Kamis, 18 Agustus 2011

Siluman Menjelma Menjadi Sinetron

oleh Muhammad Umar
Hari senin, 15 Agustus 2011, sekitar pukul sembilan pagi WIB. Terdapat suatu acara sinetron di salah satu stasiun televisi swasta. Dalam film itu digambarkan seorang cowo jagoan yang ingin mengembalikan tali persahabatannya dengan seorang cewe, dimana si cowo itu akan melakukan apa saja agar si cewe mau menerimanya lagi menjadi sahabatnya.

Latar belakang film ini adalah sebuah sekolah SMA mewah, dimana si tokoh utamanya mengandarai harley davidson sebagai alat tranportasi. Tak lupa ajakan clubing seperti sudah lazim disebut dalam sinetron itu oleh remaja yang KTPnya saja masih dibuatkan, belum mengurus sendiri. Terlebih uang yang berwarna biru seperti uang ribuan yang dengan mudah dibuang-buang dari kantongnya.

Tayangan ini seperti siluman yang bisa merasuk ke tubuh para remaja atau anak-anak yang menontonya. Hingga terbentuk suatu pola pikir yang mempengaruhi mereka dalam bertingkah laku. Pola pikir dimana untuk dianggap “keren” dia harus berpola hidup mewah, Pola hidup yang biasa tinggal di negara kapitalis dan mulai mewabah ke indonesia. Hal ini tergambar jelas dalam sinetron ini.

Bila ditinjau dengan konteks kekinian, menjadi wajar bila banyak para remaja yang rela menghabiskan uangnya untuk berpola hidup mewah. Pola hidup yang kurang cocok bila diterapkan di negara yang masih terdapat rumah dipinggir kali. Bila orang tua dari para remaja itu adalah seorang yang berkecukupan itu akan menjadi lumrah, namun dengan status sosial masayarakat yang masih terseok-seok untuk memenuhi biaya pendidikan, bagaimana?

Budaya ini mulai merasuk ke pemuda-pemudi indonesia, dan bisa dikatakan salah satu faktornya adalah sebuah tontonan itu sendiri. Yang perlu dipertanyakan apakah motif dar si pembuat film itu sendiri, dan para manusia yang terlibat dalam produksinya. Bila bemotif ekonomi, haruskah mengorbankan pemuda-pemudi indonesia.

jika diamati, masih sangat banyak tayangan yang mendidik, dan biasanya tontonan yang disuguhkan oleh mereka adalah tontonan yang mempunyai rating tinggi dan berkualitas tinggi. Namun tak mengurangi minat masyarakat untuk melahap tontonan itu.

Mestinya tayangan yang mempunyai rating baik juga jangan menjadi berlebihan. Jangan karena “aji mumpung” mereka manambah eposide begitu saja. Terkadang penambahan yang seperti itu akan membuat para penontonya jengah karena jalan ceritanya tak lagi bagus. Serta pesan-pesan yang disampaikan menjadi tidak bisa dicerna oleh penontonya.

Meski begitu, mesti ada kontrol dari para remaja tersebut. Mereka mesti bisa mennyeleksi tontonan-tontonan yang baik dan yang buruk. Selain itu juga masih banyak tontonan yang lebih baik tertimbang sinetron yang menyuguhkan mimpi-mimpi patah hati yang diselimuti kemewahan membunuh.

Untuk para produsen sinetron, semestinya mereka membuat suatu film yang secara langsung atau tak langsung berguna dan mendidik, karena para remaja dan anak-anak sedang dalam masa pendidikan dan mudah terpengaruh. Jadi bila sudah sedari kecil seperti itu bagaimana dimasa depannya. Jangan hanya membuat film yang menjual mimpi indah tanpa memberikan pendidikan untuk mencapainya. Sesuai takaran bukankah lebih baik daripada berlebihan atau kurang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar