Senin, 25 Juli 2011

Layang-layang lelaki tua yang putus

Oleh Muhammad umar
Seorang kakek, umurnya kira-kira berkisar 60-70 tahun, aku tak tahu jelas siapa dia? Aku tak pernah melihatnya, mungkin ia warga pendatang baru. Aku sudah jarang bermain dengan teman rumahku, lebih sering berdiam dirumah.

Perawakan lelaki tua itu kurus, badanya kecil dan kempes. Tulangnya terlihat jelas, dibaluti dengan kulit yang mengkerut hampir di setiap bagian tubuhnya. Kulitnya sawo matang dan rambutnya sudah putih semua.

Tampaknya ia senang sekali memainkanya. Ini terlihat dari bentukan wajahnya yang sering bebinar ketika menggengam kaleng benang.Walaupun layang-layang itu tak terlalu bagus karena layangan itu singit, miring ke samping bila angin menerpa keras, ia masih berusaha membuat layang-layang itu tetap tinggi berada di udara.

Di sekelilingnya beberapa anak kecil juga sedang berusaha menerbangkan layang-layang. Bila dilihat, tubuh kakek itu yang paling berbeda. Ia adalah orang paling tinggi ditempat itu yang sedang bermain. Sepertinya tak ada rasa malu saat bermain meski orang itu telah berumur.

Beberapa anak kecil mengganggunya, dengan miminta untuk dipinjamkan layang-layang, bahkan beberapa anak kecil lain, ada yang merengek meminta agar kakek itu menerbangkan layang-layangnya yang sedari tadi belum terbang. Dengan baik kakek itu menuruti permintaan anak kecil itu.

Ketika orang tua berpakaian kaos oblong itu menerbangkan layang-layang salah satu anak kecil, Layang-layang miliknya yang dimainkan oleh anak kecil lainya tersangkut karena layang-layang itu sulit dikendalikan. Akhirnya lelaki tua ini memarahi anak kecil itu, sambil membereskan benangnya.

Benang digulungnya di tempat kaleng bekas susu yang dibaluti kertas agar kesat. Supaya benang tak keluar jalur dan tak kusut. Banyak sekali sambungan di benangnya. Mungkin benang miliknya hasil dari memungut benang yang tercecer di jalan. Layang-layangnya juga banyak sekali tambalan, mungkin orang tau itu dapat ketika layang-layang putus. Setelah selesai mengulung benang, ia langsung pergi.
***
Layang-layang berjejer banyak di langit cerah sore ketika aku pulang sekolah. Pertanda, musim layang-layang mulai mewabah. Aku sedikit senang karna sudah lama aku tak memainkanya. Menurut ingatanku, terakhir kali aku menarik benang layang-layang saat aku beranjak menuju SMP.

setelah melepas seragam putih abu-abu, Akhirnya ku persiapkan sedikit peralatan serta membeli beberapa layang-layang untuk dimaninkan.
“akhirnya. sudah lama aku tak memainkanya,” ucapku dalam hati.

Aku bermain di samping rumahku, disebuah halaman barisan kontrakan sempit. Aku sudah tak bisa bermain layang-layang ditanah lapang yang luas, maklum saja di perkampunganku sudah banyak tertanam bangunan rumah. Tanah lapang tempat aku bermain layang-layang dan sepak bola waktu kecil, sudah digusur dan berubah menjadi komplek perumahan.

Teman-temanku yang ingin bermain layang-layang harus mencari tempat khusus untuk bermain layang-layang. apabila mereka ingin bermain di tanah lapang, mereka harus berjalan dan itu lumayan jauh. Sebenarnya dekat namun lapangan itu berpagar tembok dan diatasnya terdapat kawat besi. Pintu masuk lapangan itu jauh. rumornya tanah lapang itu akan menjadi korban keganasan pembangunan dengan didirikannya kluster.

Layang-layang sudah mendapatkan anginya ketika kuterbangkan, ku ulur benangku agar mudah ku kendalikan. Setelah lumayan tinggi, ku lihat ada beberapa lawan di depan. lalu layang-layang ku beradu dengan layang-layang didepan, entah siapa pemiliknya, dan menang. Lalu ku coba beradu lagi, namun duel ku yang kedua kalah.

Aku tak terlalu pandai dalam memainkanya tetapi ada rasa tersendiri yang membuat aku ingin sekalii memainkanya. Ada rasa berdebar saat layang-layang ini mulai didekati ke lawan dan diadu, rasa kemenangan saat layang-layang musuh putus, dan ada rasa kecewa saat kalah, lalu penasaran untuk melawanya lagi. Jadi tak cukup punya satu layang-layang.

Layang-layang kucoba terbangkan lagi. Tetapi lawan tinggal satu, dan layangan itu tampaknya tak untuk di adu karna diberi hiasan rumbai- rumbai dan buntut. Karna tak ada lagi, Aku mencoba mendatangi temanku untuk menyuruhnya bermain dan berduel denganku tetapi layang-layangnya sudah habis.

Setelah itu aku pulang. Aku tak sengaja melihat pemain layang-layang yang berumbai-rumbai dan berbuntut itu. Aku pikir seorang anak kecil yang meminta dimainkan oleh kakeknya. Tetapi saat ku amati lagi selama beberapa lama, aku tau jikalau pemain layang-layang adalah seorang lelaki tua, kakek-kakek.
***
Pada suatu waktu aku melihat kakek itu sedang mengejar layang-layang bersama segerombolan anak kecil. Ia bersemangat sekali mengejarnya dengan peluh bercucuran terkena terik sore. Tak seperti aku, aku memilih membeli tertimbang mengejar layang-layang putus, tetapi terkadang ingin juga mengejarnya bila membayangkan saat masa-masa ku berlari berebut layang-layang putus dengan teman sampai akhirnya layang-layang itu sobek.

Lelaki tua itu tak pantang menyerah walaupun beberapa layang-layang yang ia kejar sering tersangkut di atas genting. Banyaknya rumah yang tertanam dikampungku tak hanya membuat ruwet dan jalan sempit, tapi juga membuat lelaki tua itu tak bisa mendaptkan layang-layang.

ketika mendapatkanya, orang tua itu langsung memberi hiasan pada layang-layang itu dan memainkanya. Bila ku hitung sudah lima hari orang tua itu memakai layang-layang itu dan tak berganti. Sampai layang-layang itu terlihat kotor dan hampir rusak. Sebelum akhirnya seorang bocah membabat layang-layang lelaki tua itu sampai putus.
Benang dikalengnya semakin pendek, dan layang-layang yang ia dapatkan sering di adu oleh anak kecil. Dan ketika layang-layang lelaki tua itu putus, anak kecil itu menertawakanya dengar terbahak-bahak.

Bila sudah putus begitu aku sering menemuinya di persimpangan jalan, sedang menunggu layang-layang putus. Ia menunggu dengan sabar. Dan ketika dapat, ia pasangkan hiasan lagi agar terlihat menarik, lalu menerbangkanya lagi. Tetapi anak-anak jahil itu menertawakanya ketika layang-layang kakek itu putus lagi.

Terkadang aku kasihan melihatnya. Dan membuatku kesal bila anak-anak itu mengadunya. Bila ada tanda-tanda anak tengik itu ingin mengadu kakek itu dengan sengaja aku sering memutuskan layang-layang anak kecil itu terlebh dahulu. Walau konsekuensinya akan dimarahi oleh kakak atau orang tua dari anak nakal itu.

Pernah pada suatu sore, aku ingin mengadu dengan temanku, untuk itu aku harus mengulur benangku hingga jauh, agar sampai. Tak sengaja ketika aku membelokan arah, layang-layangku mengenai layang-layangnya. Dan membuat layang-layang kakek itu putus.

Aku jadi merasa tidak enak dengan kekek itu, walaupun aku tak pernah kenal, temen-temanku juga berkata tak usah dipikirkan, tapi aku seperti merusak kebahagiaan yang telah dimilikinya. Aku berinisiatif untuk menggantinya, tetapi hari sudah terlalu sore.

Matahari sudah mengumpat dibalik awan yang mulai menghitam, waktu pertunjukannya hampir habis. Bulan bersiap untuk keluar dari balik layar menuju ke pentas, untuk menghibur manusia dengan cahaya terangnya agar alam ini tak terlalu gelap. suasana kala itu dingin mencekam, cuacapun menunjukan tanda-tanda akan hujan. dan aku menunda pemberianku kepada kakek itu.
***
Saat aku berjalan pulang, aku merasa lega sekali karena acaraku di sekolah sudah selesai.
“akhirnya bisa bermain layangan lagi, sahabis aku menginap disekolah karena ada acara,”ucapku dalam hati.
“aku juga ingin memberikan kakek itu beberapa layangan untuk mengganti layang-layangnya,” tambahku membatin

Hari sudah sore kala itu, cuaca sangat cerah, dan aku berfikir itu merupakan waktu ideal untuku bermain layang-layang. selama perjalan pulang dari depan gang menuju rumahku, tak ada tanda-tanda kehidupan layang-layang di udara. Sepi.

Bebrapa saat ku coba perhatikan, tetap tak tampak. Suasana sunyi. Dan ketika aku semakin dekat dengan kampungku, tak ada anak-anak yang bermain layang-layang. Mungkin aku pikir, musim layang-layang sudah berakhir, namun apakah begitu cepat musim permainan itu berkahir.

Semakin dekat, terlihat sebuah bendera ditiang-tiang listik tertempel. Bendera itu beukuran kecil berbentuk segi empat dan terbuat dari kertas minyak
“Inalilahi, wa ina ialihi rojiun,” ucapku dalam hati.

Ketik sampai dirumah, aku menyiapkan beberapa layang-layang untuk diberikan kepada lelaki tua itu. Setelah ku siapkan dan ingin pergi kerumah lelaki tua itu. Kutanyakan kepada orang yang berada dirumah perihal bendera kuning yang banyak tertempel di kampung ini.

“siapa yang meninggal,” ucap ku
“lelaki tua yang tinggal di ujung jalan sana, tadi siang dikuburkan”

Ciledug, 26 juli 2011

1 komentar: