalan lebih dulu ke kolam renang. Di kolam renang itu tampak beberapa anak-anak yang juga sedang berenang. Erik masuk lebih dahulu dan meminta izin kepada pengelola kolam renang, setelah mendapat izin, erik, adi dan aku berlari. Aku dan adi mengamati kolam renang itu dulu tetapi erik tidak, dia langsung berenang setelah melepas baju, melompat ke kolam, seperti tak pernah kena air selama sebulan. Adi dan akupun menceburkan diri, setelah Erick memulai.

           
               Teman yang lain pun akhirnya datang juga, namun tidak semua berenang, Fahmi dan Amri tidak, kolam renang yang kami gunakan airnya berwarna hijau, lantai yang licin, mungkin berlumut, berbentuk persegi dan tersekat dua antara kolam yang dangkal dan yang dalam. Di kolam itu terdapat sebuah tempat untuk meloncat, ketinggianya sekitar dua meter dari pinggir kolam renang. Aku melompat dan banyak pula teman yang melompat, dan bergaya di udara sebelum tercebur ke kolam.
            Pada saat melompat kedua kalinya, aku merasa was-was. Takut apabila terpeleset jika lompat dan tak tahu apa yang terjadi. Karena kakiku basah dan terdapat pasir di tempat untuk melompat itu. Setelah rifki lompat akhirnya aku harus melompat, mau atau tak mau. Saat berlari untuk melompat, aku mengerem dan dan tak jadi, diam sebentar dan mulai lagi. Mundur kebelakang lalu melompat. Saat melompat aku berexpresi sebentar. Saat tercebur, aku meminum air berlumut itu sedikit. Rasanya biasa tetapi tetatp saja perasaan aneh datang ketika meminum air berlumut itu, sehabis itu akupun langsung naik dan tak ingin berenang lagi.
            Anak-anak yang berenang itu pun menyingkir, mungkin tergusur oleh kami yang jumlahnya banyak. Mereka hanya melihat kita dari atas, menyaksikan kami bersenang-senang dengan tampang yang iri.
Kolam yang kami pakai semakin lama, semakin hijau. Mungkin lumut yang berada di lantai dan dinding kolam terlepas akibat terinjak-injak atau tergesek kulit kami. Akhirnya kami pun selesai. Adis dan Aku lari terlebih dahulu kepondokan agar bisa menggunakan kamar mandi  tetapi Adi dan Adam ternyata lebih dahulu. Aku pun menunggu sebentar. Dan akhirnya bisa menggunakanya. Untuk menggunakan kamar mandi, kami harus mengantri karena hanya tersedia dua.
Semua teman pun selesai berbenah. Hari pun semakin gelap, udara dingin mulai teras di kulit, azan magrib menyambut kami, beberapa dari kami mulai memakai celana training dan jaket tebal akibat udaara yang menusuk kulit.
Ketika malamnya tiba, kami mengadakan acara bakar-bakar, ayam telah tersedia, sudah dipotong, direbus, dibumbui, dan diungkep. Arang sudah deibeli, panggangan telah tersedia di pondokan, kipas juga sudah siap walaupun terbuat dari kerdus.
Rifki, Erick, Tiwi merupakan pemeran utama yang mengerjakan bakar-bakar, lainya bermain gitar ataupun playstation, nampaknya permainan modern ini banyak sekali peminatnya. dengan begitu bakar-bakar tetap dilaksanakan, walau asupan tenaga untuk bakar ayam kurang. Sesekali aku datang untuk melihat, dan pada saat ingin mencicipi aku dilarang. Ya aku terima, memang pada saat itu tak ada kontribusinya dalam bakar-bakar.
Bakar-bakar selesai, para wanita juga sudah selesai menanak nasi, makan-makan pun segera dilaksanakan. Tapi masih harus menunggu teman lain. Pada saat ayam dan nasi dihidangkan, pemuda-pemuda ini dengan gesit mendekati, langkahnya cepat, playstation ditinggal, gitar juga, yang sudah rebahan terbangun. Hampir semua pria sudah mendekati, tangan  dari mahasiswa lapar ini terlihat banyak, tampangnya sudah seperti srigala mendekati mangsanya.
Makan-makanpun dimulai. Dalam sekejap mangsa itu hampir habis, prilakunya saat makan sperti suku bar-bar. Galih pada saat itu tidak mendapatklan ayam.
“Galih belom dapet woi, balikin lagi ayamnya,” ujar Wahi
Hampir semua dari kami mengembalikan ayamnya, tak lupa nasinya ke magicjar. Dan jalan tengah dari kejadian makan ini ialah nasi dan ayam dimakan di nampan, semua tampak menikmati, walaupun untuk memasukan tangan susah, namun semua dapat, dan bersuka ria. Termasuk aku, aku tak tau yang aku lakuakn licik atau tidak, aku mengambil ayam dalam ukuran besar dan menyimpanya dipiring, nasi kuraup dari nampan satu tangan penuh, mungkin bisa dimakan untuk empat sampai lima suap, dua kali aku mengambil nasi seperti itu. Pada saat selesai perutku sangat kekenyangan. dengan begitu Aku jadi tak enak dengan teman yang mendapatkan sedikit nasi.
“Maaf  kawan” ucapku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar