Senin, 29 Agustus 2011

Ciuman

Pada suatu malam, di sebuah mall, tepatnya dibilangan Alam Sutra, Tangerang. Saya melihat seorang muda-mudi sedang asyik bercengkrama. Mereka besenang-senang disebuah kafe yang menyajikan masakan tradisional daerah tertentu. Suasana kafe itu sepi, (saya hanya melihat mereka berdua di kafe itu) jarang orang berlalu lalang disana, hanya sesekali karyawan mall itu melintas. Ditambah malam yang sudah semakin larut membuatnya semakin sunyi.

Muda-mudi itu terlihat menikmati suasana, mereka tertawa riang, mendengarkan musik bersama menggunakan headset, berfoto dan bercanda ria. Bila dilihat menurut subjektif saya, penampilan mereka dan keadaan fisik mereka terlihat menarik. Mereka terlihat sepasang kekasih, meski saya tak tahu yang sebenarnya.

Ketika saya menengok sejenak dari samping kafe tersebut, tak sengaja melihat si perempuan itu memegang pipi si laki-laki sambil duduk di sofa kafe itu. Setelah itu si perempuan mencium bibir si laki-laki tersebut, namun tak lama durasinya. Setelah itu mereka bersikap seperti biasa saja dan tak perduli sekitar.

Saat saya melihat kejadian itu, tak ada sesuatu yang berbeda, biasa saja. Namun ketika saya terbengong sejenak, saya merasa ada suatu keadaan yang berubah. Mungkinkah budaya? Anak sekecil mereka (saya tak tahu apakah tubuh mereka yang kecil namun sudah berumur atau memang mereka masih belum punya KTP) sudah berani melakukan hal tersebut di tempat umum.

Mungkin sudah biasa bila remaja seusia mereka melakukan hal itu di kota ini (pandangan subjektif saya). Namun bila dilakukan di tempat seumum itu, di tempat yang semua orang bias melihatnya, bahkan balita sekali pun. Saya pikir tidak biasa dan itu yang sangat menjadi perhatian bagi saya terutama tempat mereka melakukannya. Sepasang suami-istri pun jarang terlihat berciuman di tempat umum seperti itu.

Apakah ada suatu transformasi budaya? Bukankah hal seperti itu merupakan hal yang pribadi dan intim untuk dilakukan di Negara timur seperti Indonesia. Apakah mereka sudah benar-benar terpengaruh budaya Negara barat? Tapi setahu saya di beberapa Negara barat pun dilarang melakukannya di tempat umum.

Terlebih mereka merasa biasa saja, seperti hal itu sudah umum, dan tak perlu diperbincangkan. Atau mungkin karena terlalu terbakar gelora asmara sehingga mereka tak memperdulikan keadaan sekitar. Se”buta” itukah asmara semasa muda? Mungkinkah karena jiwa muda, jiwa yang mengidam-idamkan kebabasan sehingga mereka bersikap bebas tanpa tahu keadaan.

Walau begitu, mereka merupakan salah satu pelajaran bagi saya. Mungkinkah mereka manifestasi keadaan remaja di kota ini, atau di negara ini? Saya tak tahu bagaimana keadaannya sesungguhnya. Saya harap tidak.

Setelah dirasa upacara bercumbu dan dinnernya cukup, muda-mudi itu pun bergegas pergi dengan santai. Dan saya masih duduk di tempat itu dan belum berniat beranjak sambil menikmati sebuah kopi bersama teman-teman saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar