Minggu, 03 Juli 2011

Angin Segar (iseng)

Sebuah angin segar dating tiba-tiba dan tak terduga, memberi sebuah harapan akan masa depan. Di saat perasaan saya sedang berharap cemas akan nilai yang belum juga keluar mungkin rasanya Seperti berada di arena perjudian dan menunggu seorang Bandar menjatuhkan batok kelapa yang berisi sebuah dadu.

Angin segar ini timbul Mungkin dari hal yang biasa, hanya cerita kenangan masa lalu. Sebuah pengalamanya dalam menjalani hidup. Ia berccerita bagaimana temanya yang sangat pintar dan kaya hanya menjadi seorang supir. Padahal Otaknya sudah tidak diragukan lagi. Hamper setiap ujian ia mendapat nilai 9 di pelajaran eksak. Bahkan kabarnya orang itu jarang belajar, (aku mengira bila makannaya sangat begizi dan berprotein hingga ia menjadi seperti itu) ditambah lagi hidupnya mewah, disaat tahun tujuh puluhan ia sudah mengendarai mobil saat bersekolah. Tapi sayiag saat kuliah tingkat dua dia sudah keburu menikah.

Dari cerita itu saya mengambil pelajaran, bila jangan menikah bila masih kuliah. Meski Saya masih belum tau apa hubunganya menuntut ilmu sama sudah nikah. Mungkin bila sudah menikah focus terhadap kuliah menjadi kurang.dan tendensinya lebih kepada istri. Selain itu pelajaran yang saya dapat ialah bila kepintaran tak menjamin sukses di masa depan bila tak di pergunakan dengan baik.

Pintar saja belum tentu sukses apalagi yang bego?

Ada lagi cerita tentang teman ayah saya yang pintar, kaya dan sukses dimasa depan. Ditambah lagi tampan serta dikerubungi banyak wanita. (“nggak seperti bapak, salaman aja malu sama cewe. Karna tanganya tajem akibat kapalan” ucap ayah}. Meski dikerubungi banyak wanita teman ayah saya tak begitu peduli, dia tetap saja belajar. Sampai akhirnya masuk ITB dan menjadi seorang direktur

Pelajaran yang saya ambil adalah wajar kalau orang ini sukses.

Lalu, ada lagi, kali ini seorang anak bupati yang menjadi pemborong (saya masih belum mengerti pekerjaan pemborong itu seperti apa dan bagaimana? Mungkin semacam kntraktor). Sekarang Dia meminta proyek kepada pejabat daerah. Padahal dahulu ayahnya pejabat. Tetapi sekarang keadaanya berubah. Bahkan ada yang berkata “sekarang elu minta proyek ama gw sampe nunduk-nunduk gitu, dulu bapak lu lewat gw ciumin mobilnya” dulu saat orangtuanya menjadi bupati ia hidup senang tetapi saat sudah lengser,. Semua berubah.

Pelajaran yang saya ambil adalah jangan memanfaatkan kekayaan orang tua untuk hidup. Tetapi manfaatkan kemampuan diri sendiri. Dari cerita ini orang tua saya malah menasihati saya agar saya tidak nyontek. Da nmenasihati agar memanfaatkan kemampuan sendiri.

Sekarang cerita seorang anak guru, miskin namun sukses. Kata orang tua saya orang ini belajar dengan sungguh-sungguh, bahkan sampai nangis-nangis saat belajar. Ditambah orang tuanya keras dalam mendidik. Tak segan untuk memukul dengan kayu yang besar terlebih orang tuanya tak akan menyerah sebelum memukul anaknya. Kesungguh-sungguhanya membawakan hasil dan anak ini pernah merasakan kursi mentri luar negri sebanyak 2 periode meskipun sudah tidak menjadi menlu lagi saat ini.

Pelajaran yang saya ambil adalah harus belajar dengan sungguh-sungguh, klo perlu sampai nagis-nagis agar bias jadi orang sukses..

Dan ini cerita terakhir. Ayah saya punya seorang teman, anak ini bias dikatakan kurang pintar atau bahasanya kasarnya bodoh, tapi saat lulus tak ada yang menyangka bila anak ini masuk ITB, saat diteriman, anak ini juga tak percaya saat mendapat ITB, bahkan anak ini mengikuti test lagi untuk memastikan, dan ternyata anak ini lulus. Hamper semua teman-temanya heran terhadapanya. Sebelum akhirnya keluar karena tidak kuat kuliah di ITB

Pelajaran yang saya ambil adalah kadang-kadang keberuntungan dating tak terduga-duga.

Inti dari cerita yang saya ambil dari semua itu ialah, kepintaan tak menjamin orang itu akan sukses bila tak dimanfaatkan dengan baik. Apabila ingin sukses orang itu harus sungguh-sungguh dalam mejalankan sesuatu. walau terkadang keberuntungan dari maha pencipta juga bias memperngaruhi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar