Kamis, 18 Agustus 2011

Dua Puluh Lima Juta Rupiah Di Selipan Dompet

Oleh Muhammad Umar
Di kafe yang berpendingin udara, Sardi sedang berdiskusi dengan Bono, teman semejanya saat SMA. Mereka tertawa lepas dengan sesekali mengecup gelas yang berisikan air teh. Di atas meja tersaji beberapa toples kue, satu piring beling variasi buah, dua cangkir teh, dan satu kertas persegi panjang dengan tulisan dua puluh lima juta rupiah yang dibubuhkan dengan tinta pena. Di pojok kiri bawah tertera sebuah tanda tangan dengan nama jelas Bono Sunandar.

Mereka sudah tahunan tak bersua seperti seorang ibu yang menunggu anaknya pulang dari rantau. Mereka mentertawakan kebodohan masa remaja yang sudah lalu, menceritakan permasalahn keluarga sampai membicarakan pemerintahan suatu daerah.
Semakin lama, alur pembicaraan mereka berubah. Dari pembicaraan pemerintahan suatu daerah, perlahan tapi pasti, Bono membawa pembicaraan itu ke maksud utamanya mengajak Sardi bertemu.
“Perusahaan saya ikut lelang. Mudah-mudahan menang lelang yah. Kamu panitia lelangnya kan?”

Seiring berjalanya detak jarum jam, Senyum sardi menjadi tak alami sepert terdapat sesuatu yang menahannya tuk merubah bentuk bibir, namun ia paksakan untuk menghormati sahabat karibnya semasa SMA itu. Sardi mulai mengendus maksud dibalik pertemuannya. Meski dari mulutnya tak terlontar kata tolong tetapi maksud dan tujuannya jelas, karena Sardi sudah mengenal temannya itu.

Sebelum mereka tercerai, bono memberikan kertas yang bertuliskan dua puluh lima juta rupiah itu. Dengan segera Sardi menolaknya. Bono masih memaksa, sardi tetap menolak. Namun Bono memasukan cek itu ke kantong celana Sardi, lalu ia beranjak pergi.
“Kalau perlu, cairkan saja. Ada uangnya kok, buat berobat istrimu,” ucap Bono dengan ramah.
“Maaf, saya tak bisa terima.”
“Saya tak ada maksud apa-apa, saya hanya ingin membantu.”
“Ya, tapi maaf, saya tak bisa bantu apa-apa.”
***
Seusai perpisahan itu, Sardi tak pulang ke rumah. Ia menuju rumah sakit tempat istrinya diobati. Sudah tiga hari istrinya terbaring karena kangker kulit. Penyakit yang menetap di tubuh istrinya sejak dua tahun lalu akibat luka yang tak sembuh.

Sardi masuk kedalam pintu yang bertuliskan dahlia. Di dalam ruangan adik iparnya duduk menunggunya. Di malam yang hitam pekat itu, waktunya Sardi untuk menjaga istrinya. Adik iparnya pamit kepada Sardi namun tak pamit kepada kakaknya, karena sudah tertidur.

Di tepi kasur putih rumah sakit ia merebahkan bokongnya serta menatap wajah istrinya yang putih memucat dengan rambut panjangnya lurus terurai. Sardi menggenggam tangan istrinya yang diselusupi selang infus dengan sesekali mencium punggung tangan istrinya seraya mengucap doa di hati. Istrinya bergerak dengan keadaan masih tertidur.

Ia masih menatap paras putihnya selama setengah jam, sambil sesekali mengusap keringat yang merembes dari pori-pori kulit keningnya. Ia terpaku memandangnya namun penglihatannya semakin lama semakin kosong karena akalnya berkelana meninggalkan tubuhnya. Akalnya masih mencari cara agar ia bisa membayar operasi istrinya besok.

Setelah berkeliaran lama, akalnya secara refleks disapa oleh perjumpaan tadi sore dengan Bono. Sardi langsung merogoh kantongnya, mengeluarkan kertas yang tertulis dua puluh lima juta itu dari celana hitamnya. Lalu membuka lipatan kertas itu dan memandangnya. Hatinya ragu melihat kertas itu. Setelah itu ia melipatnya lagi dan menyelipkannya disela dompet.

Ketika waktu sudah hampir mengubah hari, Sardi menyadarkan pikirannya. Ia beranjak dari tepi kasur dan mencium kening istrinya yang basah oleh keringat. Ia menggelar karpet di lantai samping ranjang istrinya dan menarik tasnya untuk dijadikan bantal. Tubuhnya telentang sambil matanya menatap langit-langit ruangan rumah sakit. Beberapa saat kemudian tertidur.

Fajar sudah merekah dengan guratan cahaya jingga ketika sardi membuka mata. Hari ini istrinya akan dioperasi, namun ia tak bisa menemani karena harus memimpin rapat. Sardi berangkat bertepatan dengan dimulainya operasi.

Tiba di kantor, ia langsung memulai rapat. Ia dan kesembilan rekanya harus menentukan satu dari dari tiga kontraktor yang memenuhi syarat. Ternyata kesembilan dari rekannya sudah memilih perusahaan X karena dinilai kompeten.
“Saya tak mengerti mengapa bapak-bapak sekalian meilih perusahaan X, sedangkan perusahaan itu adalah perusahaan baru. Orang-orang diperusahaan itu merupakan orang-orang dari perusahaan B yang telah kita black list karena sering gagal,” ucap Sardi.
“Itu yang paling kompeten,” ucap lelaki di sebarang meja Sardi.
“Bagaimana dengan dua perusahaan lain.”
“Mereka sama saja, tiga perusahaan itu mempunyai akal bulus, kalau sudah di black list maka akan merubah nama,” ucap lelaki disamping kiri meja Sardi.
“Meski begitu kita harus objektif.”
“Ah, sudahlah, ini sudah konsensus,” ucap seorang wanita.
“Tapi setidaknya harus kita bedah lagi, kita harus diskusikan lagi soal ini.”
“Kami bersembilan sudah mendiskusikannya,” ucap lelaki diseberang meja lagi.

Mereka bersembilan masih berdebat dengan Sardi yang cuma sendirian selama satu jam.

“Sudahlah, terlalu lama kita berdebat. Pak Sardi, Ini sudah pesanan dari atas.”
“Kenapa tidak menolak.”
“Saya hanya bawahan.” Ucap lelaki yang terletak disamping kanan Sardi.

Sardi tercengan lalu terdiam. Ia mengamati orang-orang yang berada di ruang rapat itu. Dan lelaki yang terletak di hadapan meja Sardi berdiri, kursi yang di dudukinya bergoyang. Ia berdiri dengan satu tangan masih menempel di meja melingkar raung rapat. Lalu menambahkan.
“ah, saudara anak baru, sudah diam saja, ikuti saja jalan mainnya, terlalu idealis saudara,” dengan nada yang menyindir, setelah itu ia duduk dan menggumam.
Rapat selesai. Lelang dimenangkan perusahaan X yang dipimpin Bono. Semua peserta rapat segera berhamburan keluar. Sardi membereskan berkas sebelum keluar. Salah satu peserta rapat berbicara kepada temannya “Ini adalah rapat terlama yang pernah saya alami di sini.”

Sardi hanya diam saja, kupingnya menyimak namun ia pura-pura tak mendengar perkataan mereka. Sardi bergegas menuju ruangannya untuk menyimpan berkas dan membereskan tas agar bisa bersegera ke rumah sakit. Tiba-tiba salah satu peserta rapat yang juga teman sepermainannya mendekatinya.

“Memang nggak dapat dari Si Bono,” ucapnya. “Setahu saya dia selalu ngasih ke semua panitia, malah kalau ketua biasanya diberi paling banyak,” tambahnya.
Sardi hanya tersenyum meladeni teman waktu kecilnya itu.
“Kalau di sini jangan terlalu jujur lah, Sar, santai saja,” katanya lagi.

Sardi seperti disambar petir di siang bolong. Ia tersentak ketika teman seangkatannya itu bertutur. Padahal dia yang mengajarinya agama saat remaja. Sardi menghela nafas. Tempat ini seperti topi pesulap. Bisa merubah apa saja yang baik menjadi kurang baik atau mungkin tidak baik secara instan. Sardi berpamitan kepada temannya itu ketika berada di depan ruangannya.

Ia langsung pergi kerumah sakit. Di perjalanan ia gelisah namun ia memacu mobilnya dengan kencang denagn tidak konsentrasi. Hampir kulit mobilnya tergores metro mini yang berugal-ugalan ria. Dalam kecepatan tinggi, telepon genggamnya berbunyi. Adik iparnya memberi kabar baik tentang istrinya, berita itu membuat perasaannya tenang.

Setelah sampai dirumah sakit, ia langsung menuju ruang dahlia dengan setengah berlari. Ia mendorong pintu dan ketika melihat istrinya, ia segera memeluk dan mencium kening istrinya. Lalu ia mengajak istrinya mengobrol sambil menggenggam tangannya kuat-kuat. Rasa galau Sardi runtuh ketika.

Dua hari setelah itu, istrinya diperbolehkan pulang. Ia menuju bank terdekat untuk menyelesaikan biaya rumah sakit sebesar 20 juta rupiah. Cek ia keluarkan dengan ragu namun pikirannya memberikan banyak macam alasan karena perusahaan X yang dipimpin oleh Bono memenangkan tender.

Ketika sampai di depan teller bank, ia memberikan cek itu kepada petugas untuk diproses. Petugas itu melayaninya dengan ramah. Sardi menunggu proses itu dengan resah. Di belakangnya para nasabah bank itu mengantri dengan sabar. Dengan cepat petugas wanita itu muncul dan munyuruh Sardi tuk tanda tangan.

Pena tergenggam di tangannya dan sudah mengarah ke kertas yang diberi petugas bank itu. Sardi membaca kertas yang akan ia tanda tangani. Petugas itu mempersilahkan dengan senyum sambil menunjukan ke tempat ia harus menorehkan tintanya. Ia terdiam.

Sardi menjatuhkan pulpennya di atas kertas yang harus ia tanda tangani dan menanyakan bagaimana caranya meminjam uang dengan jaminan sertifikat rumah. Cek yang ia serahkan, dipintanya. Ia melipatnya dan diselipkan di dompet.
***
Mereka sampai di rumah dengan pesan dokter harus berobat jalan. Istrinya diarahkan menuju kamar perlahan-lahan. Sardi menemani di sampingnya sambil sesekali mengambil sesuatu yang diinginkannya.

Sardi masih mentap wajah putih istrinya yang menyegar. Bulu mata lentiknya dan hidung bangirnya terlihat indah dengan rambut lurus yang terurai. Ia masih terpaku melihatnya dan pandangannya semakin lama semakin kosong karena akalnya menayangkan peristiwa di ruang rapat itu.

Teguran dari istrinya mengembalikan akalnya yang berkelana. Sardi lalu berkata kepada istrinya.
“Maafkan aku, aku sudah berusaha jujur. Aku tidak bisa mengubah. Aku tak bisa melawan arus. Tapi aku tak mau mengikuti arus. Aku berusaha tak seperti mereka.”
Istrinya yang tak mengerti, melihat suaminya dengan tatapan aneh, setelah itu mereka berdua tertawa.
2011-08-18

2 komentar:

  1. ga sempat di baca semua, terlalu panjang.

    main ke blog gw dunk.!!!

    BalasHapus
  2. okehhh, terima kasih muta udah mampir

    BalasHapus