Sabtu, 18 Juni 2011

IDENTITAS

Oleh Muhammad Umar

“monyet.”
“elu anjing,” Namu langsung memutar gas yang tergenggam di tanganya.
Tak terima dengan penghinaan, penggendara motor sport itu memutar balik dan langsung mengejar Namu yang sedang focus mengendarai sepeda motornya.
“ngomong apa lu barusan.”
mendengar suara itu, wajah namu langsung mengarah ke sumber suara. Dengan perlahan namu menginajak rem dan menggiring si pencari gara-gara itu ke pinggir. Setelah memarkirkan motornya namu menyambangi pemuda yang dipeluk perempuan sexy itu.

Habis isya waktu itu, hari sudah diselimuti oleh warna hitam. Pandangan sudah tak terlalu jelas. Hanya bulan dan keremangan lampu pinggir jalan yang menerangi. Sesekali lampu terang sepeda motor menyinari dan dengan segera meredup. Semakin mendekat, semakin jelas penglihatan Namu terhadap paras kedua orang itu.

Tanpa banyak bicara, pemuda yang baru turun dari motor itu dihajar oleh namu sampai tersungkur ke pinggir jalan bertanah. Ditendangi beberapa kali hingga cairan merah keluar dari hidung pemuda itu. Wanita yang diboncenginya hanya bias menangis tanpa menimbulkan gerakan. Setelah merasa cukup Namu berjalan ke arah motonya serta pegi dengan santai tanpa merasa bersalah.

Tukang ojeg yang berada di pangkalan bergegas menghampiri untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Beberapa dari mereka bergegas mengangkat pemuda itu dan membawa ke pangkalan setelah tau pemuda itu terluka. Pangkalan yang biasanya sepi tiba-tiba menjadi ramai. Beberapa orang singgah untuk mengetahui apa yang terjadi, setelah tau dengan sendirinya keramaian orang itu hilang.

Kira-kira satu jam dari kejadian itu, orang tua pemuda itu datang untuk malihat kondisi anaknya. Sesaat kemudian anaknya dibawa pulang dan ikut serta sepeda motornya. sedangkan wanita sexy itu dicarikan taksi untuk diantarkan pulang. Lalu Beberapa tukang ojeg yang menolong diberi uang terima kasih oleh orang tua pemuda itu.

***

Dino masih terkapar dirumah sakit dengan beberapa memar menghuni wajahnya. Sejak tadi, Dino ditemani oleh teman-teman satu genknya. Mereka menemani karena mempunyai solidaritas yang tinggi akan anggota. Kesetiaan terhadap anggota mereka junjung tinggi hingga mereka menamani sampai dino dipersilahkan pulang oleh dokter.

Dua minggu kemudian dino sudah kembali normal seperti biasa. Sejak pukul 10, Ia langsung pergi ketempat nongkrong teman satu genknya setelah sakit yang menyebabkanya tak boleh keluar. Sesampainya disana, dino langusng disambut dengan ajakan untuk membalas dendam. Ajakan itu seperti sudah ditunggu- tunggu olehnya yang memang menyimpan luka.

Seketika itu juga dino dan teman-temanya merencanakan sesuatu. Meski tak bisa mengingat jelas wajah yang memukulnya, tapi ia masih mengingat jelas identitas yang tertera di jaketnya. Sebuah organisasi yang mengelola perparkiran dan biasanya sering ditemukan di area-area parkir pasar atau tempat yang dijadikan parkir liar.

Sehari kemudian Dino mendatangi lagi pelacur yang bersamanya waktu itu untuk mencari informasi. Dino mendengar perempuan itu sedang bertengkar ketika berdiri di depan rumahnya. Pintu pun dibuka, perempuan itu terlihat menangis. Telepon genggam yang berada ditanganya terlepas ke bumi.

“kenapa lu nangis?”
Perempuan tak menjawab, hanya suara isakan tangis yang terdengar.
“paling diputusin, yaudah nanti lu kasih aja tete, nanti juga diam pacar lu. Yaudah lah gw nggak mau lama. Lu kenal ngga siapa yang pukul gw waktu itu,”
Perempuan itu pun masih terdiam, tak perduli dengan perkataan yang keluar dari dino.
“nggak berguna lu,”

Dino kembali ke tongkrongannya. Saat tiba disana, ia melihat teman-temanya seperti sudah siap untuk bertempur dengan segala peralatanya. Dinopun semakin bernafsu membalas dendamnya. dia beserta genk motor sportnya pergi membuat perhitungan, sebelumnya mereka melakukan konfoi sebentar dijalan. Puluhan motor sport itu dengan sengaja melanggar lalu lintas. Menutup jalan seenaknya, serta malang melitang bebas dijalan. Polisi penjaga lalu lintas di tempat itu seperti di telanjangi, dilecehkan dengan sengaja, malah ada beberapa polisi yang pergi dari tempatnya ketika mereka melintas.

Suara motor itu semakin gemuruh ketika memasuki sebuah daerah perkampungan dan mengobrak abrik tempat itu. Kampong yang tadinya sepi pada sore hari berubah menjadi ramai seketika dengan teriakan teriakan knalpot. Tempat demi tempat didatangi selama satu jam namun mereka belum menemukan orang yang memukul Dino. hanya beberapa orang anggota saja anggota organisasi perpakiran ditemukan dan itu ditemukan ketika mereka sedang mabuk sambil main kartu. Genk motor itu menanyakan orang yang mukul Dino tetapi mereka tidak ada yang tau. Jawaban itu malah membuat genk motor itu menganyaya meeka sampai babak belur.

***

Malam pun tiba, sudah waktunya Samson pulang dari tempat kerjanya. Dengan segara ia membereskan mejanya dan langsung menuju motor, Menghidupkanya, lalu begegas pergi. Dalam perjalanan pulang, di pinggir jalan ia melihat tukang martabak dan secara reflek ia teringat kepada keluarganya. Pria bertubuh kekar ini dengan segera membeli martabak itu.

Dengan perasaan senang karena membawakan oleh-oleh untuk keluarganya, ia melaju motornya dengan kencang agar cepat sampai rumah. Ketika memasuki perkampungnya ia terheran-heran karena kampunya tak seperti biasanya, kampungya kini berantakan. Kayu-kayu banyak yang berserak, pecahan-pecahan kaca terlihat jelas. Dalam keherananya ia melihat Keramaian orang di salah satu rumah tetangganya, tetapi ia acuh karena ingin cepat bertemu dangan keluarganya.

“Asalamualaikum.”
“waalikumsalam.”

Dan ketika membuka pintu ia kaget melihat adiknya tergeletak dengan banyak memar. Adiknya lalu mencaritakan apa yang telah terjadi. Samson yang sudah malas dengan organisasi perparkiran itu karena sudah mempunyai pekerjaan matang, akhirnya mengikuti lagi. Ia pergi ke tempat berkumpul organisasi itu dan beramai-ramai dengan anggota lain merencanakan serangan balasan.

Dengan perencanaan yang matang, beberapa anggota dari genk ini mencari tahu tentang musuhnya. Dimana tempat nongkrongnya, kapan mereka berkumpul dan segala macamnya.

Malam minggu, tepatnya minggu ketiga bulan itu mereka mendatangi sebuah diskotik setelah diketahui tempat genk motor berkumpul dari mata-mata mereka. Peralatan seperti golok, samurai, clurit, parang, dan lainya sudah mereka persiapkan. Pukul 10 malam mereka mulai berangkat dan tiba pukul 11 di diskotik.

Keramaian warna warni lampu diskotik pada malam itu bertambah ramai oleh orang yang memasuki diskotik itu, juga suara-suara botol dan kaca yang pecah. Satu persatu peralatan di dalam diskotik itu dihancurkan karena tidak menemukan anggota genk motor itu ketika masuk.

Satpam mengatakan jikalau Mereka sudah keluar 15 menit lalu. Tampaknya kedatangan mereka sudah diketahui oleh seorang dari anggota mereka yang kebetulan sedang lewat, orang itu tahu dari beberapa atribut yang dikenakan seperti kemeja dan bendera yang dipakai organisasi perparkirsn itu.

Kokosongan diskotik itu akhirnya ditinggalkan. Dan sesaat ketika mereka beranjak pulang, genk motor yang terdiri dari beberapa orang itu menyerang. Bentrokan kecil terjadi. Organisasi perparkiran yang memang sudah siap itu akhirnya berpencar untuk mencari genk yang mengganggu kedamaian kampunngya waktu itu.

Dari sedikit bentrokan itu, dua orang dari genk itu tertangkap dan dihabisi. Samson meminta nama dan orang yang mengacaukan kampungya itu, tetapi taka da jawaban dari orang yang tertangkap itu. Kekesalan organisasi perparkiran itu memuncak dampai akhirnya Dua orang itu dipotong salah satu jarinya untuk menebus darah yang keluar dari anggota mereka. Dan ketika ingin dibunuh Beberapa polisi datang dan dua orang itu selamat. namun pilisi tidak banyak melakukan sesuatu, hanya melerai setelah dua orang itu bonyok dengan bersimbah darah di tubuhnya. Tidak ada satupun anggota organisasi itu yang di tangkap.

***

Setiap orang mempunyai suatu identitas. Baik identitas itu terlihat secar jelas ataupun tersembunyi didalam hati atau pikiran. Identitas itu bias berubah menjadi serigala bagi yang lain atau bias berubah menjadi malaikat penolong. Bagaimana setiap orang menyikapinya.

Salah satu siaran berita di televise sudah tiga seminggu ini menyiarkan bentrokan yang terjadi antara suatu kelompok dengan kelompok lain. Bentrokan itu disebut-sebut bersumber dari seorang anggota kelompok yang menganyaya anggota kelompok lain. Sampai hari ini sedikitnya sudah terjadi 7 kali.

Sudah beberapa hari ini seseorang yang mempunyai cari-ciri tertentu menjadi korban kekerasan salah sebuah organisasi. Tiga orang sudah tergeletak durumh sakit Karena mereka mengenakan tanda khusus.

Seringnya pemberitaan itu menyebebkan tak ada lagi bentrokan, panculikan-penculikan pun juga, penganyayaan juga sudah tidak ada. Dari pemberitaan itu juga terlihat kota ini sudah menjadi lebih tenang. Namun ketenangan itu tampaknya diartikan beda oleh kedua kelompok yang berseteru, mereka nampaknya sudah mempunyai kesepakatan tuk bertarung antara satu dengan yang lain pada tanggal dan hari khusus.

Kedua kelompok itu saling mengetahui bila akan terjadi sebuah bentrokan besar. Oleh karena itu perencanaan yang matang dibuat. Organisasi perparkiran itu sudah mengumpulkan seluruh anggotanya untuk bentrokan besar itu. Semua peralatan sudah disaipkan, rute-rute jalan sudah direncanakan, kendaraan juga, ditambah nyali mereka dan atribut tertentu yang mencirikan diri mereka.

Genk motor sport juga sudah merencanakan hal yang matang, beberapa orang dari luar pulai dipanggil untuk untuk membantunya, beberapa peralatan, seperti beceng, stick golf, samurai, tongkat base ball bergerigi, serta baju anti peluru dibeli untuk keamanan mereka.

Sampai akhirnya Malam minggu pukul 1 dini hari jalanan sudah mulai sepi, bentrokan telah direncanakn oleh masing-masing kelompok pada pukul 2 di sebuah tempat. Masing-masing kelompok sudah siap dengan semuanya.

Malam minggu pukul 1 dini hari organisai perparkiran itu sudah siap ditempat yang direncanakan, juga genk motor sport itu. Beberapa anggota mereka berjaga-jaga agar rencana yang dijalankan tidak cacat. Mereka juga memastikan bila polisi tidak ada yang tahu.

Malam minggu pukul 1 dini hari, Tina yang merupakan seorang pelacur, resah karena dia merasa awal mula terjadi bentrokan karenaya. Tayangan berita di televise mengenai bentrokan itu yang membuatnya galau. Kedua kelompok itu yang awal mulanya tidak saling mengetahui, sekarang bentrok dan sudah memakan korban. Dia merasa bentrokanya karena dia.

Malam minggu pukul 1 dini hari itu juga Tina menelpon Dino dan menjelaskan bila yang memukulnya itu adalah Namu, mantan pacarnya yang beberapa hari sejak kejadian itu dia pergi ke luar pulau untuk melupakanya. Sekaligus untuk bekerja. Dia bukan merupakan anggota dari organisasi masa itu.

“Lalu kalau bukan anggotanya, kenapa dia mengenakan jaket itu,” ucap Dino dengan membentak
“Jaket yang dipakai itu merupakan jaket teman gw, Samson. Kita main kerumah Samson sampai larut malam, dan waktu itu gw lagi masuk angin, akhirnya namu meminjamkan jaketnya,” jelasnya. “gw mohon bilang ke temen-temen lu supaya ngga terjadi bentrokan lagi, soalnya gw merasa bersalah banget.”

“Telat.”

***
Sudah pukul dua tepat, kedua kelompok sudah saling berhadapan, mereka sudah siap dengan segala sesuatunya, juga dengan segala dendamnya.

Winong, 14 juni 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar