Kamis, 18 Agustus 2011

Lukisan Dinding Di Wijaya Galery

Oleh Muhammad Umar
Lukisan berukuran 50x50 cm itu terpampang di dinding menghadap pintu masuk toko wijaya galery. Penempatanya seolah-oleh merupakan lukisan selamat datang yang menyapa pengunjung dengan tatapan genit, hingga mata pengunjung akan secera refleks melihatnya ketika masuk.

Lukisan itu berupa seorang perempuan bersayap seperti peri berdiri tanpa mengenakan sehelai benang di tubuhnya. Perempuan itu menutup paras eloknyanya dengan kedua tangannya. Kulit putih mulusnya terlihat dari ujung jempol kaki hinggal kening seraya turut memancarkan keindahan duniawi. Rambut panjang dan kemerahan kukunya, ditambah latar belakang lukisan yang berwarna pelangi akan memaku setiap tatapan yang mengarah kepadanya.

Itu merupakan lukisan paling berwarna yang tertempel di dinding toko itu. Pemilik lukisan itu adalah wijaya, seorang seniman dan juga sebagai pemilik wijaya galery. Wijaya mempunyai rambut yang panjang hingga pundak yang dikuncir. berperut buncit dan tak terlalu tinggi. Lelaki berumur 40 tahun ini telah membuka galerynya selama berpuluh-puluh tahun hingga banyak orang yang sudah mengenalnya dekat.
***
Di saat terik matahari pagi menjelang siang, seorang bapak dengan menggandeng anaknya menginjakan kakinya di wijaya galery. Bapak itu mempunyai tinggi sekitar 175cm dan sedikit kurus, ia menggunakan sepatu sandal santai berwarna coklat. Bila dilihat dari wajahnya, ia berumur kurang lebih 35 tahun. Sedangkan anaknya kira-kira berumur 5 tahun. Anak ini menggunakan celana pendek berbahan denim dengan kaos berkerah berwarna warni kesukaanya.

Dengan membawa sebuah gambar orang itu menyambangi wijaya gallery. Gambar itu merupakan gambar kota suci dimana ratusan orang setiap tahunnya datang untuk berziarah kesana. Kota suci terlihat indah dengan suasana malam ditemani lampu-lampu yang dengan sombongnya menunjukan cahayanya silaunya.

Lelaki itu berkeinginan memasangkan bingkai untuk gambarnya. sebelumnya ia celingak-celinguk di depan daftar pilihan bingkai yang tersangkut di dinding toko untuk memilih bingkai yang tepat. Ia membayangkan satu demi satu bingkai itu bila diadu dengan gambar kota suci miliknya.

Sambil memilih, ia bertanya harga kepada pemilik toko itu. lelaki itu menunjuk frame yang bertekstur agar gambarnya terkesan mewah. Setelah menjawab tingkatan harga, pemilik toko wijaya galery itu merekomendasikan beberapa alternatif kepada lelaki itu agar gambarnya tak terlihat ruwet. Percakapn itu terjadi begit santai dalam terik mentari pagi menuju siang.

Suara deru mesin kendaraan bermotor dan sesekali bunyi klokson menemani diskusi kedua orang itu di galery wijaya yang bersentuhan langsung dengan jalan raya. Tumpahan cat minyak, beberapa potongan kayu, serta beberapa karya yang rusak atau gagal menjadi pemandangan tersendiri yang mencuat dari toko itu.

Selama proses tawar-menawar , lelaki itu membiarkan anaknya untuk melihat lihat. Anak itu melihat beberapa lukisan dengan aneh. Lalu ia berpindah untuk melihat lukisan setengah jadi yang masih tertera di kanvas yang dijepit oleh besi dengan tiga potong kaki kayu untuk menopang sketsa lukisan itu. saat ia mencoba menyentuhnya,bapaknya langsung melarangnya.
“Jangan pegang-pegang nak!”
“Kenapa pak?”
“Nanti lukisan pak wijaya rusak.”
Anak itu segera menjauh dan kembali melihat lihat lagi.

Saat terik matahari pagi bergerak menuju siang. Lelaki itu sepakat untuk memasang bingkai dengan bahan kayu yang warnanya natural. Kayu itu terbuat dari kayu jati dengan beberapa ukiran disetiap sudutnya. Pelukis itu segera mengukur gambar itu untuk disesuaikan dengan bingkainya.

Sambil menunggu, bapak itu melihat beberapa karya pemilik toko itu. saat sedang mengagumi keindahan lukisan itu, anak kecil itu mendekati ayahnya, lalu ia menunjukan sebuah gambar yang terpampang di dinding menghadap pintu masuk toko wijaya galery. Ayahnya terkaget-kaget melihatnya.
“Kenapa nak dengan gambar itu?”
“aku mau gambar itu pak.”
Lelaki tua itu sontak, hatinya berdebar. Ia tak menyangka anak sekecil itu meminta lukisan seorang perempuan bersayap yang berdiri tanpa mengenakan sehelai benang di tubuhnya. Perempuan itu menutup paras eloknyanya dengan kedua tangannya. Kulit putih mulusnya dari jempol kaki sampai keningnya terlihat indah. Ditambah lagi kukunya yang merah dan rambuynya yang hitam beradu dengan Latar belakang berwarna warni hingga menambah cerah gambar itu.

Lelaki itu mencoba bersikap tenang. Rasa kagetnya sebisa mungkin ia sembunyikan di depan anaknya. Dengan tenang ia menasihati anaknya agar tak memilih gambar itu.
“Gambar itu jelek, nak.”
“Aku mau gambar itu, pak.”
“Iya, tapi jangan gambar itu, nanti saja bapak belikan mainan,” bujuknya
“Gambar itu sama mainannya juga, pak.”
“Nanti bapak belikan mainan saja, nggak dengan gambar itu,”
“Nggak mau, aku mau gambar itu,” bantah anak itu.
Orang tua ini kesal karena anaknya tak mau menuruti ucapanya. Ia mencoba membujuk anakya lagi dengan cara yang berbeda.
“Adi kan anak baik, anak baik harus nurut apa kata bapak.”
“Iya, tapi aku mau gambar itu pak,”
“Iya, kita pulang dulu, bilang mamah dulu ya.”
“Nggak mau, bapak nanti bohong.”
“Itu gambar porno, kamu masih kecil, nggak boleh.”
“Aku mau gambar porno itu pak,” ucapnya mengikuti ayahnya.
Kesabaran lelaki itu hilang juga. Ia menarik anaknya, dan memarahinya. Anak itu langsung ngambek dan duduk lantai toko yang hanya beralaskan peluran. Anak itu menendang-nendang, lalu melepas sepatunya dan melempar-lempar sepatunya. Tetapi ia belum menangis.

Anak ini sangat pintar, biasanya dengan melakukan hal seperti ini bapaknya memberikan sesuatu yang di inginkanya. Namun kali ini bapaknya tak akan mau menurut kemauan anaknya itu. ia bahkan bertambah marah saat anaknya melakukan hal itu.

Lalu lelaki tua itu berpura-pura ingin memukul anaknya, namun anak itu tak bergeming, anak itu masih menendang-nendang dan menangis ketika bapaknya menjewernya telinganya karena tak bisa diberi tahu.

Lalu pemilik toko itu keluar tuk melihat apa yang terjadi sekaligus mengkonfirmasi bahwa materi untuk gambar itu tersedia. Pemilik toko itu langsung menanyakan peri hal yang terjadi kepada lelaki itu. pertanyaan itu disambut oleh makian dari lelaki itu.
setelah memberi uang, ia langsung menarik anaknya yang sedang menangis menuju mobil. namun anak itu berontak dan berhasil lolos. Ia pergi ke arah wijaya galery, berlari kencang. namun dengan sigap bapaknya keluar sebelum anak itu merusak koleksi seniman itu.
***
Saat terik matahari pagi sedang berjalan menuju siang, bapak dan anak ini sampai dirumah. Anak ini langsung masuk dan segera memeluk ibunya.
“Kenapa anak ini nangis?” ujar ibunya sambil menggendongnya.
“Gimana saya nggak mau marah, dia merengek minta gambar porno,”
Mendengar seperti itu ibunyapun kaget tak percaya dengan ucapkan suaminya.
“Ya, aku ingin gambar porno,” kata anak itu luguh.
“Kamu belum boleh, kamu masih kecil, nanti kalau sudah besar akan bapak beri tahu, sekarang belum boleh. Kamu tau dari mana gambar itu?”
“Nggak tahu,” lanjutnya
“Apakah kamu yang memberi tahu,” tanyanya kepada istrinya.
“Saya tak pernah mengajaknya menonton siaran porno.”
“Kamu seharusnya lebih menjaga tontonan buat anak dari pagi sampai siang,kalau sore sampai ia tidar ada aku, dan aku tahu tontonan yang baik untuknya. Seharusnya kamu menjaganya bukan membebaskanya, karena akibatnya anak ini bisa kecanduan. Memang tak ada acara lain yang bermutu dan mendidik?”
“Di pagi hari acara tv kecendrungannya lebih ke entertainment seperti gosip dan acara musik, hanya sedikit acara televisi yang menayangkan berita atau acara anak-anak”
“Memang tidak ada yang lain”
“Kecendrunganya seperti itu”
“Ah, acara tv indonesia sekarang, apakah tidak ada yang lebih kreatif, lebih mendidik dan bermutu? Apakah kreatifitas mereka sudah mati hingga sulit membuat acara yang mendidik? Ah, Sudah lah aku pusing, urus anak itu,” ucapnya seraya pergi ke kamar.
Selepas kepergian ayahnya ibunya langsung mengambil alih keadaan. Kesempatan itu dia gunakan sebaik-baiknya. Dengan segera ia menanyakan anak itu dengan lembut.
“Kenapa menginginkan gambar porno itu.”
“Orangnya bersayap mirip peri yang mengabulkan segala permintaan anak-anak yang mamah ceritakan semalam. Terus Gambarnya juga berwarna warni seperti pelangi, kan mamah tahu kalau aku suka pelangi, dan aku ingin mamah melihatnya juga.”
2011-08-19

2 komentar:

  1. selamat datang cerpenis, sepertinya gwa harus belajar ama lo

    BalasHapus
  2. terimakasih atas komentarnya. apakah anda pecinta kopi juga. oh, iya tema tulisan anda menarik, tinggal disajikan secara menarik. salam

    BalasHapus