Selasa, 06 September 2011

Turun Ranjang

(1)
Sekarang mereka memanggilku ibu
Meski kata itu keluar tersendat seperti air mani
Aku harus terus mengajari mereka membaca
Mengeja huruf demi huruf
Agar mereka lancar mengucapkan kata “ibu”
Ini sukar
Meski bagi yang lain ini sangat mudah
Semudah pendidik bahasa membaca

(2)
Mungkin karena transformasi keadaan
Tapi ini pilihan meski entah siapa yang memilh
Mungkin Tuhan atau setan
Karena aku takkan pernah paham masa depan
mungkinkah nanti seorang badut datang membawa kotak kejutan
Yang dengan kotaknya itu memberikan keceriaan
Aku harap begitu
Walau tak tahu apa

(3)
Ketika seseorang datang
Membawa seonggok harta mengahadap indukku
Membicarakan hal yang sudah aku mengerti arah tujuannya
Aku galau
Berharap titik cinta datang dari kegelapan itu
Agar bisa memanduku berjalan

(4)
Mudah-mudahan ini bukan tarian diatas kuburan yang tanahnya masih basah
dengan bunga segar dan wewangian yang mesih terhirup
Aku berharap saudaraku bahagia di tanah antah berantah sana
Serta kuselipkan maaf disela angin yang berhembus keangkasa bila ini menghancurkanmu
Tapi aku percaya kau tersenyum bahagia menonton satu episode kisah ini
Terlebih saat adegan aku dan bekasmu berdiri tegap di pelaminan
yang dikelilingi buah hatimu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar