Jumat, 17 Februari 2017

Ajakan untuk tidak membincang pilkada!

Agaknya sudah cukup politik membuat kalian berperang. Membela pihak sesuai dengan keyakinan. Saling menyerang dan bertahan. Mencari rekan untuk mengkonfrontasi lawan. Membujuk lawan untuk menjadi teman. Bukankan kita tahu kalau perang selalu menuai korban?

Kepala kalian sudah terlalu keras untuk beradu pendapat. Otak kalian sudah diperas untuk saling berdebat. Tampaknya, akan lebih baik kalau kita berbicara tentang perempuan dari kost-an sebelah dan stop membincang tentang pilkada. Bukankan kita punya perspektif yang sama, tentang bagaimana cantiknya dia?

Dia, perempuan yang pandai bersolek, menabur bedak di parasnya hingga beberapa noda jerawatnya dikala puber, tertutupi. Gincu merahnya, membuat kita beberapa kali harus menelan ludah. Pipinya yang merah muda, semakin menggemaskan. Oh ya, Bagian favorite kita adalah, ketika dia pergi ke warung tanpa rias wajah untuk membeli kerupuk dan mie instan. Oh cukup membuat jantung berdegup lebih cepat, bukan.

Sebut saja mawar, begitu kita membahasnya. Kita selalu menunggu saban sore di warung depan untuk sekadar menyapa. Mengucapkan kata “hai,” kepadanya. Ketika ia datang, suasana obrolan kita yang terbahak-bahak menjadi sunyi sejenak. Senyum malu-malunya, tanpa sadar membuat dada kita bergetar. Wangi parfumnya yang tidak terlalu menyengat, seolah-olah membuat dia berada bersama kita meskipun sudah berjalan menjauh. Ketika dia sudah masuk ke dalam kost-anya, kita malah memasukan jari telunjuk dan jempul kita ke mulut untuk membunyikan “swiiit, swiiitt, swiiit.”

Perubahan profil picture di aplikasi obrolannya, selalu jadi informasi terhangat untuk dibahas. Gayanya berpose dengan menaruh kedua tangan di kepala membentuk telingat kelinci, tak lupa kita simpan. Kemudian, kita tahu, bagaimana geramnya kita ketika dia berfoto dengan seorang laki-laki yang selalu kita sebut “monyetnya.”

Atau tentang bagaimana senangnya kau dan kau saat diminta bantuan untuk mengangkat galon ke atas dispensernya. Menggulung lengan baju seolah ingin menunjukan otot tangan, padahal tangan kalian berdua hanya tulang saja. Kalian berdua selalu mengulang cerita tetang bagaimana isi kamarnya yang tertata tapih. Sedankan kau, betapa senangnya kau saat dia mengetuk pintumu, ketika kau dipanggil ibu kost. Padahal, itu kabar buruk bagimu karena ibu kost menagih uang bulanan.

Kita selalu mencuri pandang kepadanya saat dia sedang menyapu lantai kamarnya. Gemas kepadanya saat dia sedang memeras baju yang ingin dijemur. Keringat di dahinya, membuatnya tampak kuat meskipun tak bisa kita pungkiri bagaimana jenakanya dia. Ingin sekali kita membantunya tapi dia selalu menolak. “biar aku saja,” ujarnya. Suaranya sopan dan lembut.

Sepertinya, dia juga taat beribadah. Membuat kita semakin ingin memilikinya. Menghalalkanya. Ibu kost-an selalu perduli padanya, seolah-olah ibu kandungnya. Selalu diberi perhatian, sering diberi makanan, sering diberi toleransi apabila telat membayar uang kost-an.

Tapi hari ini aku aku punya kabar baik, “bukan tentang pilkada, tapi dia sudah putus dengan pacarnya.” kataku. Aku tahu informasi tersebut dari teman dekatnya. Katanya, pacarnya memutuskanya dengan alasan dia terlalu baik. Kita merasa geram mendenger hal itu, bukan? Perempuan seperti dia, diperlakukan dengan semena-mena. Tapi di satu sisi, kita bersyukur. Implikasinya, salah satu dari kita punya kesempatan jadi pacarnya, tentunya kalau dia mau sama kita. “Biarkan pilkada saja yang membuat kita ribut-ribut, naik darah, adu bacot begini. Untuk soal wanita, jangan!”



03.54
18/02/2017
Bilik inspirasi













Tidak ada komentar:

Posting Komentar