Senin, 07 Februari 2011

Perjalanan Kecil Itu

Makan malam selesai, malam sudah semakin larut, dingin semakin menusuk, pakaian yang digunakan semakin tebel, dan mata semakin mengantuk.
            “Sebelum kita tidur, kita bagi tugas untuk berjaga. malam ini yang jaga, yang tidur di pondokan sini, besok malam yang tidur dipondokan sana” ujar galih. Setelah pembagain tugas itu, aku, Hamdan dan Rifki berjaga sesuai dengan jam yang ditentukan. Sambil berjaga play ststion dinyalakan. Aku menunggu waktu untuk main sambil membaca sebuah roman.
Saat kami sedang berjaga waktu itu, banyak teman perempuan yang tidak bisa tidur juga, dan beberapa yang dari pondokan sebelah juga tidak bisa tidur. Akhirnya roman pun aku tinggalkan. aku dan mereka yang matanya tidak bisa terpejam bermain uno. Tenyata permainan ini menyenagkan juga pada saat itu pertama kalinya Aku memainkan permainan kartu ini. ternyata Aku ketagihan sampai-sampai aku tak peduli dengan giliranku bermain PS karena ayik bermain uno.
            Pada saat awal, aku sering kesulitan dan sering kalah. Lama-kelamaan akhirnya kemenangan sering aku dominasi.
            “Main uno tuh serunya bukan hanya pas menang, tetapi pada saat menjebak teman kita untuk mengambil kartu tambahan yang banyak,” tutur Rifki yang disambut tertawa hangat oleh yang lain.
Keceriaan ini terus menerus sampai pukul satu yang artinya tugas jagaku berakhir. Akupun mulai tidur dan tak tau lagi apa yang terjadi.

*****

            Kesibukan sudah terasa saat mata ini terbuka, rasa dingin tetap menyengat, langkah kaki sangat berat, malas rasanya. Badan ingin terbaring saja ditempat tidur. Beberapa lama kemudian kutekatkan untuk bangun dan solat, kupergi ke kamar mandi, dan ku injak lantai kamar mandi yang basah, dan rasanya, “kaku.” Perlahan kubasuh air ke bagian yang harus terkena air wudhu, “woow,’ dalam hati berkata. Kulit seperti mati rasa. Akhirnya aku hanya membasuh kulit sekedarnya, hanya yang wajib saja.
            Akibat terkena air wudhu tersebu, setelah solat, aku tidak bisa tidur lagi
sun set ada di sebelah sana, (berada di samping pondokan),” uacap rifki. Setelah melongok sebentar kearah terbitnya matahari Aku dan Rahmat kesana, tak lupa kusertakan juga kamera saku untuk mengababadikan saat itu. 

            Beberapa kali kuambil gambar tentang pemandangan itu, beberapa saat kemudian rifki pun datang, satu per satu kita berfoto ria yang berlatar belakang matahari terbit.
            “eh, pada makan dulu, buruan kesini biar semua kebagian dan dapet semua” Ucap Tiwi, soerang wanita yang sering measak makanan untuk kami saat berada di podokan. Matahari yang semakin naik mengiringi kami melangkah ke pondokan, seperti biasa, dalam urusan makan, mahasiswa ini paling dulu, sejak makanan disajikan, sudah hampir semua orang dipondokan mengerubungi. Kekelurgaanya sangat terasa waktu itu, semua bersuka cita, walau ada yang kekurangan nasi, ada yang kekurangan lauk, ada yang kekurangan  sambal, ada yang tak dapat piring, ada yang tak dapat sendok, ada yang menyembunyikan lauk, entah apalah, ada saja tingkahnya
            Nikmatnya makan bersama, bercanda saat makan, ada yang makan sambil menonton Spongebob, sambil melihat pemandangan, ada yang mengumpat sambil makan, ada yang makan sendirian dan khusuk menikmati makanan. yang pasti semua itu membuat kami semakin dekat dan semakin dekat, sudah seperti keluarga, ya keluarga besar Akuntansi C 2009 UIN Jakarta.
            “abis makan piringnya cuci ya,” ucap Galih. Walaupun sudah diseru seperti itu oleh Galih tetap saja masih banyak yang tidak mencuci. Hanya beberapa orang saja.
            Setelah  semua beres kami semua bersiap-siap untuk pergi ke Air Terjun Curug. tempatnya masih satu wilaya dengan pondokan kami. Untuk kesana kita mesti jalan dari pondok, lumayan jauh dari pondok, setelah beli karcis seharga Rp.2500,- yang semestinya harga karcis itu Rp.1000,- kami berjalan melewati kebun pertanian sampai masuk ke wilayah air terjun. Saat masuk kami juga mesti berjalan lagi agar sampai ke air terjun. Jalananya sempit dan juga terletak di pinggir jurang. Pagar pembatas banyak yang rubuh, terjal saat jalan menurun, dan terdapat jalanan yang licin.
            Pohom-pohon tinggi dan hijau. Menemani perjalanan kami, lumayan jauh dan meletihkan. Melewati sungai yang airnya jernih, jembatan kecil, jalan setapak. Karena jarak yang lumayan jauh, banyak perempuan yang mengeluh.
            Sekian lama kami berjalan kami pun tiba juga di air terjun itu. Tempatnya indah dengan udaranya yang dingi, airnya jernih , jatuh dari tempat yang sangat tinggi. Masih dikelilingi hutan. Bukit-bukit, Terdapat aliran sungai yang mungkin untuk mengairi lahan pertanian. Sungai itu airnya bening dan kita bisa melihat isi dari dasar sungai itu yang berisi kerikil dan pasir, walau terkadang berlumut. Bau airnya sangat terasa. Banyak terdapat batu-batu cadas, Dan terlihat ada bekas kayu terbakar yang tampaknya ada beberapa orang yang habis bermalam disini.
            Banyak yang berfoto ria disana, mengamati keadaan sekitar, bermain air, dengan menceburkan kaki ke sungai yang dangkal tempat air terjun tumpah, menciprati teman. adapula yang naik ke keatas, ketempat awal jatuhnya air, serta ada jua yang menelusuri  sumber sungai tetapi sulit, karena banyak yang dahan yang menghalangi. Semua menikmati suasana dan keindahan tempat ini.
            Selang beberapa lama, haripun sudah mulai siang. kami kembali ke pondokan. Jalan kami lalui dari air terjun masih sama dengan yang tadi, namun ditengah perjalan ada jalan bercabag dan kami memilih jalan baru, dan benar saja ternyata terdapat tempat indah. Tempatnya memang sebuah lahan pertanian, namun sangat indah, lebih indah dari pemandangan didepan pondokan. kami berada di tempat yang tinggi sehingga terlihat semua yang terhampar luas, ditambah sinar matahari sehingga membuat terang semua, gunung-gunung yang terlihat kekar serta perbukitanya yang tersusun rapi,  lahan pertanian, dilengkapi para petani yang membuatnya semakin indah, gubuk kecil tempat menyimpan pupuk dan juga istirahat, tanaman pertanian yang sudah menghasilkan buah, ditambah suara nyaian burung yang membuatnya serasa mengngagumkan. Mambuat kami merasa seperti tidak ada apa-apanya ditengah hamparan tempat indah itu.
            Disana, aku berhenti sejenak, berdiri disebuah jalan kecil yang membelah antara lahan pertanian dan hutan,  memejamkan mata dibawah sinar mentari pagi, menghirup dalam-dalam udara segar waktu itu, mengangkat tangan, merasakan kedatangan angin yang berhembus. Keindahan itu  merasuk ke dalam hati, membuat diri ini tenang dengan keadaan disekitar, dan me-refresh otak dengan kenyamananya.
            Keindahan itu mengantar perjalanan kami kepondokan. Sesampainya dipondokan, semua istirahat.. kamar mandi yang cuma dua menjadi rebutan oleh mahasiswa ini. Dan  Sisa-sisa keindahan itu masih tergambar jelas  di kepala, maha karya Tuhan yang menciptakan semua ini. Puji syukur kepada Engkau kami panjatkan atas segala keindahan alam Indonesia ini, yang subur kaya raya akan hasil bumi. Semoga ini akan terawat dan tidak dirusak oleh manusia, selaku protagonist atas ciptaan-MU ini.

1 komentar:

  1. saya ingin berkomentar.. bolehkah??

    gimana kalo judul perjalanan itu lbh spesifik. misalnya ambil satu angle yg lbh menarik dan jadikan judul. daripada judulnya perjalanan?? hee..
    setiap langkah dari kita adalah perjalanan tp pastinya ada satu hal yg menarik..
    karena ini blog, pastinya adalah ruang berekspresi sewenang kita...

    masalah identitas met. JIka saya menamakan blog saya dgn perempuan ini karna saya ingin menulis hal2 sederhana yg ada di sekeliling hidup saya, hidup perempuan. Makanya, saya lebih bangga menggunakan kata perempuan daripada wanita atau cewek. Bagaimana dengan anda???
    bebaskan itu dlm blog.. karna itu adalah ruang anda. semoga kita dapat berdiskusi lbh lanjut. tp saya suka foto2 anda bung mamet... ^_^

    BalasHapus