Jumat, 12 Agustus 2011

Jalan yang bercerita


Oleh Muhammad Umar
Seperti pohon putri malu yang secara refleks menguncup ketika tersentuh, otakku secara refleks menjurus kesuatu era ketika memoriku tersentuh jalan ini. masa dimana aku masih menjadi remaja tanggung, saat pertama kali aku diajari cara merokok oleh temanku yang juga murid haji sardi. Jalan ini seperti sedang bercerita, dan aku menyimaknya dengan khusyu.

Waktu itu, jalan ini adalah tumpukan tanah yang akan becek berlumpur ketika musim hujan dan akan mengeras lalu retak dan berdebu disaat kemarau. Jalan ini sempit karena banyak tumbuhan besar tertancap dengan tanahnya beralas pohon putri malu yang batangnya tajam.

Dulu, jalan ini gelap dengan mitos tempat jin buang anak. Tak ada warga kampung yang ingin melewati jalan ini bila malam, kecuali terpaksa. Biasanya orang asing yang sering melewati jalan ini. Hanya aku dan murid haji sardi lain yang mau tak mau harus melewatinya karena diujung jalan sana terletak rumah haji sardi, guruku.

Kala itu, aku merupakan bagian dari murid haji sardi yang tiga. Sedikit oarang yang lulus ujian pertama karena syaratnya adalah kejujuran. Oleh karena itu alam yang mengawasi dan ia juga akan menyeleksi. Tak mungkin ada kecurangan pendidikan, karena kecurangan itu akan melumpuhkan tubuhnya ketika ujian di masa depan.
Mereka yang memilih jalan ilmu ini harus siap dengan kosekuensinya karena Ilmu yang diberikan oleh guruku itu ilmu kebal belati, parang, beceng, atau bahkan dilindas kereta tak mempan. Ini sangat sulit, sudah tiga tahun aku berguru, namun belum ada hasil, waktu itu.

setelah tujuh tahun kuarungi, ilmu itu ialah bagian dari tubuhku. Saat itu umurku kira-kira 20 tahun dan sedang mengeyam bangku SMU. Namun baru satu bulan aku menguasai ilmu itu, guruku kembali ke pangkuan sang empunya.

“Ilmu seperti itu sudah tak lagi berguna zaman sekarang, lebih baik kamu sekolah yang pintar agar tak dibodohi sepertiku,” ucapnya kepadaku saat nafasnya sudah di ujung tenggorokan, sebelum nafasnya terbang dibawa malaikat yang menjelma menjadi hembusan angin berudara dingin.
“ya,” ucapku.
Bersamaan dengan itu, kukembalikan ilmu itu ke alam. Akupun berbelok dipersimpangan dan tidak memilih melanjutkan jalan itu.
***
Aku berlari sekencang-kencangnya ketika aku mulai melihat jalan ini. “kenapa harus malam hari aku menimba ilmu itu, hingga aku harus lewat sini,” pekikku. kegelapan pekat berkuasa dijalan ini, “ah” kenapa aku takut gelap? Apa karena ada setan? Bukankah setan muncul kapan saja, dimana saja, dan dari mana saja. Kenapa harus malam, kenapa tidak siang yang ditakuti manusia? bukankah pada siang lebih banyak terjadi keseraman dibanding malam, pemeresan para petani dikampungku terjadi pada siang hari.

Nafasku tersenggal-sengal ketika sampai dan disambut senyum oleh guruku. Senyum tanpa menampilkan gigi dari lelaki tua berkopiah hitam dengan sorban di lehernya. Guruku sangat sederhana, Pakaian yang dikenakan hanya gamis putih yang menguning. Pakaian itu hampir menutup semua kulit keriputnya, kecuali telapak tangan, telapak kaki dan muka. Kerut diwajahnya seperti menggambarkan sisa usianya di bumi ini, matanya yang teduh menyiratkan ketenangan.

Aku harus pulang lebih cepat. Selain karena sedang ujian, aku harus menjaga keluargaku. Sudah dua bulan ini, kampungku sering disatroni garong. Banyak warga yang resah, termasuk ibuku yang takut akan kehilangan sapi satu-satunya.

Keesokan harinya, saat aku ingin menyambangi rumah guruku, tersiar kabar sapi milik tetanggaku hilang. Aku datangi rumahnya, ternyata benar kedua sapinya hilang. Perempuan pemilik sapi itu hanya menangis, terkadang mengamuk, meronta-ronta. Suaminya dikabarkan mengejar garong itu dengan golok.

Lalu aku langsung melapor ke haji sardi. Seperti biasa aku berlari sekencang-kecangnya di jalan itu, dan ketika sudah dekat dengan rumah guruku, aku menemukan seseorang tergeletak dan lariku semakin kencang.
“Pak haji.., ada mayat pak, pak haji.., pak haji..,” aku berteriak dengan sisa nafas.
Pintu dari bambu itu berderit. Pak haji langsung menghampiriku
“Ada apa?” ucapnya kaget
“Ada mayat, di jalan itu.”

Kami berempat langsung menuju ke tempat kejadian perkara. Hari itu pertama kalinya aku berjalan dan berlama-lama disana. Kami langsung membopong mayat pak barjo menuju rumahnya Selama perjalanan itu aku tak berani menatap jalan, juga mayat yang punggungnya hancur. Tatapan ini aku paksa mengarah ke haji sardi dan tak ku izinkan ke yang lain.

Sampai dirumahnya, istrinya yang baru saja menyelesaikan tangisnya harus memulai lagi, mungkin kali ini tangisnya tak akan berakhir. Setelah kejadian itu, para warga berjaga-jaga di depan rumah pak barjo. Tak ada yang bertangan kosong, semua memegang senjata kecuali haji sardi, ia hanya mengamati sekelilingnya sambil sesekali menghembuskan asap dari rokok yang dihisapnya.

Ketika sedang berjalan menuju rumah haji sardi. Aku melihat para lelaki itu berjaga di pos ronda dengan segala senjata dan amunisinya. Mereka seperti tak ada letihnya. Saat pagi mereka harus bertani, mencangkul hamparan sawah, menyirami, memupuki, menjaganya dari hama dan memanennya. Sedangkan saat malam mereka menyedikitkan waktu tidur untuk meronda.

Seusai pelajaran, aku langsung bergegas pulang.
“Kalian hati-hati, aku takut terjadi sesuatu pada kalian,” sambil terbatut-batuk ia mengucapkannya.
“Baik, pak haji,” ujar kami.

Sudah dua minggu setelah kematian pak barjo, guruku selalu berpesan seperti itu.
Saat sedang berlari, ku lihat pergerakan sesuatu, dadaku semakin terpacu cepat. Batinku semakin menciut, takut jikalau aku melihat setan, atau kuntilanak. Aku semakin menambah kecepatanku. Sudah dua kali aku terjatuh dan ditanganku manancap duri-duri pohon putri malu, namun anehnya aku tak merasakan sakit sedikitpun.

Malam ini tak hanya hitam pekat, seperti dipenuhi rasa panik, ya rasa yang paling egois, karena bisa menyingkirkan rasa apa saja. Rasa sakit, rasa pusing, rasa malas. Panik juga bisa mengalihkan apa saja, sebab pikiran akan terfokus kepada rasa itu, dan tak memberi ruang pada rasa lain untuk sekedar singgah.

Sesampai dirumah aku minta dibukakan pintu oleh ibuku.
“Ibu.., bu.., ibu..,” teriaku dari jarak jauh.
Dari beranda rumah, ku lihat satu-satunya kerbau kami tak ada, hanya terlihat kandangnya dengan rumput hijau masih menumpuk seperti baru sedikit termakan. Lalu kubuka pintu, ku tengok ke semua ruangan ternyata tak ada.

Akupun berlari, mengetuk pintu tetangga, tetapi tak tak ada satupun yang membuka pintu rumah mereka. Dua, tiga, empat pintu kuketuk, namun tak ada yang membuka. Dan dibukakan di pintu kelima. Ku lihat wanita itu didalam rumah sedang menggigil ketakutan.
“Dimana ibuku?”
“Aku tak tahu.”
“Ada apa ini?”
“Garong datang lagi!”

Saat aku keluar dari rumah itu, kulihat garong itu sedang berlari membawa sapiku dan beberapa sapi lain. Dibelakangnya beramai-ramai warga kampung sedang mengejarnya. Dan dibarisan paling depan kulihat seorang wanita sedang memegang parang. Aku sontak kaget dan langsung berlari mengejar wanita itu.

“Ibu ngapain?”
“Kerbau kita dicuri.”
“Yasudah, ibu pulang saja, biar aku yang mengurus.”
“Tidak, ibu ingin membunuh orang itu.”

Ketika hampir di muka jalan yang manuktkan itu, seorang lelaki mendapatkan garong itu, dan langsung membacoknya berkali-kali. Lalu lelaki itu terdiam, dan berusaha untuk kabur karena garong yang dibacoknya tak mempan golok. Tapi na’as lelaki itu malah menjadi korban pertama. Ibuku yang paling semangat mengejarnya tiba-tiba diam seperti tak ber-ruh.
Perlahan-lahan mereka mundur meski hatinya terus menerus membara, dan garong itu pergi. Mereka hanya menatap dengan segala amarah, dengan segala dendam.
***
Aku malu karena tak bisa berbuat apa-apa. lalu haji sardi datang dari balik jalan itu, ia berjalan tenang. Lalu menatap tajam kedua garong itu. Karena merasa dihadang dan ditutupi jalanya, salah satu garong menyerang haji sardi. Haji sardi memukulkan goloknya ke badan garong itu, namun tak mempan. Ia heran dan membuang goloknya

Lalu guruku itu mengambil keris yang berada dipinggangnya. Aku masih ingat cerita keris itu. Keris bertuah yang didapat guruku di alam mimpi, bisa merobek apa saja yang tersentuh. Di keris itu, terdapat banyak ukiran huruf aneh. Gagang keris itu terbuat dari emas murni, serta terdapat berlian di atasnya.

Mereka saling serang, namun duel itu dimenangkan haji sardi. Salah satu garong lagi terperanjat, karena badan temannya tembus. Ia pun langsung menyerang haji sardi yang belum sigap. Pundak kiri sampai puting haji sardi robek, darahpun terlihat jelas di baju putih yang menguning. Ia terusheran karena badannya bisa robek.
Hanya senjata tertentu yang bisa merobek tubuh haji sardi, biasanya senjata yang telah berumu lebih dari seratus tahun.

Haji sardi lalu menyerang balik, namun tidak menganai sasaran, malah tangannya tergores lagi. Haji sardi lalu jatuh, telentang setengah duduk. Tinggal selangkah lagi dari jangkauan garong itu.

Melihat kejadian itu, aku langsung menendang garong itu hingga ia terpelanting. Aku langsung mangambil keris haji sardi dan menusuknya dipunggung. Garong itu mengeram kesakitan.

Namun dengan segera garong itu menyibakku dengan sikunya, aku terpental. Posisi terbalik, aku melemah. Garong itu mendekatiku, aku berusaha untuk kabur, namun tak bisa. Garong mendekati. Aku pasrahkan semuanya kepada Tuhan, Lalu aku merasa terdapat darah ditubuhku dengan bau anyirnya. Nafasku sesak seperti tertimpa sesuatu. Pandanganku gelap.

Tububuhku tertindih garong itu yang tertusuk keris oleh haji sardi. Garong itu mati di jalan gelap ini.
***
Aku masih menatap jalan ini. memandangi suasana sekitanya, aku merasa banyak berubah sesudah 20 tahun aku tak kesini karena kuliah dan kerja di Australia. Aku masih mengingat saat terakhir kali aku disni. Ya satu bulan setelah kejadian itu disaat haji sardi dan ibuku jatuh diharibaan sang pencipta.

Bersamaan dengan berubahnya tanah manjadi aspal, pohon besar menjelma menjadi rumah bertingkat, pohon putri malu bermetamorfosis menjadi rumput jepang, dan suasana sepi berevolusi menjadi ramai. Aku mambating rokokku yang tinggal puntung, seraya berjalan melewati tiang dengan tulisan “JL. HAJI SARDI”
***
2011-08-12
Cerita seorang ayah kepada anaknya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar